Monday, August 3, 2020

PUISI : Sajak Suka-Suka

Pernah ku bercerita pada malam
Tentang lantun kerinduan akan fatamorgana
Sang malam menjawab,
Sungguh ia kan hadir bersama datangnya mentari pagi

Ada rasa tak terima
Bagiku malam lebih dari sekedar tempat melepas lelah
Dikala itu lah ketenangan batin ku gapai
Selimut kenyamanan ku dapat

Mengapa harus matahari
Jikalau hanya terik dan panas
Dan aku bahkan harus mengernyitkan mata
Melindungi kornea dari sinar terangnya

Malam pun memiliki bulan
Dengan definisi berbeda tentang penerangan
Ia berpendar
Tanpa menyilaukan

Heii, manusia budak dunia
Janganlah berpura-pura lupa
Kilauan bulan tak lebih atas pantulan matahari, bukan?
Mengapa harus menenggelamkan kenyataan

Bahwa fatamorgana tak kan bisa hadir pada malam
Lalu takdir apa yang coba kau pertaruhkan
Mencoba membuat tapak baru atas realita?
Mengubah teori berlandas nafsu semata?

Ow ow tidak begitu nyatanya, tuan
Pun bila cukup kuasa kau akan dunia
Ingatlah pada Maha Pemilik Semesta
Yang padanya teori segala bermula

Lalu apa yang kau harapkan pada fatamorgana
Keindahan sesaat yang menggiurkan?
Tidak kah kau terlalu terburu-buru
Tajamkan bahasa kalbu mungkin kan sedikit membantu

Haruskah kumusnahkan saja ingin ini?
Seonggok mimpi menikmati fatamorgana?
Ooh, mengalah kah untuk takdir kuasa
Akankah ku menjadi pecundang yang seyogyanya kalah?

Bersedia tuk sesaat berdiam
Kelak tak lama lagi fajar kan menyingsing
Intip pulasan alam menyambut sang mentari
Seperti itu kiranya kedudukan kita atas Ilahi

Dan di sini ku berbaring
Katanya, ketidakpastian  sebagai bentuk kelemahan diri 
Padanya tersadarkan bahwa genggaman ini bukanlah apa-apa
Jika masanya tiba, tanpa bicara sangat mudah mereka bahagia pun luka menganga menyapa

Tak apa
Semua dalam takarannya
Seperti pendakian, ada kala terjal, ada kala curam
Memang alur begitu adanya, lalu kau bisa apa?

Bila mulai datang segala tanya penuh logika
Rupanya jelas tak semua dapat dilogikakan
Hei, jangan kau paksakan
Otak mu tak lebih dari segenggam kepal tanganmu, bukan?

***
Terlalu lelah berpikir atas apa yang tak mampu terpikirkan. Kadangkala sangat perlu jeda untuk sejenak menarik diri untuk menelusup kebebasan pribadi. Jangan terlalu memforsir, sadarlah bahwa kita semua hanya bentukan sempurna dari Tuhan yang bukan dinisbatkan kesempurnaan sebagai miliknya. Kita dibuat sempurna di antara penciptaan makhluk lainnya oleh Tuhan, tetapi bukan untuk menjadi sempurna. Kita hanya manusia biasa. Camkan pada diri sebagai tuas pengontrol dalam bertindak dan berpikir.

2 comments: