Saturday, July 4, 2020

KDrama Remake, Versi Mana yang Dipilih?

Hola hola hola, apa kabar dunia per-kokoriyaan? Masih membawa nikmat ke-bucin-an yang hakiki, kan? 🀭

Kali ini, level kita agak naik ya (entah parameter apa yang dirujuk untuk levelling-nya, anyway). Maksudnya, topik ini akan membutuhkan sedikit effort untuk disajikan karena melalui tahap pengumpulan data, analisis perbandingan, yang akhirnya pada kesimpulan. Keren, bukan? πŸ˜„

Berbicara tentang film remake, ada baiknya kita mengenal lebih dulu definisi dari istilah tersebut, setuju?

Dalam dunia per-film-an, banyak sekali ditemukan istilah, yang kadang, masih kurang tepat dalam penggunaannya, dikarenakan salah penafsiran tentunya. Lain kasus, sering menggunakan istilah tersebut, tetapi, pengguna itu sendiri belum tahu secara pasti definisinya, termasuk saya pribadi sejujurnya. Akhirnya, dengan dibantu, lagi-lagi, Institut Teknologi Gugel, saya mendapat sedikit pencerahan mengenai istilah yang sering digunakan dalam per-film-an, berikut di antaranya:

1. Film Reboot
Merupakan film yang dibuat berdasarkan film yang sudah ada atau film lama, dengan inti cerita yang sama, tetapi, jalan cerita, tokoh, karakter, bahkan, akhir cerita dapat berbeda. 

2. Film Remake
Merupakan film yang dibuat berdasarkan film lama, dengan jalan cerita, karakter, akhir cerita yang dibuat sama atau tidak jauh berbeda.

Bersinggungan dengan tema kokoriyaan kali ini, yaitu mengenai film KDrama remake, saya akan memberi contoh beberapa judul yang sudah saya tonton dari beberapa versinya. 

A. Playful Kiss
Picture by Wikipedia

Film ini diproduksi di Korea Selatan pada tahun 2010. Diperankan oleh Jung So-min dan Kim Hyun-joong. Playful kiss merupakan film remake dari film Jepang Itazura na Kiss yang diproduksi tahun 1996. Film ini diambil dari manga Jepang dengan judul sama. 
Picture by AsianWiki

Sebelum Korea Selatan me-remake film tersebut, beberapa negara sudah lebih dulu melakukannya; Taiwan (2005) dengan judul It Started with a Kiss, Indonesia (2006) dengan judul Cowok Impian. 
Saya pribadi hanya menonton dua versi, yaitu Jepang (1996) dan Korea Selatan. Dengan karakter tokoh yang mirip, hanya nama disesuaikan negara asal, juga alur dan akhir cerita yang serupa. 
Hanya, menurut saya, tokoh Naoki di Itazura na Kiss itu lebih dingin dan misterius, dibandingkan dengan Baek Seung-jo di Playful Kiss. Romantisme pun lebih kental di Playful Kiss, walaupun dengan cerita yang sangat mirip. 
Perbedaan lainnya adalah tokoh pemain, Oh Ha-ni di Playful Kiss masih diperankan oleh pemain cantik Jung So-min, yang memberikan kesan "terlalu cantik" untuk menjadi Oh Ha-ni. Sedangkan Kotoko pada Itazura na Kiss lebih dapat diterima.
Secara umum, saya masih sering mengulang untuk menonton Playful Kiss dibandingkan dengan Itazura na Kiss.

B. Full House
Picture by Wikipedia

Film KDrama yang diperankan Song Hye Kyo sebagai Han Ji-eun dan Rain sebagai Lee Young-jae ini diproduksi pada tahun 2004 di Korea Selatan. Kemudian, pada tahun 2015, Turki me-remake film tersebut dengan judul Iliski Durumu: Karisik yang diperankan oleh Seren Sirince sebagai Aysegul dan Berk Oktay sebagai Can Tekin.
Picture by ShowTv

Terdapat perbedaan yang lumayan signifikan pada kedua versi tersebut, dimana versi asli (Korea Selatan) hanya dibuat 16 episode, sedangkan versi Turki mencapai 40 episode. Pada Full House, plot hanya sampai kisah bersatunya Han Ji-eun dengan Lee Young-jae. Sedangkan pada Iliski Durumu: Karisik memiliki kisah yang lebih kompleks, menceritakan kehidupan setelah pernikahan, bahkan hingga Aysegul memiliki anak. Sangat sesuai bila melihat jumlah episode yang banyak.
Saya lebih memilih untuk menikmati versi Korea Selatan, sebagai versi asli. Dengan jumlah episode yang cukup, cerita dapat dikemas dengan sangat menarik dan tidak terlalu bertele-tele. Alasan lain adalah translasi. Saya menunggu recap orang lain untuk menikmati Iliski Durumu: Karisik karena sampai saya menulis blog ini, belum menemukan film tersebut dengan subtitle bahasa Inggris, apalagi Indonesia.

C. Boys Over Flowers
Picture by Wikipedia

Diproduksi di Korea Selatan pada tahun 2009, yang merupakan remake dari manga dan film berjudul Hana Yori Dango di Jepang pada tahun 1995. Taiwan membuat cerita yang sama pada tahun 2001 dengan judul Meteor Garden
Picture by Wikipedia
***

Selain ketiga film tersebut, masih banyak film KDrama remake lain yang saya nikmati, baik saya tonton versi asli dan remake-nya ataupun hanya versi KDrama-nya saja. Sebutlah beberapa; Good Doctor, The World of The Married, Signal, The Innocent Man, My Love from The Star, Princess Hours, Coffee Prince.

Versi manakah yang terbaik? Jawaban saya, tergantung. Beberapa judul memang lebih unggul versi KDrama-nya, tetapi, ada juga yang justru versi negara lainnya yang lebih saya suka, seperti Good Doctor misalnya. Tergantung bagaimana pihak produksi mengemasnya, betul?

Kalian lebih suka yang mana? KDrama atau versi negara lainnya? Berbeda selera boleh, tetapi, tetap kokoriyaan menyatukan kita, yaaaa πŸ’™

Makin seru dengan menyelami opini kakak-kakak kece ini, yuk!
πŸ’™πŸ’™πŸ’™

Friday, July 3, 2020

Andai Aku Amoeba

Picture by Pinterest

Ini bukan kali pertamaku bercita-cita menjadi amoeba. Mampu membelah diri seketika, membagi raga dibeberapa tempat kemudian. Sayangnya aku hanya satu dan juga manusia. Tubuh mungkin di sini, tetapi, pikiran melayang-layang terbagi ke segala penjuru.

Kondisi ini biasa terjadi jika kita dalam keadaan terdesak, beberapa kejadian membutuhkan keberadaan kita dalam satu waktu, berbeda tempat. Sangat lebih tinggi probabilitasnya terjadi pada keluarga yang terpencar secara domisili, berbeda kota, apalagi berbeda negara.

Seperti itu kira-kira keadaanku sekarang. Singkat cerita, adik bungsuku sakit. Terdapat penumpukan cairan abnormal di selaput parunya, atau dikenal dengan istilah medis efusi pleura. Keadaan ini membuat dia terlihat sangat memprihatinkan. Kondisinya tidak stabil, sangat jauh dari terakhir kali aku tatap muka dengannya. Sempat kurang lebih seminggu dirawat inap, kemudian, karena gagal penyedotan cairan, akibat letak efusi terlalu jauh dari lapisan-lapisan kulit, akhirnya dilakukan pengobatan secara oral. Sedikit mirip dengan pengobatan Tuberculosis, dilakukan selama enam bulan berjalan, di bawah pengawasan dokter. Setelah diputuskan untuk melakukan pengobatan secara oral, akhirnya adikku dipulangkan dari rumah sakit.

Sempat terjadi perkembangan yang cukup baik selama berada di rumah sakit. Namun, ketika mulai kembali ke rumah, kondisinya justru cenderung memburuk. Sesak yang datang kembali, nyeri pleuritis yang semakin terasa, makin dibuat panik dengan adanya demam. Padahal, selama masuk dan di rumah sakit, tidak terjadi riwayat demam. Aku mencurigai adanya infeksi dari datangnya demam dan juga kenaikan angka leukosit. Aku yang jauh ini, berbeda kota, sangat khawatir. Belum lagi memikirkan mama yang terus merawatnya, dengan kondisi baru saja mengalami stroke ringan. Pikiranku terbagi untuk mereka.

Di lain pihak, umi mertuaku pun sedang tak bagus kondisi kesehatannya. Memberikan beberapa gejala yang mengarah pada stroke ringan. Ditambah angka asam urat yang terus naik, padahal, sudah sangat menjaga pola makan. Aku selalu ingatkan untuk mengelola stres dengan baik. Tetapi, beliau selalu berkata bahwa pikirannya sangat penuh dan banyak. Inginnya sering ditemani anaknya, yaitu suami, sebagai anak yang saat ini sekota dengannya. Namun, akhir-akhir ini pun suami sangat sibuk. Imbas Covid-19 bagi suatu industri sangatlah berdampak. Pasca PSBB ini, pabrik seakan kejar tayang. Memulai kembali dengan orderan-orderan yang bertambah untuk diselesaikan setiap waktunya. Suamiku sebagai penanggungjawab dan pengelola, tidak bisa tidak untuk menjadi sibuk. Akhirnya, keinginan umi mertua dengan realita suami agak sulit sinkron, kemudian menjadi cabang pikiran beliau kembali, juga cabang pikiranku.

Ahh, sulit memang untuk bisa menjadi "sesuatu" untuk semua orang. Mengikuti keinginan dan membahagiakan semua adalah jelas hal yang sulit di realisasikan. Itu mengapa, kita perlu bersikap realistis. Terhadap apa yang kita lakukan, akan selalu ada yang harus direlakan.

Sayang, aku bukan amoeba. Hanya bisa menikmati jentik-jentik kepanikan dan kekhawatiran sendiri. Mencoba mengelolanya sebisa mungkin, sebaik mungkin. Yang pada akhirnya hanya bisa berserah, mengadukan semua dalam doa, semoga kondisi pelik kian melandai tanpa harus ada aku tepat di hadapan mereka selalu, dalam satu waktu.

Rumah yang sangat dingin akhir-akhir ini,
3 Juli 2020

Thursday, July 2, 2020

Cerita Satu Juli ke Delapan


Cerita tentang kemarin, 1 Juli 2020. Sedikit terlambat menuangkan dalam kata, sengaja. Di harinya, hanya ingin menikmati moment saja. 

Kemarin, tepat tahun ke-delapan pernikahanku. What people called it "wedding anniversary". Ternyata, sudah sejauh ini perjalanan bahtera rumah tangga kami. Sangat tidak ingin berkata, "Wah, ga kerasa ya!" Hehe, untuk kami yang menjalani, ya tidak sesederhana itu. Delapan tahun kami adalah penggodogan luar biasa, yang aku yakin, masih akan terus berlanjut ke tahun-tahun berikutnya, insyaAllah. Karena pernikahan bukan sekedar status, bukan sekedar seremoni, kan? Ini adalah the real battle field untuk suatu hubungan laki-laki dan perempuan. Ladang ibadah seumur hidup, bahkan banyak orang menyebutnya seperti itu.

Begitu juga dengan kami. Dengan berbagai drama internal di dalamnya, kami masih bertahan, dan insyaAllah akan terus bertahan, dalam bahtera ini. Banyak hal yang sudah terlewati, bukan hanya tentang tangis, tetapi, juga tentang tawa. Terlalu banyak cerita, dalam upaya saling mengenal lebih dalam satu dan yang lainnya. Kami menapaki satu per satu, meraba-raba, berusaha mewujudkan definisi "keluarga impian". Tak jarang kami berbeda pandangan, membutuhkan effort untuk dapat membaurkan opini dari dua kepala. Dibumbui sedikit adu argumentasi yang pada akhirnya tetap akan kembali saling rangkul, hasil dari menyelaraskan ego juga bersikap lebih realistis. Terlebih dengan hadirnya sosok lain, kecil, tetapi, banyak merubah arti.

Banyak orang bilang, "Menikah itu bukan butuh cinta, memangnya cinta bisa bikin kenyang?!" Tapi, in real, pada akhirnya, cintalah yang menjadi jiwa bagi suatu "rumah". Cinta yang membuat kita mampu meredam ego, menurunkan kadar idealis, lebih banyak menerima kekurangan dan memaafkan, rela untuk terus berjuang dan bertahan, walau terjangan angin problematika semakin lama semakin kencang. See, cinta memainkan perannya. Tanpa cinta, keutuhan rumah tangga sebatas fana. Kosong, tanpa arti, tanpa kekuatan. Maka, bagiku, cinta itu penting, wajib dibangun dan dibina dalam menjalankan pernikahan.

Delapan tahun dan akan terus berlanjut, insyaAllah, kami terus belajar mencari makna. Hakikat pernikahan seperti apa yang kami idamkan untuk diupayakan. Pengalaman menjadi proyek besar pembelajaran kami, bukan hanya sekedar teori. Darinya, kami semakin tahu dan mengenal, bahwa kami disatukan bukan untuk mencari kesempurnaan di masing-masing individu, jelas hal yang tidak akan kami temukan hingga kapanpun, justru, bersatunya kami adalah untuk saling menyempurnakan satu sama lain, mengisi kekosongan dan kekurangan antar personal, membuatnya utuh dan menjadi sempurna, setidaknya bagi diri kita.

Akan berbeda filosofi pernikahan disetiap orang dan ini hanya versi kami berdua, aku dan suami, tentunya.

Syukur yang tak terhingga atas karunia ini. Paket lengkap beserta kejutan-kejutan di dalamnya. Dan kami masih dalam keutuhan, semoga selalu dalam keberkahan juga, aammiin.

Spesial terima kasih untuk suami tanpa urat romantis sedikitpun, namun, mampu melakukan hal yang tak biasa dilakukannya. Terima kasih untuk terus mencari tahu tentang aku, tentang kita. Kue setiap tahunnya hanyalah simbol, ungkapan-ungkapan hati antar kita lah kado sesungguhnya. Seperti bunga yang kau pilih, bermekaran, mengembang dan cantik, itu harapan terbesarku tentang "rumah" kita πŸ’™

Story behind :
"Abang, sore ini aku ke Yomart ya sama Anis."

"Okey, ibuk!"

Sesorean,

"Aku keluar, ya!"

"Iya, hati-hati."

Sesampai di rumah kembali, 

"Ibu, ibu, waah, ada tanaman cantik masyaAllah, Anis suka ini!"

Aku masih mengambil kantong belanja dan mengunci mobil, Anis yang masuk duluan ke rumah.

"Tanaman apa, Nis?" sahutku dari luar.

"Ini, lihat, bagus, ibuuu, cantik sekali, Anis peluk, ah!"

Dan si lelaki tak romantis itu berhasil mengejutkan ku dan bocah kecil πŸ’™ Jazakallah, zaujii. Uhibbuka fillah, till jannah, insyaAllah πŸ₯° 

Latar waktu dan tempat, 
Bandung, 1 Juli 2020

Alhamdulillaaah 'ala kulli haal ....

Tuesday, June 30, 2020

Randomness Routine


Ada yang mengintip, terang berwarna kejinggaan. Lampu ruang itu sudah sangat terang, tetapi, tetap tak membiaskan terangnya sang jingga. Mencolok, menarik penuh perhatianku seketika. Rembulan. Di sana kau bertahta.

Bukan purnama, tak juga sabit. Anis pasti berteriak, "Bulan setengah lingkaran, bu!" jika melihatnya. Tapi, kala itu dia telah bermain damai dengan mimpinya, hanya aku, menatap ke celah atap dan terpukau sendiri dengan pemandangan di antaranya.

Sama seperti hujan, aku pula sangat menyukai rembulan. Di antara gelap, dia menderang. Pun saat harus menyelinap di antara kilauan mentari, dia tetap jelas menampakkan jati dirinya. Seperti tak takut dan segan bila pesona matahari kan hempaskan keindahannya.

Malam itu dingin, angin musim peralihan berdesir menyelinap, masuk memenuhi ruang sederhana itu. Aku terduduk di kursi berplitur cokelat, terlihat klasik juga kokoh. Tempat ternyamanku untuk hanya sekedar merenung dan termenung. 

Lelah membawa pada titik di mana diam pun bukan sekedar solusi. Waktu yang terasa panjang dengan segudang kegiatan, hampir monoton, sama setiap harinya. Di sini biasa aku lepaskan sejenak kesemua itu. Di ruang ini. Di kursi ini. Hanya duduk dan diam, berusaha tak berpikir dan tak menyelami rasa. Mengosongkan diri. 

Kadang segelas kopi, kadang semangkuk mie, kadang setoples keripik, kadang sewadah kwaci. Menemani jasad ini memenuhi haknya untuk sedikit tenang dalam kenyamanan. Kadang buku, kadang gawai dengan macam fiturnya, kadang pulpen dan catatan, kadang tanpa apapun. Namun, malam ini, hanya ada aku dan bulan.

Sedikit sendu, alasan tak pasti. Mungkin jenuh, mungkin lelah. Wajar saja, waktu telah menunjukkan hampir tengah malam. Seharusnya aku tidur, baiknya seperti itu. Tetapi, banyaknya keinginan untuk tetap terjaga, menikmati sedikit ruang kebebasan yang telah menjadi barang langka saat bocah penuh tenaga. Waktu yang terbatas ini mana mungkin aku sia-siakan. 

Aku hanya berbicara tentang aku dan hariku. Sembari menggenapkan tulisan ke-dua puluh di Juni 2020. Target terpenuhi, Alhamdulillaaah, ku ucap syukur. Entah, berapa kata telah terangkum sekarang, semoga lebih dari 300, sesuai dengan ketentuan itu.

Penghunjung Juni akan mengantarkan pada Juli di beberapa jam lagi. Maka akan menjadi tanggal 1 di bulan Juli tahun 2020. Ada yang spesial di tanggal itu. Tanggal yang merubah statusku di delapan tahun yang lalu. Mereka sebut itu wedding anniversary, untuk ku lebih ke kilas balik juga titik evaluasi. Sejauh mana pernikahan ini telah membawa ke jalan Tuhanmu, Nadya. 

Ahh, mengapa malam senang menenggelamkanku pada pikiran tak bertema, tak berjudul, tak bertepi? Di saat yang ku inginkan justru segala kekosongan dalam otak ini. 

Lewat tengah malam, mataku mulai memberat. Tak perlu memaksa diri lagi, lelapkan lah keduanya. Beranjak kini, beralih menuju pembaringan. Tak lupa, hal yang selalu dilakukan, memandang Anis dan Ali yang terlebih dahulu menjemput bunga tidur. Ku lihat gurat lelah di wajah sang ayah, juga gurat harapan di wajah sang bocah. Berbeda kamar, satu per satu ku perhatikan juga kirim sehembusan doa tulus untuk keduanya. Esok akan kita jelang, hari baru, cerita baru, asa baru, dengan keberkahan dan kebahagiaan, insyaAllah. Good night, palsπŸ’™


Note : Rembulan, terima kasih telah menemaniku 🌜

Sunday, June 28, 2020

Aksara Hangeul Bukan Hanya Milik Korea, lho!

Picture by Pinterest

Hangeul adalah alfabet yang digunakan dalam penulisan bahasa Korea Selatan. Sebenarnya, di Korea Utara pun menggunakan alfabetik yang sama, tetapi, populer dengan sebutan Joseon-geul

Alfabetik ini diciptakan oleh Raja Sejong yang Agung pada tahun1443, masa Dinasti Joseon

Saat ini, alfabet Hangeul terdiri dari 24 huruf; 14 huruf konsonan dasar dan 10 huruf vokal dasar, yang kemudian dikembangkan lagi menjadi konsonan rangkap dan vokal rangkap. 

Tentu saja, semua informasi tersebut saya dapatkan dari laman Wikipedia πŸ˜

Apakah saya akan membahas mengenai penulisan Hangeul di sini? Oh, tentu tidak. Saya belum memiliki ilmu yang cukup mengenai itu. Karena, bahkan, saya belum pernah secara sengaja menelisik satu per satu alfabet Hangeul tersebut sebelumnya, sampai akhirnya topik bahasan ke-sepuluh di grup kokoriyaan memaksa saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang detail alfabet Hangeul ini. 

Lho, bukannya neng Nad suka KDrama? 
Ya, benar. Bukan hanya drama saja, beberapa lagunya pun saya nikmati. Tetapi, selama ini saya lebih memilih untuk menggunakan romaji sebagai alat bantu pelafalan. Dengan alasan, niat yang agung nan luhur belum benar-benar tertanam di dalam diri ini untuk mempelajari bahasa Korea Selatan secara lebih mendalam. Alasan lain, pastinya tingkat malas saya yang masih terlalu tinggi.

Setelah membaca beberapa artikel dan juga blogwalking tulisan teman-teman grup kokoriyaan, ternyata membuat saya semakin penasaran mengenai Hangeul. Seperti apa yang ditulis oleh kak Risna, Belajar Bahasa itu Sepaket Sama Tulisannya . Dan ternyata pula, penulisan bahasa Korea ini lebih sederhana dibandingkan dengan huruf Hijaiyah pada bahasa Arab. Mungkin, bila sedikit diseriusi, menguasai bahasa Korea Selatan beserta tulisannya ini bukanlah suatu keniscayaan. 

Hangeul, worth to learn?
Jawabannya, tergantung pada kebutuhan masing-masing personal. Untuk yang keseharian tidak berkomunikasi dengan bahasa Korea, pun tidak memiliki hobi dan ketertarikan yang masih berhubungan dengan dunia per-kokoriyaan, mempelajari aksara Hangeul ini sudah barang tentu bukan menjadi hal yang prioritas. Namun, bagi penikmat para oppa dan eonni di KDrama, atau sekedar suka melantunkan lagu-lagu Blackpink juga BTS, mempelajari bahasa Korea Selatan berikut Hangeul-nya ini akan menjadi nilai lebih yang patut dipertimbangkan. 

Di luar hal tersebut, secara umum, mempelajari suatu perangkat komunikasi bukanlah hal yang sia-sia. Dengan bertambahnya kecakapan akan suatu bahasa, kemampuan kita untuk memperoleh informasi lebih di dunia pun akan semakin meningkat. Selain itu, akan dengan mudah membuka peluang ber-relasi dengan orang lain dari bangsa lain, yang secara tidak langsung akan membawa manfaat baru bagi kita, yaitu memperluas jaringan.

Bagaimana cara untuk memulai?
Yang pertama dan utama, sudah pasti azamkan niat. Tanpa niat yang kuat, segala sesuatu tidak akan bisa berjalan. Niat ini pun harus selalu dipastikan konsisten, sehingga saat kebosanan mulai terlihat hilalnya, untuk meluruskan kembali niat pun akan lebih mudah.
Kedua, mencari alasan kuat mengapa kita harus mempelajari hal ini. Strong why tersebut akan menjadi motivasi besar untuk terus bergerak maju saat mulai merasa ingin berhenti.
Ketiga, menemukan komunitas dengan visi misi yang sama akan menjadi wadah untuk saling menyemangati, bertukarpikiran, berlatih kecakapan atau sekedar mengeluarkan unek-unek saat menemui kendala.
Keempat, do it now! Tanpa tapi, tanpa excuse, mulai saja dulu. Satu langkah kecil sebagai pembuka langkah-langkah besar selanjutnya, begitu, bukan?

Dari mana cara mempelajari Hangeul?
Banyak cara. Jika memiliki pendanaan berlebih dan ingin mendapatkan tutor langsung, mengikuti kursus formal secara intensif adalah pilihan tepat. Bahkan, ada yang menyediakan paket "belajar bersama native" dan atau "short course dengan sistem homestay ke negara asalnya, yaitu Korea Selatan". Program pertukaran pelajar pun bisa dicari informasinya, baik melalui internet ataupun langsung menghubungi pihak sekolah, bagi yang masih bersekolah.

Untuk yang memiliki keterbatasan dana, don't worry be happy, berterimakasihlah pada teknologi. Saat ini sudah banyak sekali kelas daring gratis, baik melalui aplikasi ataupun langsung pada web, yang menyediakan program pembelajaran bahasa. Salah satu yang saya gunakan adalah aplikasi Duolingo. Bisa juga dicari di laman atau aplikasi Coursera

Fakta menarik!
Ternyata, ada suatu wilayah di Indonesia yang menggunakan aksara Hangeul sebagai aksara resmi, selain aksara Latin pada umumnya. Di Kampung Karya Baru, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, terdapat suku Cia-cia dengan bahasanya, yaitu bahasa Cia-cia, menggunakan aksara Hangeul sebagai tulisan resmi keseharian. Diawali dari upaya pemerintah untuk melestarikan keberadaan bahasa daerah minoritas, sehingga dicarilah suatu media tulis khas untuk mengikat bahasa tersebut. Sempat memilih penggunaan aksara Arab, tetapi, terjadi ketidakcocokan di beberapa kata dan akhirnya aksara Hangeul-lah yang lebih mudah diterapkan pada bahasa lokal tersebut. Pada tahun 2009, Hangeul pun menjadi alfabetik utama dan resmi untuk bahasa Cia-cia. Bahkan, karena hal ini pun, suku Cia-cia menjadi lebih berkembang. Beberapa tokoh dan pelajar di sana mendapat undangan kehormatan langsung ke Korea Selatan. Lebih membanggakannya, beberapa guru Hangeul di Indonesia ini diminta untuk mengajar Hangeul di negara asal aksaranya itu sendiri, luar biasa, bukan?

Wah, ternyata banyak hal menarik yang bisa kita peroleh dengan mempelajari Hangeul ini ya. Saya makin semangat untuk mencari tahu lebih dalam, nih. Apalagi ditemani KDrama kesayangan sebagai salah satu media ajar, juga teman-teman se-frekuensi di grup kokoriyaan. 

Banyak hal menarik lainnya bisa didapatkan dengan mengunjungi blog mereka, lho! Kepoin, yuk! 🀭
πŸ’™πŸ’™πŸ’™

Friday, June 26, 2020

My Top Five Beauty Essentials

Picture by Pinterest

Perempuan identik dengan keindahan, salah satunya melalui passion memoles diri. Menurut saya, berdandan bukanlah hal buruk, selama fungsi dari berdandan itu sendiri tak menyalahi aturan.

"Gue sih orangnya natural, biar cantik terpancar apa adanya", pernyataan dari kubu yang tidak begitu menaruh banyak ketertarikan dengan dunia lenong. Tidak salah, tetapi, tidak juga benar. Saya pun pernah ada di posisi itu, tanpa dan anti makeup, berpuluh tahun lamanya.

Setelah menikah, ada perubahan sedikit dalam pola berpikir saya. Terutama setelah mempelajari lebih dalam mengenai suami dan psikologi lelaki pada umumnya. Ternyata, sesuka-sukanya lelaki dengan kenaturalan perempuan, tak menampik mereka akan menolehkan wajah dan terbersit ketertarikan pada perempuan yang memoles wajahnya, karena itulah naluri mereka, fitrahnya. 

Berdandan pun memiliki definisi luas. Ada yang sangat kompleks dan lengkap, ada pula yang sebatas meronakan bibir dan pipi agar terlihat lebih segar. Keduanya tetap memberikan kesan berbeda dibanding tanpa polesan sama sekali, baik secara fisik juga psikis.

Bagaimana dengan jeng Nad?

Saya sangat suka bersolek, tetapi, di dalam rumah. Entah mengapa, rasanya kurang begitu percaya diri untuk menggunakan banyak kosmetik saat bepergian. Namun, saya senang bereksperimen dengan perkakas kecantikan. Jadilah rumah sebagai wadah. Toh, kalaupun terlihat "berlebihan", yang melihat hanya suami dan anak saja, begitu pertimbangannya. 🀭

Kapan waktu berdandan jeng Nad?

Pagi dan malam. Saya merasa bahwa saya lebih siap untuk menghadapi hari jika saya memperlakukan diri ini untuk rapi dan proper sepagi mungkin. Walau kadang saya skip waktu mandi pagi, karena jadwal padat merayap, setidaknya mencuci muka, menggosok gigi, memoles sedikit makeup juga parfum, adalah keharusan. Kondisi diri yang siap ini akan membantu mood saya tetap stay on menghadapi satu hari ke depan dengan segala kesibukannya, meski hanya seputar rumah. 

Bagaimana nasib wudhu ketika harus ber-makeup sepanjang hari di rumah, jeng Nad?

Kembali lagi pada definisi berdandan yang luas. Jika kondisinya sedang dalam masa period, tentu bukan masalah. Saat-saat tidak shalat ini kadang saya jadikan moment untuk bisa berdandan agak lengkap di rumah. Namun, jika dalam kondisi shalat, biasanya saya hanya menggunakan  riasan sangat tipis, sederhana, dengan kosmetik non-waterproof, semisal hanya menggunakan krim pelembab, bedak, lipstik dan celak/eyeliner. Jangankan terbawa air saat berwudhu, dibawa sedikit berkeringat pun akan luntur. Jadi, tidak akan menjadi penghalang dalam beribadah, bukan? 😁

Boleh dong fudhul bin kepo dengan respon pak Suami jeng Nad?

Pertama kali saya menerapkan kebiasaan ini, tentu beliau kaget. Saya yang tidak pandai bersolek, juga tidak pernah terlihat bersolek kecuali pada acara khusus, terlihat berbeda. Alhamdulillaah-nya, kekagetan ini berkonotasi positif. Bahkan, dia jadi senang menyuruh saya untuk beli alat kecantikan, katanya, "Ini kan untuk kesenangan saya juga di rumah" 🀭 Padahal ya ibu-ibu, suami saya termasuk tipe lelaki sangat cuek, apalagi tentang penampilan. Ternyata, diberi sedikit hal yang memanjakan pandangannya, dia menikmati juga.😁

Nah, kali ini saya ingin berbagi tentang 5 kosmetik mendasar yang menjadi prioritas saya dalam melenong. Mungkin akan berbeda setiap orangnya, tetapi, saya pribadi sudah sangat merasa cukup dengan 5 hal ini :

1. Lipstik
Produk kecantikan terpenting untuk saya adalah lisptik. Jika dalam kondisi terburu-buru atau kurang mood berdandan, setidaknya lipstik ini akan tetap diaplikasikan. Wajah saya yang cenderung pucat, akan banyak terbantu untuk terlihat lebih segar hanya dengan sedikit polesan lisptik, meski hanya warna nude atau natural. 
Untuk jenis lisptik favorit saya adalah matte, entah bentuk stick ataupun liquid/creamy. Sayangnya, penggunaan lipstik matte yang terlalu sering akan mengakibatkan kekeringan pada kulit bibir, sehingga saya seling dengan lipsgloss berwarna juga.b

2. Celak/eye liner
Selain sunnah nabi, saya juga memang sangat senang melihat mata seseorang terbingkai celak/eyeliner. Seolah memberi penegasan pada mata dan membuatnya lebih terlihat tajam. Selain itu, penggunaan celak ini sangat membantu dalam menyamarkan kantung mata dan memberi kesan lebih segar pada mata yang sudah telihat lelah.

3. Cheeky blusher
Tak perlu terlihat kontras, hanya dipulas selewat, tetapi, sudah banyak merubah penampilan. Terlebih untuk pemilik wajah dengan tone kulit cenderung pucat, penggunaan blusher ini menjadi esensi. 
Shade yang saya pilih cenderung ke arah salem, jingga muda, coklat muda. Untuk warna pink, apalagi pink tua, seperti terlihat kurang natural di wajah saya. 

4. Pensil alis
Dikarenakan bentuk alis saya yang berantakan, maka, penggunaan pensil alis mampu memberi kesan lebih tegas dan rapi. Shade yang saya pilih adalah cokelat tua, dengan polesan yang sangat tipis asal membingkai. 
Jenis kesukaan saya sudah barang tentu bentuk pensil. Lebih mudah dalam penggunaannya dan tidak memberikan kesan garang. Pernah suatu ketika saya mencoba bentuk pomade, mungkin karena belum terbiasa, akhirnya memberikan kesan galak dan terlalu tegas, yang saya kurang suka final look-nya.

5. BB Cream
Menurut saya, BB Cream ini jauh lebih ringkes dan memberi hasil lebih baik, dibanding bedak. Terkadang saya tidak menggunakan bedak sama sekali, hanya cukup BB Cream saja. Dengan satu produk, fungsi melembabkan, memberi pulasan, bahkan sebagai sunscreen pun telah didapat. 

Selain kelima produk kecantikan tersebut, ada dua hal terpenting lainnya, yang menjadi must use item saya sehari-hari, yaitu deodorant dan parfum. Secantik atau seganteng apapun seseorang, nilainya akan sedikit terganggu dengan bau badan. Selain itu, saya yang menyukai keharuman, merasa sangat nyaman jika orang di dekat saya wangi. Untuk itu, saya pun harus wangi agar orang di dekat saya akan merasakan kenyamanan juga.

Nah, menurut kalian bagaimana? Seberapa penting kah menjaga penampilan, meski hanya di dalam rumah? Share, yuk! ☺️πŸ’™

Thursday, June 25, 2020

PUISI : Tanpa Tapi, Banyak Jika

Jika lelah, rehat sejenaklah
Pejam mata, keluar dari semua keluh yang ada
Rasakan bahwa hanya ada dirimu, hanya kamu
Tak perlu dengarkan kata orang, sesekali sangat perlu itu

Jika marah, luapkanlah
Tak harus memecahkan kaca, juga menyakiti raga
Ada cara, banyak wacana
Dialog dengan Tuhanmu, atau sekedar melipir sesaat, kemanapun, meski hanya pada selembar kertas dan pena

Jika bingung, diamlah sesaat
Apa yang kau bingungkan, kemudian bertanyalah
Mulutmu telah menjadi perangkat hidupmu
Berikut segenggam otak di balik tempurung kepalamu

Jika khilaf, bertobatlah
Kau bukan terjamin sebagai malaikat
Bukan pula seorang yang maksum
Tak perlu menjadi sempurna, tetapi menjadi lebih baiklah pada setiap masa

Jika kecewa, teteskan air mata
Dia bukan aib, hanya serupa kandungan oksigen juga hidrogen di dalamnya
Akan mengering teruapkan udara
Pun mudah untuk tersapu oleh waktu, kau hanya cukup menunggu

Jika menyesal, untuk apa melarut
Katanya, nasi kadung menjadi bubur
Kau cukup beri kecap, telur dan kerupuk
Nikmat disantap saat pagi datang menyambut

Jika bosan, bersyukurlah
Nyatanya kau butuh kebosanan itu
Tanpanya tak kan kau temukan tantangan baru
Tenang saja, hidupmu akan kian seru

Jika takut, lampiaskan
Kau bisa berteriak, kau bisa berpegang erat, kau pun bisa lantunkan doa
Takut datang dari pikiran, lawanlah dengan pikiran
Meminta tolong pun tak apa, tak cukup merusak kehormatan

Jika tak ingin, jangan lakukan
Bila tetap harus, tunda sesaat
Setiap tindak hanya butuh jeda
Membuka lembar baru, permulaan baru, energi baru, hanya tentang, lagi-lagi, waktu

Mengapa harus berpura-pura
Kau tak hidup di atas panggung sandiwara
Lakonmu adalah dirimu
Kembali padamu akan arah juga cara berlaku

"Bila", bukan suatu kata bijak
Selayaknya "jika", penuh peng-andai-an
Sesekali tenggelam pada sapuan ombak ilusi
Namun, pastikan kau tetap dan harus kembali

Ada yang terlihat sempurna, ada yang berusaha menjadi sempurna, ada yang menyeolahkan dirinya sempurna
Namun, kesempurnaan itu khayal
Setidaknya bagi kita sebatas umat
Kau kejar iya, tak kan pernah jua kau gapai, fatamorgana

Terkadang kutemukan titik kosong pada sisi lain pikiran
Tak perlu mengisinya
Kekosongan memainkan perannya tersendiri
Lihatlah sarang lebah, pada kekosongan itu tercipta manisnya madu yang manfaat, pada musimnya

Menerima kekurangan manusia lain itu harus
Tetapi, menyadari bahwa kita memiliki lebih banyak kekurangan itu mutlak
Darinya akan terpacu keinginan belajar
Menempa kemampuan, meningkatkan kemuliaan

Konon, jangan berbuat dosa
Setiap sisi hati manusia tak ada yang ingin melakukannya, bukankah hati kecil itu murni
Lalu mengapa ada dosa di dunia
Karena ada manusia sang pendosa di sana

Hidup akan menjadi lucu
Kita cukup terbahak sesaat
Humornya kita nikmatilah
Jangan terlalu serius, berkerutlah kening dibuatnya

Sajak ini tanpa "tapi", banyak "jika"
Tak bijak, tak apa
Bilakah mungkin ku buat ia tanpa judul, sarat arti
Biar ku cukup pahami, ku selami sendiri

Esok, tetap menjadi hari
Masih dengan naungan matahari juga senja pemisahnya
Bila kau kembali hidup, berjanjilah tuk hirup dalam-dalam udaranya
Bila malam ini penutup, ucapkan salam perpisahan dengan indah


Wednesday, June 24, 2020

BEBIKINAN : Klepon Kentang Mandi


Pecinta makanan manis mana suaranya? Nah, kalau saya sih kurang suka yang terlalu manis, tapi, sering tetiba pengen gitu ngunyah yang manis-manis, bingung kan?πŸ˜† Makanan kali ini cocok sekali di lidah saya yang "mbingungi" itu, walaupun memang pada dasarnya saya ini penyuka makan sih πŸ˜…

Diawali dari tema tantangan minggu ini di Rumbel (rumah belajar-red) Boga yang saya ikuti, yaitu olahan kentang. Langsung terpikir untuk membuat cake kentang dengan topping abon atau daging giling, wah, baru niat pun sudah terasa nikmat. Apalagi ditemani secangkir kopi panas, lengkap dan menyempurnai program diet kita semua, kan?🀭 Eh, tapi, lha kok mainstream ya. Kentang dan makanan asin, seperti hal yang biasa. Terpikir lah untuk membuat panganan manis berbahan dasar kentang. Ide pertama muncul untuk membuat bubur candil sejujurnya, penggunaan ubi diganti dengan kentang. Akhirnya mencari ilham dengan scrolling aplikasi Cookpad andalan ibu-ibu kekinian, tada, ternyata saya jatuh hati dengan resep mbak Susan_Febrie di aplikasi tersebut, yaitu Klepon Mandi (dengan bahan dasar kentang). Dengan sedikit improvisasi, saya pun mengeksekusi resep tersebut hari ini.

Bahan yang digunakan tidak banyak variannya dan juga sangat mudah dijumpai di dapur kita sehari-hari. Cara membuatnya pun sangat sederhana dan tidak banyak memakan waktu dan alat. Bahkan, saya masih bisa membuat resep ini di antara waktu memasak menu harian rumah tadi pagi. Semudah itu πŸ˜‰

Yuk, mari kita mulai membuatnya.

Bahan Klepon:
250 g kentang
4 sdm tepung tapioka
1 sdt garam
50 g palm sugar/gula merah parut
Pewarna makanan (optional)

Bahan Saus/Kuah:
65 ml santan
200 ml air
1/2 sdt garam
2 sdm tepung tapioka
2 lembar pandan

Cara Membuat:
1. Rebus kentang, hancurkan
2. Tambahkan garam, tepung tapioka, pada kentang halus yang masih panas/hangat, aduk hingga kalis
3. Bagi adonan menjadi dua atau lebih bagian, beri pewarna setiap bagian, aduk rata
4. Ambil sedikit adonan, isi dengan palm sugar, bentuk bulatan (pastikan tidak bercelah untuk menghindari gula meleber saat perebusan)
5. Masukkan klepon pada air mendidih, angkat ketika klepon mengambang/terapung, tiriskan
6. Saus : campur semua bahan, masak hingga mendidih
7. Sajikan klepon dengan saus

Hasilnya sangat sesuai ekspektasi saya. Kekenyalan dari klepon sangat pas dan mampu menahan palm sugar dengan baik hingga tidak meleber saat perebusan. Rasa manis dari palm sugar saat dimakan, sangat apik di lidah berpadu dengan kegurihan sausnya yang kental, creamy dan beraroma santan. Kulit klepon yang sedikit asin cenderung plain, sangat padu dalam menyeimbangkan rasa dan tekstur ketika dikunyah. Ajib, begitu komentar Anis saat mencobanya πŸ˜†

Selamat mendapur dengan bahagia πŸ’™

Hobi Berbonus Kecakapan Bahasa

Picture by Pinterest

Banyak cara untuk mempelajari bahasa. Bahkan, ada istilah, bahasa terlatih karena biasa; biasa untuk mendengar, biasa untuk melafalkan. Sekuat apapun teori yang ditelan, pembelajaran suatu bahasa akan lambat berprogres jika tidak diimbangi dua pembiasaan tersebut.

Saya pribadi adalah tipikal orang yang senang mempelajari bahasa melalui pembiasaan, bukan secara formal mengikuti suatu kelas dengan tahapan berjenjang secara terus-menerus. Seperti bahasa Inggris, saya seumur hidup hanya mengikuti short course selama 1 bulan untuk mengisi liburan. Sisanya, hanya bermodalkan ilmu di sekolah dan juga media.

Meyakini bahwa mempelajari sesuatu dengan metode yang kita senangi akan lebih mudah terimplementasi, maka saya pun menerapkannya pada diri sendiri. Saya yang senang buku, musik dan film, berusaha mengambil sisi positif lain dari 3 media tersebut, yaitu pendalaman bahasa.

Hal sebaliknya pun berlaku. Ketika kita menyenangi suatu kegiatan yang melibatkan satu bahasa asing dan secara kontinu kita melakukan kegiatan tersebut, maka, bahasa asing yang tidak secara sengaja kita pelajari akan melekat sedikit banyak pada ingatan. Bahkan, tidak jarang hingga terbawa keseharian, baik dalam kosakata maupun dialek.

Mempelajari Bahasa atau Menonton KDrama?
Pada dasarnya, bahasa Korea bukanlah suatu bahasa yang memiliki daya tarik tinggi untuk saya pelajari, secara niat. Alasannya, penggunaan yang tidak terlalu esensi dalam kehidupan, perlu penulisan khusus dan sejujurnya kurang enak didengar saat percakapan menurut saya. Jika saya berkesempatan untuk mengikuti suatu kursus bahasa asing, mungkin bahasa Korea tidak termasuk pada list 3 teratas bahasa yang akan saya pilih.

Namun, wabah pun datang. Demam KDrama juga musiknya menyebar luas dan cepat di Indonesia. Tentu, sebagai penyuka film, saya adalah salah satu korban terjangkitnya. Berepisode-episode serial KDrama dengan berbagai genre dan judul saya konsumsi. Tak jarang, "nonton maraton" pun saya lalukan, seperti menyelesaikan suatu judul secara sprint yang kemudian dilanjutkan dengan judul berikutnya. Kebiasaan ini pun berdampak, salah satunya, telinga dan mata saya terbiasa dengan bahasa komunikasi di dalamnya, yang secara lambat laun, mulut pun mulai ikut membiasakan diri secara alamiah, dengan terceletuknya beberapa kata yang frequently spoken.

My Top 5 Frequently Spoken Korean Words
Mungkin bisa dikatakan juga kata favorit saya dari awal indera ini terbiasa dengan bahasa Korea. Yup, untuk saya, yang pertama adalah AIGOO atau AIGU. Kata ini lebih ke arah kata ungkapan ekspresi, yang jika diartikan bisa menjadi "ya ampun" di dalam bahasa Indonesia. Pada umumnya digunakan untuk ungkapan mengeluh, kaget, sakit, panik. 

Kata ke-dua, masih tentang kata ungkapan juga. Tapi, kali ini menggambarkan ekspresi kekaguman dan konotasi positif. DAEBAK yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan "keren, hebat, luar biasa". 

Kata ke-tiga. JINJJA. Dapat diartikan seperti "sungguh?!" di dalam bahasa Indonesia. Atau "benarkah?!" Suatu ekspresi meminta penegasan, dengan sedikit kekagetan atau ketidakpercayaan.

Kata ke-empat. OMO. Masih bentuk ungkapan yang dapat diartikan "ya Tuhan". Agak sedikit mirip penggunaannya dengan AIGOO.

Kata ke-lima. SARANGHAE. Biasanya mengucapkan kata ini sambil menunjukkan jari telunjuk dan ibu jari yang dieratkan, seolah membentuk "hati". Style yang sangat populer, bukan hanya di antara para pecinta KDrama, bahkan, lebih luas lagi. Tak sedikit icon ini pun digunakan dalam scene iklan atau film dan tayangan Indonesia. 

Sebenarnya, masih banyak kata lain yang menjadi biasa untuk digunakan sehari-hari oleh saya, seperti OPPA, HWAITING, ANNYEONGHASEYO, KAMSAHAMNIDA, JEONGMAL, BOGOSHIPO, CHUKAHAE, EONNI, SAENGIL, EOTTEOKE, AHJUMMA, AHJUSSI, NE, ANIYO, CHINGUYA dan lain-lain. 

Karena terbiasa mendengar percakapannya, melihat cara mereka melafalkannya, akhirnya terekam dalam alam ingatan bawah sadar, dan mulut pun mulai mengucapkannya. Seperti itulah bahasa. Menarik, bukan?

Nah, bagaimana dengan kalian? Cara apa yang paling ampuh untuk membiasakan bahasa asing pada kehidupan? Seberapa besar pengaruh hobi pada perkembangan bahasa teman-teman? 🀭

Sahabat-sahabat saya berbagi tentang pengalaman berbahasa dan ber-Korea-nya juga, lho. Yuk, ikut nyimak!