Tentang seorang ibu rumah tangga beranak satu yang senang menikmati kopi dan kata. Hanya bercerita dan tak lupa seruput manis pahitnya. Menyajikan dan membagikan kenikmatannya untuk dirasakan bersama. Bentuk portofolio hidup untuk kemudian dibuka dan dikenang pada masa selanjutnya💙
Sunday, October 25, 2020
Coretan Tengah Malam
Friday, October 23, 2020
Kisah Bunga Mawar
Hai, namaku Akira. Bukan, tak ada darah Jepang di diriku. Nama itu hanya simbol pemberian orang tua, sebatas itu.
Aku menyukai bunga mawar. Tak harus ia berwarna merah atau putih, mawar layu pun aku suka. Tak ada alasan spesial untuk itu. Nyatanya, kecantikan mawar memang cukup mampu untuk menarik afeksiku. Semua orang tahu, mawar dan aku, seperti jodoh yang tak bisa bersatu. Tentu saja, bagaimana bisa kupersunting setangkai bunga?
Namun, lelaki itu terlalu jenius, jika dapat kubahasakan. Memanfaatkan celah kesukaanku, ia merayu. Ketika pintu diketuk, tak pernah kunyana akan hadirnya di balik sana, menggenggam sebuket mawar yang sangat indah. Kutebak, mungkin dua puluh tangkai terikat oleh satu untaian pita berwarna emas.
Dia tersenyum, buket mawar pun berpindah dalam pelukanku. Masih jelas teringat degupan jantung yang sulit kuatur saat itu. Ritme yang menantang dan memabukkan.
Tak ada kata cinta atau gombalan manis merayu mendayu. Dari tegapnya ia membawa diri, kentara sekali romatisme kata bukanlah keahliannya. Tak apa. Karena ia telah menyuguhkan bentuk romatisme lain padaku, yang justru dengan sukses meluluh-lantakkan benteng keangkuhan yang selama ini kubangun.
Aku heran, mengapa tak ada rasa jemu sama sekali baginya. Setiap tiga hari sekali muncul dengan buket mawar berbeda, baik warna, jumlah, atau ukuran. Kali ini, hanya satu. Namun, mahkotanya selayak Ratu Elizabeth yang berhak atasnya. Warnanya merah kehitaman, batang lebih kokoh dan keras, dengan duri lebih besar dan banyak.
Sempat ragu aku untuk menerima uluran tangan berisikan mawar kali ini. Namun, senyumnya meyakinkanku bahwa tak ada yang perlu diragukan. Mawar ini berduri, tetapi lelaki itu seolah siap untuk mengobati luka jikalau memang itu terjadi. Kuterima tangkai itu, dan aww, darah menetes dari telunjuk yang tak menyadari akan tajamnya duri di mawar yang ia sentuh.
Namun, mengapa lelaki itu pergi menjauh? Membiarkan tetesan darah mengalir di antara mawar dan kulitku. Aku terhenyak, tak kuasa memanggilnya. Ia pergi dengan senyum yang tergores sama indahnya pada saat ia memberikan buket-buket bunga. Mengapa bisa ia begitu jahat padaku? Setelah membelaiku dengan keindahan sesaat, menggiringku pada luka, dan kini ia angkat kaki masih tanpa kata.
Dari mawar aku belajar akan kewaspadaan. Bahwa di balik keindahan,
jangan terlena hingga membutakan akal dan logika. Saat rasa bermain peran,
pastikan selalu akal tetap ikut bersamanya, beriringan. Agar tak ada lagi kisah
mawar yang mungkin akan menjadi episode baru dengan cerita yang sama.
Thursday, October 22, 2020
Surat Untuk Anakku, Muhammad Anis
Dear my only one bear, Muhammad
Anis,
Apa kabarmu, Nak?
Saat kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah semakin menua. Namun, mudah-mudahan
masih diberikan kesempatan untuk membersamaimu, ya? Aammiin.
Nak, dulu sekali, Ibu menanti
kehadiranmu dengan penuh harap, selama kurang lebih lima tahun. Meskipun Ibu
tak pernah mengikuti progam menunda kehamilan apapun, tetapi ternyata Allah
memang memberikan sesuatu sesuai takarannya. Mungkin kala itu, Ibu dirasa belum
cukup mampu untuk mendampingi anak luar biasa sepertimu, sehingga penantian pun
dirasa layak dan setimpal.
Tertanggal 26 Januari 2017, si
garis dua merah yang selalu dirindukan pun akhirnya menampakkan hilalnya.
Betul, Nak. Itu hari di mana Ibu diberitahu akan keberadaanmu di dalam rahim
ini oleh Allah. Rasanya? Tak cukup kata menggambarkan. Terlalu bahagia, terlalu
antusias, terlalu haru. Terlebih saat Ibu tahu bahwa kandungan ini telah
memasuki usia delapan minggu. Allahu Akbar, MasyaAllah. Bagaimana bisa selama
itu Ibu tidak menyadari keberadaanmu?
Waktu bergulir. Minggu per minggu
dilewati tanpa ada keluhan yang berarti. Kamu menemani Ibu yang kala itu masih
bertugas di ranah public. Namun, kamu masyaAllah kuat, hebat. Kita melewati itu
semua hingga akhirnya Ibu memilih untuk fokus hanya padamu, di waktu usiamu
dalam rahim Ibu sekitar enam bulan.
Dan tanggal 9 September 2017,
tangisan pertamamu membuahkan titik air mata haru Ibu di ruang operasi itu. Kita
berhasil, Nak. Kamu bisa melihat dunia, Alhamdulillaah ‘ala kulli haal.
Seiring waktu kamu pun bertumbuh,
menjadi anak yang, aktif, ceria dan ramah. Melalui fase-fase perkembangan
dengan luar biasa cepat. Ibu masih ingat tanggal di mana kamu pertama mencoba
untuk berguling, duduk, merangkak, makan, berjalan, tumbuh gigi, semua masih
terekam dengan jelas di memori, Nak. Hingga kini, saat Ibu menulis surat ini,
kau pun telah berusia tiga tahun satu bulan, masyaAllah.
Harapan Ibu tentu banyak padamu.
Namun, utamanya, Ibu ingin kau menjadi anak yang mampu memegang akhirat di atas
dunia, juga menjadi sosok yang mampu berdaya, dengan atau tanpa Ibu, dan
siapapun.
Karena saat manusia dilahirkan itu
sendiri, Nak, dan kelak akan kembali ke pangkuan Maha Pemilik Hidup dalam
kesendirian pula.
Maka, jika Ibu membiarkanmu untuk
memenuhi kebutuhanmu sendiri sejak dini; makan, berpakaian, mengambil sesuatu,
dan lainnya, itu bukan karena Ibu tega dan tidak ingin memanjakanmu. Namun,
justru bentuk sayang Ibu. Karena tak selamanya Ibu akan selalu bersamamu, dan
jika saat itu datang, Ibu ingin kau tetap kuat dan merasa siap.
Untukku, sukses membersamaimu bukan
ketika membuatmu sangat bergantung padaku. Jutsru, saat Ibu bisa melepasmu
dengan kesiapan untuk menghadapi dunia dan akhirat di atas kakimu sendiri, itu
tolak ukur sukses bagi Ibu.
Percayalah. Masa di mana kau akan
mengamini apa yang Ibu maksud saat ini akan tiba, insyaAllah.
Namun, satu hal yang perlu kau
ingat selalu, Nak. Ibu sangat sayang padamu. Sayang yang tak berukur dan tak
pernah bisa terukur.
Semoga niat Ibu untuk
memandirikanmu dapat membawa dampak kebaikan besar untuk kehidupanmu kelak.
Pahit saat ini, manis di waktu
nanti, insyaAllah.
Peluk cium untuk jagoan Ibu. Allah
selalu bersamamu.
Bandung, 22 Oktober 2020
With love, Ibu
Saturday, August 29, 2020
Liburan ala Pandemi
Sunday, August 16, 2020
CERPEN : Hanya dalam Angan
Kami duduk berdua,
menikmati seruputan latte panas
dengan kudapan kukis cokelat seadanya. Menu yang sangat biasa. Namun,
kehangatan yang terjalin buah dari percakapan antar hati, membuatnya menjadi
luar biasa. Sesekali kudapati ujung matamu menangkap sisi lain dari wajahku.
Kau mencuri pandang dan aku hanya berpura-pura tak tahu. Aku senang caramu
memperhatikanku. Sangat alami dan sedikit malu-malu. Terlihat jelas betapa
belum berpengalamannya dirimu tentang rasa. Kita hanya dua insan polos yang
berusaha untuk lebih mengenal dunia. Ya, dunia kita berdua.
Ponselku berbunyi.
Tertulis ‘Abah’ di layarnya dengan notifikasi pesan masuk. Segera kubuka dan
kubaca dengan seksama isinya. Benar, pesan itu datang dari ayahku. Sebenarnya
beliau adalah sosok yang menyenangkan. Bahkan, hobi melontarkan leluconnya
sudah sangat dikenal oleh orang terdekat. Hanya saja, mengenai pergaulan
anak-anaknya, beliau sangat ketat. Aku sebagai satu-satunya anak perempuan,
menjadi sorotan utama beliau dalam menjaga dan memperlakukanku. Terkadang aku
senang dengan hal itu, tetapi tak jarang aku merasa tidak nyaman karenanya. Bagi
Abah, jangankan pacaran, untuk pergi dengan teman lelaki saja sudah termasuk
hal yang dilarang. Jika Abah tahu bahwa saat ini aku sedang bersama Lukas
bersantai di pelataran kedai kopi sambil berkelakar, tamatlah riwayatku.
‘Kau di mana? Sudah menjelang magrib ini. Segera
pulang!’
Panik aku dibuatnya.
Tanda seru di akhir seperti menegaskan perintah yang tak terbantahkan. Namun,
aku masih merasa sangat nyaman dengan Lukas. Kebersamaan ini yang telah lama
kunantikan. Sebelumnya, aku hanya bisa memuja dia dalam diam. Bahkan, hingga
saat ini aku masih tidak menyangka bahwa Lukas, sosok yang sangat aku kagumi
sejak di bangku Sekolah Menengah Atas, akhirnya menjadi milikku. Pekan
Orientasi Mahasiswa Baru yang berandil akan terjalinnya hubungan ini. Saat
acara penutupanlah dia menyatakan maksud dan isi hatinya padaku. Yang kuingat,
suasana agak dingin berembun karena hujan dan aku sangat tidak bisa berpikir
jernih untuk sekedar mempertimbangkan hal lainnya, kecuali menerima cintanya.
“Hmm, ini Abah udah nyuruh pulang. Mungkin, lain kali
kita bisa bikin moment lagi?” tanyaku penuh harap dan ragu. Harap untuk mendapatkan
persetujuan Lukas tentang pertemuan selanjutnya dan ragu untuk menyudahi hari
ini. Mimik muka Lukas sangat santai hingga sulit ditebak isi hatinya. “Now? Seriously?! Syifa, ini baru pukul
lima sore, lho!” jawabnya dengan senyum yang tetap merekah. Aku semakin dibuat dilema.
Senyum itu, ah, terlalu renyah untuk kulewati begitu saja. Bilakah aku bisa
menambah satu jam saja kebersamaan ini, artinya senyum itu akan tetap bisa
kunikmati. ”You know him, lah!
Perintahnya adalah titah,” sahutku diikuti tawa yang kurang menyenangkan untuk
didengar, tawa penuh kesinisan. “Baby,
kamu bisa bilang kalau ada tugas makalah kelompok, kan?” Pertanyaan yang lebih
menggambarkan pernyataan. Tanpa diskusi selanjutnya, kebohongan pun akhirnya
terkirim ke ponsel Abah melalui beberapa kata dalam pesan singkat.
‘Syifa masih harus mengerjakan makalah kelompok
untuk besok, Bah. Secepatnya Syifa pulang setelah selesai.’
SENT
Kusimpan ponsel di
dalam tas. Aku hanya ingin bermain dengan senyum renyah itu tanpa distraksi
saat ini.
Tanpa terasa, dua jam
lewat dari terakhir kali Abah mengirim pesan. Aku buka kembali ponselku. Tidak
ada jawaban dari pesan terakhir ataupun panggilan yang tak terjawab. Sejenak
kumerasa lega. Mungkin akhirnya Abah menyadari bahwa anaknya kini sudah dewasa.
Tidak selamanya bisa mengikuti jadwal pulang yang ditetapkan. Pergeseran jam
malam sudah seharunya diberikan padaku, mengingat kewajiban pun kian bertambah
mengenai perkuliahan. Walaupun untuk saat ini, ada kedok kebohongan juga di
dalamnnya. Tugas fiktif untuk waktu memadu kasih yang jelas sangat dilarang
olehnya.
Lukas mengantarku
hingga halte bus dekat rumah. Rasa takut ketahuan sudah tentu alasannya. Di
halte itu aku turun dari Ninja berwarna
biru miliknya. Saat akan kubuka helmku, tanganmu dengan sergap membantu melepaskannya.
Wajahku memerah. Mungkin ini jarak terdekat yang pernah aku alami dengan Lukas.
Tangannya mengenai tanganku yang berusaha membuka tali pengikat helm.
Dilanjutkan wajahnya mendekati kunci tali pengikat helm yang berjarak tak lebih
dari sejengkal dengan wajahku. Kurasakan napasnya. Klik. Kunci tali pun terbuka, dia menarik lepas helm yang kugunakan
dengan perlahan, meninggalkan rona wajahku yang seperti habis terbakar.
“Sampai jumpa besok, Princess! Thanks for the
precious time,” kulihat mata kirinya yang bening mengerjap dengan penuh
godaan. Juga ciuman jarak jauh yang dia hembuskan bersama lambaian tangannya.
Hari ini terlalu sempurna.
“Syifa! Syifa! Anak
gadis kok melamun saja, sih? Cepat itu bantu Ibumu! Sebentar lagi keluarga Haidar
datang, kan? Kau bahkan belum bersiap,” teriakkan Abah membuyarkan episode lain
tentang hidupku yang selama ini hanya sanggup diputar dalam layar imajinasi.
Haidar adalah calon
tunanganku yang masih terpaut ikatan persepupuan jauh. Tentu saja pertunangan
ini akan berujung pada pernikahan dalam waktu dekat, tanpa banyak persetujuan
dariku secara pribadi. Mereka menyebutnya perjodohan, aku menamainya penyunatan
takdir. Bagaimana tidak, aku tidak diberikan ruang untuk menentukan takdirku sendiri
untuk jalinan yang justru akan dijalani olehku. Bahkan hanya untuk sekedar memperjuangkan
cintaku, tak ada kesempatan itu.
Lukas, selalu
kusematkan ia dalam doa. Bersama dengan datangnya keajaiban dari Tuhan, kuharap
kami dapat dipersatukan. Cintaku padanya sangat tulus dan dalam, dan dia tidak
pernah tahu itu. Aku hanya mampu memandangnya dari jauh di sekolah hingga kampus
dan juga memainkan perannya di dalam episode khayalku. Dia nyata, tetapi
terlalu mustahil bagiku yang berlatar keluarga dengan penarik garis keturunan
baku seperti ini.
Hari ini, kuakhiri
hubungan dalam angan-angan antara aku dan Lukas. Dengan dibacakannya Fatihah,
artinya berpindahlah kepemilikan akan diriku kini, dari Abahku untuk Haidar.
Bulan depan pernikahanku akan digelar. Seluruh teman di kampus akan diundang, termasuk
Lukas. Bayang-bayang akan senyum renyah itu kuharap akan segera pudar. Tergantikan
oleh senyum lelaki di hadapanku saat ini, yang sedang berusaha untuk kucintai.
Dear
Lukas,
mantan impian yang hanya mampu terkuburkan, untuk pertama dan terakhir ingin
kuungkapkan I Love You.
Bandung, 16 Agustus 2020
Sunday, August 9, 2020
My Real Favorite OPPA
Wow, been so long ya ga bahas tentang kokoriyaan. Rindu juga rupanya. Jangan ditanya sudah berapa tema saya skip alias ketinggalan. But, life must go on kan. Mari kita tenggelamkan kembali jiwa, raga, pikiran dan imajinasi pada ke-halu-an yang hakiki lagi, haha.
This topic will be improving yet increasing our sense of "halu". Gimana ga, yang bakal dibahas adalah para makhluk Tuhan paling ga masuk akal, wkwkwk. Kalo zaman dulu tuh trend banget barbie dan ken (barbie versi cowok), kalo sekarang kayaknya tergeser tuh sama para oppa, eonni, dongsaeng, atau bahkan ahjussi. But before, enaknya kita obrolin dulu nih ya sebenernya definisi kesemua istilah tersebut tuh apa, biar afdhol gitu yekan. So, here we go, girls!!!
Oppa : sebutan dari cewek untuk cowok yang lebih tua tapi dengan gap usia ga terlalu jauh. Di Indonesia sebutan ini bisa dianggap seperti "abang", "mas", "akang". Biasa juga digunakan seorang cewek untuk manggil pacarnya.
Noona : sebutan dari cowok untuk kakak perempuannya, atau cewek yang dianggap lebih tua dari dia.
Eonni : sebutan dari cewek untuk kakak perempuannya, atau cewek yang di-kakak-kan.
Hyeong : sebutan dari cowok untuk kakak laki-lakinya, atau cowok yang dianggap kakak.
Dongsaeng : sebutan bagi cowok ataupun cewek yang lebih muda. Kenal istilah "berondong", kan? It might be referred to this.
Ahjussi : sebutan bagi laki-laki yang jauh lebih tua, dengan pautan usia lumayan jauh, mungkin kayak kita manggil "om" gitu? Ada juga yang menyebutkan usia 30-an sudah bisa dibilang Ahjussi, tapi saya kurang sreg. Karena apa? Karena itu artinya saya pun sudah bisa dibilang Ahjumma dengan definisi itu, wkwkwk.
Ahjumma : sebutan bagi perempuan yang jauh lebih tua, dengan pautan usia lumayan jauh. Sejenis "tante" lah ya. Dan aku bukan tante-tante, makanya kurang sreg sama patokan usia 30 untuk panggilan ini wahaha.
Nah, lumayan ada gambaran kan sama istilah-istilah tadi. Now, let's turn to the points, gaes!
Jadi, tema spesifiknya kali ini tentang favorit oppa/eonni/hyeong/ahjussi/ahjumma/dongsaeng. Tapi, karena saya ini cewek dan kurang suka berondong (maap yak bagi pecinta berondong, tak maksud diskriminasi haha), yang saya usung hanya oppa, eonni dan ahjussi saja, okey!
Btw, kalo saya suka sama mereka ini belum tentu saya udah nonton semua filmnya ya. Karena sungguh, dasar utama saya suka sama mereka masih dengan alasan fisik, wahaha. As I told previously, makhluk Tuhan paling ga masuk akal.
---
Moon Geun-young

Pertama kali ketemu #halah waktu dia berperan sebagai Eunso kecil di drama Autumn in My Heart. Dari situ saya udah mulai tertarik sama muka dia yang kental banget Korea-nya. Ditambah cara dia ngomong, aaah sweeeeetttooo! Lucu gitu. Sejak saat itu saya ikutin perkembangan perfilman dia. Years by years, ternyata tuh muka ga berubah-ubah secara mencolok. Ga kayak kebanyakan aktris Korea Selatan lain yang kadang jomplang gitu, apalagi dibandingin dengan foto mereka kecil/mudanya. Geun-young ini termasuk yang mirip ketiplek sama foto-foto dia kecil dulu. Boleh lah saya claim dia masih natural original. Walaupun mungkin aja dia tetep jelanin beberapa proses aestetik, but I personally can say that she didn't wanna try to be "another person". For me myself, that is more than enough haha. Selain itu, saya juga suka skill dia dalam beradu akting. Peran imut, jutek, sombong, baik hati cangkang keong, masuk dengan sukses.
Nama lengkapnya Moon Geun-young, kelahiran 6 Mei 1987. Dari usia sih kami bisa dibilang sepantaran, dulu sempet main bareng bola bekel sih wahaha. Cuma beda tiga tahun lha yaa. So, let me proudly crown her as "MY FAVE EONNI"!!! Chukkae!!
Song Hye-kyo

Pertama kenalan sama mbak satu ini pun di drama yang sama, Autumn in My Heart. First impression, CANTIK bikin mampus. Pernah halu di masanya, punya muka seanggun dia, wahaha, namanya juga bocah lah yaa. Ga se-intens Geun-young, yang film dan dramanya saya ikutin banget, mbak Hye-kyo ini ketemu lagi dengan saya ke-dua kalinya di drama Full House. Lha, filmnya aja sudah bagus, pemainnya beliau ini disandingkan dengan om Rain, ya makin kesengsem deh saya. Terlepas dari rumor, isu, dan segala gosip tentang beliau ini, saya memang tidak mengikuti. Bukan cuma Hye-kyo aja sih, aktris dan aktor lain pun saya tidak begitu concern dengan kehidupan pribadinya.Lha wong hidup kitaorang aja udah susah, ngapain bikin tambah susah dengan nambah-nambah tau kehidupan orang lain, betul? haha.
Well, mbak Hye-kyo ini kelahiran 22 November 1981 tapi muka kelahiran 1991 hahaha. Kalo secara usia, mungkin cocok masuk ke Ahjumma mungkin ya. Tapi, secara penampilan,she's still my pretty Eonni as well. Uhhhh, gemashh deh saya sama yang awet-awet muda begini. Takaran Sodium benzoat-nya berapa siiih ah!
Lee Min-ho

Komen buat foto : Bang, gatel ya lehernya? Sini tak garukin, awwww!!
Alasan suka, GANTENG!! Senyumnya adem kayak kipasan AC. Ngomongnya cimit-cimit antara cool dan lembut macem es krim. Gimana ga kelepek-kelepek liatnya. Lalala~haha.
Saya dengan dia itu ibarat Love at The First Sight. Temu pertama kali di City Hunter, karena saya nonton Boys over Flowers-nya telat, pemirsa! Lha kok imut, lha kok ganteng, lha kok lucu, lha kapan kau melamarku, bang! Wahaha.
Setelahnya, ketemu lagi di The Heirs. Masih seganteng itu, okey, fix, saya pengagum-mu dalam diam. Biarkan doa yang memediasi kita. Hahaha. Sip, BUCIN mode is detected!!
Ayang Min-ho ini kelahiran 22 Juni 1987. Deketan usianya kita, bang! Ya sudah, mau ya jadi Oppa saya? Ya, ya ya?! Kemudian lanjut meng-halu.
Song Seung-heon

Komen foto : Gomawo, bae, sudah kirim aku selfie begini pas lagi rindu-rindunya. Iya, tenang aja, aku setia padamu, kok!
Bahh!! Nih ya, saya deklarasikan pada dunia. SAYA INI PECINTA LELAKI MATANG yang sudah ranum tinggal petik dan makan wkwkwk. Mau beda 13 tahun juga tak apa kok, beneran deh! Syaratnya cuma satu : macem abang Seung-heon ini haha. Sederhana, bukan?
Kali pertama, lagi-lagi Autumn in My Heart. Kenapa sih dia harus se-keren itu? Se-wibawa itu? Jiwa haus kasih sayang dan manjaan saya bergejolak, gaesss!!
Senyumnya aja udah nampakin kedewasaannya. Gini ini lelaki sejati versi saya, lala~.
Seung-heon kelahiran 5 Oktober 1976. Bang, tanggal lahir kita beda 2 hari doang, lho! Nanti kita rayain bareng ya! hihi. Bahas umur, abang sudah masuk Ahjussi mungkin ya. Tapi, buat saya, tetap lah My Oppa Ever!
---
Jadi, begitulah bahasan kita kali ini ya, kawans. Semua penuh ke-halu-an, I know. Tapi, dalam lubuk hati terdalam, tetap Oppa Ali ayahnya Anis yang paling terfavorit. Woooo jelas dong, dia yang paling berani ngelamar saya segera, ahiwww! Maaf ya, oppa Min-ho, oppa Seung-heon, tolong cari yang lain dulu aja! Mianhae! For all, keep halu-halu yessss!! Luvvvvv!
Wednesday, August 5, 2020
Urutan Kelahiran dan Kepribadian Seseorang

Menurut Adler, anak tertua cenderung konservatif, mereka berorientasi pada kekuasaan, dan mampu memimpin. Alasannya karena mereka kerap diberi tanggung jawab untuk menangani adik-adik mereka, anak sulung tumbuh menjadi orang yang peduli, lebih bersedia menjadi orangtua, dan cenderung mengambil inisiatif.
2. Anak Tengah
Kakak laki-laki atau perempuan adalah "penentu kecepatan" untuk anak kedua, mereka sering berjuang untuk melampaui kakak mereka. Laju perkembangan mereka lebih tinggi, oleh karena itu mereka cenderung ambisius namun mereka jarang egois. Anak kedua cenderung menetapkan tujuan yang terlalu tinggi untuk diri mereka sendiri, oleh karenanya mereka rentan gagal. Tak perlu khawatir, kemampuan mereka mengetahui bagaimana mengatasi kesulitan dalam hidup adalah hal yang membuat mereka lebih kuat.
3. Anak Bungsu
