Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Thursday, April 29, 2021

CERPEN : Sosok Wanita yang Sama

 

Picture by Tribun Bali

Meyra. Seperti itu orang-orang memanggilku. Untuk mereka yang lebih akrab, sapaan “Rara” justru lebih familiar dibandingkan dengan “Mey” sebagai suku kata pertama dari namaku itu. Semua bermula dari mama yang sejak aku bayi selalu memanggil “Rara” sebagai panggilan manja. Dan, inilah aku.

Dilahirkan sebagai anak tunggal, membuatku agak diistimewakan oleh mama. Mungkin sebagian akan bertanya tentang papaku. Sayangnya, aku pun tak pernah tahu siapa dan di mana keberadaannya saat ini. Pengakuan mama pun, lelaki itu telah meninggalkan kami sejak aku berada di dalam kandungan, saat itu baru menapaki lima minggu. Dan, boleh kukatakan bahwa aku adalah seorang yatim, dengan versi sedikit berbeda. Mengapa? Karena yatimku lebih ke kondisi di mana aku memang kehilangan informasi sama sekali mengenainya, bukan karena ia pernah ada dan kemudian pergi dari kehidupan. Setidaknya begitu bagiku.

Memanglah kami hanya hidup berdua saat ini, mama dan aku. Nenek telah meninggal saat mama berusia sepuluh tahun, dan kakekku tinggal di negeri seberang, bersama istri dan keluarga barunya sejak kematian nenek. Benar, mama adalah korban ‘anak dibuang’. Yang ternyata senasib denganku. Mungkin itu juga yang membuat kami berdua dapat lebih tegar menghadapi balada kehidupan. Di satu sisi, kami pun saling menguatkan.

Namun, ruang kosong akan tetap menjadi ruang kosong. Sekuat apapun aku, dan mungkin mama, berusaha mengisinya, tetaplah ia akan meninggalkan dimensi berbeda yang tak bisa disempurnakan oleh apapun. Timpang, terkadang aku merasa seperti itu. Bukan karena iri, atau bisa jadi memang pun demikian, ketika melihat teman-teman di sekolah dulu dijemput oleh ayah mereka, atau sekedar cerita awal minggu tentang kegiatan outing bersama sosok yang mereka nisbatkan sebagai kepala keluarga. Ya, pada akhirnya aku merasa bahwa saat sesuatu tak lagi memiliki kepala, dia akan lebih sulit menentukan arah. Begitu adanya keluargaku, dan bentuk kekosongan yang aku maksud.

Kondisi memaksa kami, aku dan mama, untuk tetap maju menghadapi realita. Untunglah, meski ia hanya sosok single parent, tanpa ada backing-an finansial dan emosional dalam membesarkan seorang anak perempuan, yaitu aku. Mama tetap memberikan apa yang kubutuhkan. Apartemen untuk kami berteduh, sekolah swasta ternama di ibu kota, gaya hidup yang bisa dibilang menengah ke atas dan serba nyaman, semua dapat kunikmati. Hanya saja, tetap harus ada harga yang dibayar sebagai pengorbanan, yaitu waktu.

Tak banyak waktu yang dapat kulewati bersama mama. Kami seatap, tetapi seolah memiliki jam hidup berbeda. Aku yang sudah barang tentu aktif dikala matahari mencuatkan cerahnya, justru di saat itulah waktu mama tidur dan beristirahat setelah melewati malam penuh peluh bekerja. Mama bilang, client-nya memang hanya leluasa ditemui saat petang menjelang, selepas mereka bersibuk diri dengan pekerjaan utamanya. Entahlah, aku hanya seorang gadis SMA yang belum dan tidak ingin tahu terlalu banyak tentang itu. Toh, segala kebutuhanku telah tercukupi, bahkan bisa dikatakan berlebih. Jika mama harus beristirahat saat kupulang sekolah, dengan fasilitas kartu debit yang tak pernah dibiarkan kosong, aku biasa menghabiskan waktu bersama sahabat satu geng untuk nongkrong di satu mall ke mall yang lain. Tak menjadi masalah. Asalkan mama tetap sehat, tidak kekurangan waktu istirahat.

Sore itu, angin lembab ala ibu kota yang tak sedikit pun memberi kesejukan untuk menghalau sisa terik tengah hari, berdesir membawa sedikit rintik hujan sesaat. Murid-murid berhambur menuju gerbang yang menjulang tinggi, yang lebih terlihat seperti gerbang sel tahanan daripada sebuah sekolah. Waktu pulang sekolah telah tiba.

Kebetulan, kedua sahabat kumpulku harus absen menemani thawaf mall hari ini. Ada yang sudah memiliki jadwal dengan kekasihnya, ketika yang lain harus menemani ibunya belanja bulanan. Dan aku berjalan sendiri menuju gerbang sambil terus berpikir, ‘Kemana ya enaknya hari ini?’

Ketika tiba-tiba, “Heh, bangke! Dasar anak haram! Bisa-bisanya ya nyokap Lo morotin papi gue, hah?! Oh, jadi gini caranya si anak yatim Meyra Priyanka sampe bisa sekolah di tempat elit macem gini? Bisa hidup bak sultan, tinggal di apart, nongkrong tiap hari di mall? Ternyata semua itu hasil ngelacur nyokap Lo, hah?!”

Tangan itu terlalu kuat menghantam tubuhku. Tak bisa kuhindari, aku kehilangan keseimbangan. Terjungkal di tengah lapang basket dengan lantai bercat biru. Berutunglah tanganku masih cukup sigap menahan bobot tubuh bagian atasku. Jika tidak, kening ini pastilah sudah bercucur darah tergesek kasarnya lantai yang saat itu pun panas luar biasa. Atau mungkin mulutku yang harus kehilangan keperawanannya, karena mencium paduan semen dan pasir menyebalkan ini.

“Berdiri Lo! Biar orang-orang tahu, siapa Meyra Priyanka itu! See, Guys! Beware of this bitch! Atau hidup kalian bakal berantakan karena ulahnya dan nyokapnya!”

Gadis bertubuh ramping semampai dengan rambut tebal lurus sepunggung dengan berapi-api memaksaku bangkit dan terus menunjuk-tunjuk mataku. Ya, bukan hanya muka, tetapi mataku! Sebagai pancaran amarahnya yang begitu membuncah. Terlebih pipi dan sebagian besar mukanya yang semakin memerah. Dia amat sangat marah.

Aku tersulut emosi. Dia terus mencaci-maki mama. Dadaku panas, otakku tak lagi jernih.

“Heh, jangan nuduh macem-macem Lo, ya! Nyokap gue emang single parent, tapi dia punya bisnis, punya kerjaan, duit ga ngalir gitu aja, dan gue tahu itu! Buktinya, waktu bareng gue yang terbatas bareng dia. Karena apa? Karena dia lagi nyari duit! Paham, Lo?!”

Kudorong balik tubuhnya yang tak lebih besar dari tubuhku. Namun, anehnya, dia dapat menguasai keseimbangannya. Mungkin massa tubuhnya meningkat dengan supply amarah yang dia punya? Entahlah.

“Hahahaha. Lucu! Sumpah, Lo tuh lucu banget! Sini, Lo! Sini! Liat ini siapa?!”

Tangan berjari lentik dengan kuku berhiaskan nail art bernuansa nude itu menyodorkan ponsel keluaran terbarunya tepat di wajahku. Aku pun harus sedikit menarik mukaku untuk dapat menangkap apa yang hendak ia tunjukkan dari ponselnya itu.

“Ini bisnisan nyokap Lo? Gelayutan di badan cowok yang entah mereka udah beristri apa belom, hah? Keluar masuk hotel tiap malemnya. Lo pikir bisnis macem apa yang nyokap Lo jalanin? Kerjaan macem apa yang cuman keluyuran malem hari? Satpam ronda? Hey, bahkan satpam aja masih lebih beradab dari nyokap Lo itu.” Gadis itu tak lagi berteriak-teriak. Namun, desisnya kupikir jauh lebih menakutkan, seperti saat ini.

Dan foto itu. Kolase dari beberapa foto yang menangkap sosok wanita sedang melangkah keluar dari hotel-hotel ternama dengan manjanya. Rangkulan mesra yang memberikan indikasi sosok lelaki yang berbeda di setiap bidikannya.  Salah satunya adalah ayah dari gadis cantik di hadapanku. Pria berbadan tambun dengan rambut tersisir kelimis dan ornamen serba branded di tubuhnya.

Dan, wanita yang menjadi sosok sama di setiap fotonya adalah mama. Benar. Dia mamaku.

Kemudian, semua berubah menjadi gelap. Aku tak tahu ke mana hilangnya kesadaranku.

Sunday, November 29, 2020

Family Potrait


Bismillah.

Family Potrait. Kadang, ketika saya melihat orang lain yang sepertinya banyak sekali moment yang diabadikan bersama keluarga dalam bentuk visual alias foto atau pun video, saya merasa ingin mengikutinya. Sayangnya, saya dan suami sama-sama tipikal manusia yang jika sedang menikmati sesuatu maka nikmatilah, jangan mau terganggu oleh hal lainnya, memotret misalnya. Sejak masa honeymoon #prikitiw hingga sekarang, prinsip itu masih kami pegang. Sebenarnnya untuk saya pribadi sih, hal ini bukan disengaja. Namun, secara alamiah mengalir begitu saja, menikmati kebersamaan, membuatnya berkualitas dan enjoyable hingga tanpa terasa waktu pun usai dan tak ada visualisasi moment itu sedikit pun. Hanya sebatas terekam dalam kenangan dan ingatan.

Keadaan makin didukung oleh suami yang tidak begitu senang berfoto, baik difoto maupun memoto. Sekalinya dimintai tolong untuk mengambil gambar saya atau Anis, hasilnya ya memang tak memuaskan hehehe. Jadi, semakin sulitlah kami mengoleksi moment dengan gambar.

Kecuali fitrah emak-emak saya sih tetap stay tune, ya. Hobi memotret anaknya pun menjangkiti saya. Hampir 80% bisa dibilang, isi gallery ponsel saya adalah foto Anis, mungkin seperti ibu-ibu kebanyakan lainnya.

Satu sisi, prinsip seize the moments ini bagus sebenarnya. During time, we literally could enjoy the moments itlself  fully, make it qualitied and worth to remembered. 

Namun, hanya sebatas itu!

Ketika saya ingin memanggil kembali memori tentang kejadian-kejadian di masa lalu, terasa tidak sempurna. Karena kurangnya gambar untuk mendukungnya.

Begitu juga dengan foto keluarga di handphone. Ketika orang lain meminta saya untuk mengirimkan foto keluarga kecil saya, selalu kesulitan. Perlu membuka file lama di gallery, saking jarangnya kami berfoto bersama.

Namun, hari ini kami membuat keseruan! Apakah itu? Jeng jeng jeng...

KAMI BER-PHOTOBOX  hahahaha.

Lebih mencengangkannya lagi, orang yang excited untuk melakukannya justru Pak Suami! Langka sekali, kan?

Sebenarnya, ini bukan kali pertama saya dan suami, juga Anis, ber-photobox. Namun, justru menjadi photobox kami terheboh sejauh ini. Mungkin karena Anis sudah lebih besar dan sedang masa-masa aktifnya, sehingga sulit sekali diajak bergaya bersama. Ditambah lagi, ukuran kami yang semakin mengembang #hahaha, membuat booth foto terasa sempit dan agak sulit bergerak wahahaha. 

Hal tersulitnya, sudah tentu adalah mengkondisikan Anis. Wah, LUAR BIASA! 

Boro-boro dia mau berpose dan tersenyum, yang ada malah kita heboh bertiga karena Anis terus-menerus memencet tombol-tombol yang berada di layar. Akibatnya, ter-capture-lah unready face kami, lebih banyak dibandingkan dengan wajah siapnya.


Alhamdulillaah, kami sangat menikmati event sederhana ini. Main purpose saya dan suami tetap bukan pada hasil jekrekan kameranya, tetapi pengalaman yang berbuah kenangan yang tak terlupakan, dan juga kebersamaan yang terjalin antar kami, menjadi point-nya.

So, kalian tim mana nih? 

Lebih memilih untuk banyak mengabadikan moment dalam bentuk gambar bersama keluarga, atau justru lebih menikmati kualitas dari kebersamaannya dan menyimpannya dalam memori saja?

Apapun itu, keep seizing the moments, yaaaa <3

Saturday, August 29, 2020

Liburan ala Pandemi

Halo hola, Assalamu'alaikum semua!
Been awhile ya, agak-agak jarang cuap-cuap di blog. Kali ini nengok dulu blognya ahh, takut-takut sudah penuh aja sama sarang laba-laba, hehe.

Kebetulan, saya mau cerita sedikit tentang wisata kenikmatan hari ini. Jadi, saya dapat promo flash sale suatu hotel di daerah Asia Afrika Bandung. Waktu itu event-nya adalah flash sale kemerdekaan. Semua hotel di grup perusahaan tersebut mengeluarkan harga Rp 170.845,- secara serentak dan merata, sesuai dengan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia saya kira. Akhirnya, kami, saya dan suami, memilih untuk mengambil tanggal 29 Agustus 2020 ini, sekaligus staycation dan quality time sederhana. 

Kami sepakat untuk menjadikan moment ini sebagai moment liburan keluarga. Dikarenakan pandemi, jadi kami hanya stay di hotel dan wisata kuliner saja. Belum berani mengajak Anis ke kerumunan orang banyak, seperti di area alun-alun Bandung. Padahal, jarak hotel kami dengan alun-alun hanya sebatas langkah kaki saja. That's ok, take it all good aja lah yaa 🀭

Kami berangkat dari rumah di kawasan Arcamanik sekitar pukul 14.10, kebetulan ada yang harus dikerjakan dulu oleh pak suami. Saat itu, saya yang sudah terbawa suasana liburan ya tidak menyiapkan makanan di rumah sama sekali, kecuali membuat nasi. Anis yang tidak bisa bergeser waktu makannya, sudah saya beri nasi dan abon ayam di jam makan siang. Aman.

Saat di perjalanan menuju hotel, suami tetiba ngidam bihun bakso Pak Yono. Akhirnya, kami melipir sejenak di Cafe Asix daerah Talaga Bodas. Di Cafe ini lah bihun bakso Pak Yono yang legend di Bandung itu membuka cabang. Kedai utamanya di Jalan Gempol, tapi di sana selalu ramai. Sangat berbeda dengan di cabang Talaga Bodas ini. Ambience-nya yang mengusung kafe tradisional nuansa Jawa klasik, ada indoor dan outdoor area, dan yang terpenting tidak ramai. Kami masih bisa menikmati bihun bakso favorit di Bandung tersebut dengan lebih santai dan tenang.
Saya dan suami jelas memesan paket bihun bakso komplit. Wah, kuahnya juara! Segarrrr! Siomay pangsit gorengnya juga khas, enak parah. Apalagi padanannya adalah teh Rosella yang tidak terlalu manis dengan kecut-kecut segar berwarna merah. Cocok! Perut kami bahagia dan kenyang Alhamdulillaah.

Sesampainya di hotel, Anis makan sore dengan ayam goreng serundeng yang dibeli di rumah makan padang sekitar Kota Kembang. Rumah makannya kecil tapi rapi dan cantik sekali. Harganya memang agak pricey untuk kelas rumah makan padang kecil begitu, tetapi soal rasa memang tidak bohong. Ayam gorengnya empuk dan bumbunya meresap. Serundengnya kaya rasa. Nasinya pulen sekali, sangat cocok untuk bocah. Anis makan dengan super lahap, hingga satu porsi nasi padang habis sendiri. Kebayang kan gimana porsinya ala nasi padang, haha. Sayang sekali saya tidak sempat memoto menu kali ini. Anis yang sudah sangat lapar, tidak bisa menunggu lama saat ayahnya datang membawa sebungkus nasi ayam. 

Setelah Anis makan, mandi, kami berjalan-jalan di sekitaran hotel. Ketika kerumunan orang semakin banyak, kami pun kembali ke hotel.

Sempat berfoto sekali di ATM terdekat. Lucu ya bangunannya. 

Malam harinya, kami hanya order makanan via aplikasi saja. Pertama, menghindari kerumunan orang di malam minggu begini. Kedua, hemat tenaga dan juga bocah sudah tidur sejak maghrib. Ketiga, banyak promo bertebaran di aplikasi, haha.

Untuk menu makan malam, kami memilih Nasi Lemak Banceuy yang tersohor itu. Entah mengapa, saya merasa nasi lemak ini jauh lebih enak dari nasi lemak manapun yang pernah saya coba, baik di Indonesia maupun di Singapura atau Malaysia. Pantas saja ya jadi legend juga. Menu yang kami pesan adalah Paket Sultan C, haha. Hayo, kenapa coba dinamai Paket Sultan?🀭
Naaah, terjawab kan? Kurang sultan gimana coba, dalam satu menu sudah ada ayam goreng tepung rempah, telur ceplok 3/4 matang, daging dendeng basah sambal ijo, kacang teri goreng, sambal, yang reuni dengan cantiknya, haha. Rasanya? Bahh! Saya tidak perlu menjabarkan, cukup kalian semua coba langsung aja. Dijamin keras, tidak akan rugi! Dari ayamnya, daging sapinya, goreng kacang terinya, sambalnya, bahkan sampai telur ceplok dan nasinya, SEMPURNA. Cita rasa yang kaya dan khas masing-masing. 

Untuk melengkapi malam quality time ini, belum lengkap jika belum ngopi, betul? Kami memesan kopi literan Starbucks yang tidak jauh dari tempat kami menginap. Karena promo, kami memesan dua botol, yang artinya dua liter kopi siap dinikmati. Varian favorit sepanjang masa, Caramel Macchiato dan Vanilla Latte tentunya. Tidak lupa menulis catatan untuk om ojek online, "Tolong minta es batunya ya, pak!", hihi.
Amunisi yang cukup untuk menemani saya melewati malam "me-time" ini sambil menulis sedikit demi target tulisan bulanan yang belum aman, haha. Untunglah pak suami dan bocah sudah lelap. Nah, sekarang, mamak mau nyusul ke negeri lelap juga aaahhh. Nite nite, good people! Have a marvelous w'end! πŸ’™πŸ”₯

Wednesday, August 5, 2020

Urutan Kelahiran dan Kepribadian Seseorang

Sibling Photoshoot inspiration on Pinterest | Sibling ... | Sibling  pictures, Sibling photography, Family photo pose
Di salah satu grup literasi yang saya tergabung di dalamnya, pagi ini mengusung suatu topik yang menarik. Meskipun, topik tersebut tercuat bukan karena unsur kesengajaan, tetapi cukup membuat saya berselancar lebih dalam di laman Google mengenai hal tersebut, yaitu Karakter Seseorang Berdasarkan Urutan Kelahiran.

Awalnya saya bepikir bahwa urutan kelahiran memiliki dampak pada karakter atau sifat seseorang tak lebih dari sekedar kecenderungan saja. Ternyata, secara keilmuan, bahkan hal tersebut diungkap dan dipelajari lebih khusus.

Katakanlah Teori Urutan Kelahiran Adler, yang dicanangkan oleh Alfred Adler, seorang dokter, psikolog, terapis dan pendiri awal aliran psikologi individual kelahiran Austria pada tahun 1870 (wikipedia). Beliau berpendapat bahwa urutan kelahiran berpengaruh terhadap kepribadian seseorang, sehingga beliau mengklasifikasikan sebagai berikut (halodoc) :

1. Anak Sulung

Menurut Adler, anak tertua cenderung konservatif, mereka berorientasi pada kekuasaan, dan mampu memimpin. Alasannya karena mereka kerap diberi tanggung jawab untuk menangani adik-adik mereka, anak sulung tumbuh menjadi orang yang peduli, lebih bersedia menjadi orangtua, dan cenderung mengambil inisiatif.

2. Anak Tengah

Kakak laki-laki atau perempuan adalah "penentu kecepatan" untuk anak kedua, mereka sering berjuang untuk melampaui kakak mereka. Laju perkembangan mereka lebih tinggi, oleh karena itu mereka cenderung ambisius namun mereka jarang egois. Anak kedua cenderung menetapkan tujuan yang terlalu tinggi untuk diri mereka sendiri, oleh karenanya mereka rentan gagal.  Tak perlu khawatir, kemampuan mereka mengetahui bagaimana mengatasi kesulitan dalam hidup adalah hal yang membuat mereka lebih kuat.

3. Anak Bungsu

Wajar jika anak terakhir lebih mendapat banyak perhatian dan perhatian dari orangtua dan saudara yang lebih tua. Itulah sebabnya mereka mungkin merasa kurang berpengalaman dan mandiri. Namun, kelahiran terakhir biasanya termotivasi untuk melampaui kakak mereka. Sangat sering mereka mencapai sukses besar dan mendapatkan pengakuan di bidang yang mereka pilih. Anak-anak bungsu dalam sebuah keluarga cenderung ramah, meskipun mereka cenderung lebih tidak bertanggung jawab dan sembrono daripada anak-anak yang lebih tua.

4. Anak Tunggal

Terlahir tanpa saudara kandung untuk bersaing, anak tunggal biasanya kerap bersaing dengan ayahnya. Karena terlalu dimanja oleh orang tua mereka, anak tunggal juga mengharapkan dimanjakan dan dilindungi oleh orang lain. Egois dan dependent adalah sifat utama mereka, sehingga mereka kerap mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya. Banyak anak yang tidak memiliki saudara kandung tumbuh menjadi perfeksionis, dan mereka cenderung mencapai tujuan mereka apa pun yang terjadi.

Saya pribadi belum membaca secara langsung dan lebih spesifik mengenai teori tersebut di literatur aslinya. Sehingga saya pun belum mengetahui metode apa yang digunakan oleh Adler untuk merumuskan teorinya.

Jika saya boleh berpendapat, unsur "kecenderungan" sepertinya masih perperan dalam hal ini. Faktanya, karakter yang "terlihat" pada seseorang tidak bisa menjadi ukuran mutlak untuk mengetahui anak ke berapakah mereka di dalam keluarganya. Seperti di pagi ini dan juga hari-hari sebelumnya, ada beberapa yang mengira saya adalah anak tengah bahkan anak bungsu. Padahal, saya sendiri adalah anak sulung dari lima bersaudara, keluarga yang cukup besar bahkan bisa dibilang. Menarik memang membahas cabang keilmuan psikologi ini. Allahu'alam bi shawab.

Friday, July 24, 2020

Anak adalah Senyatanya Pengingat

Picture by Pinterest

Berbicara tentang anak, hampir semua setuju bahwa mereka adalah anugerah. Berkah yang Allah berikan pada kita sebagai orang tuanya.

Para ibu pun banyak yang mengelukannya sebagai sumber kebahagiaan, seolah-olah, bagi mereka yang belum dan bahkan tidak bisa memiliki keturunan, kebahagiaan itu sebatas cerita.

Terbukti, saat memiliki anak, segala topik pembicaraan dan tema kehidupan akan tertuju pada persoalan anak. Pertanyaan tak lagi seputar, "Eh, apa kabar? Lagi sibuk apa, nih?" Tetapi, tanpa basa basi, "Gimana kabar? Si kakak sudah bisa apa sekarang?"

Atau lain kasus, betapa banyak pula orang tua yang terus saja meninggi-ninggikan anaknya. Tidak bermaksud sombong, tetapi, orang lain secara implisit dapat menangkap kesombongan itu sendiri.

Apa itu semua salah, Nad?

Tentu saja tidak. 

Rasa sayang, rasa bangga, kepada anak  adalah naluriah. Dia akan tumbuh secara alami di hati setiap orang tua. 

Tak perlu ditampik. Saya pun begitu. Ada satu sisi ego diri yang sangat "memuja" anak. Melihat perkembangannya dari hari ke hari, terbersit, "masyaAllah, pintar ya anakku." Apalagi kalau si anak baru saja bisa atau mendapatkan skill baru, rasa bangga itu ADA. Tetapi.......

Ketika saya menatap kembali wajahnya saat tertidur, saya seperti disadarkan bahwa anakmu ini hanya titipan Tuhan. Layaknya suatu titipan, suatu saat kita harus rela untuk mengembalikan lagi ke Sang Pemilik. Kembali ini tentu bukan hanya sebatas konteks meninggalkan dunia. Namun, ketika masa itu datang, di mana mereka harus mulai menjalankan peran sebagai manusia dewasa seutuhnya, bekerja atau menikah misalnya, kita harus dengan ikhlas melepaskannya.

Child is the real reminder.

Bagi saya, seperti itu. Kehadirannya seperti membuka pikiran saya lebih luas, lebih dalam, lebih realistis. Ya, seperti membangunkan tidur panjang. 

Ketika saya terlalu asyik dengan dunia saya, dia hadir ke dunia dan mengingatkan saya akan fitrah diri sebagai wanita. Kembali untuk lebih fokus pada suami, dia (anak) dan rumah.

Ketika saya terlalu "ditundukkan" oleh rasa sayang yang luar biasa pada "anak", mereka sendiri juga yang mengingatkan bahwa mereka hanya titipan. Tak perlu terlalu posesif dan overprotective, justru bantu lah untuk menjadi sosok mandiri yang siap menghadapi kehidupan di masa akan datang, dunia mau pun akhiratnya. 

Ketika saya hendak berbuat hal yang tidak baik, anak yang mengingatkan bahwa dia butuh contoh yang baik dari orang tuanya. Seolah menjadi rem dalam bertindak dan bertingkah-laku.

Ketika saya sedang berselisih paham dengan suami, anak yang menjadi penengah walau tanpa laku atau ucap. Dia mengingatkan bahwa dia ada di antara kami, dia butuh kedamaian dari kedua orang tuanya.

Dia mengingatkan juga untuk saya terus belajar, mencari ilmu, tentang kepengasuhan, tentang menjadi orang tua yang lebih baik, istri yang lebih baik. Demi aura ketenangan di dalam rumah tercipta, untuknya, untuk saya, untuk semua.

Bahkan, ketika saya merasa bahwa jalan yang telah saya ambil ini salah, mulai terasa hawa "penyesalan", hari mulai dipenuhi "andai dan andai", ya, dia, anak, yang mengingatkan saya lagi bahwa sosok kecil ini lah yang akan menjadi tanggungan saya sebenarnya, di dunia juga di hadapan Tuhan kelak. Jika, saya mampu mengajaknya untuk baik, maka kebaikan juga bagi kami orang tuanya. Sebaliknya, jika, keburukan padanya terjadi atas kelalaian kita, orang tua, dalam mendidik, maka siaplah mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti. 

Secara tak langsung, anak juga lah akhirnya yang mengingatkan diri ini untuk bukan hanya mengingat dunia, tetapi, kehidupan setelahnya. Dengan maksud membangun keluarga yang kelak dipertemukan kembali, sehidup, sesurga. Aammiin. πŸ’™πŸ’™πŸ’™

Sunday, July 19, 2020

Kencan Pertama Pasca Pandemi

Setelah sekian purnama, akhirnya bisa nge-date juga. Uhuy. Menurut kalian, seberapa penting sih memiliki waktu "berdua saja" dengan pasangan setelah punya anak? Kalau saya pribadi merasa penting sekali. Dengan waktu "berdua saja" ini, banyak manfaat yang dapat saya dan pak Suami rasakan. Salah satunya, membangun komunikasi efektif.

Terkadang, sejenak keluar dari rutinitas dan lingkungan sehari-hari, dengan pasangan, mampu membentuk kembali kehangatan dalam hubungan. Bukan bermaksud egois dan menelantarkan anak, tetapi, moment hanya berdua ini seolah memberi ruang pada masing-masing, suami dan istri, untuk dapat lebih saling memiliki. 

Keseharian, suami yang mungkin mayoritas fokusnya pada pekerjaan, sedangkan istri fokus utama pada rumah dan anak, ketika memiliki waktu "berdua saja", seperti memberi waktu khusus untuk lebih fokus hanya pada satu sama lain, dan ini sangat penting. Dengan mencurahkan perhatian lebih, meski pada saat tertentu, kelanggengan dalam suatu hubungan dapat terjaga, insyaAllah.

Kali ini, kami menyempatkan diri untuk dinner berdua di suatu resto dengan suasana tenang dan nyaman di daerah Cipanas-Cianjur. Kebetulan, Anis sudah tidur di rumah orang tua dan saya bisa menitipkan pada adik saya yang tinggal serumah dengan mereka.

Ini kali pertama kami dine-in di kafe pasca pandemi. Sengaja saya memilih waktu malam hari dan mendekati last order time, sehingga suasana kafe sudah sepi. Sayang sekali, protokol Covid-19 tidak diterapkan seutuhnya di kafe ini, entah karena saya memang datang sudah mendekati waktu tutup operasional atau memang mereka tak menerapkan itu sejak awal, tetapi, ketika memasuki resto tersebut kami tidak menemukan ritual pengecekan suhu. Meskipun, beberapa hand sanitizer tetap mereka sediakan di dekat mesin kasir.

Para petugas di kafe tersebut pun tidak semua menggunakan makser. Begitu juga penjarakan pada kursi dan meja, saya tidak melihat ada pengaturan khusus, masih tetap senormalnya tata ruang kafe. Padahal, kafe tersebut termasuk kafe kelas atas dan cukup terkenal di situ.

Bahagia rasanya dapat sejenak keluar dari rutinitas, sambil berbicara dari hati ke hati mengenai isu-isu internal maupun eksternal rumah tangga. Dengan diselingi kisah-kisah masa silam, romansa pada zamannya hihi.

Suasananya yang sedikit vintage dengan ornamen modern di beberapa sudut, menambah suasana semakin hangat dan rilex. Kami memilih lantai dua dengan display interior yang sederhana, hanya terdapat jendela besar yang langsung menghadap ke jalan. Sebenarnya, lantai tiga adalah spot terbaik, karena terdapat bagian outdoor dengan konsep roofpark sederhana. Namun, karena lebih banyak pengunjung di sana, saya lebih memilih lantai ini yang cenderung kosong.

Alhamdulillaaah, hanya sekitar satu jam kami di sana, menikmati sajian dan suasana, saling bertukar cerita. Namun, rasanya cukup sebagai upaya memenuhi kembali "bejana kebutuhan" kami sebagai pasangan suami-istri.

Alhamdulillaaah 'ala kulli haal πŸ’™

Tak sabar rasanya, ingin pandemi segera berakhir. Sehingga, kami dapat memiliki waktu "berdua saja" ini dengan lebih rutin dan tenang, tanpa rasa was-was, aaammmiin. 

Thursday, July 16, 2020

Yuk, Kita Menjelajah Lagi

Saat itu udara Jakarta sangat panas. Sedari pagi, bahkan sebelum fajar. Mungkin karena kami terbiasa dengan cuaca Bandung yang cenderung lebih dingin sehari-hari.

Hari itu, tanggal 19 Desember 2019, saya dan Anis "menemani" ayah Anis meeting di Jakarta. Sebenarnya, tidak ada yang spesial dengan meeting dan ibu kota bagi kami. Namun, ternyata, perjalanan kali ini mengukir satu kenangan dan pengalaman yang tak terlupakan.

Tertanggal 20 Desember 2019, hari ke-dua kami berada di ibu kota. Sejak pagi ayah Anis sudah berangkat untuk bertemu beberapa rekan bisnisnya. Saya dan Anis, yang saat itu memilih untuk sekalian staycation, tidak menginap di rumah nenek seperti biasa. Kami menikmati fasilitas hotel dan kemudian leyeh-leyeh hingga hampir pukul 10 pagi saat itu.

Lama-kelamaan, saya keidean untuk sedikit menjelajahi Jakarta, hanya berdua dengan bocah. Saat itu, kami menginap di daerah Cilandak, saya teringat dengan kebun binatang Ragunan yang tidak jauh dari lokasi kami. Dengan suasana dadakan, tanpa pikir panjang, saya langsung berkata pada Anis, "Nis, mau lihat orang utan sama giraffe ga?" Anis yang suka sekali dengan kedua hewan tersebut langsung antusias tentunya. Langsung kami berganti kostum, packing seadanya (baju ganti Anis, diaper, minum dan cemilan, payung dll) dan menuju lobi. 

Sesampainya di lobi, galau bagian dua pun terjadi. "Wah, naik apa ya enaknya? Bawa mobil atau mencoba kendaraan umum, ya?" Setelah mempertimbangkan keadaan lalu lintas yang "kurang bersahabat" bagi saya, akhirnya diputuskanlah menggunakan kendaraan umum. Awalnya, saya ingin mencoba mengajak Anis menjelajah dengan Trans Jakarta atau KRL atau MRT, tapi, saya urungkan. Melihat udara yang panas sekali saat itu, juga waktu yang semakin cepat berjalan menuju siang, akhirnya saya memutuskan pesan mobil dari aplikasi ojek online saja, hehe.
Setibanya di lokasi, saya agak kaget sendiri. Ternyata, areanya sangat luas, di luar bayangan. "Dulu rasanya ga se-luas ini, deh!" pikir saya. Atau mungkin sebenarnya hanya perasaan saja? Haha. Saya yang kala itu tidak membawa stroller, agak jiper. Maju mundur untuk membeli tiket dan masuk. Tapi, kemudian saya putuskan untuk tetap melanjutkan penjelajahan, hanya kami, saya dan Anis, dan ini adalah kali pertama bagi kami berpetualang ke tempat wisata luas tanpa ayah.

Kesan perjalanan kali ini, LUAR BIASA. Semua rasa kami dapat. Senang, antusias, lelah. Kami nikmati saja. Tapi, rasa yang paling membekas adalah rasa bangga karena bisa mengajak Anis mengenal macam-macam binatang secara riil dan dengan santai karena kebetulan hari itu adalah hari Jumat, kebun binatang Ragunan terbilang sangat sepi.
Melihat ekspresi Anis saat pertama kali melihat orang utan, berbinar-binar. Sebelumnya, saya pernah mengajaknya ke kebun binatang Bandung. Tetapi, kondisi hewan-hewan di sana cukup memprihatinkan, termasuk si orang utan. Juga, saat itu Anis belum terlalu paham tentang binatang.

Di Ragunan, dia seperti menceritakan semua yang pernah dia dapat dari buku. Membandingkan juga bertanya ini itu. "Waaaaah, masyaAllah ibuuu, giraffe itu tinggi sekali, yaaaa. Anisnya jadi kecil ga keliatan sama giraffe." "Ibuuu, itu belalai, ya? Itu gading, ya? Wow, bener kata buku telinganya lebaaar!" Dan ketakjuban lainnya yang sangat berharga bagi saya. 

Belum cukup dengan para binatang, Anis pun dipuaskan dengan arena bermain outdoor yang luas. Bertemu dengan kawan-kawan baru, belajar berinteraksi. Saya biarkan dia bermain hingga merasa cukup dan akhirnya dia meminta untuk pulang dengan sendirinya. Anis puas, ibu lemas, haha.
Sebelum pulang, kami membuka bekal makan yang telah dibeli di luar kawasan Ragunan. Sambil duduk di kursi santai yang banyak tersedia, terutama di kawasan taman, kami menikmati makan siang dengan lahap.
Setelah kenyang, saatnya benar-benar pulang. Tapi, eits, kita abadikan moment dulu, ya. Jadi, saat pertama masuk gerbang, banyak fotografer mengambil gambar para pengunjung yang kemudian hasilnya bisa ditebus saat keluar atau saat pulang. Untuk saya, pasti tak akan dilewati hal ini πŸ’™

Sesampai di hotel, kami membersihkan diri. Beristirahat sejenak sambil menyantap makan malam yang terlalu cepat (lelah berbuah mudah lapar). Tak lama dari itu, Anis tidur dengan tenang. Sebelum ritual doa, dia tetiba mencium pipi saya dan berbisik, "Makasih, ibu, udah ajak Anis ke kebun binatang. Sayang ibu". Ahhhh, segala lelah pergi entah kemana. Bahagia karena selalu menjadi orang pertama yang menyaksikan mata berbinar-binarnya saat menemukan dan mengukir pengalaman-pengalaman pertama. insyaAllah, setelah pandemi Covid-19 mereda, kita buat pengalaman seru lainnya ya, nak! πŸ’™πŸ’™πŸ’™

Thursday, July 9, 2020

Karena Sayang Perlu Diungkapkan

Rasa sayang itu sepaket, untuk diungkapkan dengan perbuatan pun perkataan, begitu menurut saya.

Suami atau istri bukanlah cenayang yang mampu membaca setiap pikiran dan perasaan pasangan. Butuh diutarakan. Bukan hanya perihal emosi negatif, seperti kemarahan, kekesalan. Emosi positif pun, seperti rasa sayang, kekaguman, rasa berterimakasih, perlu dilisankan/divisualisasikan padanya. 

Untuk surat, sejujurnya ini bukan kali pertama saya tulis untuk suami. Pernah saya sisipkan di salah satu kado ulang tahunnya beberapa tahun silam, pernah juga mengirim surel saat kami sempat menjadi pejuang Long Distance Marriage. Media tulisan ini menjadi metode awal saya dalam mengungkapkan rasa padanya, sebelum akhirnya berusaha untuk melatih diri ini mengungkapkan secara lisan dan langsung, dengan intensitas lebih sering pula. 

Dulu, sempat saya berpikir, ungkapan sayang akan menjadi "hal biasa" dan "kekurangan makna" jika terus menerus diucapkan atau disampaikan pada pasangan. Tetapi, setiap saya mendapatkan ucapan dan ungkapan itu dari suami, walau hanya sebatas "aku kangen kamu" saat dia bekerja, saya selalu merasa bahagia. SELALU. Ada hal yang saya dapati dari hal itu, bahwa intensitas dalam mengungkapkan rasa sama sekali tidak merubah makna dari rasa tersebut. Semakin sering, justru seperti menjadi checkpoint dalam hubungan. Seolah ungkapan sayang, cinta, terima kasih, maaf ini menjadi penambal dari setiap permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam rumah tangga, setidaknya bagi saya begitu.

Suami istri adalah tim, bukan "satu lebih dari yang lain" atau "hanya sepihak saja". Begitu juga dalam menyayangi, tidak ada istilah suami lebih menyayangi istri, atau suami harus lebih ekspresif dari istri, juga sebaliknya. Saat akad dilaksanakan, maka itu adalah bentuk ikrar bahwa seorang suami dan seorang istri akan saling menyayangi dan bertanggungjawab atas satu sama lain dengan hubungannya. Keduanya memiliki andil dan peran dalam menjaga kehangatan hubungan rumah tangga, tak harus siapa duluan yang memulai, alangkah lebih baiknya bila "saya yang akan memulai".

Seperti kali ini, saya kirimkan barisan kata cukup panjang melalui whatsapp. Berisi ungkapan terima kasih atas segala yang telah diperjuangkan demi kami, maaf untuk ketidaksempurnaan saya dalam mendampingi, juga ungkapan betapa sayang dan pentingnya sosok suami bagi saya. Walau kalimat "aku sayang kamu", "maafin aku, ya", "makasih, ayah/ibu" sudah menjadi hal biasa bagi saya dan suami, tetapi, tetap saja aliran emosi bermain peran sangat kuat saat jemari ini mengetik kata per kata mengungkap rasa. Haru, sedih, bahagia, bersyukur, bergemuruh menjadi satu, menghadirkan buah-buah air mata πŸ’™ Perasaan lega dan plong luar biasa saat tombol "send" saya tekan. 

Dia, suami saya, tipikal yang sangat sibuk bekerja. Akan memakan waktu cukup lama untuk mendapatkan respon dari pesan yang saya kirim. Oleh karenanya, telepon menjadi pilihan utama untuk hal urgent dalam berkomunikasi. Tetapi, tidak dalam merespon pesan whatsapp "aliran rasa" yang saya kirim. Tidak menunggu lama, datanglah balasan yang biasanya harus menanti dalam hitungan jam.

"Makasih, cuma itu yang bisa aku bilang, dan aku nangis bacanya. Maaf buat semua kekuranganku."

Saya sangat kenal betul, betapa jauh dari romantisnya dia. Tetapi, jika berkenaan dengan air mata, maka itu sudah menjadi tingkat emosi tertinggi yang dia punya. Saya terharu, lagi-lagi sangat bahagia πŸ’™

***
Menulis surat untuk pasangan kali ini adalah misi terakhir dari kelas Matrikulasi #batch8 Institut Ibu Profesioal. Namun, bagi saya, lebih dari sekedar itu. Ini tentang aliran rasa. Dibuat dengan ketulusan dan perasaan murni, mendalam. Setiap kata yang terbentuk adalah buah ungakapan hati, jujur dan apa adanya. Semakin yakin bahwa rasa itu perlu diungkapkan dalam lisan dan visual. Biarkan mereka yang kita sayang tahu, bahwa kita memang menyayanginya. Katakan. Tegaskan. Kelak akan menjadi pondasi awal membangun tim keluarga yang kokoh dan solid, insyaAllah πŸ’™