Sunday, October 25, 2020

Coretan Tengah Malam

Kalamku adalah api
Kadang menghangatkan, kadang membakar
Tentang makna dan prasangka
Tak ambil pusing kudibuatnya
Biarkan saja

Lakuku adalah pisau
Kadang mencacah, kadang menghunus
Luka yang sama, interpretasi berbeda
Hanya sudut pandang yang berbicara
Biarkan saja

Lirikanku adalah hujan
Kadang mengairi sawah, kadang membanjirkan wilayah
Dengan komponen sama akan hidrogen serta oksigen
Membawa dampak jauh satu sama lain
Biarkan saja

Inginku adalah realita
Kadang benar, kadang salah
Bukan seorang santa juga manusia luput dosa
Sangat biasa
Biarkan saja

Lelah itu tentang mendoktrin jiwa
Untuk apa?
Bukankah ada sisi merdeka sebagai hak atas setiap manusia?
Nikmatilah

Omong-omong tentang aturan
Mereka bilang, ia ada untuk dilanggar
Bukan salah, hanya tak benar
Ia tak lain sebagai penyelaras
Membantu alur yang ugal-ugalan dalam fasenya

Apa arti kebebasan jika hanya teori belaka
Tidak begitu, Tuan
Sunggu ia terpampang nyata
Bebas dengan norma, mengapa tak bisa?
Jalanilah

Kata hanya kata
Namun, bagiku itu adalah senjata
Saat tak mampu disuarakan, kata mampu dituliskan
Tersampaikan
Komunikasi tetap nyata


Friday, October 23, 2020

Kisah Bunga Mawar

Source : Pinterest

Hai, namaku Akira. Bukan, tak ada darah Jepang di diriku. Nama itu hanya simbol pemberian orang tua, sebatas itu. 

Aku menyukai bunga mawar. Tak harus ia berwarna merah atau putih, mawar layu pun aku suka. Tak ada alasan spesial untuk itu. Nyatanya, kecantikan mawar memang cukup mampu untuk menarik afeksiku. Semua orang tahu, mawar dan aku, seperti jodoh yang tak bisa bersatu. Tentu saja, bagaimana bisa kupersunting setangkai bunga?

Namun, lelaki itu terlalu jenius, jika dapat kubahasakan. Memanfaatkan celah kesukaanku, ia merayu. Ketika pintu diketuk, tak pernah kunyana akan hadirnya di balik sana, menggenggam sebuket mawar yang sangat indah. Kutebak, mungkin dua puluh tangkai terikat oleh satu untaian pita berwarna emas.

Dia tersenyum, buket mawar pun berpindah dalam pelukanku. Masih jelas teringat degupan jantung yang sulit kuatur saat itu. Ritme yang menantang dan memabukkan.

Tak ada kata cinta atau gombalan manis merayu mendayu. Dari tegapnya ia membawa diri, kentara sekali romatisme kata bukanlah keahliannya. Tak apa. Karena ia telah menyuguhkan bentuk romatisme lain padaku, yang justru dengan sukses meluluh-lantakkan benteng keangkuhan yang selama ini kubangun. 

Aku heran, mengapa tak ada rasa jemu sama sekali baginya. Setiap tiga hari sekali muncul dengan buket mawar berbeda, baik warna, jumlah, atau ukuran. Kali ini, hanya satu. Namun, mahkotanya selayak Ratu Elizabeth yang berhak atasnya. Warnanya merah kehitaman, batang lebih kokoh dan keras, dengan duri lebih besar dan banyak.

Sempat ragu aku untuk menerima uluran tangan berisikan mawar kali ini. Namun, senyumnya meyakinkanku bahwa tak ada yang perlu diragukan. Mawar ini berduri, tetapi lelaki itu seolah siap untuk mengobati luka jikalau memang itu terjadi. Kuterima tangkai itu, dan aww, darah menetes dari telunjuk yang tak menyadari akan tajamnya duri di mawar yang ia sentuh.

Namun, mengapa lelaki itu pergi menjauh? Membiarkan tetesan darah mengalir di antara mawar dan kulitku. Aku terhenyak, tak kuasa memanggilnya. Ia pergi dengan senyum yang tergores sama indahnya pada saat ia memberikan buket-buket bunga. Mengapa bisa ia begitu jahat padaku? Setelah membelaiku dengan keindahan sesaat, menggiringku pada luka, dan kini ia angkat kaki masih tanpa kata. 

Dari mawar aku belajar akan kewaspadaan. Bahwa di balik keindahan, jangan terlena hingga membutakan akal dan logika. Saat rasa bermain peran, pastikan selalu akal tetap ikut bersamanya, beriringan. Agar tak ada lagi kisah mawar yang mungkin akan menjadi episode baru dengan cerita yang sama.


Thursday, October 22, 2020

Surat Untuk Anakku, Muhammad Anis

Source : Pinterest

Dear my only one bear, Muhammad Anis,

Apa kabarmu, Nak? Saat kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah semakin menua. Namun, mudah-mudahan masih diberikan kesempatan untuk membersamaimu, ya? Aammiin.

Nak, dulu sekali, Ibu menanti kehadiranmu dengan penuh harap, selama kurang lebih lima tahun. Meskipun Ibu tak pernah mengikuti progam menunda kehamilan apapun, tetapi ternyata Allah memang memberikan sesuatu sesuai takarannya. Mungkin kala itu, Ibu dirasa belum cukup mampu untuk mendampingi anak luar biasa sepertimu, sehingga penantian pun dirasa layak dan setimpal.

Tertanggal 26 Januari 2017, si garis dua merah yang selalu dirindukan pun akhirnya menampakkan hilalnya. Betul, Nak. Itu hari di mana Ibu diberitahu akan keberadaanmu di dalam rahim ini oleh Allah. Rasanya? Tak cukup kata menggambarkan. Terlalu bahagia, terlalu antusias, terlalu haru. Terlebih saat Ibu tahu bahwa kandungan ini telah memasuki usia delapan minggu. Allahu Akbar, MasyaAllah. Bagaimana bisa selama itu Ibu tidak menyadari keberadaanmu?

Waktu bergulir. Minggu per minggu dilewati tanpa ada keluhan yang berarti. Kamu menemani Ibu yang kala itu masih bertugas di ranah public. Namun, kamu masyaAllah kuat, hebat. Kita melewati itu semua hingga akhirnya Ibu memilih untuk fokus hanya padamu, di waktu usiamu dalam rahim Ibu sekitar enam bulan.

Dan tanggal 9 September 2017, tangisan pertamamu membuahkan titik air mata haru Ibu di ruang operasi itu. Kita berhasil, Nak. Kamu bisa melihat dunia, Alhamdulillaah ‘ala kulli haal.

Seiring waktu kamu pun bertumbuh, menjadi anak yang, aktif, ceria dan ramah. Melalui fase-fase perkembangan dengan luar biasa cepat. Ibu masih ingat tanggal di mana kamu pertama mencoba untuk berguling, duduk, merangkak, makan, berjalan, tumbuh gigi, semua masih terekam dengan jelas di memori, Nak. Hingga kini, saat Ibu menulis surat ini, kau pun telah berusia tiga tahun satu bulan, masyaAllah.

Harapan Ibu tentu banyak padamu. Namun, utamanya, Ibu ingin kau menjadi anak yang mampu memegang akhirat di atas dunia, juga menjadi sosok yang mampu berdaya, dengan atau tanpa Ibu, dan siapapun.

Karena saat manusia dilahirkan itu sendiri, Nak, dan kelak akan kembali ke pangkuan Maha Pemilik Hidup dalam kesendirian pula.

Maka, jika Ibu membiarkanmu untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri sejak dini; makan, berpakaian, mengambil sesuatu, dan lainnya, itu bukan karena Ibu tega dan tidak ingin memanjakanmu. Namun, justru bentuk sayang Ibu. Karena tak selamanya Ibu akan selalu bersamamu, dan jika saat itu datang, Ibu ingin kau tetap kuat dan merasa siap.

Untukku, sukses membersamaimu bukan ketika membuatmu sangat bergantung padaku. Jutsru, saat Ibu bisa melepasmu dengan kesiapan untuk menghadapi dunia dan akhirat di atas kakimu sendiri, itu tolak ukur sukses bagi Ibu.

Percayalah. Masa di mana kau akan mengamini apa yang Ibu maksud saat ini akan tiba, insyaAllah.

Namun, satu hal yang perlu kau ingat selalu, Nak. Ibu sangat sayang padamu. Sayang yang tak berukur dan tak pernah bisa terukur.

Semoga niat Ibu untuk memandirikanmu dapat membawa dampak kebaikan besar untuk kehidupanmu kelak.

Pahit saat ini, manis di waktu nanti, insyaAllah.

Peluk cium untuk jagoan Ibu. Allah selalu bersamamu.   

Bandung, 22 Oktober 2020

With love, Ibu