Friday, March 5, 2021

ZONA 7 : Edukasi Mengenai Seks dan Seksualitas Dasar

 

Sex Education
Picture by ampersandintergrative

Bismillaah.

Setelah dua tulisan sebelumnya saya membahas tentang definisi seks, seksualitas, gender, dan kaitannya dengan fitrah, yang lebih cenderung kontekstual. Maka, tulisan kali ini saya akan lebih banyak mengedepankan opini dan realita yang didasari oleh pengamatan saya pribadi.

Jika kita sudah memahami maknanya, mendapatkan gambaran tentang keberkaitannya dengan fitrah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara untuk memberikan pengenalan topik ini pada level usia dini.

Di masyarakat kita, membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan seks, seksualitas, akan dianggap tabu dan seperti tidak layak untuk didiskusikan. Alasan klise orang tua era lama dan cukup membuat miris , “Yang kayak gitu sih ga usah di bahas, nanti juga pada ngerti sendiri.” Pertanyaannya, pemahaman apa yang akan didapatkan oleh anak-anak dengan cara ­self-observing seperti itu? Akankah sesuai dengan kaidahnya?

Pemahaman akan pribadi secara utuh, menurut saya, diawali dengan pengenalan tentang apa yang ada pada diri kita dulu. Tentang tubuh dan perangkatnya, tentang akal, juga tentang emosi. Berangkat dari hal dasar tersebut, seorang individu akan lebih mudah dalam memahami diri sendiri dan juga menemukan jati dirinya. Kebanyakan dari remaja kita memang cenderung telat dalam menemukan jati diri tersebut. Akibatnya, timbul berbagai isu yang berkenaan dengan ‘kenakalan remaja’ atau ‘penyimpangan karakter’ yang tak jarang malah terbawa hingga dewasa.

Termasuk di dalamnya adalah mengenai seks sebagai identitas dasar. Kamu adalah laki-laki karena kamu memiliki organ ini itu. Sedangkan kamu adalah perempuan karena yang kamu miliki adalah ini itu. Nah, setelah mengenal jenisnya, selanjutnya kita berikan pemahaman secara berkala mengenai fungsi-fungsi berikut penanganannya. Misalnya, kita kenalkan tentang penis/vagina, selanjutnya kita beritahu bahwa organ tersebut fungsinya untuk buang air kecil (pengenalan sederhana pada tingkat usia dini). Setelah mereka mengetahui nama dan fungsinya, kita selipkan ketentuan-ketentuan khusus, seperti, “Nak, penis/vagina harus selalu ditutup yaa. Malu keliatan. Kecuali pas pipis/pupup/mandi” atau juga “Nak, yang boleh megang penis/vagina adek cuma ayah, ibu atau dokter yaa. Yang lain ga boleh megang itu. Malu.”

Tahap selanjutnya, mulai memasukkan unsur fitrah ke dalam penjelasannya. Juga, penerapan budaya dasar, seperti penggunaan rok untuk perempuan, sarung saat shalat untuk laki-laki, mukena untuk perempuan, pita rambut untuk perempuan dll. Pengelompokkan perlu bukan untuk mem-plotting, tetapi lebih ke mengarahkan dan mempertegas identitas diri. Oleh karenanya, usahakan untuk menggunakan budaya yang sangat mendasar dan general. Mengaitkan sosioemosional dengan seks saya kurang menyarankan, seperti anak lelaki tidak boleh menangis, anak perempuan harus lembut, anak lelaki harus kuat, perempuan harus lebih sabar. Karena, pada kenyatannya, setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, pasti membutuhkan porsi emosi dengan ragam yang sama. Lelaki boleh sedih, menangis. Perempuan pun boleh melawan, kuat.

Selanjutnya, budaya yang tidak kalah penting adalah budaya malu. Dengan pengenalan rasa malu (terhadap organ pribadi), maka secara alamiah bordering akan mudah terbentuk. Hal ini akan membantu si anak dalam memberi batasan terhadap orang lain untuk ‘menyentuhnya’. Erat kaitannya dengan upaya perlindungan diri, apalagi di masa yang semakin liar ini. Pemangsa hawa nafsu berkeliaran dengan kedok yang beragam.

Selain malu, budaya mencintai organ milik sendiri pun perlu. Anak diajak untuk memiliki sense of belonging terhadap tubuh dan segala yang ada padanya. Dengan rasa memiliki ini, maka akan timbul rasa menjaga dan merawat. Artinya, anak akan bertanggung jawab terhadap apa yang dia punya.

Salah satu cara mengenalkan budaya malu dan mencintai tubuh sendiri adalah dengan mencontohkan, selain sounding secara terus menerus tentunya. Sebagai orang tua, kita beri batasan untuk memperlihatkan tubuh kita meskipun di hadapan anak sendiri. Bisa dengan cara tidak buang air atau mandi bersama anak, juga meminimalisir penggunaan pakaian terlalu terbuka saat bersama anak. Katakan pada mereka, “Ibu malu, Nak!” saat kita harus menutup pintu kamar mandi ketika akan buang air, sedangkan anak ingin membuntuti misalnya.

Begitu juga saat anak semakin besar, mulai beri hak dia untuk memiliki kamar tidur sendiri. Ini sangat penting untuk mengajarkan mereka tentang privacy. Apalagi jika memiliki anak yang terpaut perbedaan usia berdekatan, dengan jenis kelamin berbeda. Menyatukan mereka dalam satu kamar sangatlah tidak disarankan.

Secara teknis, masih banyak cara dan metode untuk memberikan pengenalan sederhana mengenai seks dan seksualitas pada anak. Biasanya akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga, dan juga kebiasaanya. Namun, hal yang harus digarisbawahi, jangan memberikan kesan tabu untuk seks dan seksualitas. Karena pada dasarnya, makna malu dan tabu itu berbeda dan akan membawa pada arah yang berbeda pula.

Allahu’alam bi shawab.

No comments:

Post a Comment