Sunday, June 7, 2020

CERPEN : KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)

"Aku mau kamu keluar dari pekerjaan kamu sekarang, tanpa tapi!" Terperanjat, terlalu kaget. "Tapi, mas, pekerjaanku ini sangat fleksibel kok. Tidak setiap waktu harus meninggalkan rumah. Lagipula, sekarang kan kita belum memiliki anak. Aku janji, aku akan resign saat hamil," berusaha membujuk dan meyakini. Aku yang seorang psikolog keluarga ini telah cukup lama memegang rubrik rumah tangga di beberapa majalah wanita nasional. Memilih sebagai penulis ketimbang praktisi, tentu bukan tanpa alasan. Kefleksibelan waktu dan tempat kerja yang menjadi pertimbangan. Walau sering dikejar deadline, tetapi, aku masih bisa melakukan pekerjaanku dari rumah dan mengatur waktu kerja sesuai keinginanku, setidaknya begitu sistem kerja di redaksi tempatku berkiprah saat ini. 

Sesekali kadang aku harus harus menghadiri pertemuan, artinya harus keluar rumah, tetapi, bukan untuk setiap hari dan dengan office hours yang mengikat. Kupikir juga, awalnya, mas Yoga adalah tipikal suami yang open minded. Bahkan, sebelum menerima lamarannya, kami sempat membahas tentang hal ini juga, dan kurasa sudah cukup jelas. Aku membutuhkan pekerjaan ini bukan sekedar perihal materi, tetapi, aku menemukan bahagiaku di sini, saat menulis, menuangkan ide tulisan yang berkenaan dengan bidang yang kudalami. Aku ingin menjadi istri yang bahagia, sehingga bisa kutularkan bahagiaku pada suami, juga kelak anakku, tanpa mengganggu fitrah utamaku di rumah. 

"Aku ini suamimu sekarang. Kamu harus tunduk padaku! Aku mau kamu hanya di rumah mengurus aku dan rumah tangga, apa terlalu sulit?"

"Tunduk? Mas, aku sangat menghargaimu sebagai suamiku. Bahkan, mas Yoga adalah orang nomor satu untukku saat ini, melebihi ayah dan ibuku. Tapi, mas...."

"Maka dari itu, turuti yang aku mau! Aku hanya ingin kamu fokus untuk aku. Paham?!"

Bentakan itu, masih sangat kuingat. Apalagi, aku tidak dibesarkan dengan kekerasan verbal maupun fisik di keluargaku. Nada tinggi bukan hal lumrah bagi telingaku. Sakit rasanya. Terlebih kau dapati itu dari orang nomor satu-mu saat ini, suamimu. Tak sanggup kulanjutkan argumenku, aku menangis.

***
Terngiang pesan ibuku di hari itu, tepat setelah ijab qabul antara ayah dan mas Yoga terlaksana. "Niken, ibu ikhlaskan kamu untuk Yoga. Sekarang, tempatkan ia di posisi utama dalam hidupmu. Dengarkan ucapannya, turuti keinginannya, selama tak menyalahi syariat, kau wajib mematuhinya. Ingat, ridha seorang suami bagi istri adalah segalanya." 

Dulu, ku-iya-kan perkataan ibu dengan mudahnya. Patuh? Hanya menggantikan posisi ayah ibu menjadi suami, bukan? Sejauh ini aku termasuk anak yang patuh pada orang tua, ahh, tak kan sulit bagiku untuk mematuhi suamiku

Nyatanya, tak sesederhana itu. Akan berbeda antara seseorang yang telah ada untukmu, bahkan ketika kamu belum terlahir ke dunia, dengan seseorang yang asing, baru dan mungkin malah belum mengenalmu. Kepatuhan bukan sekedar mengikuti keinginan orang lain, tetapi, menerima dengan sepenuh hati. Dan mematuhi keinginan seseorang yang belum banyak mengenalmu, terkadang akan melahirkan konflik tersendiri.

Namun, demi ibuku juga syariat yang kuyakini, kuikuti keinginannya. Tertanggal 31 Mei 2020, aku tak lagi menjadi pemegang rubrik rumah tangga di majalah-majalah itu. Kutanggalkan laptop juga sedikit ilmu yang selama ini menjadi bagian besar dalam hidup. Aku menjadi istri yang fokus hanya untuk suamiku juga rumah tanggaku. Sedih? Tentu. Apa guna kutampik perasaan yang memang ada. Tapi, menerima seseorang menjadi suami ataupun istri, artinya kita telah menyanggupi untuk menjalankan hak dan kewajiban kita baginya, bukan? Sepenuhnya, di hadapan Tuhan.

***
Plakk! 

"Kamu sudah kuberi tahu, kan? Meeting ini adalah meeting penting untukku, untuk kelangsungan pekerjaanku. Dan kamu tidak membangunkanku tepat waktu! Kamu mau aku kehilangan proyek ini, hah?! Lalu, darimana aku akan membelikan alat lenongmu itu?!"

"Mas, kamu demam tinggi. Semalam pun kamu banyak meracau dalam tidur. Aku sempat membangunkanmu, kemudian kamu menggigil hebat dan kembali tertidur. Aku pun panik, mas. Kamu tak pernah seperti ini sebelumnya."

Kuelus pipiku. Terasa nyeri. Namun, ada yang jauh lebih nyeri terasa. Bagian yang tak nampak, jauh di dalam dada. Perasaanku.

Sebelas bulan berjalan pernikahan kami. Seperti menikmati film horor, kudapati banyak kejutan di dalamnya. 

Keindahan pernikahan hanya bertahan semasa bulan madu saja, tak lebih dari sebulan kukira. Benar ternyata apa kata orang, pernikahan itu adalah ujian seumur hidup, jika hanya mengharapkan manisnya saja, siap-siap kau ditelak oleh kekecewaan

Saat mencoba untuk mundur pun, faktanya tak semudah itu. Bukan seperti kau katakan, "Ayo, kita putus!" saat menjalani masa pacaran, bagi yang melaluinya. 

"Putus" saat menikah artinya memutuskan rantai ikatan yang menghubungkan diri kita, pasangan, keluarga masing-masing, juga Tuhan. Rumit, bukan? Belum lagi mengenai paradigma masyarakat tentang status baru yang akan dipikul setelahnya. Terlalu rumit kemudian.

Ahh, semakin menyesakkan!! Aku sulit bernafas!!

***
"Niken, Niken, bangun, nak!"
Suara yang sangat tidak asing di telingaku.

"Kamu mimpi buruk? Ayo, bangun dulu, ini minum air putih. Kamu lho ngigau sampai terdengar ke ruang tengah. Mimpinya seburuk apa, sih?"
Ahh, aku bermimpi rupanya. Aku tertidur dan sekarang terbangun.

"Oya, tadi mbak Naning ngabari ibu, katanya dia ndak bisa hadir hari Sabtu. Dia kan sudah dekat HPL ya kehamilannya, terlalu beresiko pergi jauh. Tapi, dia insyaAllah akan ke Jakarta saat Idul Adha nanti. Dia kirim salam dan maaf untukmu, Nik. Nanti dia telepon lagi katanya."

"Satu lagi, ibu hampir lupa. Tadi juga pihak WO hubungi ibu, katanya handphone-mu enggak aktif, mereka minta meeting terakhir malam ini untuk bahasan final susunan acara dan segala persiapannya. Makanya, kau tuh bangun tho ah, masih banyak yang harus diberesi. Baju pengantinmu juga sudah datang tuh, harus dijajal dulu, apa masih kurang kecil atau gimana. Wes ah, bangun, bangun! Yok!"

Aku Niken. Tadi adalah ibuku. Beliau memang selalu heboh seperti itu. Apalagi berkenaan dengan persiapan pernikahanku, sebagai anak perempuan satu-satunya, yang akan dilaksanakan hari Sabtu. Tinggal menghitung hari, aku tahu.

Mimpi buruk sering hadir mengusik beberapa hari terakhir. Mungkin ini yang disebut dengan sindrom pra-nikah. Ada kegugupan, kebahagiaan, ketakutan, keantusiasan, terlalu bercampur banyak rasa. Ditambah dengan berbagai macam kasus yang sering kutangani sehari-hari tentang rumah tangga, bagian dari pekerjaanku sebagai psikolog keluarga. Ternyata, sedikit banyak hal itu pun mempengaruhi bagian alam bawah sadar, ya. Semua seolah tervisualkan di dalam bunga tidur.

Ahh, syukurlah hanya mimpi.

Namun, aku tetap optimis dengan pernikahanku nanti Sabtu. Tak ada rasa gentar berarti. Pernikahan adalah pilihan untuk bersedia menuai pahala sepanjang waktu. Aku sangat excited. Takut? Tentu. Ragu? Masih kadang menganggu. Tapi, kuniatkan semuanya untuk beribadah, yakinkan bahwa tangan Tuhan akan ikut bekerja di dalamnya. insyaAllah.

No comments:

Post a Comment