Tuesday, June 2, 2020

Antara Bersosialisasi dan "New Normal"

Manusia sebagai makhluk sosial, mungkin sangat familiar dengan pernyataan ini sejak masa sekolah. Senormalnya, manusia memiliki bejana kebutuhan khusus untuk bersosialisasi, menjalin komunikasi. Memasuki masa pandemi, kita dihadapkan pada hambatan bersosialisasi tersebut. Program karantina, isolasi, memberi tekanan untuk membatasi, bahkan melarang hidup bersosial pada hampir seluruh manusia, tanpa terkecuali. 

Throw back time, tak berapa lama sebelum isu Covid-19 merebak. Masyarakat kita sedang berada pada fase pergeseran dalam bersosialisasi. Individu semakin asyik dengan gawainya, bahkan hingga tahap anak-anak pun. Ironisnya, ketika berkumpul, waktu yang tepat untuk mengembangkan komunikasi dan sosialisasi secara langsung, kebanyakan dari kita tetap tidak bisa beranjak dari gadget tersebut. Kondisi ini melahirkan berbagai program dalam upaya mengembalikan komunikasi yang sehat dan langsung ini. Dari rehabilitasi sampai bentuk konseling khusus. Para penggiat pendidikan, terutama pendidikan anak usia dini, terus mengkampanyekan "bermain di luar". Dengan harapan, ketergantungan para generasi muda pada gawai akan terstabilkan dan sosialisasi yang sehat pun terbangun. Lalu, pandemi pun hadir, seolah mematahkan segala bentuk kampanye tersebut. Kali ini, kita justru dituntut untuk mengurangi dan membatasi bersosialisasi secara langsung, yang pada akhirnya, mengembalikan semua bentuk ketergantungan manusia pada gawainya.

Pada situasi saat ini, para ahli di bidang pemrograman seperti berlomba-lomba mengembangkan media komunikasi berbasis internet, dengan kapasitas hadirin sebanyak mungkin, kwalitas grafis dan suara sestabil mungkin. Tak lebih karena pada akhirnya kita semua pun akan bersilaturahim hanya melalui perangkat tersebut, setidaknya selama pandemi belum berakhir. Terima kasih pada para produsen aplikasi teleconference yang telah memudahkan hal yang sulit di antara kita. Tapi, mengapa menurutku tetap ada yang berbeda. Seolah bejana kebutuhan bersosialisasi tak sepenuh itu terisi hanya dengan membuat panggilan video dengan sanak saudara ataupun teman. Aku pribadi, seperti masih membutuhkan sosialisasi langsung, komunikasi riil, untuk dapat memenuhi bejana kebutuhan tersebut. Tatap muka menjadi point yang hilang, yang justru belum bisa menggenapi kewarasan dalam diri. 

Mungkin tidak semuanya seperti itu. Tapi, bagiku, yang sehari-hari menghabiskan sebagian besar waktu, hanya dengan bocah tiga tahun kurang, ini lumayan tak mudah. Terkadang, aku hanya ingin berkomunikasi normal selayaknya orang dewasa. Neuron di otak seperti meminta untuk berkomunikasi dengan hal yang lebih berbobot, pun psikologisku.

Lalu kemudian, aku berpikir kembali. Virus ini betapa luar biasanya. Bukan hanya menyerang fisik dengan paparan secara langsung, tetapi bahkan mampu menggerogoti psikis bagi mereka yang tidak terinfeksi, terutamanya mungkin untuk yang benar-benar mengikuti anjuran yang dibuat oleh pejabat negeri berkenaan dengan pembatasan sosial serta physical distancing secara penuh.

Sesekali mungkin kami masih butuh keluar rumah. Sekedar berjalan pagi di komplek perumahaan, menyapa para tetangga, sedikit chit-chat sembari berjemur badan di bawah sinar matahari pagi. Ini bukan bentuk pembangkangan dari aturan, justru salah satu langkah diri menjaga kesehatan fisik dan juga psikis yang sebenarnya saling koheren. Selain, pastinya, selalu menerapkan protokol kesehatan standard masa pandemi selama bersosialisasi. Gunakan maskermu, atur jarakmu, tak perlu pegang ini pegang itu terutama mata, mulut dan hidung, cuci tangan dengan sabun dan ganti pakaian saat kembali ke rumah.

Ingat, Covid-19 adalah jenis virus. Menyerang tubuh dan menjadikannya inang, dengan syarat, tubuh tersebut memiliki imunitas yang kurang baik. Maka, bangun imunitas diri adalah kunci. Selain dari konsumsi makanan bergizi dan sehat, menyeimbangkan porsi istirahat, berkegiatan dan berolahraga, meski ringan, penuhi kebutuhan nutrisi harian, bila perlu dengan asupan multi-vitamin tambahan, dan yang tak kalah penting adalah kelola kesehatan batin, dengan pengaturan stres, pendekatan ruhiyah yang bisa dengan ritual ibadah, mengikuti meditasi harian ringan, mengisi bejana kebutuhan dasar psikis manusia, salah satunya adalah bersosialisasi, sesuai porsi dan prosedur tentunya. 

Tubuhmu adalah kendalimu. Dirimu yang paling tahu apa yang dibutuhkannya secara pasti. Selama masih dalam koridor protokol keamanan standard, memenuhinya adalah kewajibanmu. Importantly, tetap bijak dalam bertindak. Selamat menghadapi tatanan kehidupan baru! Semakin sehat, semakin bahagia, okay!💙

Tuesday, May 26, 2020

Mungkin Ini Definisi Asli "Kembali ke Fitrah" dari Idul Fitri


Bismillaah.
*disclaimer*
Konten ini sarat akan curcol-an dan juga segenap unek-unek. Mungkin akan berfaedah, tapi lebih mungkin banyak tidaknya. Semua dikembalikan pada perspektif masing-masing.

***
Sebelumnya, aku sekeluarga mengucapkan, minal aidin wal faizin dan mohon maaf lahir batin, Eid Mubaraak. Semoga dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan di tahun selanjutnya. Aammiin.

***
Lebaran yang sendu, terlepas dari hakikat idul fitri itu sendiri yang terdefinisikan pada kegegapgempitaan buah kemenangan. Untuk nikmat berkesempatan merasakan Ramadhan dan Idul Fitri di tahun ini, Alhamdulillaaah. Tetap menjadi sesuatu yang harus disyukuri kan. 

Tapi, tidak bisa ditampik, tak bisa dipungkiri, lebaran kali ini luar biasa berbeda. Tanpa mudik, tanpa keluarga. Benar-benar hanya kami bertiga. 

Kali ini kami melewatkan Idul Fitri di Bandung saja. Bukan tanpa alasan. Tapi memang dalam upaya mengikuti himbauan pemerintah untuk tidak mudik, dalam rangka menekan penyebaran virus Covid-19. Mungkin bisa saja kami nakal diam-diam mengunjungi keluarga di Cianjur dan Jakarta, tapi, bukankah itu hanya akan mencelakakan diri juga orang-orang tersayang? Belum lagi bila ternyata kami terperangkap, tak bisa kembali lagi ke Bandung setelah tiba di kota tujuan. Akan menjadi PR tersendiri bukan? Ahh, sangat banyak pertimbangan.

Mertuaku di Bandung. Jarak rumah hanya sekitar lima kilometer. Tapi, tetap kami tidak bisa bertemu. Hanya suami yang mengunjungi. Abah mertuaku melarang keras aku dan Anis sungkeman ke rumah beliau, karena perihal Covid-19 dan juga ada suatu alasan medis lain. Aneh rasanya. Suasana yang, bahkan, aku pun tidak pernah membayangkan akan terjadi di bagian kehidupanku. 

Suasana Idul Fitri pun sangat asing. Tanpa kemeriahan bedug dan takbir dimana-mana. Bahkan suamiku bilang, beberapa masjid yang dia lewati hanya memasang rekaman takbir tanpa ada orang di dalamnya. Padahal biasanya, anak-anak, bapak-bapak, berkumpul untuk melaksanakan takbir bersama di malam Idul Fitri-nya. Jalanan pun termasuk sepi untuk hitungan malam lebaran. Sangat sepi malah.

Salah satu hal lain yang sangat aku suka dari lebaran adalah momen belanja. Yaa, baik belanja baju lebaran untuk Anis atau pun belanja groseri untuk stok makanan di rumah juga berbagi ke handai taulan. Lagi-lagi kebiasaan itu pun harus aku urungkan. Tak ada belanja. Tak ada preparasi menyambut tamu ataupun bagi-bagi makanan dan atau angpau untuk para ponakan dan bocah. Ya jangankan bagi angpau, bertemu mereka pun tak bisa. Dramatis.

Pelaksanaan shalat Idul Fitri pun menjadi kontroversi. Seperti di kompleks perumahaan tempat tinggalku misalnya, terpecah menjadi kubu "yang menjalankan" dan "yang tidak menjalankan". Bagi yang ingin bergabung untuk melaksanakan shalat sunnah Idul Fitri-nya pun harus mendaftarkan diri. Berapa orang kira-kira dan siapa saja yang ikut. Sehingga nanti akan diatur layout-nya agar memenuhi ketentuan jarak aman interaksi berdasarkan protokol umum penanganan Covid-19. Ribet luar biasa, bahkan untuk beribadah. Hanya karena makhluk setengah hidup berukuran mikron saja.

Sebenarnya, ada hal lain yang lebih memberatkanku sejujurnya. Bukan sekedar tak bisa bersilaturahim, tak ada belanja baju lebaran dan makanan lebaran, atau tak bisa mengikuti shalat sunnah Idul Fitri. Suatu alasan yang aku rasa bersifat lebih personal. Yaitu, tidak dapat menghadiri dan menyaksikan secara langsung akad nikah adik kandung perempuan terakhir ku. Sedih luar biasa. Tak bisa ikut membantu banyak dalam mempersiapkan segala sesuatunya. Tak bisa jadi bagian dari foto keluarga. Tragis. Jiwa anak sulungku tak bisa berbohong, meronta-ronta, tapi tak berdaya. 

Bersyukur masih ada teknologi yang mumpuni, yang setidaknya, bisa memberi alternatif lain untuk tetap berkomunikasi dan bersilaturahim. Walaupun, tetap saja terasa berbeda. 

Kami tetap dapat hadir meski hanya sebatas layar. Satu sisi, sangat kusyukuri hal ini. Sisi lain, ini menyedihkan. 

Aku meyakini bahwa kita semua telah menjadi bagian dari sejarah besar dunia. Kelak, jika berumur panjang, aku mungkin akan menceritakan kondisi ini kepada cucu turunanku nantinya. Kondisi yang begitu pelik di zamannya, merata semua golongan, bangsa, lapisan masyarakat. Tak memandang ras, suku, agama, kekayaan, semua terdampak. Kondisi dimana seperti bentuk restart besar-besaran untuk kehidupan manusia. Semua dibawa ke format default secara instan dalam waktu cepat. Seperti mengingatkan bahwa kita hanya makhluk lemah, dituntut untuk menanggalkan seangkuhannya selama ini, kembali pada fitrah manusia. Aha, bukankah ini berarti Idul Firti sesungguhnya? Mengembalikan kita semua ke jalan fitrahnya? Wallahu'alam bi shawab. Yang ku tahu dan ku harap, semuanya akan segera kembali ke normal, atau mungkin, new normal. Apapun itu, aku rindu bertemu keluargaku 💙

Thursday, May 21, 2020

PUISI : Elegi Kehidupan

Aku mencintai diriku, karena itu harus.
Memberi ruang untuk menyelami buruk dan rendahnya aku, itu perlu.
Meyakini bahwa diri hanya manusia, bisa benar, bisa salah, bisa lupa, tapi bukan untuk excuse selamanya.

Mungkin terkadang aku lelah, tak apa.
Rehat, berjeda saja.
Jika pun ternyata dihimpit sedih, terima.
Menangis bukan suatu aib yang patut diurungkan.

Pernah dulu, sangat lama sekali kala itu.
Aku berada di titik ter-membingungkanku.
Belum mampu menyadari bahwa aku hanyalah aku.
Selalu ingin menjadi yang "ter" di antara yang "ter".
Lupa.
Hidup tak sestatis itu.

Berani menapaki, berani menghantam luka.
Aku belajar daripadanya.
Proses yang menghantarkan pada kehidupan yang membumi.
Menemukan arti yang bukan hanya tentang sempurna.

Meski tak ku tampik.
Kesempurnaan pun mengajarkan bahwa tak bisa diri hanya berhenti di titik ini saja.
Terus melaju, ikuti arah langkah.
Sebelum kau temukan liang lahatmu, di situ medan perangmu terus berlanjut.

Waktu yang mendewasakan.
Perangkat akal dan hati yang membersamai.
Jika memang belum saatnya, maka bukan menanti.
Mencari akan jauh lebih berarti.

Terkadang alur waktu ku maju mundur tak teratur.
Gamang, itu baik.
Tanda bahwa akal telah bertemu dengan rasa.
Padukan, padankan.
Jika ia selaras, kau akan temukan warna.

Menyalahkan diri sendiri sungguh bukan solusi.
Apalah jiwa dalam raga yang papa.
Tanpa isi, tanpa makna.
 
Pun menyalahkan orang lain. 
Tak bijak.
Di luar kapasitas.

Pernah suatu ketika.
Deraan badai kehidupan nyaris saja melumpuhkan bahtera.
Jika karam, selesailah pelayaran.
Lalu haruskah ku biarkan nasib terpontang-panting memperolok kekalahan?
Ku jawab, tidak!

Bila aku merasa bahwa semua mengerdil.
Sempit hingga tak ayal gerakan pun terkunci.
Biarkan saja aku bernafas.
Bersama oksigen yang mengalir dalam pembuluh kompleks, ku tata kembali.

Manusia ingin semua ada pada tempatnya.
Manusia tak miliki kacamata tanpa batas ku rasa.
Akan ada pencitraan yang blur.
Lalu kepada siapa harus menggantungkan pandangan?
Navigasi batin akan memainkan perannya.
Dan siapa yang di balik layar?

Ini hanya tentang arogansi.
Kemawasan dan kewarasan seperti saru, tersekat benang tipis.
Sibuk menjadi ini dan itu.
Lupa mensyukuri sisi lain yang sedang dilakoni.

Hei, makhluk Tuhan satu ini.
Apa yang dicari?
Pada akhirnya semua hanya akan mati.
Menjadi santapan segar cacing-cacing liang lahat.

Dunia mu hanya setetes air di atas teratai.
Nampak elok, menyegarkan pandangan.
Namun rapuh, namun tergoyang.
Tersapu angin pun tamatlah riwayatnya.
Menyatu kembali dengan danau.
Tak dikenali. 
Hilang, tanpa arti.

Pernah suatu hari.
Ku lakukan monolog diri.
Wahai, jasad bernyawa, apakah kau merasa cukup hebat karenanya?
Tawaku, bahwa nyawa dan jasad sebatas air dan minyak dalam emulsi.
Terlihat padu. 
Namun tak kan pernah mungkin menyatu.
Lalu apa kau lupa tentang emulgator?
Dia pemersatu.

Jika, analogiku, rusaklah sang pemersatu.
Air dan minyak, buyar, ambyar, terpisah, menjijikan. 
Tengiknya akan mulai terasa.
Bilatung menjadi babak baru kebusukan.
Dan berakhir dalam tong sampah.
Dibuang. 
Terbuang.

Semua memiliki cerita.
Kelam atau tidak, cerita akan tetap menjadi cerita.
Akan ada judul, isi, penutup kemudian.
Terlewat.
Menjadi sejarah.
Dikenang.
Cukup sebatas itu saja perihal kehidupan di dunia.


Wednesday, May 20, 2020

Cerita Bed Training Anis

Bismillaah. 
Uwuw, Alhamdulillaah, Bandung bagian Arcamanik hari ini mostly hujan. Ibuk ya bahagia luar biasa, walau cucian jadi belum kering, suasana hujan parat begini tuh lovable pisan 🤭. 

Jadi ceritanya, aku mau berbagi tentang bed training Anis. Alhamdulillaah, per tanggal 16 Mei 2020 kemarin, Anis sudah tidur di kamarnya sendiri. Sebenarnya, aku sudah merencanakan untuk pemisahan tidur begini sejak lama. Tapi, karena kondisi dan fasilitas belum memadai, akhirnya baru terealisasi setelah pindah rumah. 

Bulan Mei 2020 ini usia Anis menginjak 32 bulan. Menurut aku, sudah saatnya Anis tidur terpisah dengan ayah ibunya. Ada beberapa alasan, yang utama adalah untuk kemandirian anak, yang juga ternyata berpengaruh pada kualitas tidur si anak itu sendiri. Terbukti ketika Anis mulai tidur sendiri, dia memiliki jam tidur lebih panjang dan teratur. Alasan lain, ya pastinya untuk pihak ayah ibunya juga. Kami bisa memiliki intimate time dan kualitas tidur yang lebih baik. Terdengar sepele, tapi intimate time dan tidur berkualitas juga merupakan hak setiap ayah/ibu/orangtua. Kedua hal tersebut memegang kendali terhadap mood masing-masing di keesokan harinya. Aku pribadi merasa lebih siap menghadapi hari baru dengan damai biasanya.

Nah, kembali ke bed training. Progres Anis untuk fase ini Alhamdulillaaah bisa diklaim sangat lancar. No drama at all

Di malam pertama, Anis sempat terbangun sekali. Tanpa nangis, dia mendatangi ibunya yang kebetulan masih leyeh-leyeh di ruang tengah. Dia hanya meminta minum dan ditemani di kamar sebentar, tak lama kemudian dia kembali tertidur hingga esok paginya.

Malam ke-dua, Anis bermimpi agak buruk sepertinya. Dia sempat merengek-rengek dengan mata terpejam. Aku hanya mengintip lewat pintu kamarnya, tidak mendekati atau membangunkannya. Aku biarkan dia settling sendiri kondisi seperti itu, hingga nantinya dia akan terbiasa. Ternyata, Alhamdulillaaah, walau hanya didiamkan, akhirnya dia minum dan tertidur lagi. Sejak malam ke-dua ini, Anis sudah tidak mencari ibunya saat tidur. Aku bisa katakan bahwa bed training Anis berjalan lancar dan sukses, Alhamdulillaaah.

Lalu, kiat-kiatnya apa dong, Buk? 

Hehe, aku belum berani menjamin penuh hal-hal yang aku terapkan pada Anis bisa berlaku di anak-anak lain juga, tapi mungkin dengan berbagi seperti ini, mampu sedikit banyak memberi gambaran bagi yang berniat untuk bed training anaknya, juga sebagai penyemangat untuk para ibu pejuang bed training, you are not alone, moms! Semangat!!

Berikut aku paparkan beberapa hal yang aku terapkan pada Anis untuk mendukung bed training-nya. 

1. Sounding. Hal ini dilakukan dari jauh hari sebelum bed training dimulai. Memberikan pengertian secara sederhana tentang tidur terpisah dan alasannya. Banyak cara untuk penyampaiannya. Aku terapkan pada Anis melalui penjelasan sederhana yang dilakukan berulang, juga melalui cerita yang diselipkan maksud pengenalan bed training tersebut. Sounding ini perlu dilakukan untuk mencegah si anak kaget dengan pola kehidupan yang baru, alih-alih rencana sukses, yang ada si anak menjadi stres dan kemudian trauma.

2. Libatkan anak dalam mendesain ruang tidur. Tidak perlu barang baru, mewah, mahal, untuk menciptakan ruang tidur idaman anak. Yang terpenting justru approval dari anak itu sendiri sebagai si empunya kamar nantinya. 
Sebagai contoh, pemilihan LED lamp di kamar Anis adalah hasil request dia. Saat memesan di toko daring pun aku membiarkan dia memilih warna yang dia inginkan. Jadilah kamar "heboh" dengan LED lamp berwarna-warni blink-blink 😅🤭. Membiarkan dia menyuarakan pilihannya sendiri ini pun merupakan bentuk menghargai anak dalam memilih lho. Selama yang dipilih adalah hal yang aman dan tidak melenceng, why not 😁.

3. Jangan menakut-nakuti anak. Terutama diwaktu-waktu dekat menuju bed training, sangat tidak dianjurkan untuk menakut-nakuti anak. Ini penting! Karena, sekali si anak mengenal "takut hantu", akan sulit diubah mindset-nya. Tapi, jika suka terlanjur, kita juga masih bisa meng-encounter pikiran tersebut kok. Kita terus asupi pikiran anak dengan hal positif sebagai penangkal "takut hantu"-nya itu. Misal, "Anis kan ciptaan Allah ya, sama dong hantu juga ciptaan Allah. Jadi kenapa Anis musti takut? Apalagi Anis usah pinter baca doanya."

4. Beri ruang kepercayaan pada anak. Terkadang, tega itu perlu. Untuk membiarkan anak belajar lebih banyak hal baru, juga agar mereka bisa dealing dengan situasi kondisi tertentu, membiarkan mereka memecahkan hambatan dan permasalahannya sendiri akan memberi banyak pembelajaran berbasis praktik pada anak. Jadi, orang tua yang baik itu bukan orang tua yang selalu membantu anaknya lho ya. Biarkan anak belajar dan bertumbuh dengan pengalaman. Selama tidak membahayakan, tidak apa-apa. Seperti saat Anis terbangun karena mimpi buruk dan menangis-nangis, aku memilih untuk membiarkan dia sambil melihat dari jauh. Bila kondisi terkendali, biarkan Anis memecahkan sendiri problemnya dengan mimpi tersebut. Ternyata, dia bisa tenang kembali kok tanpa campur tangan ibunya.

5. Niatkan yang kuat dan minta pertolongan Allah. Ini sih kunci ya. Untuk segala fase tumbuh kembang anak, agar kita bisa melewatinya dengan damai dan elegan, butuh pertolongan Allah dan niat yang kuat dulu. Tanpa niat yang kuat, kita akan cepat menyerah dan stres. Sama halnya saat menyapih, toilet training, food training, dibutuhkan kesabaran ekstra yang hanya bisa didapat dari niat dan tekad yang kuat, serta tentunya pertolongan Allah sebagai Maha Penolong atas segala sesuatu. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaahil 'aliyyil azhiim. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah/Tuhan yang Maha Tinggi lagi Maha Agung💙

Selamat menempa sabar terus, moms! Aku tahu ini semua jauh dari kata mudah, tapi bukan hal yang mustahil lho. Toh hampir semua ibu juga melewati masa-masa ini kan. We are really not alone. Nikmati prosesnya. Lelah? Wajar. Kesal? Manusiawi. Asal selalu sadar penuh aja bahwa ini semua tidak selamanya. Dan ketika fase-fase ini sudah terlewati, akan ada masa dimana kita pun merindukannya kembali. Lalu, saat itu kita semakin tersadarkan juga, bahwa anak kita semakin beranjak dewasa dan dengan waktu akan semakin menjauh dari kita 🥺. Semangatttttt!!! 💙

Tuesday, May 19, 2020

CERPEN : Kata dalam Tiga Minggu

Minggu, 19 April 2015
Rutinitas, lari pagi weekend di Sabuga. Ngejer sehat sembari sedikit cuci mata. Ya kali aja berat badan bisa terjun bebas ke angka 55. Pasti udah mirip artis Korea gue. Hehe. Eh jangan ah, katanya nanti juga ini badan bakal ngurusin sendirinya. Ya enggak heran sih. Ya udah kan ya dinikmatin aja. Pokoknya, jarum timbangan nyentuh angka 55, i will definitely take a special pic wearing my dream gown, best gown ever.

Anyway, si mbak nyiapin sarapan nasi goreng ikan asin kesukaan. Alamak, selera banget sih. Haha. Baru aja bahas turun berat badan, ehh udah craving makanan lagi. Hihi, gapapa lah ya. Selagi nikmat makan itu ada.

Senin, 20 April 2015
Seneng banget enggak sih bisa kembali ke kampus lagi. Duh, seriusan, kangen parah sih gue sama Luna, Xena, Amara, Dito, Yasir, kalkulus, kimia analisis, fisika terapan, haha, pastinya yang tiga terakhir hoax lha yaa. Lo juga pasti ngeuh kok, hihi. Tapi bener deh, suatu hal yang kita enggak suka ada kalanya menjadi hal yang paling kita rindukan. Hazek kan gue. 

Tau enggak, tau enggak, sekalinya ngampus, gue papasan doong sama Rey. Ahh, rejeki anak sholeha banget kan. Pake acara lempar senyum segala, sepaket pula sama lesung pipit yang malu-malu kucingnya. Yassalaaam. Kampus bersinar dibuatnya. Pengen banget gue kneeling trus berharap, Yaa Allah, please, freeze this moment for me, freeze the time instead. 

Selasa, 21 April 2015
Habis gelap, terbitlah terang. Pengen mainstream ah, berterimakasih dengan segala kekhusyuk-an untuk Raden Ajeng Kartini. Karena beliau, gue bisa terlepas dari beban "lo puber, lo nikah". Setidaknya, gue kenyang lah ngerasain nikmatnya (beneran nikmat nih???) belajar, dari TK, SD, SMP, SMA, kuliah. Bersyukur banget, gue bisa ngerajut lebih banyak cerita dibanding anak seusia gue zaman ibu Kartini. Eh btw, jadi kepo nih, nakalnya remaja zaman dulu tuh apa dong ya? Hehe, lancang bener sih Raaas.

Nah, ini ada berita agak positif nih dari gue. Apa coba? Haha. Yaayy, my first day in fully hijab. Alhamdulillaaah. Hidup kan musti ada perbaikan kan? Bener atau bener? Iyaa, tau banget gue masih beragajul, jauh dari anggun, tau guee. Lha ya tapi kan maksudnya kagak usah investasi dosa juga kan ya. Yang gue bisa lakuin, ya gue lakuin. Sekarang, saat ini, tanpa embel-embel "kalo nanti gue abla abla abla, gue mau berubah". Lo pikir Kamen Rider apa? To make a move for positivity doesn't need any reasons. Siapa yang bakal jamin sih besok lo masih bisa ongkang-ongkang kaki jajan bakso di kantin? Atau bisa cekikikan dengerin cerita garing Dito, yang ternyata, makin garing dari waktu ke waktu, haha, sorry Dit. None can guarantee for you to stay alive even a minute later. Noh, catet!

Rabu, 22 April 2015
Agak pening. Agak mual. Tapi, seblak mak Ahoy canggih sih. Bisa memutar balikkan segala keadaan hati, halaah. Nuhun mak Ahoy, you saved my life. Haha. Kebayang dong, kerupuk inul berpadu sengan kerupuk oren, diolah dengan bumbu rahasia serta ceplokan telur. Tak lupa tiktuk cikur dan cuanki lidahnya. Last but not least, kucuran micinnya yang seolah lo lagi main pasir di pantai pas nuanginnya. Tapi sudah beberapa waktu ini gue stop per-micin-an. Sebagai generasi micin ya gue agak kehilangan juga. Buat lo lo semua yang masih bisa pada makan seblak pake micin, lo beruntung! Haha. Tapi, kalo boleh gue sedikit saranin, kurangin lah ya konsumsinya. Syukur-syukur lo bisa nerapin diet no micin, gue bakal dukung lo, actually. Denger nih, mencegah itu lebih baik daripada mengobati, penyesalan itu selalu di akhir, karena kalo di awal ya namanya DP a.k.a Down Payment haha.

Kamis, 23 April 2015
Pindahan juga akhirnya. Ciee, kamar baru niyee. Haha. Must item enggak boleh banget sampe lupa dibawa. Sahabat paling setia, paling ngerti, dalam kondisi apapun. Diari. 

Sejak kapan ya gue nulis di diari gini? Kelas 8 atau 9 gitu? Intensnya sih gue hapal, pas kelas 10. Soalnya gue dapet hadiah perpisahan SMP gitu dari gebetan gue, isinya diari. Dari situ mulai rajin banget deh ngejurnal diri. Itung-itung lekat sama yang ngasihnya juga kan haha. Secara, dia lanjut SMA di Surabaya. Ujung-ujungnya dia macarin anak Surabaya juga kan. Kocak. Haha. Tapi, makasih banget deh buat dia, akhirnya gue bisa rutin nulis begini, nemuin sahabat yang sebener-benernya sahabat. Walau buku dari dia udah ke laut, penuh, dan ini bahkan udah diari ke 7 gue setelah pemberian dia. But, it is all because of him basically. I never feel alone.

Jumat, 24 April 2015
Mataharinya cantiiik banget hari ini, masyaAllah. Cerah, terik, tapi udaranya seger, enggak terlalu gerah. Gue duduk di kursi bawah pohon favorit gue. Spot baru yang gue temuin di tempat baru, ayey. Enggak tau kenapa kalo duduk di sini tuh semacam ide ngalir deras. Ide buat nge-halu sih sebenernya haha. If I... If I... Ahh, stop it, Saras. 

Untuk setiap helaan nafas yang masih gue hirup, gue sudah sangat bersyukur banget. Tapi, kalo bisa sampe traveling ke Bali sih bakal lebih syukur lagi, hihi. Kangen banget sama udara laut. Atau udara gunung. Kangen ngebolang, my another hidden passion. Inget banget perkataan om gue yang seorang pilot, dia bilang, "Bumi Tuhan itu luas sekali dan sangat unik. Apa enggak terlalu sayang untuk dilewati begitu saja?" Jujur aja, sejak saat itu gue makin gandrung sama yang namanya traveling. Gue kerja part time itu ini, nyelang sekolah sama kuliah, ya buat ini sebenernya. Jalan-jalan. Walaupun buat melanglang-buana sekali dua kali butuh nabung setahun penuh. Those were worth to wait deh. Mudah-mudahan, gue masih berkesempatan.

Sabtu, 25 April 2015
Kedatengan gank gisrek, ya Allah, bahagia banget, Alhamdulillaaah. Katanya, beres kuliah umum, yang hobi banget diadain Sabtu-Sabtu, mereka langsung mutusin bertamu, tepatnya, merusuhi gue haha. Tapi, relaaa deh gue mah sering-sering dirusuhin mereka. Obat mujarab. Bisa ketawa bebas, ngobrolin hal receh tapi ngehibur. Itu kan yang paling gue butuhin? Ya cuman, gue juga sadar diri sih. Mereka lagi sibuk-sibuknya perkuliahan kan. Praktikum sana praktikum sini. Kejer-kejeran tugas, quiz, jurnal. Makanya, mereka bisa bertandang kali ini aja gue udah sangat sangat terharu biru. Makasih kalian, yang walaupun gisrek tapi gue sayang. Makasih karena udah ada dibagian cerita hidup gue.

Hmm, terlalu seru hari ini, sampe lelah banget rasanya. Ekspektasi sih nuangin semuanya ke tulisan, sedetail mungkin, tapi seriusan, lemes nih gue. Kebanyakan ketawa dan terlalu excited sepertinya dengan hari ini. Cukup dulu aja deh, insyaAllah besok kita temu lagi dengan kata lebih banyak ya my didi, panggilan kecintaan gue buat diari hihi. Good night, world!

Minggu, 26 April 2015
Di tempat baru ini setiap Minggu jadi sepi. Kadang, kalo lagi butuh ketenangan ya nyenengin juga sih begini. Tapi, hidup gue apa enggak kurang tenang gitu sehari-harinya, haha. Pengen jogging tapi udah susah dapet ijin nih. Apalagi mulai besok insyaAllah program baru gue dimulai. Makin jadi tawanan perang. Ayoo, Saras, semangat! Stay positive! Biar programnya berjalan lancar dengan hasil baik. Aammiin. 

Btw, tumbenan banget mama masakin Kebuli kesukaan gue. Lengkap sama acar nanas, krengseng dan sambel bawangnya. Wih, mantap! Masuk wishlist sebenernya ini, belajar masak! Terutama masak makanan favorit hihi. Nanti kita eksekusi yaa, Ras. Sekarang sih satu-satu dulu aja rencana diberesin, okey

Grogi nih ngadepin besok. Kejutan apalagi ya yang bakal terjadi nanti? Well, insyaAllah.

Senin, 27 April 2015
Program baru, bismillaah. Pasrah aja Ras, nikmatin, slooow. Satu persatu eksekutor masuk dengan jobdesk masing-masing. Suasana yang khas, bau yang khas, semuanya familiar buat gue, tapi tetep aja selalu bikin tegang di setiap sesinya. 

Beberapa udah gue kenal baik, saking seringnya kita ketemu dan komunikasi. Dan untuk mereka, rasa terima kasih aja kayak enggak cukup. Mereka bukan sekedar petugas, mereka keluarga baru buat gue.

Proses berjalan lancar, mudah-mudahan segala sesuatunya semakin lancar ke depannya.

Selasa, 28 April 2015
Eh, kenapa ya ini lengan sama pipi gue. Kok keluar bercak hitam kayak kebakar gitu. Enggak gatel sih, sakit juga enggak. Tapi, please deh, muka dong ini muka. Tak elok aja gitu rasanya. Haduh. Musti mulai liat-liat produk skincare baru nih kayaknya. 

Ada kejutan nih anyway. Bener-bener bikin terkejut deh pokoknya. Yasir nge-tele gue, he said : Ras, dapet salam tuh dari Rey, dia nanyain kabar lo pas tadi bareng di lab tekim. Ohhh goshhh! Bentar-bentar, gue enggak salah baca kan ini?! Bener kan ini??? Kyaaa, iyaa tau gue semurah itu. Dikirim salam sama Rey juga ini jantung udah macem tuker tempat sesaat sama paru, gagal nafas, sesek nyesek boo. Gila aja sih, Rey, yang keliatan acuh. Kenal sebatas nyapa "hai" sambil tuker senyum. Kenal sebatas "pernah" sekali doang, iya sekali, satu kelompok pas kuliah dasar jaman jebot. Kenal sebatas, ahh pokoknya apalah seonggok Saras ini buat cowok kece otak cemerlang macem dia. Tapi, gue ngerasa fair aja meski harus mengagumi dari jauh. Dia pantes kok dapet rasa kagum dari gue. Gimana enggak, dia yang wow itu, mau-maunya ngebopong gue yang pingsan beres disentak sama senior pas masa orientasi. Pake acara ngebela gue segala dengan cool-nya. Gue juga cuman dapet cerita ini dari temen-temen yang liat sih, tapi itu udah sangat cukup ngebentuk imaji yang indah tentang dia buat gue. Gue emang enggak kuat sama nada tinggi, trauma berat keinget gimana papa sering banget bentak mama sampe sempet collapse karena bentakan, enggak sadar diri, yang ternyata itu adalah serangan jantung. Bersyukur mama gue masih dikasih umur panjang sampe sekarang, dan hopefully terus berumur panjang. Usia gue 8 tahun, nyokap bokap akhirnya cerai.

Rabu, 29 April 2015
Ngeliat mama masuk dengan raut muka begitu, gue udah bisa nebak berita macem apa yang diterima. Not a good news, for sure. Gue cuman bisa kasih senyum terbaik dan pelukan yang erat buat dia. Gue cuman enggak pengen dia sedih, dia kecewa. Dia alesan gue terus bertahan dengan apapun yang terjadi. Belum cukup, dan kayaknya enggak akan pernah cukup, balas budi gue ke dia selama ini. Bahkan, kayaknya juga, gue lebih banyak ngasih kesusahan buat dia ketimbang kebahagiaannya. Maafin Saras ya ma, makasih..... 

Kamis, 30 April 2015
Gimana rasanya ketolak cinta? Sakit kan pastinya? Tapi, pernah enggak ngerasain tubuh lo nolak diri lo sendiri. Jangan ditanya gimana sensasinya. Aneh, enggak berdaya. Lumpuh, tapi sadar. Laper, tapi enggak bisa dan enggak pengen makan. Ngilu, linu, tulang seolah dilucutin dari daging-dagingnya. Pening, tapi enggak tau pasti bagian kepala mana yang nyeri. Bingung. Itu yang terjadi siang tadi. Kaget luar biasa. 

Hari ini gue kaget, udah gitu aja.

Jumat, 1 Mei 2015
Alhamdulillaaah, untuk bulan baru. Semangat baru, harapan baru. Gue bersyukur buat kesempatan lain yang udah Tuhan kasih di bulan ini. Semoga semua bahagia, semoga semua beruntung.

Sabtu, 2 Mei 2015

Minggu, 3 Mei 2015

Senin, 4 Mei 2015
Hari-hari yang panjang. Terlalu sibuk sampe sulit menuangkan dalam kata. Alhamdulillaaah, makasih mama, makasih Allah, untuk hari ini. Makasih diri, lo udah berjuang keras sampe tahap ini.

Selasa, 5 Mei 2015

Rabu, 6 Mei 2015

Kamis, 7 Mei 2015

Jumat, 8 Mei 2015

Sabtu, 9 Mei 2015
Hujan yang hangat, rintikan air turun diikuti aroma tanah dan sinar matahari yang tetap bersinar melawan mendung. Kau lah sinar matahari itu, Saras. 

Senyum yang ku tahu mengandung unsur paksaan, juga keibaan, entah kemana perginya ia kini. Aku rindu. 

Iya, tersisa 54.6 kilogram kini tubuhmu, gaun yang kau persiapkan itu seolah tak ada arti lagi. Masih tetap rapi tergantung di lemarimu. Tapi, kau lebih memilih untuk mengenakan gaun baru, dengan warna putih yang sama, tanpa jahitan. Hanya berhias dua pita di kedua sisi berbeda. Aku bahkan tak sanggup hanya sekedar mengambil gambar dan mengabadikannya. Berat, sayang.

Aku lega saat melihat selang-selang itu dicabut satu per satu, juga luka yang tiada tara tertoreh sembilu kasat mata tepat di jantungku. Bagaimana sekarang? Lebih baik kah yang kau rasa, sayang? Aku sangat berharap begitu.

Yang kita lakukan adalah ikhtiar, mungkin lebih ke obsesiku. Teringat betapa sudah lelahnya engkau dengan usaha-usaha yang telah aku jejalkan padamu. Tetapi, demi ketenanganku, kau jalani tanpa ragu, tanpa keluh. Terima kasih, sayang. Ternyata ini akhir dari kisahnya.

Bukan karena kau kalah. Justru kau sangat luar biasa hebat mampu bertahan sejauh ini. Ini lah kemenanganmu, sayang. Tempat terbaik sudah dalam genggamanmu.

Pengobatan terakhir kemarin, aku tahu sangat mengganggumu. Efek samping yang tak mengenakkan seperti bom menderu tubuh ringkihmu yang kian menyusut. Tapi, hanya itu yang bisa aku lakukan, sayang. Aku hanya ingin kau tetap ada, menemaniku lebih lama. 

Maaf, jika ternyata tubuhmu pun sudah terlalu lelah menghadapi semua. Tubuhmu sendiri menolak dengan caranya, pengobatan yang kata mereka, termutakhir dari negeri seberang. Ooh, begitu rupanya cara dirimu membuatku mengerti. Kau hanya ingin segala sakit ini terhenti. Dan kini kau telah di sana, tanpa sakit, tanpa nyeri, tanpa rasa tak menyenangkan lagi.

Selamat sayang, ucapkan perpisahan terakhir dan selamanya pada sel kanker yang dengan ganas telah menggerogoti kelenjar getah beningmu. Biarkan limfoma kehilanganmu, seperti ku kehilanganmu dan tak tahu lagi bagaimana cara untuk hanya sekedar memandang wajahmu.

Hari ini, tanah basah itu menyelimuti seluruh tubuhmu. Ditemani rintik-rintik hujan dan sinar matahari yang tetap terik. Seolah semua berebut untuk mengantar kepergianmu. 

Bahagia di sana, sayang.

Hanya lewat beberapa jam, tetapi aku sudah sangat merindukanmu.

Izinkan bersama ini ku tutup kisah di diarimu ini, nak. Mama sayang kamu, Saras, selalu.

Monday, May 11, 2020

I Got My Passion on Me

Hari-hari yang kurang memungkinkan untuk menulis dengan tenang, dengan fokus penuh. Yap, jadwal super padat dari packing untuk pindahan, mengurus segala peringkilan yang masih kurang di tempat baru, tugas domestik harian, ditambah dengan tragedi sakit gigi yang sukses bikin pipi makin chubby sebelah selama dua hari ke belakang. Sudah jatuh, tertimpa tangga, cocok pepatah itu dinobatkan. Tapi, ada suatu hal yang menggelitik. Setiap kali aku melihat aplikasi blogger-ku, selintas saat aku membuka aplikasi lain, ada yang hilang rasanya. Juga ada hasrat untuk menuangkan kata demi kata. Tetiba saja ide-ide muncul di kepala, tapi disayangkan, ada prioritas lain yang harus diselesaikan. Aku jelas tidak mau rugi, untuk sementara, hanya ku tulis setiap ide yang bermunculan dibalik rasa rindu untuk menulis ku, sambil sedikit berkompromi dengan diri, "Hey diri, sabar ya, selesaikan dulu to-do-list mu, insyaAllah secepatnya kau bisa bermain-main kembali dengan kata.

Namun, rindu itu berat, Dylan, lagi-lagi ku kutip perkataanmu yang ternyata benar itu. Seperti kali ini, jam dinding sudah menunjukkan angka 11.16 malam, tidak tersisa banyak waktu untuk menuangkan dan menyetorkan sedikit buah pikiran hari ini di grup literasi yang ku ikuti. Tapi, ini rindu sudah terlalu rindu. Ahh,  aku akan tetap menulis, mengikuti hasrat di sela lelahku dan sesekali cenut-cenut datang di pojok mulutku. Setor atau tidak, aku hanya ingin menulis. 

Akhirnya, aku rebahkan diri ini. Bukan untuk tidur, masih ada hal yang harus dikerjakan. Tetapi, aku segera membuka aplikasi blog editor-ku. Sangat bersemangat, ada yang terpacu, ya benar, hormon bahagiaku sangat deras mengaliri setiap ruas saraf dan pembuluh darahku. Aku akan menulis, aku menulis, bodo amat tak sesuai list ide di catatan ku, aku hanya ingin membiarkan free spirit dalam diri ini menikmati setiap jejakkan kata yang seperti sudah sangat lama tertahan di sana.

Aku suka menulis, sejak lama, itu betul. Tapi semakin berbinar-binar sejak mengikuti Kelas Literasi Ibu Profesional, suatu wadah yang menghimpun para pecinta kata. Luar biasanya, tak sedikit dari anggotanya adalah penulis kaliber atas, masyaAllah. Feels so blessed to be here. Aku bisa belajar banyak dari mereka, aku pun bisa menempa diri sendiri dengan bahagia. Tanpa tekanan, melakukan apa yang aku suka, menulis, sembari sesekali bertukar pikiran dengan topik serius hingga sekedar tentang drama Korea. Semakin ku menemukan passion-ku akan menulis di sana.

Kali ini lah bukti nyatanya. Aku tak pernah merasa serindu ini untuk sekedar menulis. 

Untuk ku, menulis itu benar-benar seperti terapi. Penyeimbang antara lahiriah dan batiniah. Bahkan terkadang mampu mengambil alih amarah, kecewa, sedih. Sesuai fungsi terapeutis bukan?

Ahhh, Alhamdulillaaah, lega. Rinduku tersampaikan.  Pukul 23.48 dan aku masih terlalu asyik dengan jari jemari menari, mungkin serupa aerobik pun, saking berkecepatan tinggi. Lelah, ngantuk, mereka seperti sudah paham untuk bisa sedikit bersabar, karena sang empunya jasad ini sedang membangun kembali mood-nya dengan merajut kata, untuk esok hari.

Thursday, May 7, 2020

Aku Anak Rimba, Aku Rindu Sangatta

Tercetik oleh salah seorang dokter yang aktif menulis di grup Literasi yang aku ikuti, ahh benar, aku kangen alam.
Pada dasarnya, aku ini anak rimba. Sejak kicik aku sudah diajak untuk hidup berpindah-pindah, dari kota besar hingga pelosok. Tapi sejujurnya, yang paling menyimpan kesan terdalam ya saat di hutan itu. 

Adalah Sangatta, kota pembabakan tambang batu bara di Kalimantan Timur. Aku pindah ke sana saat kelas 5 Sekolah Dasar. Kelas 6 sempat kembali ke pulau Jawa, tetapi hanya sampai lulus dan kemudian ke Sangatta lagi, hingga menyelesaikan strata Sekolah Menengah Pertama. Sekitar empat tahun melewatkan masa di sana. Dua kata menggambarkannya, "luar biasa".

Pertama kali menjejakkan kaki di Sangatta, kaget tak terbendung. Terbiasa dengan kehidupan kota yang kemudian harus berada di kota kecil dikelilingi hutan. Sungguh ini hutan nyata ya, bukan kaleng-kaleng. Lebih kaget ketika masuk ke rumah awal, kebetulan rumah dinas jatah papaku masih di renovasi jadi sementara waktu kami tinggal di rumah kontrakan, di luar "site area", alias di luar daerah perusahaan. Jadi, di Sangatta itu seperti ada kota dalam kota. Kota utamanya adalah kabupaten Sangatta itu sendiri, tetapi di dalam kabupaten itu terdapat teritori perusahaan yang segala bentuk mandatorinya berada di bawah naungan perusahaan tambang batu bara terbesar saat itu, sebagai pembabak kota Sangatta. Bisa dibilang, mungkin Sangatta tidak akan benar-benar ada jika perusahaan tersebut tak ada.

Rumah kontrakan ini agak kurang familiar untukku. Terbuat dari kayu, berupa rumah panggung. Di daerah yang, menurutku, agak kumuh. Padahal kata papaku, ini masih mendingan dibanding kontrakan lainnya. Jarak antar satu rumah ke rumah lainnya lumayan berjauhan tetapi tidak ada pekarangan pribadi. Satu jalan itu ya begitu konsepnya. Best part-nya, interior rumah tersebut sangat jauh dari rumah-rumah kami sebelumnya. Kontrakan ini memang full furnished, tapi furnitur di dalamnya agak menyeramkan. Penuh hiasan kepala hewan buruan yang ditempel di dinding, juga botol-botol minuman keras berdebu. Underestimate, hari pertama dipenuhi air mata. Walhasil, hari pertama kami semua mengungsi ke hotel haha.

Selang tiga minggu, Alhamdulillaaah akhirnya rumah dinas pun beres. Tanpa tunggu, kami langsung pindah. Masuk gate site area, semua seperti berubah. Kekurangtertataan yang kami dapat di luar, berputar 180 derajat di sini. Bahkan aku bisa klaim kota mandiri ini sebagai kota paling rapi yang pernah aku tinggali. Bukan daerah metropolitan, atau dengan pusat perbelanjaan besar, tapi semua sangat tertata, dengan fasilitas lengkap. 

Town hall sebagai city center, jangan dibayangkan seperti Bundaran HI atau kawasan Asia Afrika Bandung. Tapi arti city center di sini benar-benar seperti pusat aktivitas kota, dari toko swalayan, toko baju, toko buku, food stalls, pasar tradisional yang modern, koperasi pegawai, bank, studio foto, taman bermain anak, pusat bantuan darurat (seperti damkar), klinik SOS, pusat kebugaran super lengkap; kolam renang, lapangan tenis, sepakbola, voli, ada juga lapangan baseball, basket, gimnastium, tetapi agak terpisah, berjarak sekitar 2 KM. Yang paling aku suka adalah sekolahnya. Sekolah terlengkap yang pernah aku nikmati.

Sebagaimana keadaan kehidupan di tengah hutan, aku pun menjadi sangat akrab dengan alam. Acara sekolah bukan sekedar mengunjungi museum, karena memang tidak ada, tapi kami ke pantai, ke taman nasional, yang merupakan hutan lindung di situ. Berguru anggrek liar, berbagai bentuk jamur hutan, bahkan tak jarang berpapasan dengan hewan-hewan yang sangat bahagia karena bisa hidup bebas di habitatnya, adalah salah satu, dua, tiga, agenda dalam pelantikan sebagai anggota Palang Merah Remaja, Pramuka, klub Pecinta Alam, bahkan sekedar menjadi anggota OSIS. Jika tak begitu, kami pun sering mengadakan acara berkemah di pelataran sekolah, yang luar biasa luas, di hutan kota, di pantai, yap, meskipun bentuknya adalah pantai buatan tetapi sangat pantai sekali, lengkap dengan hutan bakau yang mengelilinginya. Bersapa dengan biawak malam harinya adalah hal biasa. 

Aku anak alam, aku anak rimba, aku bahagia. Bahkan kadang aku berharap, Anis pun akan bisa merasakan pengalaman serupa. Bukan sekedar tahu tentang mall, atau video game saja. 

Wednesday, May 6, 2020

CERPEN : Tabir dan Kenyataan

Kugores. Semakin lama semakin panjang dan dalam. Hingga terasa hangat yang mulai menetes, turun terjatuh menodai selimut putih gading milikku. Noktah merah. Dan lalu kusadari kembali, ini sudah cukup. Ku letakkan jarum peniti itu di atas buku harian berwarna cokelat menguning, warna dedaunan kering.

***
Kicau burung parkit yang biasa membangunkanku, hari ini tak terdengar. Baiklah, aku terlambat. Ku lirik jam digital melalui ponselku, astaga, 8.15 AM. Seharusnya aku bangun lebih awal pagi ini. Fawaz, suamiku, akan pulang. Ya, kami adalah pejuang Long Distance Marriage, sudah berjalan cukup lama. Tepatnya, sejak ibuku didiagnosis mengidap Schizophrenia. Kakakku yang bertugas jauh di salah satu negara Semenanjung Arab sana kurang memungkinkan untuk memberikan perawatan dan perhatian intensif untuk beliau. Terlebih kendala keluarganya, seorang istri yang sedang hamil tua dengan 2 orang anak yang masih bersekolah, terlalu rumit untuk sebuah kepindahan tiba-tiba. Aku yang merupakan anak ke-dua, bungsu, juga satu-satunya perempuan, pastilah diharapkan kesediaannya. Bersyukur memiliki suami yang sangat mencintai orang tua seperti Fawaz, setidaknya untuk hal ini amat sangat ku syukuri. Fawaz yang bekerja di perusahaan kilang minyak, di daerah Kalimantan Timur sana, dengan ikhlas merelakanku kembali ke Jakarta, dan membiarkan dirinya menjadi "suami single". Dengan penuh kerendahan hati aku sangat berterimakasih padanya, sungguh.

Bergegas ku bersiap untuk rentetan meeting hari ini. Well, sekedar informasi, aku bergelut di bidang konsultasi desain interior, sebagai pekerja freelancer. Ketika hidup bersama Fawaz di Balikpapan saat itu, aku mengabdikan diri sepenuhnya menjadi istri di rumah. Berusaha menjadi "nyawa" terbaik semua; suami dan anak semata wayang kami, Havana. Sejujurnya, tak sepenuhnya inginku. Aku yang terbiasa independent financially dan juga sibuk sejak zaman kuliah dulu, agak "kurang menerima" kenyataan bahwa Fawaz menginginkanku menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Alasan klasik, "Havana membutuhkanmu dan aku masih sangat mampu menopang biaya rumah tangga ini". Memang perkara ini tidak sempat kami diskusikan dengan baik sebelum menikah. Maklum saja, perjodohan antara kami berjalan begitu cepat. Tak lebih dari 3 bulan perkenalan, kami menikah.

"Apa yang membuatmu menerimanya, Ning?" Pertanyaan yang sebenarnya aku sendiri tak tahu jawabannya. Yang kuingat, ibu sangat terpesona pada kesantunannya, juga cara dia mencintai ayah ibunya. Kala itu, suara ibu yang paling mempengaruhiku. Bukankah ridho seorang ibu akan menjadi kebaikan bagi anaknya?

***
"Baru pulang mas? Udah makan?" Kulihat jam di dinding, 11.23, tujuh menit menuju pergantian hari. Kesibukan bukan hal baru untuknya. Dengan office hours 08.00 - 17.00, merupakan hal sangat langka dia bisa meninggalkan kantor pukul 17.00 tepat. Namun, hampir tengah malam pun bukan kebiasaan lumrah baginya. Setidaknya pukul 21.00 dia selalu sudah berada di rumah. Dan hari ini adalah kali ke-tiga dalam seminggu terakhir dia pulang terlalu larut malam. 

"Mas, kerjaan lagi banyak ya di kantor? Pulang larut, muka lusuh, ada masalah?" Akhirnya ku buka pertanyaan juga. "Iya, lagi banyak audit, maaf ya, besok-besok kamu enggak usah nungguin aku, kalo jam 9 aku belum pulang, kamu istirahat aja." Kemudian dia menarik selimutnya dan membelakangiku. Tak lama dari itu, dengkuran terdengar.

Sejak malam itu, Fawaz pulang semakin larut dan hampir setiap hari. Tak masalah bagiku jika semuanya beralasan. Namun, banyak kudapati kejanggalan, yang dari waktu ke waktu kian mengusikku. Muka yang semakin lusuh ketika sampai rumah, perilaku yang datar dan dingin padaku ketika malam dan kembali lembut dan normal saat pagi berangkat kerja, juga pernyataan Sena, istri dari Bhakti, rekan kerja Fawaz, yang menyatakan bahwa tidak ada kesibukan audit atau apapun itu, dan katanya juga, baru saja dicairkan bonus tahunan beberapa hari lalu. Bukan, tentu bukan aku mengharapkan uang dari bonus itu, tapi terlalu aneh bagiku, bahwa dia tidak ada sedikitpun bahasan mengenainya. Padahal biasanya segala sesuatu terbuka mengenai keuangan keluarga. Ada apa ini? Mungkinkah dia....

Hujan tak biasanya menyapa pagi di kota ini. Lumayan membawa sedikit kesejukan di tengah panasnya Balikpapan. Havana masih tidur dengan pulas setelah begadang semalam karena demam. Ahh, aku bisa sejenak beristirahat setelah melepas Fawaz ke kantor nanti. Namun, tetiba ku dengar suara dari kamar mandi, seperti seorang yang siap memuntahkan seluruh isi perutnya. Segera ku hampiri. Berlututlah Fawaz dengan wajah menunduk menghadap lubang toilet. Cairan kuning kecokelatan terus keluar dari mulutnya. Aku mendekat, memberi pijatan pada tengkuknya. Setelah isi perut seakan habis, dia terkulai. Segera ku papah dia menuju sofa ruang tengah, ku baringkan dengan posisi ternyamannya. Ku siapkan teh hangat dan minyak kayu putih untuk membuatnya merasa lebih baik. Sedikit ku pijit-pijit punggungnya, tak lama dia tertidur. 

Ponsel Fawaz berdering. Terlihat nama Office Geri di layar. Aku mengenalnya. Pernah sekali Fawaz mengajaknya makan malam di rumah kami. Geri adalah rekan satu bagian dengan Fawaz di kantor. Aku pikir, biar ku angkat saja teleponnya, sekaligus ku kabarkan bahwa Fawaz dalam kondisi kurang sehat, dia butuh istirahat. 

"Ya ampun, Bro, akhirnya di angkat juga. Kemana aja sih? Udah 2 hari enggak masuk kerja, dihubungin susah. Tuh si Bos udah makin garang aja nanyain progres laporan terakhir. Kan sebagian data mentahnya di elu. Wah, kacau nih!"

"Oh, maaf. Ini Kemuning. Kebetulan Fawaz keliatan kurang sehat, tadi sempet muntah dan sekarang dia tertidur. Saya angkat teleponnya karena sekalian buat menginformasikan juga ke pihak kantor."

"Eh, maaf maaf. Saya pikir tadi Fawaz yang angkat. Ooh, jadi dia sakit? Aduh, kenapa dia enggak ngabarin kita sih. Apalagi ini kan udah hari ke-tiga dia absen. Seharusnya pihak personalia juga tau."

"Hari ke-tiga? Hmmm, kemarin dan kemarinnya lagi dia tetep ngantor kok, baru hari ini dia sakit di rumah."

"Oh. Kok aneh. Fawaz udah enggak masuk kantor sejak 2 hari lalu, handphone-nya pun susah dihubungi. Wah, gini aja ya mbak Kemuning, saya minta tolong, sampaikan ke Fawaz untuk menghubungi saya secepatnya saat dia sudah bangun. Makasih banyak ya mbak."

Sambungan telepon sudah terputus. Tapi ponsel masih tetap menempel di telingaku. Kaget. Bingung. Kemana Fawaz dua hari ini? Bukankah dia tetap izin berangkat kerja seperti biasa kemarin?

"Mama mama, Vana pingin susu!" Havana sudah bangun. Dia membawaku kembali menapak bumi. Ku letakan ponsel Fawaz di rak buku semula dan membuatkan secangkir susu untuk Havana. "Yaa Tuhan, ada apa ini sebenarnya?" Batin dan pikiranku sibuk.

Membersamai anak 3 tahun memang menyita banyak perhatian, ditambah dengan mengurus rumah tanpa asisten rumah tangga. Sehari rasanya kurang untuk hanya 24 jam. Fawaz terbangun, dan kehidupan berjalan normal. Kuajak dia ke rumah sakit untuk pemeriksaan tapi dia menolak. Dia berkata hanya butuh istirahat sejenak. Pikiran yang mengusik pun seakan tenggelam, oh bukan, terpaksa tenggelam, oleh kesibukan menyiapkan makan siang semua, menyuapi Havana, menemaninya bermain, mengeloni tidur siangnya, membersihkan rumah yang terus berantakan oleh balok mainan atau masak-masakan, dan segudang kegiatan harian lainnya. Tanpa terasa matahari pun tak lagi menampakan wujudnya. Siang berganti senja, senja berganti malam.

"Mas, gimana? Sudah enakan?"

"Aku sudah jauh lebih baik. Maaf ya jadi lebih merepotkanmu hari ini."

"Mas kok ngomongnya gitu sih. Syukurlah kalo memang sudah enakan. Hmm, mas, boleh aku tanya sesuatu?"

"Mau nanya aja sampe permisi hehe, ya tanya aja dong, Ning."

"Tadi pagi waktu kamu tertidur lagi, Geri nelpon, aku angkat aja, aku pikir sekalian aku bisa mengabari kantor bahwa kamu sakit. Tapi dia......" Belum sempat ku selesaikan kata-kataku.

"Sejak kapan kamu jadi lancang begitu, Kemuning? HP itu privasi ku, baiknya kamu memegang dengan seizinku! Aku juga enggak suka sentuh-sentuh HP -mu kan? Karena aku menghargai privasimu!" Entah apa yang membuatnya tiba-tiba terduduk kembali saat sudah rebahan menuju tidur, lalu bersikap offensive seolah yang ku lakukan adalah suatu kesalahan besar. Aku terpaku. Tak bisa melanjutkan kalimatku. Fawaz lelaki yang tegas, aku tahu itu, tapi dia bukan orang  temperamen seperti ini.

***
"Selamat siang, dengan mbak Kemuning?" Nomor tidak ku kenal meneleponku. Aku pikir, mungkin client atau rekanan. "Betul, saya Kemuning. Maaf ini dengan siapa? Ada yang bisa saya bantu?" Tangan ku masih sibuk menulis deskripsi rancangan desain permintaan seorang client. "Saya Dinda, teman mas Fawaz. Saya mau minta maaf secara personal sama mbak Kemuning." Lalu, tut tut tut. Sambungan terputus. Langsung ku buat sambungan balik ke nomor bersangkutan. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silakan coba beberapa saat lagi." Tit

Nomor telepon asing. Seorang wanita. Teman. Meminta maaf.

Ku putar haluan. Segera ku lakukan speed dial nomor 1, berusaha tersambung ke "my hubby". Nada sibuk. Ku coba kembali. Masih. Hingga usahaku kesekian kali, akhirnya nomor itu tidak aktif. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Co......." Dengan cepat ku putus sambungan tak terjawab yang mulai menaikpitamkan tersebut. "Sialan!!" Tanpa sadar umpatan terlontar dari bibir Surakarta-ku, yang sangat tabu dengan itu.

Ku tinggalkan rancangan desain yang sedang digarap. Hanya ponsel, dompet dan kunci Nissan yang ku bawa bersamaku. Di balik kemudi, aku hanya terdiam. Aku tak tahu harus kemana, tapi adrenalinku terus memburu dan memaksa untuk maju. Cepat nyalakan mesinnya dan melaju, tancap gas sekuat kau bisa, Kemuning. Tanpa alasan, tanpa tahu arah tujuan, decitan roda Nissan mengiringi gerungan mesin, meninggalkan tempat kini ku berada, laju, sangat laju.

Siapa wanita itu? Maaf untuk apa? Fawaz dan dia? Apa sebenarnya di balik ini semua? Mengapa terlalu banyak rahasia?

Mataku seperti tertuju pada hamparan jalan besar nan lengang di siang itu. Cukup lengang hingga mampu memfasilitasi laju mobilku dengan kecepatan 100 km/jam pada speedometer-nya. Namun, pikiranku meliar. Penuh pertanyaan. Semakin bertanya, semakin gas ku tancap, tanpa terasa. Seolah tiap pacuannya menghempaskan sedikit beban di dalam jiwa.

Telepon Fawaz tetap tidak aktif. Entah sudah berapa ribu kali ku coba menghubungi, nihil. Sudah lewat 5 jam sejak wanita itu meneleponku dengan misterius, dan selama itu pula aku tak tahu bagaimana nasib suamiku. Andai bisa, aku ingin menandangi kantornya saat ini juga. Tapi kami memiliki jarak terpisah samudera. Arghh

Kemuning, tenang. Tunggulah dia. Malam ini dia akan kembali, bukan? 

Bandara. Ya, benar. Aku akan menunggunya di bandara. Aku sudah tak bisa menunggu terlalu lama lagi. 

"Ning, kemana malam-malam begini? Bukannya Fawaz mau pulang?"

"Iya, bu. Kemuning mau jemput mas Fawaz di bandara ya. Havana sudah tidur, bu. Ibu juga istirahat ya. Assalamu'alaykum."

Aku tak tahu apa yang ibu katakan selepasku. Semua seperti bias. Otak ku sesak. Yang ada hanya aku, tentangku. Juga ngiangan pertanyaan yang tak berhenti menjegalku.

Terminal kedatangan domestik dari maskapai yang selalu menjadi langganannya. Aku disitu. Menunggu. Setelah ku pastikan jam penerbangan Balikpapan - Jakarta malam itu, sesuai yang Fawaz kabarkan tempo hari.

Semua penumpang pesawat dengan penerbangan Balikpapan - Jakarta sudah keluar gate terminal kedatangan. Untuk memastikan, aku tanyakan pada petugas yang sedang berdinas disana. Semua sudah keluar. Baik penumpang dan bagasi, semua. Lalu kemana suamiku? Kemana Fawaz?

Aku hanya duduk di kursi penunggu antrian bus Damri, tepat di seberang terminal kedatangan. Kosong, tak seperti siang hari. Aku diam, duduk. Tatapanku kosong. Cemas, kesal, bingung, tak berdaya. Semua rasa membuatku lemas. Aku hanya ingin diam saat ini. Mungkin akan tetap diam disitu hingga fajar menyingkap, bila saja tak ada telepon dari ibu, menanyakan keberadaanku.

"Lho, mana Fawaz, nduk?"

"Enggak ada, bu. Dia ada tugas mendadak jadi menunda kepulangan." Sudah pasti, aku berbohong. "Muning ke kamar dulu ya, bu." Kutinggalkan saja ibu kebingungan di ruang tengah yang sudah temaram.

***
"Mas, hari ini bisa pulang agak cepat? Aku kurang enak badan. Havana bisa main denganmu dulu sebentar?"

"Aku usahakan ya, tapi aku enggak janji. Beberapa superintendent baru sudah datang, aku harus men-training mereka."

Dan akhirnya aku disini. Sendiri. Oh, tidak. Dengan puteriku, Havana. Aku cek termometer, aku demam. Kepalaku berat sekali. Setiap bangkit dari duduk atau rebahan, bumi seakan berputar. Gawat, vertigo-ku kambuh. Havana yang sangat bertingkah hari ini, benar-benar mengujiku. Sebenarnya bukan salah dia. Yang dia lakukan hanya selayaknya anak usia 3 tahun kebanyakan. Banyak bereksplorasi, mulai membantah, moody yang tak bisa ditebak. Secara teori aku paham tentang itu, buah melahap buku parenting dan kuliah daring yang kadang aku ikuti. Tapi, kehidupan tak semudah teori rupanya. Walau tekadku memaksa tuk menjadi ibu sempurna bagi Havana, nyatanya, kondisi yang "apa-apa serba sendiri" ini merobohkan idealisku. Jika sudah begini, aku hanya bisa melarikan diri ke kamar mandi, dan menenangkan diri. 

Menangis. Berteriak dengan membekap mulutku. Bahkan tak jarang, ku benturkan kepala ke dinding. Tak ada rasa sakit sama sekali. Tetapi saat ku bercermin, kemudian kutemukan beberapa lebam di dahi. 

Semakin parah sejak Fawaz berperilaku aneh akhir-akhir ini.

***
Alih-alih tertidur, saat tiba di kamar aku segera membuka aplikasi penyedia jasa penerbangan dari ponselku. Booked. Payment, confirmed. Satu seat untuk penerbangan Jakarta - Balikpapan. Lusa, flight terpagi, pukul 04.55 AM. Besok aku akan mendatangi adik bungsu ibuku di daerah Serpong, untuk memintanya menemani ibu dan Havana sementara waktu. Sembari menyiapkan beberapa hal sebelum aku meninggalkan Jakarta keesokan harinya.

***
Setahun sejak terakhir kali aku menjejakkan kaki di bandara ini. Sepinggan. Tak terlalu banyak perubahan, kecuali beberapa ekspansi ruangan yang membuatnya semakin luas, dengan kondisi penumpang tidak sepadat di Soekarno-Hatta pikirku.

Pukul 08.05 WITA. Sebaiknya aku langsung mendatangi kantor Fawaz dan menemuinya disana. Ya, ide baik. Aku pesan lewat aplikasi, mobil yang akan mengantarkanku ke kantor suamiku.

Suasana kantor di pagi hari selalu terlihat "hidup" dan sibuk. Biasanya, mereka akan mengadakan apel pagi sebelum memulai hari. Petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk menyapaku. "Ada yang bisa dibantu, bu?" Wajah yang asing. Pasti telah terjadi pergantian karyawan selama aku pergi. 

"Ah, iya. Saya mau bertemu suami saya, Pak Fawaz. Bisa?"

"Oh, sebentar saya akan hubungkan ke bagian receptionist. Sudah ada janji temu sebelumnya?"

"Belum, pak. Saya dadakan datang, kebetulan saya dari luar kota."

Belum sempat menuju receptionist, Geri keluar dari pintu lift dan melihatku.

"Kemuning?"

"Ah, hei, Ger. Kebetulan banget kamu ada. Aku mau ketemu Fawaz, dia sudah dateng?"

Geri mengernyitkan dahi.

"Bukankah ini jadwal cuti pulang dia? Aku pikir juga begitu. Karena dia juga enggak datang di apel tadi."

Seperti ada setruman listrik menghujam dada. 

Aku bertolak menuju rumah dinas kami. Perutku seperti diaduk. Mual. Tanpa terasa ku gigiti jari jempol tangan kananku, hingga terkelupas, berdarah. Kubiarkan saja. Aku tak peduli dengan jari sialan ini.

Lampu teras rumah dinas masih menyala. Seperti sedang ditinggal pergi jauh pemiliknya. Aku memastikan. Berputar aku menuju pintu belakang. Ku coba membuka pintu, klek, terbuka. Aku selalu tahu kebiasaannya. Saat berada di rumah, pintu belakang jarang sekali dia kunci. 

Aku segera menyisiri ruangan di lantai 1, sepi, kosong. Bergegas ku menuju lantai 2. Kamar kami, dulu, kosong. Namun, kamar Havana terbuka sedikit pintunya. Aku mendekati. Ku buka lebih lebar. Ya Tuhan, apa ini?

Kasur berantakan. Gorden yang tertutup meski matahari telah tinggi. Sampah kertas, plastik makanan, botol dan kaleng minuman, berserakan. Dan, di atas meja kutemukan barang yang terlihat asing bagiku. Barang yang selama ini hanya ku lihat di film ataupun berita. Satu set alat hisap juga beberapa bungkus kecil bubuk putih di sebelahnya. Serta beberapa tablet berukuran kecil berwarna putih.

Kepalaku pening. Tak bisa ku bendung isi perutku yang sedari tadi teraduk-aduk. Berlari ke kamar mandi, ku muntahkan semua. Ketika ku dengar langkah di belakangku, "Fawaz...." Aku panggil namanya, tapi yang tampak justru sosok lelaki lain. Aku kenal dia. Teman satu klub tenis Fawaz, Diandra. "Kemuning?" Tak bisa dia sembunyikan kekagetannya. Tak lama kemudian, Fawaz tampak di belakangnya, dengan wajah yang tak kalah kagetnya.

"Tolong jelaskan! Apa ini?!" Mereka terdiam. Hanya duduk di sofa ruang tv dan memandangi karpet yang berdebu tebal. 

"Fawaz, aku mohon, jangan kau bunuh aku perlahan dengan tetap diam seperti itu. Ada apa ini??!" Air mata sudah tak terhitung jatuh berderai. 

"Kemuning, maafkan aku. Maafkan Fawaz. Ku mohon!" Diandra tetiba berlutut di hadapanku, menangis. 

"Tidak, Kemuning. Ini salahku. Maafkan aku. Kau boleh hukum aku, apapun. Tapi tolong jangan tinggalkan aku, dan jangan sakiti Diandra. Please....."

Setelah semua yang terjadi, dia masih memintaku untuk TIDAK MENYAKITI Diandra? Seperti tidak peduli pada sakit yang ada padaku.

"Kemuning, maafkan aku. Ini aib, ini salah, tapi aku sangat MENCINTAI Fawaz, mungkin seperti kau mencintainya."

Ada yang menghantam keras sekali jantungku. Sakit. Kemudian gelap.

***
Memaafkan itu sulit, tapi kulakukan. Namun, terlalu berat bagiku menerima kenyataan. Menerima dirinya, apa adanya, masih berupa kemustahilan, untukku, saat ini.

Wanita yang menghubungiku kala itu, dia lah istri Diandra. Dinda, yang menurutku adalah wanita hebat. Dia telah lama mengetahui ketidaknormalan pada suaminya, tetapi dia tetap mendampingi. Dia selalu berpikir bahwa suatu saat semua kan kembali seperti semula. Cintanya pada Diandra mampu mengenyahkan segala sakithatinya. Dia yang menghadapi kenyataan bahwa suaminya adalah pemakai obat-obat terlarang. Dia yang menghadapi kenyataan bahwa cinta suaminya telah terbagi dua, untuk lelaki lain, Fawaz, suamiku.

Kini, aku berusaha menjadi bentuk lain dari Dinda. Tapi bukan karena cintaku, ya mungkin masih tersisa cintaku diantara ke-jijik-an ku padanya. Namun, aku bertahan untuk Havana. Dia masih butuh sosok ayahnya. Tak lagi banyak pintaku pada suami tercinta, 

tolong, setidaknya, berpura-puralah menjadi ayah normal untuk Havana.

Monday, May 4, 2020

Resep Ibu Anis : Brownies Panggang


Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan bagi yang melaksanakannya! Btw, shaum itu identik dengan yang manis-manis kan yaa. Nah, kali ini ibu Anis mau berbagi resep yang sudah teruji langsung di dapur mungilku. Panganan yang akan dibahas adalah Brownies Panggang. Wah, kalo di rumah sih enggak ada tuh yang enggak suka bronis. Dari ayah, ibu dan bahkan Anis-nya pun demen banget sama kue padat kaya akan rasa cokelat tersebut. Dibandingkan dengan bronis kukuspun, bagi kami, bronis panggang seperti lebih unggul di lidah. Tekstur krekes-nya itu lho yang ngangenin

🥧 Brownies Panggang🥧
Bahan yang digunakan :
125 g cokelat batang
120 g gula halus
100 g butter / mentega
100 g tepung terigu protein sedang
40 g cokelat bubuk
2 butir telur ayam
Optional topping : chocochips, keju, rajangan kacang almond dll 

Cara membuat :
1. Lelehkan butter/mentega, setelah leleh semua, masukkan cokelat batang, terus diaduk hingga mentega dan cokelat homogen dan leleh sempurna. Sisihkan (1).
2. Campurkan tepung terigu dengan cokelat bubuk, aduk merata (2).
3. Campurkan dalam mixing bowl : gula halus + telur, kemudian dikocok dengan whisker / mixer hingga tercampur dan sedikit mengembang adonannya.
4. Tambahkan campuran (1) ke dalam mixing bowl tersebut sambil terus di aduk. Setelah itu, masukkan sedikit demi sedikit campuran kering (2), homogenkan.
5. Tuangkan adonan ke dalam loyang kue yang telah diolesi dengan margarin atau kertas roti. Ketuk-ketuk agar adonan memadat di dalam loyang.
6. Taburi toppings sesuai selera.

Ketentuan memanggang :
1. Panaskan oven terlebih dahulu selama kurang lebih 10 menit di suhu 200°C. Lalu turunkan suhu ke 180°C.
2. Panggang adonan dengan suhu sedang-tinggi (sekitar 180°C) selama 20 menit. Cek bronis dengan cara ditusuk dan tidak basah. 
3. Di sisa 10 menit akhir, panggang dengan suhu rendah (sekitar 120°C).
4. Segera keluarkan loyang bronis dari oven, diamkan sesaat agar suhu turun, ketuk-ketuk untuk mengeluarkan bronis dari loyangnya.

Gimana? Mudah kan? Bisa dijadikan alternatif menu berbuka puasa juga. Silahkan mencoba 💙