Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Thursday, April 29, 2021

CERPEN : Sosok Wanita yang Sama

 

Picture by Tribun Bali

Meyra. Seperti itu orang-orang memanggilku. Untuk mereka yang lebih akrab, sapaan “Rara” justru lebih familiar dibandingkan dengan “Mey” sebagai suku kata pertama dari namaku itu. Semua bermula dari mama yang sejak aku bayi selalu memanggil “Rara” sebagai panggilan manja. Dan, inilah aku.

Dilahirkan sebagai anak tunggal, membuatku agak diistimewakan oleh mama. Mungkin sebagian akan bertanya tentang papaku. Sayangnya, aku pun tak pernah tahu siapa dan di mana keberadaannya saat ini. Pengakuan mama pun, lelaki itu telah meninggalkan kami sejak aku berada di dalam kandungan, saat itu baru menapaki lima minggu. Dan, boleh kukatakan bahwa aku adalah seorang yatim, dengan versi sedikit berbeda. Mengapa? Karena yatimku lebih ke kondisi di mana aku memang kehilangan informasi sama sekali mengenainya, bukan karena ia pernah ada dan kemudian pergi dari kehidupan. Setidaknya begitu bagiku.

Memanglah kami hanya hidup berdua saat ini, mama dan aku. Nenek telah meninggal saat mama berusia sepuluh tahun, dan kakekku tinggal di negeri seberang, bersama istri dan keluarga barunya sejak kematian nenek. Benar, mama adalah korban ‘anak dibuang’. Yang ternyata senasib denganku. Mungkin itu juga yang membuat kami berdua dapat lebih tegar menghadapi balada kehidupan. Di satu sisi, kami pun saling menguatkan.

Namun, ruang kosong akan tetap menjadi ruang kosong. Sekuat apapun aku, dan mungkin mama, berusaha mengisinya, tetaplah ia akan meninggalkan dimensi berbeda yang tak bisa disempurnakan oleh apapun. Timpang, terkadang aku merasa seperti itu. Bukan karena iri, atau bisa jadi memang pun demikian, ketika melihat teman-teman di sekolah dulu dijemput oleh ayah mereka, atau sekedar cerita awal minggu tentang kegiatan outing bersama sosok yang mereka nisbatkan sebagai kepala keluarga. Ya, pada akhirnya aku merasa bahwa saat sesuatu tak lagi memiliki kepala, dia akan lebih sulit menentukan arah. Begitu adanya keluargaku, dan bentuk kekosongan yang aku maksud.

Kondisi memaksa kami, aku dan mama, untuk tetap maju menghadapi realita. Untunglah, meski ia hanya sosok single parent, tanpa ada backing-an finansial dan emosional dalam membesarkan seorang anak perempuan, yaitu aku. Mama tetap memberikan apa yang kubutuhkan. Apartemen untuk kami berteduh, sekolah swasta ternama di ibu kota, gaya hidup yang bisa dibilang menengah ke atas dan serba nyaman, semua dapat kunikmati. Hanya saja, tetap harus ada harga yang dibayar sebagai pengorbanan, yaitu waktu.

Tak banyak waktu yang dapat kulewati bersama mama. Kami seatap, tetapi seolah memiliki jam hidup berbeda. Aku yang sudah barang tentu aktif dikala matahari mencuatkan cerahnya, justru di saat itulah waktu mama tidur dan beristirahat setelah melewati malam penuh peluh bekerja. Mama bilang, client-nya memang hanya leluasa ditemui saat petang menjelang, selepas mereka bersibuk diri dengan pekerjaan utamanya. Entahlah, aku hanya seorang gadis SMA yang belum dan tidak ingin tahu terlalu banyak tentang itu. Toh, segala kebutuhanku telah tercukupi, bahkan bisa dikatakan berlebih. Jika mama harus beristirahat saat kupulang sekolah, dengan fasilitas kartu debit yang tak pernah dibiarkan kosong, aku biasa menghabiskan waktu bersama sahabat satu geng untuk nongkrong di satu mall ke mall yang lain. Tak menjadi masalah. Asalkan mama tetap sehat, tidak kekurangan waktu istirahat.

Sore itu, angin lembab ala ibu kota yang tak sedikit pun memberi kesejukan untuk menghalau sisa terik tengah hari, berdesir membawa sedikit rintik hujan sesaat. Murid-murid berhambur menuju gerbang yang menjulang tinggi, yang lebih terlihat seperti gerbang sel tahanan daripada sebuah sekolah. Waktu pulang sekolah telah tiba.

Kebetulan, kedua sahabat kumpulku harus absen menemani thawaf mall hari ini. Ada yang sudah memiliki jadwal dengan kekasihnya, ketika yang lain harus menemani ibunya belanja bulanan. Dan aku berjalan sendiri menuju gerbang sambil terus berpikir, ‘Kemana ya enaknya hari ini?’

Ketika tiba-tiba, “Heh, bangke! Dasar anak haram! Bisa-bisanya ya nyokap Lo morotin papi gue, hah?! Oh, jadi gini caranya si anak yatim Meyra Priyanka sampe bisa sekolah di tempat elit macem gini? Bisa hidup bak sultan, tinggal di apart, nongkrong tiap hari di mall? Ternyata semua itu hasil ngelacur nyokap Lo, hah?!”

Tangan itu terlalu kuat menghantam tubuhku. Tak bisa kuhindari, aku kehilangan keseimbangan. Terjungkal di tengah lapang basket dengan lantai bercat biru. Berutunglah tanganku masih cukup sigap menahan bobot tubuh bagian atasku. Jika tidak, kening ini pastilah sudah bercucur darah tergesek kasarnya lantai yang saat itu pun panas luar biasa. Atau mungkin mulutku yang harus kehilangan keperawanannya, karena mencium paduan semen dan pasir menyebalkan ini.

“Berdiri Lo! Biar orang-orang tahu, siapa Meyra Priyanka itu! See, Guys! Beware of this bitch! Atau hidup kalian bakal berantakan karena ulahnya dan nyokapnya!”

Gadis bertubuh ramping semampai dengan rambut tebal lurus sepunggung dengan berapi-api memaksaku bangkit dan terus menunjuk-tunjuk mataku. Ya, bukan hanya muka, tetapi mataku! Sebagai pancaran amarahnya yang begitu membuncah. Terlebih pipi dan sebagian besar mukanya yang semakin memerah. Dia amat sangat marah.

Aku tersulut emosi. Dia terus mencaci-maki mama. Dadaku panas, otakku tak lagi jernih.

“Heh, jangan nuduh macem-macem Lo, ya! Nyokap gue emang single parent, tapi dia punya bisnis, punya kerjaan, duit ga ngalir gitu aja, dan gue tahu itu! Buktinya, waktu bareng gue yang terbatas bareng dia. Karena apa? Karena dia lagi nyari duit! Paham, Lo?!”

Kudorong balik tubuhnya yang tak lebih besar dari tubuhku. Namun, anehnya, dia dapat menguasai keseimbangannya. Mungkin massa tubuhnya meningkat dengan supply amarah yang dia punya? Entahlah.

“Hahahaha. Lucu! Sumpah, Lo tuh lucu banget! Sini, Lo! Sini! Liat ini siapa?!”

Tangan berjari lentik dengan kuku berhiaskan nail art bernuansa nude itu menyodorkan ponsel keluaran terbarunya tepat di wajahku. Aku pun harus sedikit menarik mukaku untuk dapat menangkap apa yang hendak ia tunjukkan dari ponselnya itu.

“Ini bisnisan nyokap Lo? Gelayutan di badan cowok yang entah mereka udah beristri apa belom, hah? Keluar masuk hotel tiap malemnya. Lo pikir bisnis macem apa yang nyokap Lo jalanin? Kerjaan macem apa yang cuman keluyuran malem hari? Satpam ronda? Hey, bahkan satpam aja masih lebih beradab dari nyokap Lo itu.” Gadis itu tak lagi berteriak-teriak. Namun, desisnya kupikir jauh lebih menakutkan, seperti saat ini.

Dan foto itu. Kolase dari beberapa foto yang menangkap sosok wanita sedang melangkah keluar dari hotel-hotel ternama dengan manjanya. Rangkulan mesra yang memberikan indikasi sosok lelaki yang berbeda di setiap bidikannya.  Salah satunya adalah ayah dari gadis cantik di hadapanku. Pria berbadan tambun dengan rambut tersisir kelimis dan ornamen serba branded di tubuhnya.

Dan, wanita yang menjadi sosok sama di setiap fotonya adalah mama. Benar. Dia mamaku.

Kemudian, semua berubah menjadi gelap. Aku tak tahu ke mana hilangnya kesadaranku.

Sunday, August 16, 2020

CERPEN : Hanya dalam Angan

Kami duduk berdua, menikmati seruputan latte panas dengan kudapan kukis cokelat seadanya. Menu yang sangat biasa. Namun, kehangatan yang terjalin buah dari percakapan antar hati, membuatnya menjadi luar biasa. Sesekali kudapati ujung matamu menangkap sisi lain dari wajahku. Kau mencuri pandang dan aku hanya berpura-pura tak tahu. Aku senang caramu memperhatikanku. Sangat alami dan sedikit malu-malu. Terlihat jelas betapa belum berpengalamannya dirimu tentang rasa. Kita hanya dua insan polos yang berusaha untuk lebih mengenal dunia. Ya, dunia kita berdua.

Ponselku berbunyi. Tertulis ‘Abah’ di layarnya dengan notifikasi pesan masuk. Segera kubuka dan kubaca dengan seksama isinya. Benar, pesan itu datang dari ayahku. Sebenarnya beliau adalah sosok yang menyenangkan. Bahkan, hobi melontarkan leluconnya sudah sangat dikenal oleh orang terdekat. Hanya saja, mengenai pergaulan anak-anaknya, beliau sangat ketat. Aku sebagai satu-satunya anak perempuan, menjadi sorotan utama beliau dalam menjaga dan memperlakukanku. Terkadang aku senang dengan hal itu, tetapi tak jarang aku merasa tidak nyaman karenanya. Bagi Abah, jangankan pacaran, untuk pergi dengan teman lelaki saja sudah termasuk hal yang dilarang. Jika Abah tahu bahwa saat ini aku sedang bersama Lukas bersantai di pelataran kedai kopi sambil berkelakar, tamatlah riwayatku.

‘Kau di mana? Sudah menjelang magrib ini. Segera pulang!’

Panik aku dibuatnya. Tanda seru di akhir seperti menegaskan perintah yang tak terbantahkan. Namun, aku masih merasa sangat nyaman dengan Lukas. Kebersamaan ini yang telah lama kunantikan. Sebelumnya, aku hanya bisa memuja dia dalam diam. Bahkan, hingga saat ini aku masih tidak menyangka bahwa Lukas, sosok yang sangat aku kagumi sejak di bangku Sekolah Menengah Atas, akhirnya menjadi milikku. Pekan Orientasi Mahasiswa Baru yang berandil akan terjalinnya hubungan ini. Saat acara penutupanlah dia menyatakan maksud dan isi hatinya padaku. Yang kuingat, suasana agak dingin berembun karena hujan dan aku sangat tidak bisa berpikir jernih untuk sekedar mempertimbangkan hal lainnya, kecuali menerima cintanya.

“Hmm, ini Abah udah nyuruh pulang. Mungkin, lain kali kita bisa bikin moment lagi?” tanyaku penuh harap dan ragu. Harap untuk mendapatkan persetujuan Lukas tentang pertemuan selanjutnya dan ragu untuk menyudahi hari ini. Mimik muka Lukas sangat santai hingga sulit ditebak isi hatinya. “Now? Seriously?! Syifa, ini baru pukul lima sore, lho!” jawabnya dengan senyum yang tetap merekah. Aku semakin dibuat dilema. Senyum itu, ah, terlalu renyah untuk kulewati begitu saja. Bilakah aku bisa menambah satu jam saja kebersamaan ini, artinya senyum itu akan tetap bisa kunikmati. ”You know him, lah! Perintahnya adalah titah,” sahutku diikuti tawa yang kurang menyenangkan untuk didengar, tawa penuh kesinisan. “Baby, kamu bisa bilang kalau ada tugas makalah kelompok, kan?” Pertanyaan yang lebih menggambarkan pernyataan. Tanpa diskusi selanjutnya, kebohongan pun akhirnya terkirim ke ponsel Abah melalui beberapa kata dalam pesan singkat.

‘Syifa masih harus mengerjakan makalah kelompok untuk besok, Bah. Secepatnya Syifa pulang setelah selesai.’

SENT

Kusimpan ponsel di dalam tas. Aku hanya ingin bermain dengan senyum renyah itu tanpa distraksi saat ini.

Tanpa terasa, dua jam lewat dari terakhir kali Abah mengirim pesan. Aku buka kembali ponselku. Tidak ada jawaban dari pesan terakhir ataupun panggilan yang tak terjawab. Sejenak kumerasa lega. Mungkin akhirnya Abah menyadari bahwa anaknya kini sudah dewasa. Tidak selamanya bisa mengikuti jadwal pulang yang ditetapkan. Pergeseran jam malam sudah seharunya diberikan padaku, mengingat kewajiban pun kian bertambah mengenai perkuliahan. Walaupun untuk saat ini, ada kedok kebohongan juga di dalamnnya. Tugas fiktif untuk waktu memadu kasih yang jelas sangat dilarang olehnya.

Lukas mengantarku hingga halte bus dekat rumah. Rasa takut ketahuan sudah tentu alasannya. Di halte itu aku turun dari Ninja berwarna biru miliknya. Saat akan kubuka helmku, tanganmu dengan sergap membantu melepaskannya. Wajahku memerah. Mungkin ini jarak terdekat yang pernah aku alami dengan Lukas. Tangannya mengenai tanganku yang berusaha membuka tali pengikat helm. Dilanjutkan wajahnya mendekati kunci tali pengikat helm yang berjarak tak lebih dari sejengkal dengan wajahku. Kurasakan napasnya. Klik. Kunci tali pun terbuka, dia menarik lepas helm yang kugunakan dengan perlahan, meninggalkan rona wajahku yang seperti habis terbakar.

“Sampai jumpa besok, Princess! Thanks for the precious time,” kulihat mata kirinya yang bening mengerjap dengan penuh godaan. Juga ciuman jarak jauh yang dia hembuskan bersama lambaian tangannya. Hari ini terlalu sempurna.

“Syifa! Syifa! Anak gadis kok melamun saja, sih? Cepat itu bantu Ibumu! Sebentar lagi keluarga Haidar datang, kan? Kau bahkan belum bersiap,” teriakkan Abah membuyarkan episode lain tentang hidupku yang selama ini hanya sanggup diputar dalam layar imajinasi.

Haidar adalah calon tunanganku yang masih terpaut ikatan persepupuan jauh. Tentu saja pertunangan ini akan berujung pada pernikahan dalam waktu dekat, tanpa banyak persetujuan dariku secara pribadi. Mereka menyebutnya perjodohan, aku menamainya penyunatan takdir. Bagaimana tidak, aku tidak diberikan ruang untuk menentukan takdirku sendiri untuk jalinan yang justru akan dijalani olehku. Bahkan hanya untuk sekedar memperjuangkan cintaku, tak ada kesempatan itu.

Lukas, selalu kusematkan ia dalam doa. Bersama dengan datangnya keajaiban dari Tuhan, kuharap kami dapat dipersatukan. Cintaku padanya sangat tulus dan dalam, dan dia tidak pernah tahu itu. Aku hanya mampu memandangnya dari jauh di sekolah hingga kampus dan juga memainkan perannya di dalam episode khayalku. Dia nyata, tetapi terlalu mustahil bagiku yang berlatar keluarga dengan penarik garis keturunan baku seperti ini.

Hari ini, kuakhiri hubungan dalam angan-angan antara aku dan Lukas. Dengan dibacakannya Fatihah, artinya berpindahlah kepemilikan akan diriku kini, dari Abahku untuk Haidar. Bulan depan pernikahanku akan digelar. Seluruh teman di kampus akan diundang, termasuk Lukas. Bayang-bayang akan senyum renyah itu kuharap akan segera pudar. Tergantikan oleh senyum lelaki di hadapanku saat ini, yang sedang berusaha untuk kucintai.

Dear Lukas, mantan impian yang hanya mampu terkuburkan, untuk pertama dan terakhir ingin kuungkapkan I Love You.


Bandung, 16 Agustus 2020

Monday, July 27, 2020

CERPEN : Di Ujung Cerita Hanya Ada Hampa

Seperti ombak yang merindu tepian, di sana kelak asa kan melabuh. 
Jika saja, masa itu tetap kan ada, akan ku serahkan segalanya.
***
Panas ini seolah mampu melelehkan isi kepalaku yang penuh sesak oleh target penjualan bulan ini. Merosot tajam. Si makhluk kasat mata telah berhasil memorak-porandakan perekonomian dunia, jelas sudah berimbas pada segala bidang, termasuk gerai sepatu kulit milikku. Dalan kondisi seperti ini, rasanya, membeli sepatu dengan harga yang lumayan merogoh kocek bukanlah suatu pilihan tepat. Huft.

Kuhempaskan untaian sumsum tulang belakangku pada sofa berwarna salem dengan motif bunga matahari. Kucoba pejamkan mata sejenak, bukan untuk tidur, hanya menerawang kegelapan yang pasti hadir bersamanya. Seperti harapku saat ini, menghilang dalam gelap dan tak perlu banyak menguras otakku yang kurasa kian menyusut volumenya, akibat beban kerja terlalu berat. Namun, terawangan tak berbuah ketenangan. 

Kusibukkan jemari dengan gawai.

Apa kabarmu hari ini? Aku sedikit kacau. Tapi, tetap kuharapkan hari yang indah untukmu. Jangan lupa makan dan selalu mencintaiku, okey?!

Kuletakkan gawai keluaran terbaru itu di atas dada dan kembali kuterawang kegelapan yang ternyata membawaku pada alam lain. Aku tertidur.
***

Namaku Salman. Sejak resign dari suatu perusahaan tersohor di Indonesia dalam bidang Teknologi Informasi, aku memutuskan untuk berbisnis. Semua kumulai dari nol, tanpa ada kesiapan sama sekali. Namun, saat itu aku merasa harus mengambil langkah ini. Tanpa berpikir lama dan panjang kuajukan surat pengundurandiriku. Tentu saja, pihak kepegawaian terkejut. Aku yang terkenal memiliki etos kerja yang baik dan pencapaian yang gemilang, secara tiba-tiba mengambil langkah tak terduga. Pak Respati, kepala kepegawaian, bahkan mengajakku untuk bernegosiasi, bilamana ini perihal gaji, mereka siap menaikkannya. Tapi, sungguh bukan itu. Bulat sudah keputusanku. Ada sesuatu yang sama sekali tak bisa tertebus oleh uang, oleh materi apapun.
***

Selamat pagi, terkasih! Setelah sekian lama, akhirnya hujan turun juga. Kamu selalu suka dengan wangi tanah saat hujan turun, kan? Dan kamu tahu pasti bahwa yang kusuka hanya kamu. Anyway, aku rindu….”

Pesan terkirim dan aku lebih siap untuk memulai hari. Sepotong roti gandum sisa kemarin, aku panaskan di dalam pemanggang. Kubalut dengan sehelai tisu dan tak lupa kuseruput tetesan-tetesan terakhir kopi tanpa gula yang mulai mendingin, sebelum akhirnya kubergegas menuju gerai sepatu, sebelum kemacetan ibu kota kian menjebak. Sesaat di ambang pintu, kutengok kembali ruangan di belakangku. Sangat berantakan. 

Kutarik napas panjang dan akhirnya kutinggalkan ia dengan iringan bunyi klik tanda kunci telah terpaut. Kulajukan mobil di tengah hujan tanpa suara apapun lagi menemani, hanya suara rintikannya saja, rintikan hujan.
***

Hari ini kuputuskan untuk menutup gerai lebih awal. Tertanggal 24 Maret 2020, hari jadi kami ke-tiga. Sedikit kejutan perayaan aku rasa akan menjadi ide yang baik. Aku akan pulang ke rumah, membersihkan badan, memilih kemeja biru laut bergaris putih yang merupakan favoritnya, menyisir rapi rambutku yang cepak dan juga beberapa semprotan Hugo Boss yang sangat dia sukai. Kutatap bayanganku di cermin berbingkai kayu jati, sempurna. Kunci mobil yang telah siap di tangan kanan dan juga sekuntum mawar putih merekah berpita emas di tangan lainnya, kini waktu yang tepat untuk pergi.

Gedung itu sangat megah dengan gaya kolonialnya yang masih kental. Kuparkir sedan hitam di bawah rindangnya pohon meranti besar. Aku rasa, usia pohon ini bahkan lebih tua dariku, terlihat jelas dari batangnya yang lebar dan juga akarnya yang sudah merambat ke permukaan tanah. Namun, sisi ini sangat kusukai untuk memarkir mobil. Terik matahari seperti tak dapat menembus kerindangannya, sehingga si roda empat pun terhindar dari panasnya.

Sekali lagi kuyakinkan bahwa penampilanku telah sempurna. Seperti pemuda yang hendak mengencani wanitanya untuk pertama kali, aku hanya ingin terlihat paling istimewa di hadapannya. Kusisir rambut yang masih sangat rapi itu dengan jemari. Kerah baju yang sangat jelas garis lipatnya, kugerak-gerakkan, untuk memastikan semua baik dan sesuai. “Aku siap menemuimu, sayang!” bisikku yang diikuti rekahan senyum di antara kedua sudut bibir.
***

Langit-langit kamarku hanya berwarna putih, tetapi, kebahagiaan yang membuncah membuatnya seolah berwarna-warni. Pertemuan dengan yang terkasih selalu membawa nuansa baik, setidaknya bagiku. Meski sesaat, hari ini penuh makna.

Terima kasih untuk hari ini. Sangat luar biasa. Apakah kau juga bahagia? Happy anniversary sekali lagi, sayang! Aku hanya punya kamu dan rindu. Love you.

Malam kian larut seiring bergantinya hari. Bulu mata beradu, merekat, diikuti dengkuran halus juga gumaman dalam tidur yang selalu seperti itu, beberapa bulan terakhir.
***

“Salman, kapan kau pulang, nak? Rasanya sudah lama sekali Ibu tidak bertemu.” Aku hanya bisa terdiam, bukan berpikir, tetapi, keengganan untuk menjawab mungkin alasannya. Di seberang sambungan telepon pun akhirnya diam. Saling tak bertutur, terbaca kecanggungan di sana.

Dia ibuku, ya, aku tahu. Sosok yang padanya aku berhutang nyawa. Tentang dilahirkan ke dunia, tentang dibesarkan. Aku menghormatinya, tak ada keraguan. Hanya saja….

“Bu, maaf, ada beberapa pembeli datang. Aku harus melayaninya dulu. Nanti Salman telepon lagi. Assalamu’alaykum.” Membuat alasan yang tidak sepenuhnya hanya alasan, memang terlihat dua orang wanita masuk ke gerai dan mulai melihat-lihat etalase sepatu pria. Terima kasih pada mereka, kecanggunganku dengan ibu dapat terhenti sementara waktu.

Kuhampiri kedua wanita tersebut dan mulai melayani mereka sepenuh hati hingga akhirnya sepasang sepatu terbungkus rapi, siap diadopsi sang pembeli. Terakhir wanita berbaju hitam yang tampak lebih tua di antara mereka, memberitahu bahwa sepatu pantofel hitam bertali tersebut akan digunakan oleh calon menantunya, calon suami dari anaknya, pada acara pernikahan mereka yang akan digelar di awal bulan April 2020. 

Aku turut bahagia mendengar beritanya. Betapa beruntungnya sang calon mempelai pria, memiliki seorang mertua yang begitu sangat menyayanginya, terlihat jelas dari pancaran mata wanita tua berbaju hitam saat berkisah tentang calon menantunya tersebut. Semoga kebahagiaan dan keberuntungan meliputi kedua mempelai. Ya, benar, keberuntungan.
***

Rumah ini terlalu besar untukku. Mungkin tepatnya, terlalu kosong. Halaman yang luas, untuknya yang gemar bertanam. Dapur yang bergaya modern lengkap dengan segala perangkatnya, sangat sesuai dengan seleranya, diharapkan akan membuatnya semakin betah mempersiapkan hidangan kegemaranku. Ruang makan bernuansa putih, warna yang sangat disukainya. Di sinilah kiranya kami akan menikmati sarapan atau makan malam bersama sambil sesekali bertukar cerita dan canda.

Kutatap kembali setiap ruangan. Berakhir pada kamar tidur yang sangat lapang, dengan dipan berkelambu. Meja rias dilengkapi cermin oval terletak di satu sudut ruangan, beserta lemari pakaian besar dengan empat pintu di sudut lainnya. Terpasang satu lukisan berukuran sepanjang tempat tidur, pemandangan taman bunga dengan mawar putih mendominasi, juga seorang gadis yang juga berbaju putih dan bertopi lebar di tengahnya, seolah tenggelam di antara hamparan mawar di sekelilingnya. Gadis itu adalah dirinya.

Aku terlalu rindu, sayang. Besok aku akan kembali menemuimu. Tunggu aku.
***

Gedung bergaya kolonial, pohon beringin tua. Kita bertemu lagi. Bukankah selalu bertemu beberapa bulan ini? Itu karena rindu yang tak kunjung terbayarkan.

Kususuri koridor dari gedung tua tersebut dengan sekuntum mawar putih berpita emas di tangan, membawaku pada sisi barat dari bangunan megah tempo dulu tampatku berpijak kini. Terus kususuri, hingga terdiamlah ku di depan pintu besi kokoh berwarna putih. Betul, warna kesukaanmu, walau hampir semua pintu di gedung ini berwarna serupa.

Terdapat jendela kecil tepat di tengah pintu tersebut. Jendela yang tak bisa dibuka, terbuat dari kaca tembus pandang. Melaluinya, kudapat melihat apa yang sedang terjadi di dalamnya. Sesosok gadis berparas cantik duduk di bangku sederhana menatap dinding. Tatapannya kosong. Sesekali matanya berkedip, gerakan yang sangat lamban. Tangan kanannya meremas ujung baju, tak ingin dilepas. Tangan lainnya menggenggam sesuatu dengan erat, cincin bermata satu dengan ukiran “Latifa & Salman” di sisi bagian dalamnya.
***

Namanya Latifa. Dia tunanganku. Tiga tahun sejak aku menyatakan cintaku padanya. Seharusnya awal April 2020 nanti menjadi hari besar bagi kami. Tanggal di mana kami akan mengikrarkan janji suci di hadapan Tuhan. Bila saja ibuku tidak secara diam-diam menekannya terus menerus untuk meninggalkanku, hanya karena dia hanya gadis biasa, tanpa garis keturunan khusus seperti dalam keluargaku. Bila saja di tengah tekanan itu, ayahnya tak meninggal dunia dan membuatnya menjadi gadis yatim piatu. Bila saja saat keterpurukan itu terjadi padanya, aku yang terlalu sibuk dengan kantor dan perusahaan, juga prestis diri untuk dicap sebagai karyawan teladan, dapat meluangkan lebih banyak waktu untuknya, memberi dukungan moral padanya. Bila saja waktu itu ada, aku hanya ingin melakukan segala yang kubisa baginya. Hingga tak perlu ia berada di ruangan ini, menatap kosong dinding berwarna putih, tanpa kata, tanpa suara. Meninggalkan kerinduan dan kehampaan pada sisi ruang batinku yang entah sampai kapan akan berlalu. Hanya mampu terus mengirim pesan tanpa balasan dari waktu ke waktu. Maafkan aku, sayangku. Aku cinta kamu.

Friday, July 17, 2020

CERPEN : Apakah Cinta (Bagian 1)

Mata sipit namun tajam, seperti berkarakter. Wajah putih yang siap merona setiap paparan sinar mentari mengelus kedua pipinya dengan manja. Dagu lancip sangat sempurna menopang bibir mungil berwarna merah jambu yang selalu terlihat basah. Semuanya terbingkai indah dengan helaian rambut sebahu sangat lurus berwarna hitam. Tetapi, bukan itu yang membuatku sangat menginginkannya. Melainkan, kursi roda yang selalu menemaninya kemanapun dia berpindah.
***

Well, hay, gue Birru. Bukan karena gue suka warna itu, tetapi, ulah nyokap bokap yang terinspirasi oleh salah satu anak selebgram di zamannya. Whatever, gue tetap suka hitam. Sangat mencerminkan pribadi gue yang, yaaa, bisa dibilang "kelam".

Sehari-hari gue dinas di lapangan, alias di luar kantor, mencari para crazy rich untuk gue santap. Eits, please, bro, jangan salah sangka. Gue memang mengincar mereka untuk bersedia menjadi nasabah prioritas di tempat gue bekerja. Yup, gue adalah seorang funding officer di suatu bank kelas atas Indonesia. Meski dulu gue menghabiskan empat tahun perkuliahan berkutat dengan biologi dan tetek bengeknya, tetapi, ke-encer-an otak gue lumayan terpakai juga di dunia perbankan, thanks for logic skill i got from college, anyway.

Ada kebiasaan di kantor gue, dan sepertinya hampir setiap perusahaan perbankan juga begitu, setiap tahunnya diadakan acara outing sebagai salah satu bentuk resfreshing para pekerja yang telah menjadi bagian anggaran tetap dari laba perusahaan. Maklum, kerja kami lumayan hectic. Gaji kami mungkin lebih tinggi dibanding beberapa bidang usaha lain, tetapi, sangat berbanding lurus dengan jam kerja. Kalau kata mas Arga, rekan satu bagian gue, "Kita gaji boleh lah gede, tapi, secara ga langsung waktu kita dibeli sama perusahaan. Kapan pun perusahaan butuh, kita harus siap sedia, walau pun itu tanggal merah atau bahkan lagi lemes demam karena flu berat misalnya." Dan itu bukan pernyataan salah menurut gue. Begitulah keadaannya.

Tahun ini, tempat tujuan outing kami adalah Singapura. Tak berlebihan, toh bahkan, tahun lalu kami semua digratiskan ke Thailand. Sebenarnya, jika dihitung, semua biaya perjalanan kami tak ada apa-apanya dibandingkan dengan laba yang berhasil kami peroleh selama setahun bagi perusahaan. So, enjoy, man!
***

Bandara Changi hari itu sangat ramai. Memang selalu ramai kukira. Kami satu rombongan siap dijemput oleh agensi perjalanan untuk diantar ke penginapan di daerah Bugis. Dua buah bus dengan kondisi sangat prima telah menunggu kami di pelataran Terminal 4. Ada enaknya juga mengikuti agen perjalanan seperti ini, tidak perlu memikirkan moda transportasi, bersusah-susah menuju Terminal 2 hanya untuk mengejar jadwal MRT menuju downtown dan sebagainya. Setelah melewati proses imigrasi yang lumayan ketat, akhirnya kami semua berhasil lolos dan melaju untuk melanjutkan perjalanan.
***

"Birr, malem ini free schedule, kan? Gito ngajak cuci mata ke Geylang. Gabung, yok?!" Ajakan Lexi cukup menggiurkan.

Hal yang biasa dalam pergaulan kami. Bukan memukul rata, tetapi, 
hampir semua seperti ini. Karena kami punya uang, kami punya prestis, terkadang kami terlalu bebas dan lupa diri.

Geylang Road adalah red district yang terkenal di negara ini. Terdiri dari beberapa gang/jalan kecil yang digambarkan dengan angka. Jangan membayangkan gang yang sangat sempit dan kumuh seperti di Jakarta. Menurut gue, kondisinya sangat rapi untuk kelas gang. Tapi, sangat tidak disarankan untuk anak di bawah umur berkeliaran di area ini. Sangat TIDAK disarankan.
***

Berempat kami menjelajahi malam "kebebasan" bersama; gue, Gito, Lexi dan Rio. Yang lain pun memiliki agenda masing-masing, tersebar di bagian pusat negara Singapura yang tidak begitu sulit dikuasai. Gue pun, bukan hanya kami berempat yang memilih "bermain" ke Geylang Road itu, karena beberapa kali kami berpapasan dengan sesama rekan saat menuju area tersebut. Tetapi, kami hanya berpura-pura saling tidak mengerti tujuan satu sama lain.

Gito memutuskan untuk naik MRT dari stasiun Bugis, yang kebetulan hanya walking distance dari hotel kami. Tak sulit menuju tempat tujuan kami, hanya perlu melewati beberapa stasiun, dan kami pilih stasiun Aljunaid sebagai persinggahan. Sebenarnya, bisa saja kami turun di stasiun Kallang atau Paya Besar, tetapi, kami memilih Aljunaid karena merupakan stasiun akhir sebelum intersection MRT yang masih melingkupi Geylang Road. Artinya, kami dapat lebih leluasa menjelajah daerah tersebut, walau kaki pegal-pegal akan jadi barterannya.

Gue berjalan di belakang, bersama Lexi. Gito dan Rio, sebagai dedengkot daerah sini, memimpin di depan. 

"Git, jangan lupa matiin dulu hape deh sebelum Rosa ngontakin," canda Rio kepada Gito. Yup, benar, Gito bukanlah bujangan. Rosa yang cantik dan anggun adalah istrinya, yang telah melahirkan seorang anak cantik dan lucu luar biasa. Jika ditanya, "Yaelah, bro! Lo udah punya bini cantik, anak lucu, masih aja demen "jajan", apa yang lo cari, sih?" Jawaban klise, "Ini cuma buat kesenangan, man! Selingan diantara tumpukan laporan target harian, mingguan, bulanan, tahunan," yang dilanjutkan tawa puas terbahak-bahak.

Namun, Gito bukan satu-satunya. Rio pun berstatus ayah dari dua jagoan yang sudah mulai beranjak dewasa. 

Lagi-lagi gue tekankan, begini lah pergaulan kami, bukan semua, tetapi, hampir semua.

Walau gue dan Lexi masih aman, karena bujang. Gue sadar, kok, bahwa itu bukan jadi alasan cukup untuk membenarkan kelakuan gue. Tapi, jawaban sama seperti Gito dan Rio, "Ini hanya untuk kesenangan!"
***

Foto-foto terpajang, berjejer rapi di jendela atau etalase sederhana bangunan-bangunan dengan temaram lampu berwarna-warni. Gemerlap, namun, remang. 

Berbagai macam wanita dari beragam etnis berpose dengan gaya yang dibuat sensual. Berusaha menarik perhatian melalui gambar dua dimensi, para pejalan kaki yang mungkin saja akan menjadi pelanggannya. 

Beberapa bahkan berdiri manis di depan pintu bangunan tersebut, sembari menghisap rokoknya, sesekali melemparkan tatapan, dan bahkan, sapaan genit pada lelaki yang melintasinya. 

Lelaki hidung belang, gue mungkin salah satunya, banyak berkeliaran. Sebagian dalam kondisi mabuk, terlihat dari cara berjalan dan menatap. Satu atau dua orang wanita cantik bermanja-manja menemaninya. Semua terjadi di tengah jalan, sejauh mata memandang.

Disekitarnya, berjejer hotel dengan tarif murah berdiri. Yang anehnya, terlihat sepi di siang hari, namun, sangat ricuh dan ramai di malamnya. Didapati banyak pasangan keluar masuk dengan bebas dan cuek, sangat kentara untuk tujuan one stand night semata. 

Gue selalu takjub setiap melintasi area ini. Antara kesenangan dan keprihatinan yang gue tangkap, menurut kaca mata gue pribadi. Di balik senyum nakal, rayuan gombal dan gestur-gestur manja, ada tatapan kosong yang bisa gue terka. Seperti bentuk kelemahan yang berusaha ditutupi. Atau luapan persoalan hidup yang dijerat. Semuanya sangat apik terbungkus dempulan kosmetik juga pakaian menarik. Tak lupa, sedikit bumbu senyum kepalsuan.

Dan di pojok gedung itu. Gedung tua berlantai tiga, tidak terlalu luas. Dengan lampu berwarna lembayung seperti berusaha menyamarkan keberadaannya. Terduduk seorang wanita dengan tampilan tak jauh beda dengan yang lainnya, hanya saja, dia berkursi roda.
***

"Free?"
"Ya, $50."
"Hm, ok, deal!"

***
Gue gila, iya, gue paham. Hanya untuk wanita berkursi roda, gue deal dengan cepat, dengan tarif yang terlalu tinggi. Jangan ditanya, mata Lexi seperti siap keluar dari tulangnya, melongo melihat kebodohan yang gue buat. 
"Gila lo, Birr! Kayak ga ada pilihan lain aja!"
Gue pun bingung dengan yang baru saja gue lakukan. Kenapa semudah itu gue tarik ini cewek? Kenapa? Alasan yang berusaha gue telisik, tetapi, gagal untuk menyimpulkan. Dan berjalanlah gue, mendorong kursi roda yang telah lapuk itu, menuju salah satu hotel kelas menengah terdekat. Meninggalkan Lexi, Gito, Rio yang hanya bisa terkaget-kaget yang tidak bisa disembunyikan.