Showing posts with label relationship. Show all posts
Showing posts with label relationship. Show all posts

Sunday, July 19, 2020

Kencan Pertama Pasca Pandemi

Setelah sekian purnama, akhirnya bisa nge-date juga. Uhuy. Menurut kalian, seberapa penting sih memiliki waktu "berdua saja" dengan pasangan setelah punya anak? Kalau saya pribadi merasa penting sekali. Dengan waktu "berdua saja" ini, banyak manfaat yang dapat saya dan pak Suami rasakan. Salah satunya, membangun komunikasi efektif.

Terkadang, sejenak keluar dari rutinitas dan lingkungan sehari-hari, dengan pasangan, mampu membentuk kembali kehangatan dalam hubungan. Bukan bermaksud egois dan menelantarkan anak, tetapi, moment hanya berdua ini seolah memberi ruang pada masing-masing, suami dan istri, untuk dapat lebih saling memiliki. 

Keseharian, suami yang mungkin mayoritas fokusnya pada pekerjaan, sedangkan istri fokus utama pada rumah dan anak, ketika memiliki waktu "berdua saja", seperti memberi waktu khusus untuk lebih fokus hanya pada satu sama lain, dan ini sangat penting. Dengan mencurahkan perhatian lebih, meski pada saat tertentu, kelanggengan dalam suatu hubungan dapat terjaga, insyaAllah.

Kali ini, kami menyempatkan diri untuk dinner berdua di suatu resto dengan suasana tenang dan nyaman di daerah Cipanas-Cianjur. Kebetulan, Anis sudah tidur di rumah orang tua dan saya bisa menitipkan pada adik saya yang tinggal serumah dengan mereka.

Ini kali pertama kami dine-in di kafe pasca pandemi. Sengaja saya memilih waktu malam hari dan mendekati last order time, sehingga suasana kafe sudah sepi. Sayang sekali, protokol Covid-19 tidak diterapkan seutuhnya di kafe ini, entah karena saya memang datang sudah mendekati waktu tutup operasional atau memang mereka tak menerapkan itu sejak awal, tetapi, ketika memasuki resto tersebut kami tidak menemukan ritual pengecekan suhu. Meskipun, beberapa hand sanitizer tetap mereka sediakan di dekat mesin kasir.

Para petugas di kafe tersebut pun tidak semua menggunakan makser. Begitu juga penjarakan pada kursi dan meja, saya tidak melihat ada pengaturan khusus, masih tetap senormalnya tata ruang kafe. Padahal, kafe tersebut termasuk kafe kelas atas dan cukup terkenal di situ.

Bahagia rasanya dapat sejenak keluar dari rutinitas, sambil berbicara dari hati ke hati mengenai isu-isu internal maupun eksternal rumah tangga. Dengan diselingi kisah-kisah masa silam, romansa pada zamannya hihi.

Suasananya yang sedikit vintage dengan ornamen modern di beberapa sudut, menambah suasana semakin hangat dan rilex. Kami memilih lantai dua dengan display interior yang sederhana, hanya terdapat jendela besar yang langsung menghadap ke jalan. Sebenarnya, lantai tiga adalah spot terbaik, karena terdapat bagian outdoor dengan konsep roofpark sederhana. Namun, karena lebih banyak pengunjung di sana, saya lebih memilih lantai ini yang cenderung kosong.

Alhamdulillaaah, hanya sekitar satu jam kami di sana, menikmati sajian dan suasana, saling bertukar cerita. Namun, rasanya cukup sebagai upaya memenuhi kembali "bejana kebutuhan" kami sebagai pasangan suami-istri.

Alhamdulillaaah 'ala kulli haal 💙

Tak sabar rasanya, ingin pandemi segera berakhir. Sehingga, kami dapat memiliki waktu "berdua saja" ini dengan lebih rutin dan tenang, tanpa rasa was-was, aaammmiin. 

Thursday, July 9, 2020

Karena Sayang Perlu Diungkapkan

Rasa sayang itu sepaket, untuk diungkapkan dengan perbuatan pun perkataan, begitu menurut saya.

Suami atau istri bukanlah cenayang yang mampu membaca setiap pikiran dan perasaan pasangan. Butuh diutarakan. Bukan hanya perihal emosi negatif, seperti kemarahan, kekesalan. Emosi positif pun, seperti rasa sayang, kekaguman, rasa berterimakasih, perlu dilisankan/divisualisasikan padanya. 

Untuk surat, sejujurnya ini bukan kali pertama saya tulis untuk suami. Pernah saya sisipkan di salah satu kado ulang tahunnya beberapa tahun silam, pernah juga mengirim surel saat kami sempat menjadi pejuang Long Distance Marriage. Media tulisan ini menjadi metode awal saya dalam mengungkapkan rasa padanya, sebelum akhirnya berusaha untuk melatih diri ini mengungkapkan secara lisan dan langsung, dengan intensitas lebih sering pula. 

Dulu, sempat saya berpikir, ungkapan sayang akan menjadi "hal biasa" dan "kekurangan makna" jika terus menerus diucapkan atau disampaikan pada pasangan. Tetapi, setiap saya mendapatkan ucapan dan ungkapan itu dari suami, walau hanya sebatas "aku kangen kamu" saat dia bekerja, saya selalu merasa bahagia. SELALU. Ada hal yang saya dapati dari hal itu, bahwa intensitas dalam mengungkapkan rasa sama sekali tidak merubah makna dari rasa tersebut. Semakin sering, justru seperti menjadi checkpoint dalam hubungan. Seolah ungkapan sayang, cinta, terima kasih, maaf ini menjadi penambal dari setiap permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam rumah tangga, setidaknya bagi saya begitu.

Suami istri adalah tim, bukan "satu lebih dari yang lain" atau "hanya sepihak saja". Begitu juga dalam menyayangi, tidak ada istilah suami lebih menyayangi istri, atau suami harus lebih ekspresif dari istri, juga sebaliknya. Saat akad dilaksanakan, maka itu adalah bentuk ikrar bahwa seorang suami dan seorang istri akan saling menyayangi dan bertanggungjawab atas satu sama lain dengan hubungannya. Keduanya memiliki andil dan peran dalam menjaga kehangatan hubungan rumah tangga, tak harus siapa duluan yang memulai, alangkah lebih baiknya bila "saya yang akan memulai".

Seperti kali ini, saya kirimkan barisan kata cukup panjang melalui whatsapp. Berisi ungkapan terima kasih atas segala yang telah diperjuangkan demi kami, maaf untuk ketidaksempurnaan saya dalam mendampingi, juga ungkapan betapa sayang dan pentingnya sosok suami bagi saya. Walau kalimat "aku sayang kamu", "maafin aku, ya", "makasih, ayah/ibu" sudah menjadi hal biasa bagi saya dan suami, tetapi, tetap saja aliran emosi bermain peran sangat kuat saat jemari ini mengetik kata per kata mengungkap rasa. Haru, sedih, bahagia, bersyukur, bergemuruh menjadi satu, menghadirkan buah-buah air mata 💙 Perasaan lega dan plong luar biasa saat tombol "send" saya tekan. 

Dia, suami saya, tipikal yang sangat sibuk bekerja. Akan memakan waktu cukup lama untuk mendapatkan respon dari pesan yang saya kirim. Oleh karenanya, telepon menjadi pilihan utama untuk hal urgent dalam berkomunikasi. Tetapi, tidak dalam merespon pesan whatsapp "aliran rasa" yang saya kirim. Tidak menunggu lama, datanglah balasan yang biasanya harus menanti dalam hitungan jam.

"Makasih, cuma itu yang bisa aku bilang, dan aku nangis bacanya. Maaf buat semua kekuranganku."

Saya sangat kenal betul, betapa jauh dari romantisnya dia. Tetapi, jika berkenaan dengan air mata, maka itu sudah menjadi tingkat emosi tertinggi yang dia punya. Saya terharu, lagi-lagi sangat bahagia 💙

***
Menulis surat untuk pasangan kali ini adalah misi terakhir dari kelas Matrikulasi #batch8 Institut Ibu Profesioal. Namun, bagi saya, lebih dari sekedar itu. Ini tentang aliran rasa. Dibuat dengan ketulusan dan perasaan murni, mendalam. Setiap kata yang terbentuk adalah buah ungakapan hati, jujur dan apa adanya. Semakin yakin bahwa rasa itu perlu diungkapkan dalam lisan dan visual. Biarkan mereka yang kita sayang tahu, bahwa kita memang menyayanginya. Katakan. Tegaskan. Kelak akan menjadi pondasi awal membangun tim keluarga yang kokoh dan solid, insyaAllah 💙