Showing posts with label marriage. Show all posts
Showing posts with label marriage. Show all posts

Tuesday, July 28, 2020

Komunikasi Efektif dalam Pernikahan

When Silence in Marriage is Deadly (With images) | Communication in marriage,  Communication relationship, Marriage life
Picture by Pinterest

Kata orang, menikah itu artinya menyatukan dua keluarga, bukan hanya sekedar dua kepala. Artinya, perlu menyelami lebih dalam masing-masing keluarga dan berusaha untuk mengharmonisasikan keduanya. Terdengar mudah, walau pada kenyataannya sungguh jauh dari bayangan.
Tentang isi kepala manusia, sangat beragam dan unik. Jangankan yang berbeda ikatan darah, bahkan, yang masih satu garis keturunan pun tidak akan menjamin memiliki pemikiran yang sama terhadap suatu perkara. Menyelaraskan otak suami - istri pun kadang masih membutuhkan usaha lebih. Tak jarang diselingi bumbu adu argumen dan sedikit drama "pertikaian". Bagaimana dengan membangun keselarasan dengan keluarganya? 

Agak menarik bahasan di salah satu grup whatsapp saya sore ini. Diawali dari salah seorang member yang bertanya mengenai rasa kurang menerima ketika suami meminta izin keluar rumah untuk menjalankan hobinya, akhirnya melahirkan banyak sekali sub-bahasan yang sangat relate dengan kehidupan pernikahan.

Dari sekian banyak problematika yang diangkat di forum bebas tersebut, saya mendapati satu benang merah. Semua berkaitan dengan KOMUNIKASI.

Dilansir dari laman Wikipedia, komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain.

Informasi ini yang akan menghasilkan timbal balik berupa tanggapan yang akan membuka informasi baru.

Dalam hubungan suami - istri, yang terdapat dua kepala berbeda berikut isinya, maka proses ini memang memegang peran penting. Karena, masing-masing dari kita, baik sebagai istri atau pun suami, bukanlah seorang cenayang atau ahli telepati, yang mampu mengkomunikasikan sesuatu hanya melalui pikiran, tanpa pengungkapan. Media komunikasi kita sebagai pasangan normal adalah kata, baik lisan ataupun tulisan.

Jika komunikasi dengan pasangan telah baik, maka, membuka jalan komunikasi dengan keluarganya pun akan lebih mudah. Karena, kita bisa menggunakan pasangan kita sebagai pembawa informasi awal mengenai keluarganya untuk kita, sebelum akhirnya kita akan terjun sendiri secara langsung untuk melakukan komunikasi interpersonal dengan mereka.

Lalu, bagaimana cara membangun komunikasi yang efektif dengan pasangan?
Bagi sebagian orang mungkin akan berbeda. Setidaknya bagi saya, komunikasi efektif dengan pasangan dapat tercipta, bila :

1. Berusaha bersikap terbuka
Membiasakan untuk membahasakan setiap emosi yang dirasakan oleh kita, baik itu mengenai pasangan ataupun hal lainnya. Bukan hanya emosi negatif saja, emosi positif pun, seperti bahagia, terharu, bangga, perlu diungkapkan pada pasangan agar pondasi komunikasi dapat terbentuk kokoh.

2. Selalu berlandaskan kejujuran
Saya pribadi merupakan penganut "lebih baik pahit tetapi kebenaran". Bagi saya, white lies  itu jauh lebih berbahaya dari pada pertikaian buah dari mengungkapkan kebenaran. Kebohongan atau sesuatu yang ditutupi akan ada masanya. Setelah masa itu habis, maka akan terungkap juga. Namun, suasana akan jauh berbeda jika hal tersebut sengaja diungkapkan di awal ketimbang harus diketahui secara "paksa dan tidak sengaja" oleh kita. Setidaknya, dengan berkata jujur. maka, suatu permasalahan mampu diselesaikan lebih dini sebelum akhirnya semakin runyam dan kompleks. Ingat, satu kebohongan akan membuka kebohongan-kebohongan lainnya. 

3. Menjaga bonding dan keintiman
Salah satu hal penting dalam komunikasi pasangan adalah keintiman. Bonding  yang terbentuk akan mempengaruhi kwalitas komunikasi di atara keduanya. Banyak cara untuk terus menjaga keintiman dan mempererat bonding tersebut, salah satunya adalah pillow talk. Terutama bagi pasangan yang memiliki waktu kebersamaan sangat singkat, pillow talk sangat efektif dan mudah untuk dilakukan. 

4. Mampu menjadi pendengar yang baik
Jika suami - istri mampu saling mendengarkan, maka, kesalahpahaman akan lebih mudah diredam, selain didukung oleh sikap terbuka pastinya.

5. Perdebatan dihalalkan, tetapi dengan syarat tertentu
Untuk saya dan suami sepakat, segala bentuk perdebatan tidak boleh dibawa hingga pergantian hari. Sehingga, kami akan mengusahakan untuk meng-clear-kan masalah yang memicu perdebatan sampai batas waktu tidur. Jangan sampai, perdebatan masih berlanjut keesokan harinya, sehingga akan mengganggu mood seharian. Apalagi bagi yang sudah memiliki anak. Kondisi perdebatan yang berkepanjangan sangat tidak disarankan. Khawatir anak akan melihat dan juga merasakannya.

 Masih banyak cara untuk membangun komunikasi efektif di dalam berpasangan. Walaupun secara teori terdengar mudah, tetapi, pengaplikasiannya akan membutuhkan effort besar. Untuk itu, kita harus terus melatihnya, membiasakannya, tanpa patokan waktu. Bukankah menikah artinya bersedia untuk belajar sepanjang hayat? Karena menikah merupakan bentuk ibadah yang durasi ritualnya sangat panjang, yaitu semenjak ijab qabul dilaksanakan hingga maut memisahkan,

Allahu'alam bi shawab.

Thursday, July 9, 2020

Karena Sayang Perlu Diungkapkan

Rasa sayang itu sepaket, untuk diungkapkan dengan perbuatan pun perkataan, begitu menurut saya.

Suami atau istri bukanlah cenayang yang mampu membaca setiap pikiran dan perasaan pasangan. Butuh diutarakan. Bukan hanya perihal emosi negatif, seperti kemarahan, kekesalan. Emosi positif pun, seperti rasa sayang, kekaguman, rasa berterimakasih, perlu dilisankan/divisualisasikan padanya. 

Untuk surat, sejujurnya ini bukan kali pertama saya tulis untuk suami. Pernah saya sisipkan di salah satu kado ulang tahunnya beberapa tahun silam, pernah juga mengirim surel saat kami sempat menjadi pejuang Long Distance Marriage. Media tulisan ini menjadi metode awal saya dalam mengungkapkan rasa padanya, sebelum akhirnya berusaha untuk melatih diri ini mengungkapkan secara lisan dan langsung, dengan intensitas lebih sering pula. 

Dulu, sempat saya berpikir, ungkapan sayang akan menjadi "hal biasa" dan "kekurangan makna" jika terus menerus diucapkan atau disampaikan pada pasangan. Tetapi, setiap saya mendapatkan ucapan dan ungkapan itu dari suami, walau hanya sebatas "aku kangen kamu" saat dia bekerja, saya selalu merasa bahagia. SELALU. Ada hal yang saya dapati dari hal itu, bahwa intensitas dalam mengungkapkan rasa sama sekali tidak merubah makna dari rasa tersebut. Semakin sering, justru seperti menjadi checkpoint dalam hubungan. Seolah ungkapan sayang, cinta, terima kasih, maaf ini menjadi penambal dari setiap permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam rumah tangga, setidaknya bagi saya begitu.

Suami istri adalah tim, bukan "satu lebih dari yang lain" atau "hanya sepihak saja". Begitu juga dalam menyayangi, tidak ada istilah suami lebih menyayangi istri, atau suami harus lebih ekspresif dari istri, juga sebaliknya. Saat akad dilaksanakan, maka itu adalah bentuk ikrar bahwa seorang suami dan seorang istri akan saling menyayangi dan bertanggungjawab atas satu sama lain dengan hubungannya. Keduanya memiliki andil dan peran dalam menjaga kehangatan hubungan rumah tangga, tak harus siapa duluan yang memulai, alangkah lebih baiknya bila "saya yang akan memulai".

Seperti kali ini, saya kirimkan barisan kata cukup panjang melalui whatsapp. Berisi ungkapan terima kasih atas segala yang telah diperjuangkan demi kami, maaf untuk ketidaksempurnaan saya dalam mendampingi, juga ungkapan betapa sayang dan pentingnya sosok suami bagi saya. Walau kalimat "aku sayang kamu", "maafin aku, ya", "makasih, ayah/ibu" sudah menjadi hal biasa bagi saya dan suami, tetapi, tetap saja aliran emosi bermain peran sangat kuat saat jemari ini mengetik kata per kata mengungkap rasa. Haru, sedih, bahagia, bersyukur, bergemuruh menjadi satu, menghadirkan buah-buah air mata 💙 Perasaan lega dan plong luar biasa saat tombol "send" saya tekan. 

Dia, suami saya, tipikal yang sangat sibuk bekerja. Akan memakan waktu cukup lama untuk mendapatkan respon dari pesan yang saya kirim. Oleh karenanya, telepon menjadi pilihan utama untuk hal urgent dalam berkomunikasi. Tetapi, tidak dalam merespon pesan whatsapp "aliran rasa" yang saya kirim. Tidak menunggu lama, datanglah balasan yang biasanya harus menanti dalam hitungan jam.

"Makasih, cuma itu yang bisa aku bilang, dan aku nangis bacanya. Maaf buat semua kekuranganku."

Saya sangat kenal betul, betapa jauh dari romantisnya dia. Tetapi, jika berkenaan dengan air mata, maka itu sudah menjadi tingkat emosi tertinggi yang dia punya. Saya terharu, lagi-lagi sangat bahagia 💙

***
Menulis surat untuk pasangan kali ini adalah misi terakhir dari kelas Matrikulasi #batch8 Institut Ibu Profesioal. Namun, bagi saya, lebih dari sekedar itu. Ini tentang aliran rasa. Dibuat dengan ketulusan dan perasaan murni, mendalam. Setiap kata yang terbentuk adalah buah ungakapan hati, jujur dan apa adanya. Semakin yakin bahwa rasa itu perlu diungkapkan dalam lisan dan visual. Biarkan mereka yang kita sayang tahu, bahwa kita memang menyayanginya. Katakan. Tegaskan. Kelak akan menjadi pondasi awal membangun tim keluarga yang kokoh dan solid, insyaAllah 💙