Sunday, July 26, 2020

Ngalor Ngidul tentang Kopi

 
Sangat pahit dan hitam. Terkadang rasa asam tak mampu ditutupi, kentara sekali kelat di lidah. Untuk yang baru saja mencoba, tak sedikit yang merasakan sensasi berdebar di jantungnya. Kaget, tentu saja. Bahkan, beberapa mungkin urung untuk kembali menikmatinya. Trauma, mereka menyebutnya. Apalagi jika kemudian komplikasi panas ulu hati turut serta. Cukup sudah, mereka menyerah.

Sebentar. Mari ku tambahkan sedikit gula. Gula semut, gula pasir, gula aren, gula bubuk ataupun gula jagung. Apapun yang memberi kesan manis, biar ku padankan. Hmmm, ini enak. Manisnya mampu sedikit membiaskan rasa pahit utama. Namun, hanya sementara. Tak selang berapa lama, pahit itu kembali mendominasi. Bahkan, ku rasa, dengan adanya manis ini, sensasi kelat di akhir kian muncul di pangkal lidah. Ahh, aneh. Apa yang salah?

Ohh, ku ambil bubuk putih bertuliskan "krimer" di wadahnya. Dua sendok meja, baiklah, mari kita larutkan. Paradoks warna terlihat jelas, putih dan hitam perlahan berbaur bersama. Hitamnya kini memudar. Tak sepekat di awal. Cantik? Tidak juga. Hanya memberi sedikit pengharapan baru akan rasa. Jikalau pahitnya pun akan sedikit sirna, baiknya dicoba saja. Seteguk, dua teguk. Slurrpp. Gurih. Ya, ada rasa baru yang terkecap. Kini gurih, manis dan pahit, berkolaborasi bersama. Sepertinya, rasa baru perlahan-lahan mulai menarik perhatianku. Sepertinya juga, aku mulai suka.

***

853 Best Coffee Quotes images | Coffee quotes, Coffee, Coffee humor
Picture by Pinterest
Yup, aku bercerita tentang kopi dan juga setitik analogi kehidupan. Meski hitam dan pahit, dia sangat disukai. Setidaknya, bagi mereka para penggemarnya. Aku termasuk di dalamnya.

Tentang waktu, aku juga ragu kapan tepatnya ku mulai gandrung padanya. Dulu, bahkan, teh adalah pilihanku dan selalu terbingung-bingung pada setiap orang yang mampu menenggelamkan jiwanya pada minuman berasa pahit berwarna tak indah itu, kopi. 

Menyegarkan badan, menghilangkan kantuk, alasan yang dapat kuterima. Jelas saja, kandungan kafein memainkan perannya. Aha, mungkin itulah penyebab ia tetap memiliki banyak penikmat terlepas dari rasa dan rupanya. 

Dan lalu aku pun mulai bergantung padanya. Tak ada pagi yang aman tanpa kopi, begitu mindset-ku. Sehari satu. Tunggu. Kini, setidaknya dua kali dalam sehari. Resistensi kafein, istilah ilmiahnya. Tidak apa, bukan persoalan. Bahkan kini, tanpa atau dengan gula, tanpa atau dengan krimer, juga susu dan penyempurna lainnya, aku tetap dapat menikmatinya. Seruput demi seruput, ku angkat cangkirku. Bersulang!

Kopi bagiku bukan sekedar minuman. Kadangkala, saat butuh sejenak pelepas lelah dan runyam, kopi tempatku bersandar meski tanpa sandaran. Ya, aku tahu. Dia tak ada raga tuk benar bersandar atau suara untuk saling melempar kata. Namun, percayalah, kadang sesuatu dalam kebisuan lebih mampu menggali dalamnya rasa seseorang. Yang memahami tak selalu mereka dengan kata-kata bijak nan indah juga nasihat-nasihat yang baiknya dijadikan antologi saja. Terkadang seperti itu suasana hati.

Aku dan kopi mampu dengan caranya sendiri saling memadu romansa bersama. Itu sebabnya, setiap hari harus ku teguk. Selayaknya kekasih, tanpa temu akan menjadi rindu. Rindu itu berat, baiknya kembali ku seduh dan ku aduk saja, lalu angkat kembali cangkirmu, Nadya! Hempaskan rindumu bersamanya.

Begitulah kisah tentang aku, kopi dan kenyataan. Jika terdengar tak masuk akal, berarti kamu belum berjodoh dengan kopi juga kenikmatannya. Mudah-mudahan segera dipertemukan dengan jodoh kalian masing-masing, secepatnya. Salam bittersweet of life

2 comments: