Wednesday, March 3, 2021

ZONA 7 : Definisi Seks, Seksualitas dan Gender

 

pria dan wanita
Picture by medicalnewstoday

Seks dan seksualitas. Banyak dari kita belum begitu memahami definisi dasar dari kedua kata tersebut. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, berikut saya kutip pengertian dari masing-masingnya :

            Seks : jenis kelamin, hal yang berhubungan dengan kelamin

            Seksualitas : ciri, sifat, atau peranan seks; dorongan seks

Baik seks dan seksualitas, keduanya merupakan suatu identitas dasar dari seorang individu, dan berkenaan dengan fungsi anatomi dan fisiologi manusia. Sehingga, mengenalnya adalah suatu kewajaran, bahkan keharusan. Karena memang keduanya telah ada pada diri seseorang sejak lahir. Alih-alih menganggapnya tabu yang jutsru menimbulkan suatu image negatif di masyarakat mengenai pembahasan tersebut.

Termasuk dalam lingkup seks adalah jenis kelamin secara fisik dan biologis. Seperti contoh, perempuan adalah seseorang yang dilahirkan dengan organ reproduksi luar vulva, dan dilengkapi dengan organ bagian dalamnya, yang membawa peran penting dalam kehamilan, yaitu vagina, uterus (rahim), ovarium dan tuba falopi. Sedangkan laki-laki adalah manusia yang dilahirkan dengan perangkat reproduksi luar meliputi penis, skrotum dan testis. Segala sesuatu yang berdasarkan pada hal fisik mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan, itulah seks.

Jika kita membicarakan tentang seks, seksualitas, tak lengkap rasanya jika gender pun tidak ikut disinggung. Bahkan, tak sedikit dari masyarakat yang justru menyamaratakan istilah-istilah tersebut. Sebenarnya, tak bisa disalahkan juga. Karena memang, di beberapa negara, seperti Jerman dan Finlandia, mereka tidak memiliki istilah khusus yang membedakan dua kata tersebut.

Namun, secara luas dan general, gender memiliki pemahaman berbeda dengan seks. Jika seks diartikan pada jenis kelamin yang bersifat fisik, gender jutsru lebih pada definisi jenis kelamin secara sosial.

Menurut WHO, gender adalah sifat perempuan dan laki-laki, seperti norma atau hubungan kelompok pria dan wanita, yang dikonstruksi secara sosial. Jadi, gender ini merupakan suatu bentuk kontruksi sosial atau sesuatu yang dibangun oleh persepsi, intuisi, simpulan, yang lahir dari kultur masyarakat. Seperti misalnya, stigma yang mengatakan bahwa laki-laki itu harus kuat, tidak boleh cengeng, sedangkan perempuan itu lemah. Konsep keduanya lahir dari ‘sangkaan’ yang dibangun oleh masyarakat, yang akhirnya menjadi parameter ‘baku’ dalam mengidentifikasi laki-laki dan perempuan tersebut dan juga terpatenkan dalam stereotype keduanya.

Perbedaan seks, seksualitas dan gender
Picture by Pinterest

Dari definisi secara harfiah di atas, sedikit banyak kita mendapatkan pencerahan mengenai perbedaan keduanya. Bahwa, seks dan gender itu bukanlah suatu hal yang sama. Sehingga, butuh adanya pemahaman mengenai masing-masing, agar keduanya bisa selaras, seimbang, dan mampu berjalan beriringan menuju fitrahnya. Penjelasan tentang seks, seksualitas, gender, dan fitrah ini akan membutuhkan tambahan penjelasan, yaitu yang berkenaan dengan pandangan agama tentang seks dan gender itu sendiri. Sehingga, insyaAllah, di tulisan berikutnya, saya akan sedikit berbagi tentang hal tersebut, sependek yang pernah saya dapat. Allahu’alam bi shawab.

 

 

Tuesday, March 2, 2021

CURCOL : Bulan oooh Bulan

 



Agak melow.

Hahaha, well, sebenernya ga musti melow, sih.

Jadi ceritanya, aku yang sebulan bisa dua kali kena period, tumbenan bulan Februari kemarin malah ga dapet sama sekali. Aneh dong?

Aku doping pake jamu yang biasa dikonsumsi biar si period lancar jaya, udah abis enam botol, belum dateng juga tuh bulan. ‘Wah, ada yang ga beres ini!’ Begitu kira-kira aku ngebatin.

Awalnya sih biasa aja. Ya jelas biasa aja, apa yang diharepin saat IUD masih nemplok rapi di dalem sana, yakan? Hahaha.

Sampe akhirnya beberapa temen update di media sosial, tentang kehamilan mereka yang ‘menerobos’ IUD. Dan itu bukan satu atau dua temen. Wheitzzz, terprovokasi kan tuh daku pun! Akhirnya, baca-baca lagi lah tentang IUD, kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat penggunaannya, bahkan efek ‘gagal’-nya. Uhuk, namanya juga benda buatan manusia, intinya tidak bisa menjamin 100% efektivitasnya, betul? Semakin dugun-dugun lah aku.

Ngobrol bareng suami tentang ini. Agak relate dengan bahasan kami terakhir tentang kontrol dan konsul lagi ke obgyn perihal  program kehamilan selanjutnya. Lha, dia salah tingkah aku bilang ga mens sebulan dan kasus temen-temen yang jadi hamidun walaupun pengguna IUD juga. Kalo aku tangkep, kayaknya doi mulai ngarep haha.

Anyway, awal mula aku pake IUD itu memang berkaitan dengan alasan medis. Jadi, waktu lahiran Anis, ternyata kondisi rahim aku bisa dibilang kurang baik. Ogbyn yang handle  SC aku langsung minta suami buat tanda tangan consent letter untuk pemasangan IUD di tengah-tengah proses persalinan. Serba dadakan, emergency, dan di luar ekspektasi kalo bisa dibilang. But, who we are? Aku dan suami berpikir, dokter pasti lebih tahu secara teori dalam hal ini. Akhirnya kita ikuti sarannya untuk pasang IUD setidaknya tiga tahun, sampe rahim bisa dikatakan ‘siap ditempati’ kembali.

Kemarin, gegara tragedi ‘mendadak honeymoon’ pas staycation terakhir, bikin aku dan suami terlibat #halah pembicaraan agak serius tentang kehamilan ke-dua. Faktor usia yang bikin kita akhirnya aware untuk segera ambil keputusan, mau bikin adeknya Anis atau cukupkan saja haha.

Karena semua hal yang serba kebetulan dan berkaitan itu, akhirnya aku mutusin buat ngelakuin pregnancy test. Terniat, aku pesen test pack lewat aplikasi kesehatan online, padahal waktu itu mulai hujan cuy. Ga kasian gitu sama kurir yang nganterin, seolah ga bisa ditunda lagi buat nge-cek status terlambatnya si bulan ini.

Dag-dig-dug. Gugup. Throw back time ke masa-masa dulu pas masih jadi pejuang dua garis.

Sebenernya, ini juga bukan kali pertama aku test begini di saat IUD masih terpasang. Dulu sih tiap nge-cek ya biasa aja sensasinya. Ga tegang, ga excited. BIASA.

Namun, kali ini beda. Aku kayak yang antusias, grogi, cemas, campur aduk.

Sampe akhirnya, hasil test keluar.

SATU GARIS.

Uhuk, entah kenapa ada rasa sedih, kecewa. Mungkin saat ini aku juga mulai ngarep, mulai pengen ada tambahan anggota pasukan, mulai siap? Entahlah. Yang pasti beberapa jam setelah pregnancy test itu, si bulan yang menggemparkan pun datang. Wahahahaha. SEKIAN.

 


Friday, February 26, 2021

ADAB BERSAMPAH

 

Picture by pinterest

Bismillaah.

Usianya kuterka di atas paruh baya. Mungkin sekitar 60 menuju 70-an. Bukan usia muda kukira. Namun, dua hari sekali, sekitar pukul 6 pagi, bahkan kadang lebih dini, selalu kudapati beliau dengan penuh semangat berkeliling mengakomodasi sampah-sampah rumah tangga di komplek perumahan kami. Memanglah menggunakan triseda (motor beroda tiga). Namun, kurasa, tetaplah bukan pekerjaan mudah. Apalagi mengingat usianya yang kupikir sangat rentan dengan penyakit yang mungkin saja dihasilkan oleh objek pekerjaannya.

Lain cerita, di tempat tinggalku sebelumnya. Seorang bapak yang jelas tak juga muda. Setidaknya sekitar setengah abad memang usianya. Beliau berjalan agak pincang. Salah satu kakinya mengecil, mungkin polio, atau penyakit lainnya? Entahlah. Juga, beliau adalah seorang yang agak keterbelakangan mental. Sangat mudah menebak dari caranya berbicara dan menatap. Namun, tiga hari sekali beliau berkeliling di area tempat tinggal kami. Dengan kaki yang kurang sempurna, ia menarik gerobak berwarna kuning, yang selalu penuh dengan gundukan-gundukan dengan bau menyengat. Satu yang selalu kuingat, senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya setiap kali kami berpapasan. Bahkan, Anis tak jarang ia sapa, hingga akhirnya lama-lama Anis pun selalu menyapa dan mengingat bapak itu jika kami sedang melewati tempat tinggal kami yang lama.

Keduanya sama. Pahlawan sampah. Tanpa mereka, aku tak yakin sanitasi dan kenyamanan tempat tinggalku akan semudah ini tercipta. Mungkin, kami harus rela pergi ke tempat pembuangan sampah akhir terdekat demi terbebasnya bau busuk di lingkungan juga kehidupan yang lebih sehat. Sangat tidak praktis.

Betapa kita semua, terutama aku pribadi, sangat membutuhkan eksistensinya.

Aku pikir, rasa “saling” pun harus diciptakan. Bagaimana aku membutuhkan jasanya, dan sebagai timbal balik, aku pun memikirkan bagaimana cara meminimalisir resiko kerja mereka. Sesederhana itu.

Tak banyak yang bisa dilakukan. Belum mampu untukku mendaftarkan polis asuransi kesehatan bagi mereka, para pahlawan sampah ini. Membantu mereka mengkoordinir sampah-sampah sekitar (setidaknya satu komplek, misalnya), agar mereka tak perlu berkeliling ke setiap rumah di dalamnya, aku pun belum sanggup.

Sehingga, aku hanya bisa membiasakan diri, di lingkungan keluarga kecilku, untuk menerapkan “ADAB BERSAMPAH”.

Terdengar berat, tetapi kenyataannya, yang kulakukan hanyalah hal sederhana yang setidaknya bisa sedikit mengurangi resiko kerja mereka :

1.      Memilah antara sampah kardus, kemasan plastik, minyak jelantah, dengan sampah umum. Meskipun belum bisa menerapkan sistem klasifikasi sampah yang teoritis, tetapi cara ini cukup membuat sampah terlihat lebih rapi dan mudah dalam penangannya. Sering aku perhatikan, para pahlawan sampah itu memisahkan plastik dan kardus dari sampah lainnya. Mungkin untuk dijual atau dilakukan penatalaksanaan khusus, aku pun tak tahu pasti. But, this simple action seemed a lot for him, actually.

2.     Selalu menyetorkan sampah dalam keadaan rapi. Mungkin didasarkan pada ke-perfeksionis-an aku pribadi yang tidak suka melihat sesuatu yang berantakan, apalagi menjijikkan. Maka, aku selalu membungkus sampah dengan kantong yang proper. Tidak selalu membeli plastik khusus sampah, tetapi setidaknya kantong yang digunakan tidak bocor dan compang-camping, yang membuat isinya mudah buyar, dan selalu terikat kuat. Jika satu kantong terlalu penuh hingga sulit untuk diikat, aku memilih untuk membaginya ke kantong lain sebelum dimasukkan ke tempat sampah depan rumah. Hal sepele, tetapi ternyata memudahkan penggiat sampah dalam pengumpulannya. Mereka tak perlu repot-repot mengangkat tong sampah yang besar dan berat untuk ditumpahkan ke gerobaknya, cukup mengambil kantong-kantong yang sudah rapi di dalamnya saja.

3.     Memberi label sampah buangan khusus. Misalnya, sampah berisi pecahan kaca akan dibungkus terpisah dengan penanganan agak berbeda, juga dilabeli. Aku biasa memasukkan pecahan kaca ke kain bekas (baju bekas atau lap yang sudah tak layak pakai), dibuntel hingga memiliki resiko lebih kecil untuk tembus, lalu dimasukkan plastik tebal, dan diberi tulisan besar “AWAS PECAHAN KACA”. Kebiasaan ini mulai dilakukan sejak beberapa tahun lalu, saat aku merapikan tempat sampah di rumah orang tua, yang ternyata ada bekas pecahan gelas, dan akhirnya melukai tangan. Dari situ aku berpikir, “Wah, sampah ini di tempat pembuangan juga bisa melukai orang, dong? Harus diapakan ya?”. Melabeli adalah langkah mudah dan sederhana yang terpikirkan olehku saat itu dan masih diterapkan hingga kini.

4.     Membiasakan untuk selalu membuang sampah pada tempatnya!!

5.     Menghormati mereka, para pahlawan sampah, sebagai orang yang memiliki andil dan fungsi besar bagi lingkungan. Tak perlu membuat plakat terima kasih atau sanjungan berlebihan. Cukup memberi sedikit makanan yang kita punya sesekali, mengucapkan terima kasih saat mereka sedang mengangkut sampah kita dan kita sedang berada di situ juga, atau setidaknya memberi senyuman dan sapaan saat berpapasan. Aksi yang bisa membuat mereka merasa dianggap ada dan setara, bukan justru mencemooh bau pekerjaannya di hadapan mereka. “Ih, bau banget sih ini!” tepat saat mereka melintas. Hehe, hayoo siapa yang masih suka ‘keceplosan’ begitu? Hihihi.




Thursday, February 25, 2021

REVIEW BUKU : Bidadari Bumi (Buku Pertama)

 

Bismillaah.

Ustadzah Halimah Alaydrus. Pertama kali saya mendengar namanya saat mencari video ceramah di YouTube. Qadarallah, saya pun me-klik salah satu ceramah beliau yang kemudian saya dengarkan hingga usai.

Meskipun di-post di laman YouTube, tetapi video ceramah tersebut tidak menampakkan sosok penyampai ilmu. Hanya berupa recording suara dari majlis tatap muka yang beliau isi secara rutin di daerah Jakarta. Namun, meski pertama kali, dan hanya mendengar suaranya, saya jatuh hati. Senang dengan cara beliau menyampaikan materi, cara bercanda, bahkan logat Betawinya yang kental. Dari cara beliau berkomunikasi, saya dapat pastikan beliau adalah seorang yang alim/berilmu/pintar.

Saat saya tahu bahwa beliau pun menulis beberapa buku, dengan excited saya mencari buku-buku beliau. Alhamdulillaah, belum sempat saya check-out belanjaan buku saya di suatu aplikasi e-commerce, ternyata suami sudah membeli dua buku karangan Hubabah Halimah, yaitu BIDADARI BUMI 1 dan BIDADARI BUMI 2.




Saya dengan sangat antusias mulai membaca buku pertama.

Buku terbitan Wafa Production setebal 147 halaman tersebut ditulis berdasarkan pengalaman Hubabah Halimah selama menuntut ilmu di Tarim, Yaman. Dibuat seperti kumpulan cerita, di mana setiap ceritanya berisi tentang kisah beliau bertemu dengan wanita istimewa. Di buku BIDADARI BUMI 1, Hubabah membagikan tentang kisah 9 Wanita Shalehah yang beliau temui langsung, baik dengan sengaja ataupun secara kebetulan. Namun, setiap wanita tersebut seolah memberikan gambaran bahwa para bidadari ini ada dan nyata. Dapat dijadikan teladan secara riil, karena memang ke-sembilannya hidup di satu zaman dengan kita semua.

Jujur, membaca kisah-kisah mereka membuat saya merasa terpesona sekaligus merasa kecil. Cerita yang saya dapat, tentang ke-zuhudan dunia, kepatuhan, kecintaan Sayyidatuna Khadijah, Sayyidatuna Fatimah, atau pun wanita-wanita istimewa di zaman Rasul, memang sudah sangat biasa didengar. Tak perlu diragukan lagi. Namun, ke-sembilan wanita di buku ini adalah orang-orang yang hidup bersama kita, di zaman yang sangat saru antara salah dan benar, zaman di mana dunia memberikan pesonanya yang membuat kita semua hanyut mendewakannya. Dan mereka ada, hidup dengan kita, hanya berselang jarak dan perbedaan waktu saja. Namun, keteladanannya mengingatkan saya pada kisah-kisah wanita di zaman Rasulullah dan sahabat.

Ada seorang Hubabah yang menghabiskan waktunya untuk beribadah ritual shalat tanpa mengenal lelah, ada juga yang tak pernah memiliki harta benda kecuali tiga lembar pakaian dan secukupnya uang untuk kebutuhan sehari-hari. Bukan tidak punya, tetapi setiap harta yang diterimanya akan langsung ia shadaqahkan kembali ke orang-orang sekitarnya yang membutuhkan. Ada juga seorang Amerika yang memutuskan untuk menuntut ilmu di Tarim dan cerita beliau mendapatkan dorongan tersebut. Atau seorang lainnya yang justru merasa sedih ketika Allah tidak menurunkan padanya kesulitan, karena ia merasa bahwa jalan untuk ia selangkah lebih mendekat ke Rabb-nya hilang. masyaAllah, saya merasa tertampar. Sangat berkebalikan dengan tingkah saya, huhu.

Selain kisah-kisahnya yang menarik, Hubabah Halimah pun sangat pandai dalam pemilihan kata. Ditambah lagi beliau menyelipkan sajak-sajak dari penyair Muslim ternama, juga sajak buatannya, di setiap beberapa paragraf tulisan. Dan, lagi-lagi, sajak-sajaknya banyak menohok pembacanya, terkhususkan saya pribadi.


Tidak perlu menghabiskan waktu sehari untuk menyelesaikan satu buku beliau. Karena, sekali memulai, rasanya ingin terus membuka lembar per lembar tulisan berisi hikmah dengan pemyampaian yang sedap. Tanpa terasa, buku pun selesai dilahap hanya dalam waktu beberapa jam saja, itu pun karena disambi tugas negara, hehe.

MasyaAllah, membaca buku ini seperti menemukan hidayah. Pengingat di kala diri ini memang sedang (dan terus) butuh untuk diingatkan. Alhamdulillaah. Semoga Hubabah Halimah Alaydrus diberikan umur panjang dan keberkahan selalu aammiin <3

 

Wednesday, February 24, 2021

ALIRAN RASA : Stimulasi Matematika dan Finansial

 

Picture by Pinterest


Bismillaah.

Alhamdulillah, zona ke-enam di Pantai Bentang Petualang Bunda Sayang IIP telah terlewati. Mengangkat tema yang cukup menantang, yaitu Stimulasi Matematika dan Finansial, agak butuh effort lebih juga untuk penyampaiannya pada anak usia tiga tahun.

Namun, saya tetap menggunakan prinsip “belajar dari keseharian sambil bermain”. Karena, usia Anis belum bisa diajak serius duduk mendengarkan teori dan mengerjakan tugas tertentu. Yang saya titik beratkan adalah merangsang ketertarikan dia untuk mulai mengenal matematika dan finansial itu sendiri.

Saya ingin logika matematika Anis dibentuk dulu sebelum akhirnya benar-benar terjun ke dunia matematika dan finansial utuh. Dan logika matematika ini tidak melulu mengenai angka, tetapi juga hal-hal lain yang relate seperti : ukuran (kecil dan besar), jumlah secara umum (banyak sedikit), menyusun suatu hal dengan ketentuan khusus (misalkan dari tinggi ke pendek dll), dan masih banyak lainnya.

Untuk pengenalan finansial sendiri, saya lebih mengarahkan untuk pengenalan alat bayar, yaitu uang.  Dari jenisnya (uang kertas dan uang koin), kegunaannya secara sederhana (untuk membeli sesuatu), hingga memperkenalkan teknologi sehari-hari yang berkenaan dengan uang ini, mesin ATM, kartu ATM, mesin EDC. Hal yang sangat lumrah kita gunakan di kehidupan.

Selain itu, membiasakan Anis untuk menabung sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya, sudah saya tanamkan sejak cukup lama. Dari usia sekitar dua tahun lebih, saat Anis ingin sepeda baru karena sepeda lamanya sudah terlalu kecil dan rusak, saya bernegosiasi dengan ia dengan bahasa dan cara sederhana. Saya ajarkan untuk menyimpan uang di celengan setiap hari (saat itu uangnya saya berikan langsung saja per harinya untuk dimasukkan celengan), dan ketika cukup baru bisa membeli sepeda baru.

Kali ini, karena Anis pun sudah terbiasa dengan menabung tersebut, juga pemahamannya sudah berkembang, saya ajak ia menabung untuk membeli buku awan yang sangan ia inginkan, dengan cara membantu ibu melakukan sesuatu dan kemudian baru saya beri uang sebagai tanda terima kasihnya. Uang itu yang akan dimasukkan ke celengan.

Sebagian mungkin akan mengira bahwa metode ini akan membentuk mental upah bagi anak. Namun, bagi saya, asalkan penyampaiannya baik, anak pun akan paham bahwa untuk mendapatkan sesuatu dibutuhkan usaha. Di awal saya tidak ikrarkan pada Anis, “Ayo, Anis bantu ibu dulu, deh! Nanti setiap Anis bantu ibu, ibu bakal kasih uang.” Bukan statement itu yang saya gunakan. Justru saya hanya mengajak Anis melakukan sesuatu yang mengarah pada membantu pekerjaan sehari-hari. Kemudian, setelah ia selesai melakukannya, ritual normal yang saya lakukan, yaitu berterima kasih. Baru setelah itu saya berikan uang dan saya anjurkan untuk dimasukkan ke celengan tabungan bukunya. Jadi, benar-benar saya tidak menstigma Anis dengan “kalau kamu melakukan ini nanti kamu dapat sesuatu dari ibu”. Karena pada kenyataannya, tidak setiap kali Anis membantu saya dan kemudian saya beri reward juga, kok. Hehe.

Alhamdulillah, dari jumlah tantangan 15 hari, kali ini saya selesaikan 10 hari berturut-turut. Sempat agak ragu bisa menyelesaikan zona ini, karena kebetulan saya sempat pulang kampung dan memang suasana kumpul bersama keluarga itu agak memberatkan untuk melakukan aktivitas seperti ini, haha. Namun, saya ingatkan kembali diri saya bahwa stimulasi itu tidak harus sesuatu yang memberatkan, kok. Semua bisa dilakukan bersamaan dengan aktivitas sehari-hari. Hanya perlu konsep yang applicable sehingga suatu kegiatan biasa pun akan dapat memeiliki value, tanpa harus preparasi banyak hal dan waktu.

Tinggal dua zona tersisa. Saya berharap semoga apa yang telah dan akan saya lakukan bersama Anis, bukan sekadar tugas Bunda Sayang saja, tetapi memang sesuatu yang akan terkonversi menjadi habit dan membawa perubahan permanen pada kehidupan kami. Karena, sekali lagi saya ingatkan diri saya, bahwa 15 atau 10 hari hanyalah miniatur yang harus diproyeksikan ke hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan, dan tahun-tahun lainnya. Yuk, Anis, bismillaah, insyaAllah KITA BISA! J

Friday, January 29, 2021

Tak Apa Sesekali Berkesah

Picture by YourQuote

Awalnya, saya agak bingung mau nulis apa malam ini. Buntu. Hanya bulak-balik buka handphone, laptop, sambil menyimak dua kuliah daring dan satu live Facebook. Sampai akhirnya, semua event selesai dan waktunya menulis.

Namun, tetap blank, no idea. Duduk melototin layar, jari sudah stand by di keyboard, tapi gagu  harus ketik apa. Berkali-kali, ketik-hapus, karena sebuntu itu kondisinya.

Akhirnya, memilih untuk membuka Youtube dan memainkan salah satu playlist saya di situ. Ta daaa…

Living alone

I think all of the friends I’ve known

When I dial the telephone

NOBODY’S HOME

Alunan suara penyanyi kesukaan saya dari zaman SMP dulu menjadi pengisi nomor satu pada list malam ini. Lagu berjudul All by My Self versi Celine Dion pun saya resapi. Hmmm, entah suatu kebetulan atau apa, tapi rasanya isi liriknya lumayan mengena juga.

Dan hari ini, salah satu teman di genk masa perkuliahan saya berulang tahun. Seperti biasa, grup whatsapp yang biasanya sepi seperti tak berpenghuni tetiba ramai. Saling memberi ucapan selamat kepada yang berulang tahun. Tradisinya seperti itu. Maklum, kebanyakan rekan-rekan saya itu adalah ibu-ibu ranah publik, saya cukup paham akan kesibukannya yang menyita waktu dan membuat atensi hanya terfokus untuk keluarga dan pekerjaan.

Celotehan salah satu teman saya, “Wah, kalau ada yang ultah gini tuh jadi suka inget moment dulu kulineran sana sini saling traktiran setiap ultah.”

Ya, kami yang se-genk ber-sebelas orang itu memiliki kebiasaan untuk saling traktir ketika berulang-tahun. Karena anggotanya banyak, yang artinya akan spend lebih banyak uang juga untuk traktiran, maka biasanya kita ada rapelan. Yang ulang tahun berdekatan disatukan traktirannya, jadi tidak terlalu memberatkan.

Dulu, sangat mudah untuk make time dan pergi sana sini, terlepas dari masalah pandemi yaaa.

Namun, semakin kita tua, saya semakin sadar bahwa lingkar pertemanan semakin menyempit. Yang pada zamannya dirasa sangat dekat, solid, best friends forever deh pokoknya, satu per satu terkikis. Hilang.

Faktor fokus tadi salah satunya. Prioritas masing-masing sudah bergeser. Keluarga, pekerjaan, dll. Akhirnya menempatkan perihal pertemanan di jajaran sekian, and I think that’s quiet normal.

Saya pribadi menerima kondisi ini, yaitu mengerucutnya dunia sosialisasi saat semakin menua. Terlebih untuk kami yang memilih ranah domestik, sangat terasa. Hanya saja, terkadang saya merasa rindu dengan kebebasan masa lalu. Ya, benar, saya rindu berkumpul dengan teman-teman, cerita ngalor-ngidul yang sedikit mengandung unsur gibah (Astagfirullah), bertemu tanpa banyak pertimbangan, ahhh.

Mungkin, tidak semua kondisi ibu ranah domestik sama. I mean, merasa sulit untuk bersosialisasi seperti ini. Jika saya lihat dari beberapa teman, masih juga ada yang berkesempatan untuk saling kumpul bersama. Namun, kebanyakan mungkin lebih seperti saya. Karena kadang saya melihat curhatan ibu-ibu di komunitas yang saya ikuti, memiliki keluhan sama.

Hidup ada fasenya.

Jika sesekali kita berlaku seolah ‘mengeluhkan’, mungkin itu hanya output dari adjusting diri ini yang sedang berusaha berdamai dengan kondisi. Buat saya, dalam level ini, mengeluh tak selamanya haram, selama kita tahu porsi keluhannya sejauh mana dan bagaimana.

Sama seperti saat kita bersin, batuk, itu respon yang timbul karena adanya benda asing yang masuk ke tubuh, bukan? Dan tubuh berusaha untuk menetralkan kembali, maka jadilah bersin dan batuk tersebut.

Begitu pun dengan psikis. Saat dihadapkan pada kondisi yang baru, tak sama seperti dulu, mental kita pun akan membaca screening ini yang kemudian mem-validasinya. Dan respon kita terhadap hal tersebut kadang kala berupa kesah sementara, ya, mengeluh.

Namun, kita ini kan masih diberi perangkat penyeimbang lainnya yaa, yaitu akal. So, ketika kesah timbul, tak apa untuk merilisnya, tetapi jangan lupa tetap membawa logika kita serta, agar keluh-kesahnya tidak lama-lama dan menjadi lebay. It’s okay not to be okay ^^


Thursday, January 28, 2021

Cintai Dulu, Menjadi Habit Kemudian

 

Picture by Sepositif

“Witing tresno jalaran soko kulino”

“Cinta itu tumbuh karena terbiasa”

Well, menarik!

Pikiran saya bukan ke soal pasangan laki-laki dan perempuan atau pun hal yang berkenaan dengan itu. Justru buah akal saya langsung menangkap hal lain, bahwa untuk membangun sesuatu menjadi kebiasaan, kita butuh cinta.

Sering berseliweran statement yang menyatakan jika kebiasaan dibangun dari konsisten dan komitmen. Namun, justru kedua hal tersebut yang sering melemah di tengah proses pembentukan kebiasaan itu. Akhirnya, kebiasaan pun tak terbentuk. Gugur sebelum berkembang.

Konsisten dan komitmen adalah hal teoritikal yang seolah mudah dijalankan. Dua padanan kata yang sederhana, tetapi kenyataannya, saat kita belum memiliki pondasi cukup kuat tentang suatu aktivitas yang akan kita jadikan kebiasaan tersebut, kekonsistenan dan komitmen akan menjadi bopong, kurang massa dan cenderung bersifat topeng saja.

Pepatah Jawa yang saya singgung di atas seolah memberi insight lebih mengenai pembentukan kebiasaan itu. Bahwa, konsisten dan komitmen akan bisa terlaksana jika memiliki dasar kuat dulu, let’s say that is love.

Saat kita mencintai suatu aktivitas secara mendalam, hal tersebut akan menjadi bahan bakar untuk lebih tough dalam mempertahankan kekonsistenan dan komitmen kita dalam melakukannya. Mungkin akan ada masa jenuh, down, hal manusiawi lain yang menjadi tantangan dalam usaha kita membentuk aktivitas tersebut menjadi suatu kebiasaan. Namun, jika benar-benar kita mencintainya, akan selalu ada jalan untuk kembali pada tujuan awal, meskipun terseok-seok.

Dan dalam hal ini saya bercerita tentang diri sendiri.

Kegiatan menulis bagi saya saat ini berada alam fase pembentukan habit. Ya, saya ingin menjadikan menulis ini bukan sekadar lepasan atau selingan saja, tetapi menjadi bagian dari hidup (habit artinya memaknai suatu kegiatan menjadi bagian dari hidup kita, bukan?)

Dalam pikiran saya selalu mensugestikan tentang konsisten dan komitmen. Terus mendoktrin otak saya dengan, “Ayo, dong, mana konsisten dan komitmen kamu, Nad!”

Yang saya peroleh adalah kelelahan. Betul. Saya berhasil melewati tahap per tahapnya. Saya menulis, mengikuti event atau pun challenge. Namun, seiring waktu, saya semakin kehilangan nikmatnya menulis itu sendiri. Bahkan, sempat ada masa di mana saya merasa bahwa menulis kini menjadi suatu beban. Lalu, di mana esensi menulis yang saya plot sebagai media reliever saya?

Jeda adalah jalan yang saya ambil. Sempat dua pekan (atau tiga pekan bahkan) saya break dari dunia menulis. Bukan benar-benar lepas dari kata per kata, tetapi saya hanya menulis semau saya, seenak saya. Sembari saya selami kembali makna menulis bagi saya personal itu apa, untuk apa, dan recall tujuan saya menulis di awal kenapa. Terakhir, saya juga berusaha gali lebih dalam, apakah benar saya menyukai dan mencintai kegiatan ini? Atau hanya sebatas trend?

Dan benar, hal pertama kita harus mencintai dulu apa yang kita kerjakan. Perkuat why-nya, bangun bonding-nya. Seperti dalam suatu hubungan, jika cinta sudah terbina, kekonsistenan dan komitmen pun akan lebih mudah direalisasikan.  Selanjutnya, kita akan terbiasa dengan keberadaannya, yang artinya, kehadirannya sudah menjadi kebiasaan bagi kita. See, habit comes after the love ;)

Tuesday, January 26, 2021

Obrolan Santai tentang Privacy

Picture by Pinterest

Beberapa hari lalu, saya sempat menyimak suatu obrolan santai sebagai konten dari sebuah channel di YouTube. Kebetulan, channel tersebut lumayan sering saya ikuti karena pembahasan yang menarik dan enak dalam penyajiannya mengenai dunia psikologi. Yup, benar, pemilik akun YouTube tersebut pun adalah seorang psikolog yang memang memiliki praktik konsultasi sendiri dan cukup popular di Indonesia.

Unggahan saat itu lebih menarik lagi perhatian saya. Pasalnya, Bu Psikolog tersebut melakukan kolaborasi dengan seorang content creator yang notabene salah satu favorit saya juga. Wow, what a duet!

Belum sempat melihat judul,  baru melirik thumbnail dari video tersebut saja, sudah mengotomatisasi jari ini untuk me-klik-nya dan mulai menyimak sambil bersiap masak. Thanks technology, membuat kegiatan ­emak-emak saya lebih berisi dan bernilai meski sambil melakukan aktivitas harian.

Sapaan psikolog cantik membuka obrolan santai di antara keduanya. Disahuti oleh sang bintang tamu dengan tawa renyah khasnya.

Obrolan berlangsung melalui layar. Terang saja, selain kendala pandemi, jarak pun menjadi ketidakmungkinan mereka berdua untuk bertatap muka secara langsung. Maklum, domisili Sang Psikolog di belahan Indonesia bagian Yogyakarta, sedangkan tamu virtualnya menetap di Hamburg, Jerman. Miles apart, for real.

Chit-chat mulai terdengar dari pengeras suara ponsel yang saya letakkan di phone-stand kesayangan saya. Saling bertanya kabar, suasana masing-masing tempat, kesibukan akhir-akhir ini, menjadi point yang saya tangkap di antara percakapan pembuka mereka. Saya suka. Meski hanya sebatas chit-chat, tetapi terdengar sangat elegan. Itu lah menurut saya kelebihan dari seorang yang cerdas, akan terpancar dari gaya komunikasinya.

Obrolan terus mengalir, yang sedikit banyak terselip isu-isu yang sedang santer akhir-akhir ini. Hingga terlontar satu pertanyaan yang sebenarnya masih sangat bersinggungan dengan bahasan yang mereka sedang bicarakan sebelumnya, “Nah, gimana tuh cara kamu ngadepin orang yang nanya : Kapan nih mau punya anak?" Begitulah kurang lebih konteks pertanyaan yang dilontarkan oleh Sang Psikolog kepada Sang Tamu. Kebetulan juga, bintang tamu ini adalah seorang yang sudah menikah, dengan background pernikahan yang tidak sederhana juga (suaminya berpindah keyakinan yang akhirnya bisa menggiring pasangan tersebut ke jenjang pernikahan). Namun, sampai saat ini belum pernah ada bahasan mengenai anak di setiap unggahan video di YouTube Channel-nya.

Saya masih menikmati konten yang sedang saya dengarkan ini, sambil memotong sayur-mayur dan sesekali melirik ke layar ponsel.

“Hmmm, sebenernya gue sama suami emang udah sepakat untuk ngejalanin kehidupan pernikahan yang CHILD FREE dan sampe keputusan ini dipilih pun pastinya kita berdua sudah memikirkan matang-matang dan juga observasi sana-sini.”

Saya sontak menghentikan kegiatan perpisauan saya, merasa terpanggil untuk menyimak dengan lebih fokus.

Child Free dalam suatu pernikahan bisa diartikan dengan lebih sederhana sebagai ‘tidak berekspektasi untuk memiliki anak/keturunan’. Gaya pernikahan seperti ini sebenarnya sudah cukup lumrah di dunia belahan barat sana. Namun, jika itu terlontar dari ucapan seorang Indonesia, dengan atribut reliji yang menempel padanya, yaitu hijab, membuatnya seolah terdengar ekstrim.

Perempuan berusia sekitar 25 tahunan itu menjelaskan bahwa memiliki anak bukanlah satu-satunya tujuan dari pernikahan. Masih banyak tujuan pernikahan lain yang bisa dikejar dan dilakukan.

“Dua tahun yang lalu gue sampe nanya ke nyokap : Ma, kenapa dulu mutusin buat punya anak? And surprisingly, jawaban mama juga kayak : Nah, itu, mama juga ga tau. Dulu itu kirain yang namanya nikah ya harus punya anak, begitu alurnya.”

Dari percakapan tersebut, Sang Konten Kreator ini seperti mendapatkan penguat tambahan untuk prinsip “ekstrim” yang dia pilih.

Saya terus ikuti alur obrolan antara psikolog dengan perempuan muda tersebut.

Yang membuat saya justru perpikir bahwa “Iya juga ya, sebenarnya menikah dan memiliki anak itu kan bukan suatu paket keharusan yang bersifat mutlak. Buktinya, bagi mereka yang tidak diberikan rezeki anak, tidak mengurangi esensi dari pernikahan itu sendiri, kan? Bukan berarti sakinah mawaddah dan rahmah menjadi suatu kemustahilan bagi rumah tangga mereka, kan?”

Begitu pun dengan kesiapan. Memiliki anak itu menurut saya sangat membutuhkan kesiapan yang matang. Anak yang dilahirkan bukan hanya sebatas harus diberi makan, dibesarkan secara fisik, and that’s all done. Ada kewajiban penyerta kita sebagai orang tua dengan lahirnya seorang anak. Harus dididik, dipenuhi kebutuhan batiniah dan akalnya juga. Dan yang lebih beratnya adalah pertanggungjawaban kita kelak kepada Allah SWT tentang anak yang kita besarkan. Mungkin bagi kebanyakan orang hal itu terdengar sederhana, tetapi bagi saya pribadi pun bahkan sangat berat, apalagi ketika sudah diberi amanah untuk menjalankannya.

Memiliki anak, begitupun dengan menikah, merupakan suatu pilihan yang sejatinya tidak digeneralisasikan sebagai suatu kewajiban. Karena tidak bisa dipukul rata kesiapan setiap personal mengenai keduanya. Jika dia masih melajang, untuk apa kita sibuk ingin tahu mengapa ia melajang saat usainya tak lagi muda? Pun saat melihat sepasang suami istri yang masih berdua saja, belum saya dapatkan fungsi dari pertanyaan, “Kapan punya anak?” bagi kedua belah pihak, baik pihak pasangan tersebut, atau pun pihak penanya. Lalu, untuk apa?

Saya tidak memandang salah sang konten kreator yang memilih jalan hidup seperti itu. Toh, itu adalah pilihan dia dan bahkan pasangannya pun menyetujuinya. Artinya, ada suatu alasan kuat bagi mereka untuk memilih jalan tersebut.

Jika dikatakan ekstrim, menurut saya, paradigma yang menjadikannya ekstrim atau tidak. Kultur budaya di Indonesia yang memang memaketkan plot kehidupan manusia secara pukul rata, membuatnya terkesan ekstrim untuk setiap fase yang tidak sesuai dengan alur tersebut. Apalagi, ketidaksesuaian tersebut memang dibuat secara sengaja.

Namun, berangkat dari kisah sang konten kreator tersebut, di mana ia dan suami yang berdomisili di Jerman, akan lebih mudah untuk menjalankannya. Terutama dalam hal menghadapi pandangan masyarakat sekitar.

Dan saya sendiri semakin miris dengan tingkat ke-kepo-an masyarakat kita. Terlalu ingin banyak ikut campur dalam ranah kehidupan orang lain, dengan berkedok peduli. Padahal, menurut hemat saya, peduli bukan dalam koridor seperti itu. Apalagi untuk hal yang dirasa belum berbenturan dengan aturan agama dan keyakinan, untuk apa sibuk mendikte? Betul?

Ahh, ini hanya suara isi hati saja. Karena terkadang saya pun agak gerah dengan ‘kepedulian’ orang-orang sekitar saya, yang alih-alih perhatian, nyatanya lebih ke arah menghakimi kemudian, duh!

Saturday, January 2, 2021

CERPEN : Cerita tentang Kotak Musik

 

Picture by Pinterest

             Kotak musik itu menjadi saksi akan satu fase kehidupan yang hampir terlupakan. Ya, teralihkan oleh fokus dunia untuk masa kini yang mengiming-imingi masa depan. Sedikit banyak membuat kita kurang menyadari bahwa ada bagian dari masa lalu pun yang mungkin layak untuk diingat. Dan di situlah dia berada. Di antara serakkan cerita lampau yang dibalut dengan bingkai kenangan.

***

                “Ini buat kamu.” Kedua tangannya menggenggam kotak berukuran sedang dengan tatapan agak malu. Kentara sekali berusaha untuk menyembunyikan air muka yang mungkin memerah, tetapi juga tak ingin melewatkan mimik gadis di hadapannya, aku.

                “Apa ini?” Bukan pura-pura tidak tahu. Kernyitan yang hampir menyatukan dua ujung alis ini menjadi bukti. Antara ragu untuk menerima kotak berbungkus kertas kado berwarna merah muda itu, atau lebih baik membiarkannya saja hingga pertanyaan terjawab satu per satu.

                “Ya, buka aja! Mudah-mudahan kamu suka.” Matanya menangkap pandangku. Saling beradu sesaat. Kemudian ia palingkan wajahnya ke arah luar jendela. Salah tingkah.

                Kelas itu kosong. Wajar saja, jam istirahat membawa hampir seluruh penghuninya menuju kantin atau sekadar mengembalikan buku perpustakaan. Kutahu dengan sengaja ia tetap tak beranjak mengikuti kawan-kawannya saat bel berbunyi tadi. Lebih memilih untuk menolak ajakan mereka dengan dalih melengkapi catatan pelajaran sebelumnya.

                Aku? Masih asyik dengan novel terbaru yang secara rutin kubeli setiap tanggal satu. Hasil menyisihkan uang jajan bulanan yang diberikan oleh papa. Dan di tanggal-tanggal itu, aku lebih memilih untuk membenamkan diri dengan bacaan hasil jerih payah, ketimbang berdesak-desakkan di kantin atau kegiatan lain ala jam istirahat.

                “Kado? Tapi ulang tahunku udah lewat, lho!” Tetap kedua tanganku tak berkutik. Kotak di hadapan masih tak tersentuh. Bukan karena tidak mau. Namun, jika dikatakan malu, ya aku pun begitu.

                Remaja di hadapanku hanya menarik seulas senyum yang terlihat kaku. Melirik ke sana dan ke sini, berusaha mengontrol diri. Dengan gugup diletakkannya kotak tersebut di mejaku. “Ngasih kado ga harus pas ulang tahun aja, kan?” Kemudian ia melengos pergi.

                Aku yang bingung dan penasaran, akhirnya meletakkan novel dan mulai mencari tahu tentang kotak di hadapanku. Kuangkat, sedikit kugoyangkan. Bunyi benda keras tumpul beradu dengan kertas karton terdengar. Diiringi sedikit dentingan yang sulit kutebak.

                “Apa sih ini?” Aku bergumam pada diriku sendiri sambil terus meneliti kotak manis yang kini telah berada di genggaman. Ragu-ragu kucoba mencari simpul lipatan. Rasanya sayang untuk merobeknya. Mungkin bisa sedikit kuintip melalui perekat yang kubuka perlahan. Saat mulai kutemukan simpul tersebut, bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Kelas mendadak riuh kembali. Kuhempaskan sesaat kotak merah jambu ke dalam ransel jinggaku, terlupakan hingga waktu pulang sekolah tiba.

***

Bel pulang sekolah memang dibuat lebih panjang dibandingkan bel istirahat. Menggema ke seluruh penjuru gedung bercat krem, yang disertai riuhnya para murid. Tak ada yang tak menantikan jam pulang sekolah, termasuk aku. Dengan sigap kurapikan buku pelajaran terakhir beserta alat tulisnya. Saat hendak kumasukkan ke dalam tas, tersembul kertas kado merah jambu yang membawa ingatanku kembali pada kotak pemberian tadi.

‘Oh, iya. Kado darinya belum kubuka.’ Masih monolog.

“Yuk, Di!” Ajakan sahabat untuk pulang bersama mengagetkanku. Kutepis lagi pikiran tentang kotak itu, segera membereskan seluruh perkakas belajar dan menyusul Isti yang telah menunggu di depan kelas sambil berbincang dengan kawan lainnya.

Kami berpapasan di gerbang sekolah. Kini aku yang tak mampu menangkap tatapnya. Menghindari lebih baik, sebelum ia bertanya tentang nasib kotak pemberiannya. Benar, yang masih belum kubuka sama sekali.

Namun, dia hanya tersenyum, seperti tahu tentang gelagatku. Dilajukannya motor tua pemberian ayahnya, tanpa meninggalkan sepatah kata. Oh, dia menyapa. Namun, bukan padaku, tetapi berpamitan kepada sahabat yang berjalan beriringan denganku, Isti. “Ti, duluan ya!” Dan melesatlah si roda dua.

‘Kenapa sih dia. Ngasih kado ke aku, tapi malah aku yang dicuekkin.’ Sedikit mendengus. Meski hanya di dalam hati.

Dan kami, aku dan Isti, meninggalkan area sekolah, menuju rumah masing-masing. Jarak yang tak terlalu jauh hanya membutuhkan kedua kaki untuk mengantarkan kami setiap hari.

Setibanya di rumah, langsung kumenuju kamar. Menyalakan pendingin ruangan, berganti pakaian, rebahan sejenak sebelum membantu mama menyiapkan makan malam yang kesorean. Seperti itu rutinitasnya.

Kotak itu kembali mampir dalam ingatan. Bangkit kembali dari rebahku, menuju meja belajar di mana ransel sekolahku bertengger di sana. Agak sedikit tak sabar kubuka tasnya, langsung kucari kotak merah jambu dengan tak mengindahkan buku-buku yang agak terlipat-lipat dibuatnya. Kotak itu berukuran sedang, seperti yang telah kuceritakan. Lumayan mengambil banyak ruang di tas yang tak begitu milikku.

Kembali meragu untuk membukanya, meski kini kotak merah jambu telah berada di pangkuan.

‘Hmm, buka aja, deh! Biar nanti pas dia tanya nasib kotak ini, aku bisa jawab.’ Benar-benar sesederhana itu pikiranku. Pikiran remaja kecil di bangku kelas tujuh.

Seperti niat di awal, kubuka lipatan per lipatan secara perlahan, hati-hati. Tak ingin merusaknya. Lumayan, mungkin bisa dipergunakan kembali bungkusnya nanti.

Sebuah kotak bertuliskan MUSIC BOX terpampang di sana. Aku tercengang sesaat. Yang kemudian kulanjutkan membuka kotak kardus yang kini sudah semakin memberikan pencerahan tentang isinya.

Kotak itu berwarna merah jambu, senada dengan kertas pembungkusnya. Saat dibuka, terdapat cermin kecil di alas tutupnya. Diikuti penari balet yang berputar-putar seperti mengikuti irama yang dihasilkan oleh seperangkat mesin yang tertanam di dalamnya. Mesin tanpa baterai, tetapi mampu mengalunkan nada klasik yang indah.

Dan itu adalah kotak musik pertamaku, yang sedari bangku sekolah dasar dulu sangat kuidamkan. Berdasarkan cerita komik yang membawa khayalku untuk memiliki benda serupa. Namun, belum berani untuk meminta mama atau papa, karena mereka pasti menanyakan fungsi dari setiap apa yang akan dibelinya.

Segera kuambil ponsel sederhana dengan gantungan kucing putih dari sisi lain meja. Kubuka halaman mengirim pesan, kuketik nama penerima [Dave Schoolmate], dilanjutkan dengan isi pesan :

[Hei, makasih banyak kadonya. Aku suka banget. Thanks.]

Kotak musik itu kini telah hilang ditelan pergantian generasi. Namun, karena ia adalah kotak musik pertamaku, kenangannya akan tetap tertinggal, meski sempat terkubur jauh di bawah gundukan kesibukan akan hidup di masa kini.

Karena yang pertama akan lebih berkesan, hukumnya tetap seperti itu.