Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, April 29, 2021

CERPEN : Sosok Wanita yang Sama

 

Picture by Tribun Bali

Meyra. Seperti itu orang-orang memanggilku. Untuk mereka yang lebih akrab, sapaan “Rara” justru lebih familiar dibandingkan dengan “Mey” sebagai suku kata pertama dari namaku itu. Semua bermula dari mama yang sejak aku bayi selalu memanggil “Rara” sebagai panggilan manja. Dan, inilah aku.

Dilahirkan sebagai anak tunggal, membuatku agak diistimewakan oleh mama. Mungkin sebagian akan bertanya tentang papaku. Sayangnya, aku pun tak pernah tahu siapa dan di mana keberadaannya saat ini. Pengakuan mama pun, lelaki itu telah meninggalkan kami sejak aku berada di dalam kandungan, saat itu baru menapaki lima minggu. Dan, boleh kukatakan bahwa aku adalah seorang yatim, dengan versi sedikit berbeda. Mengapa? Karena yatimku lebih ke kondisi di mana aku memang kehilangan informasi sama sekali mengenainya, bukan karena ia pernah ada dan kemudian pergi dari kehidupan. Setidaknya begitu bagiku.

Memanglah kami hanya hidup berdua saat ini, mama dan aku. Nenek telah meninggal saat mama berusia sepuluh tahun, dan kakekku tinggal di negeri seberang, bersama istri dan keluarga barunya sejak kematian nenek. Benar, mama adalah korban ‘anak dibuang’. Yang ternyata senasib denganku. Mungkin itu juga yang membuat kami berdua dapat lebih tegar menghadapi balada kehidupan. Di satu sisi, kami pun saling menguatkan.

Namun, ruang kosong akan tetap menjadi ruang kosong. Sekuat apapun aku, dan mungkin mama, berusaha mengisinya, tetaplah ia akan meninggalkan dimensi berbeda yang tak bisa disempurnakan oleh apapun. Timpang, terkadang aku merasa seperti itu. Bukan karena iri, atau bisa jadi memang pun demikian, ketika melihat teman-teman di sekolah dulu dijemput oleh ayah mereka, atau sekedar cerita awal minggu tentang kegiatan outing bersama sosok yang mereka nisbatkan sebagai kepala keluarga. Ya, pada akhirnya aku merasa bahwa saat sesuatu tak lagi memiliki kepala, dia akan lebih sulit menentukan arah. Begitu adanya keluargaku, dan bentuk kekosongan yang aku maksud.

Kondisi memaksa kami, aku dan mama, untuk tetap maju menghadapi realita. Untunglah, meski ia hanya sosok single parent, tanpa ada backing-an finansial dan emosional dalam membesarkan seorang anak perempuan, yaitu aku. Mama tetap memberikan apa yang kubutuhkan. Apartemen untuk kami berteduh, sekolah swasta ternama di ibu kota, gaya hidup yang bisa dibilang menengah ke atas dan serba nyaman, semua dapat kunikmati. Hanya saja, tetap harus ada harga yang dibayar sebagai pengorbanan, yaitu waktu.

Tak banyak waktu yang dapat kulewati bersama mama. Kami seatap, tetapi seolah memiliki jam hidup berbeda. Aku yang sudah barang tentu aktif dikala matahari mencuatkan cerahnya, justru di saat itulah waktu mama tidur dan beristirahat setelah melewati malam penuh peluh bekerja. Mama bilang, client-nya memang hanya leluasa ditemui saat petang menjelang, selepas mereka bersibuk diri dengan pekerjaan utamanya. Entahlah, aku hanya seorang gadis SMA yang belum dan tidak ingin tahu terlalu banyak tentang itu. Toh, segala kebutuhanku telah tercukupi, bahkan bisa dikatakan berlebih. Jika mama harus beristirahat saat kupulang sekolah, dengan fasilitas kartu debit yang tak pernah dibiarkan kosong, aku biasa menghabiskan waktu bersama sahabat satu geng untuk nongkrong di satu mall ke mall yang lain. Tak menjadi masalah. Asalkan mama tetap sehat, tidak kekurangan waktu istirahat.

Sore itu, angin lembab ala ibu kota yang tak sedikit pun memberi kesejukan untuk menghalau sisa terik tengah hari, berdesir membawa sedikit rintik hujan sesaat. Murid-murid berhambur menuju gerbang yang menjulang tinggi, yang lebih terlihat seperti gerbang sel tahanan daripada sebuah sekolah. Waktu pulang sekolah telah tiba.

Kebetulan, kedua sahabat kumpulku harus absen menemani thawaf mall hari ini. Ada yang sudah memiliki jadwal dengan kekasihnya, ketika yang lain harus menemani ibunya belanja bulanan. Dan aku berjalan sendiri menuju gerbang sambil terus berpikir, ‘Kemana ya enaknya hari ini?’

Ketika tiba-tiba, “Heh, bangke! Dasar anak haram! Bisa-bisanya ya nyokap Lo morotin papi gue, hah?! Oh, jadi gini caranya si anak yatim Meyra Priyanka sampe bisa sekolah di tempat elit macem gini? Bisa hidup bak sultan, tinggal di apart, nongkrong tiap hari di mall? Ternyata semua itu hasil ngelacur nyokap Lo, hah?!”

Tangan itu terlalu kuat menghantam tubuhku. Tak bisa kuhindari, aku kehilangan keseimbangan. Terjungkal di tengah lapang basket dengan lantai bercat biru. Berutunglah tanganku masih cukup sigap menahan bobot tubuh bagian atasku. Jika tidak, kening ini pastilah sudah bercucur darah tergesek kasarnya lantai yang saat itu pun panas luar biasa. Atau mungkin mulutku yang harus kehilangan keperawanannya, karena mencium paduan semen dan pasir menyebalkan ini.

“Berdiri Lo! Biar orang-orang tahu, siapa Meyra Priyanka itu! See, Guys! Beware of this bitch! Atau hidup kalian bakal berantakan karena ulahnya dan nyokapnya!”

Gadis bertubuh ramping semampai dengan rambut tebal lurus sepunggung dengan berapi-api memaksaku bangkit dan terus menunjuk-tunjuk mataku. Ya, bukan hanya muka, tetapi mataku! Sebagai pancaran amarahnya yang begitu membuncah. Terlebih pipi dan sebagian besar mukanya yang semakin memerah. Dia amat sangat marah.

Aku tersulut emosi. Dia terus mencaci-maki mama. Dadaku panas, otakku tak lagi jernih.

“Heh, jangan nuduh macem-macem Lo, ya! Nyokap gue emang single parent, tapi dia punya bisnis, punya kerjaan, duit ga ngalir gitu aja, dan gue tahu itu! Buktinya, waktu bareng gue yang terbatas bareng dia. Karena apa? Karena dia lagi nyari duit! Paham, Lo?!”

Kudorong balik tubuhnya yang tak lebih besar dari tubuhku. Namun, anehnya, dia dapat menguasai keseimbangannya. Mungkin massa tubuhnya meningkat dengan supply amarah yang dia punya? Entahlah.

“Hahahaha. Lucu! Sumpah, Lo tuh lucu banget! Sini, Lo! Sini! Liat ini siapa?!”

Tangan berjari lentik dengan kuku berhiaskan nail art bernuansa nude itu menyodorkan ponsel keluaran terbarunya tepat di wajahku. Aku pun harus sedikit menarik mukaku untuk dapat menangkap apa yang hendak ia tunjukkan dari ponselnya itu.

“Ini bisnisan nyokap Lo? Gelayutan di badan cowok yang entah mereka udah beristri apa belom, hah? Keluar masuk hotel tiap malemnya. Lo pikir bisnis macem apa yang nyokap Lo jalanin? Kerjaan macem apa yang cuman keluyuran malem hari? Satpam ronda? Hey, bahkan satpam aja masih lebih beradab dari nyokap Lo itu.” Gadis itu tak lagi berteriak-teriak. Namun, desisnya kupikir jauh lebih menakutkan, seperti saat ini.

Dan foto itu. Kolase dari beberapa foto yang menangkap sosok wanita sedang melangkah keluar dari hotel-hotel ternama dengan manjanya. Rangkulan mesra yang memberikan indikasi sosok lelaki yang berbeda di setiap bidikannya.  Salah satunya adalah ayah dari gadis cantik di hadapanku. Pria berbadan tambun dengan rambut tersisir kelimis dan ornamen serba branded di tubuhnya.

Dan, wanita yang menjadi sosok sama di setiap fotonya adalah mama. Benar. Dia mamaku.

Kemudian, semua berubah menjadi gelap. Aku tak tahu ke mana hilangnya kesadaranku.

Wednesday, November 25, 2020

CERPEN : Bullying!

  
Picture by Pinterest

  "Heh, ngapain lo sekolah di sini? Lo tahu, kan, kalo sekolah ini tuh sekolah elit? Anak panti asuhan macem Lo beneran ga pantes, deh!" Salah satu dialog di skenario hidupku sejak menjadi murid di SMA Lab Class. Masih banyak dialog serupa yang kudapat setiap harinya. Yah, aku Si Yatim Piatu yang berasa menang lotere karena sedikit keenceran otakku, yang akhirnya bisa bergabung di sekolah terbaik di Jakarta selama sepuluh tahun terakhir ini. Senang, sudah pasti. Namun, hidup tak akan menjadi benar-benar hidup jika terlalu mulus tanpa kerikil.

    Sebenarnya, aku tak sepenuhnya yatim piatu. Lebih tepatnya, belum dapat kupastikan itu. Karena keberadaanku di Panti Asuhan Puan Kenanga ini memiliki alasan sedikit dramatis, cukup mirip dengan kisah di sinetron yang tayang setiap hari. 

    Dibuang. Apakah kata itu cukup kasar untuk digunakan pada manusia? Sepertinya begitu. Namun, kenyataannya memang aku adalah anak yang dibuang. Di usia yang masih bayi merah saat itu, ibu kandungku membiarkanku tergeletak di bawah pohon beringin tepat di depan gerbang panti ini. Hanya beralaskan selimut lusuh dan kardus. Seperti itu cerita yang kuperoleh dari kepala panti saat kupaksa untuk buka suara tentang asal-usulku secara rinci.

    Kenyataan pahit dan juga kehidupan keras di panti asuhan sedikit banyak telah membentuk mentalku menjadi kuat, terlalu kuat, hingga cenderung kaku. Aku menjadi sosok yang tak mudah untuk meneteskan air mata. Bagiku, masalah yang terjadi kini sangat tak ada apa-apanya dibanding rasa sakit hati yang telah kupendam dan berusaha kukubur bertahun-tahun ini. Benar, rasa sakit karena terbuang itu memang luar biasa. Apalagi dilakukan oleh figur yang seharusnya dielukan, orang tua.

    Kabar baiknya adalah, segala bully-an yang kudapat selama bersekolah di sini pun menjadi tak begitu membebani. Aku tetap dapat berjalan dengan tenang melewati mereka yang menatapku dengan picingan mata sinis berikut mulut pedasnya. Apa yang harus kurisaukan, bila segala yang mereka katakan adalah realita. Membantah pun tak akan menghapus realita tersebut, bukan? Aku terima, pada awalnya.

    "Gis, sini, deh! Gabung sama kita, yuk! Pulang sekolah kita mau hang out bareng di apart Indra. Seru-seruan aja, nonton kek, renang kek, have fun. Lumayan hiburan juga sebelum UAS minggu depan." Ada yang aneh kutangkap. Veria, salah satu dari populasi yang sangat gencar mem-bully-ku, kini sangat ramah mengajak untuk bergabung bersama genk-nya. Serius, ini kali pertama kulihat ia semanis dan seramah ini padaku.

    "Iya, yuk, gabung! Lo ga penat apa seputar panti dan sekolah doang tiap hari?" Sissy, sahabat dan juga bagian dari genk-nya pun ikut menimpali. Bahkan, ia menggenggam lenganku seolah kita adalah dua kawan dekat sejak lama. Ada apa ini? Batinku tetap merasa janggal. Namun, dorongan dari mereka yang kerap dan intens, juga sikap hangat semuanya, membuatku berpikir untuk mencoba. Mengapa tidak? Toh, mereka juga temanku, kan? Mungkin mereka sudah lelah untuk mengejekku yang sudah dipastikan tidak memberikan respon apa-apa dariku. Manusia berubah dan itu wajar. Kuiyakan ajakan mereka.

    Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Kumasukkan beberapa buku dan alat tulis ke dalam tas ransel berwarna merah yang telah usang dan lusuh. Maklum, tas itu sudah kupakai sejak SMP kelas tujuh, dan kini aku berada di bangku kelas sebelas SMA, empat tahun lalu.

    "Gis, kita tunggu di parkiran ya, gue mau ke kelas sebelah dulu," ucap Veria seolah mengingatkanku kembali pada ajakan yang diajukan saat jam istirahat tadi. Veria berlalu diikuti oleh beberapa Tiara, Rose, Mia, dan Sissy, yang kesemuanya pun menyunggingkan senyum yang sama. Kejadian langka, pikirku. Aku merasa sedikit senang, tak bisa kupungkiri. Akhirnya, segala bentuk ejekan, bully-an, hinaan padaku di sini akan segera berakhir. 

    Terparkir tiga mobildengan tipe dan merek ternama di parkiran, sesuai yang diinfokan oleh Veria sebelumnya. Salah satu mobil itu tentulah miliknya. Anak seorang pengusaha tambang emas dirasa wajar untuk memperoleh fasilitas seperti itu dari ayahnya. Apalagi, ibunya pun merupakan wanita sukses dengan gerai salon kecantikannya yang tersebar di mana-mana. Harga satu mobil mewah ini tak sebanding dengan omset yang mereka peroleh setiap bulannya kurasa.

    Mobil kedua adalah milik Mario, pacar Veria. Indra sebagai pemilik apartemen yang akan kami gunakan saat ini, adalah sahabat Mario. Kebetulan, mereka berbeda kelas denganku dan Veria. Namun, sejak Veria dan Mario berpacaran, secara otomatis genk binaan keduanya pun berbaur lebih dekat. 

    Mobil terakhir agak asing bagiku. Seorang lelaki dan beberapa rekannya berada di bangku penumpang dengan menggunakan seragam yang berbeda dengan kami. Asumsiku, mereka berasal dari sekolah berbeda. Namun, alasan apa yang membuat mereka bisa bergabung dengan murid sekolah ini, aku pun tidak tahu.

    "Hey, ngapain bengong di sini. Yuk, ke sana!" Tetiba suara Sissy mengagetkanku dari arah belakang. Tepukan tangannya di pundakku membuat sempurna kekagetan ini. Aku membetulkan tas ransel yang sedikit melorot, kemudian mengikuti Sissy ke arah jejeran mobil mewah bersama kawanannya.

    Agak canggung. Aku tak pernah bergaul dengan kalangan mereka sebelumnya. Bagaimana bisa bergaul, menatap wajah mereka pun aku ragu, karena sudah pasti hinaan dan cibiran yang selalu kuterima kemudian. Namun, kali ini sangat berbeda. Mereka semua duluan menyapa. Betul, SEMUA! Bahkan Mario, Indra, Marvin dan Vino, orang-orang yang tak pernah bertukar kata ataupun tatap sebelumnya, ikut menyapaku. 

    Kini, rombongan tiga lelaki dengan dua perempuan yang berbeda seragam dengan kami, ikut keluar dari mobil ketiga dan saling sapa serta berkenalan. Kecanggunganku memudar. Meski tak banyak bicara, aku sudah mampu menatap wajah mereka. 

    "Yok, kita capcus, guys!" Suara Veria mengambil alih perhatian kami. Satu per satu masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pergi. 

    "Hm, Gis, Lo di mobil Jess, ya! Kebetulan mobil gue udah penuh, nih." Veria menginstruksikanku untuk pergi dengan mobil ketiga, mobil paling besar di antara yang lainnya. Memang benar, di kursi pengemudi tentu Veria. Di sebelahnya, telah duduk manis dengan seatbelt terpasang, Sissy. Di kursi belakang, terisi penuh oleh Rose, Tiara dan Mia. 

    Sesaat aku ragu. Namun, kemudian Veria dan Sissy meyakinkanku dengan berkata bahwa kita akan bertemu kembali di tempat tujuan yang tak begitu jauh dari sekolah. Hanya membutuhkan sekitar 30 menit untuk mencapai apartemen milik Indra dan kita akan bersama lagi. Dan akhirnya aku pun mengikuti apa yang diaturkan olehnya.

    Tiba di ruangan cukup luas dengan tiga kamar tidur berisi furnitur bergaya modern minimalis. Unit milik Indra, atau mungkin milik orang tuanya, entahlah, berada di lantai 15. Pemandangannya luar biasa. Terlihat city view yang penuh dengan gedung-gedung megah. Aku takjub dengan pemandangan ini. Karena pemandangan kamarku sehari-hari adalah perkampungan kumuh di bantaran sungai yang berwarna cokelat. Jika hujan deras tiba, bersiaplah air masuk ke celah pintu dan membawa bau yang tak sedap.

    Aku duduk di sofa berwarna biru tua yang sangat empuk. Tak tahu apa yang harus diperbuat. Yang lain? Ada yang segera ke dapur, ke toilet, ruang tidur, dan balkon. Aku merasa sedikit terkucilkan. Tidak seperti sebelumnya, yang sangat hangat dan ramah untuk mengajakku ke sini. Kini, mereka seperti asyik masing-masing.

    "Gis, sini!" Aku menangkap suara Indra memanggil. Aku mencari arah suara dan kudapati ia di depan kamar utama, kamar paling besar dengan kamar mandi pribadi di dalamnya. Aku bangkit dari dudukku dan menghampirinya. Kudapati Veria, Mario, Sissy, Marvin, menuju arah yang sama. Yang lain, menatapku bergerak dengan tetap menghisap rokok yang berada di kepitan jemari mereka. 
Tatapannya aneh. Seperti hendak melihat pertunjukkan menarik dalam beberapa saat lagi.

    Indra menarik tanganku. Aku kaget. Ingin melepaskannya, tetapi genggaman itu terlalu kuat. 

    "Udah, siniii," ajaknya sambil menyeretku ke arah kamar utama. Tangan kirinya menggenggam puntung rokok yang belum dibakar, yang kini ia sematkan di mulutnya.

    "Eh, bentar, ke mana ini?" tanyaku mulai panik.

    Tarikan tangannya kian kuat, membawaku pada kamar luas dengan Jess di dalamnya. Aku dihempaskan ke ruangan itu, hingga tubuhku terjatuh ke kasur ukuran besar yang sangat nyaman dan lembut. Ketika hendak kubangkit dan keluar dari kamar, Indra telah menutupnya dengan suara dentuman keras yang diikuti suara kunci dari luar. Kini hanya ada aku dan Jess di dalam. Juga teriakan dari balik pintu kamar yang sangat menyayatku. "Enjoy, Jess! She is for you!" Diikuti gelak tawa yang bersahut-sahutan, membuat kepalaku berputar dan perutku melilit karena panik dan marahnya. Dan semua itu malah membuatku semakin tak berdaya.

    Yang kuingat, lelaki di hadapanku ini menenggakkan minuman beraroma tajam dan berasa pahit ke mulutku. Setiap tegukan yang masuk ke dalam kerongkongan dan lambungku membuat kesadaran menurun. Hanya perasaan melayang dan euphoria yang kudapati, aku seperti terbang. Dan kemudian semua berlalu tanpa kutahu pasti kejadiannya. Yang kudapati saat terbangun dan tersadar, tubuhku hanya dibalut selimut wangi tanpa sama sekali busana menempel di sana. Seragamku teronggok di lantai bersama pakaian dalamku, juga seragam lain yang kutahu itu adalah milik Jess, yang ternyata tertidur juga tepat di sebelahku.

    Aku menangis sejadi-jadinya. Tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Tangisanku membangunkan makhluk yang tertidur di sebelahku. 

    "Ssstt, berisik amat, sih! Diem ga, Lo? Gue capek, nih!"

    Aku semakin terisak.

    "Diem! Ngaapain, sih, Lo nangis-nangis, hah? Tadi aja Lo nikmatin, kok! Jangan sok suci deh sekarang pake nangis-nangis segala!" Bentakannya membuatku semakin kacau.

    "Hehehe, kalo Lo ga diem juga, gue sebarin, lho, video hot kita tadi, mau?" Kini bukan sekadar bentakan, tetapi berupa ancaman. 

    "Video? Apa maksudnya?" Aku tak habis pikir.

    Jess mengambil ponsel yang tergeletak di nakas sebelah kasur, mengotak-atik sesaat, dan kemudian menunjukkan sesuatu padaku.

    "Nih, liat! Wow, Lo kece juga ya permaenannya. See, girl! You enjoyed it a lot." 

    Video berdurasi sekitar dua menit itu sungguh membuat isi perutku ingin keluar. Aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua. Tawa jahat Jess mengiringiku. 

    "Makanya, diem, okey! Tutup mulut, atau video ini gue viralin di mana-mana, hahahaha" Gelak tawanya menyadarkanku bahwa aku dijebak. Bukan oleh Jess saja, tetapi juga Veria, Mario, Indra, Sissy, dan yang lainnya. Kebaikannya hanyalah alat untuk menggiringku pada perangkap ini. Kenapa? Kenapa mereka sebenci ini padaku? Apa salahku pada mereka? Apa hanya karena aku si anak panti dan yang bahkan dibuang oleh orang tuanya sendiri? Apa karena itu?

    Tangisku tak dapat lagi tecurahkan. Air mata seolah kering. Kupandangi tubuhku di cermin besar kamar mandi mewah ini. "Lo udah ga ada harganya lagi, Gis! Semua udah selesai!" teriakku dalam batin.

    Sebilah pisau cukur yang memungkinkan untukku cukil dan kuambil mata pisaunya. Kunyalakan shower dengan debit air terderas. Kududuk di bawah kucuran air dingin yang tak terasa dingin sedikit pun olehku. Kulemparkan senyum ke arah tak pasti, dan kuayunkan bilah pisau yang sangat tajam tepat di nadi pergelangan tangan kiriku. Hangat. Cairan berwarna merah membanjiri bath tub, bersenyawa dengan air, mengalir menuju lubang pembuangan. Kian deras dan kental. Mengantarkanku pada masa transisi antara bernyawa dan tidak. 

    Tak lama kemudian, seluruh organ tak mampu lagi melakukan fungsinya, sebab tak ada lagi pompaan darah yang mengalir ke seluruh bagian tubuh lainnya. Habis, terbuang ke dalam pusara air, membawa serta sakit hati dan amarah tak terlampiaskanku.

    Untuk kalian yang telah merencanakan semua ini, "Terima kasih, kini kudapat terbebas dari jahatnya dunia beserta isinya."
    
    

Friday, November 13, 2020

CERPEN: Aku Tak Semenarik Dulu Lagi

 

    Kulitku semakin memerah. Lebih tepatnya cokelat keunguan, mengingat warna dasar kulitku yang tidak begitu putih atau pun kuning. Paparan sinar matahari yang kian hari terasa kian terik, atau mungkin hanya perasaanku saja? Entahlah. Yang kutahu, kulit ini harus mampu bersahabat baik dengan sinar ultraviolet yang kadang jahat ini. Kau tidak akan setuju dengan pernyataanku hingga kau berada di posisiku.

      Aku terduduk di trotoar yang berbatu. Tidak yakin dengan penyebab keroposnya jalur pejalan kaki ini. Mungkin konstruksi yang kurang baik hingga tak begitu kuat terkena hantaman cuaca juga beban para penggunanya, atau bisa juga karena kendaraan yang menyalahgunakannya. Jika kalian hidup di kota besar, kalian pasti paham yang kumaksud. Sepeda motor yang dengan manisnya menanjak dan mengambil alih trotoar sebagai upaya menghindari kemacetan, sudah barang tentu itu alasannya.

     Aku tak peduli. Setidaknya tetap dapat kuistirahatkan tubuh ini sesaat, di antara usahaku mengais rezeki. Ya, aku lah pejuang rupiah di jalanan. Namun, kurasa itu tak begitu hina. Mengapa harus merasa seperti itu, jika aku bahkan tidak melakukan kemaksiatan apapun. Aku tidak mencuri, aku tidak menipu. Aku menjalankan pekerjaan yang amat disarankan oleh Rasulku.

    Lampu tiga warna dalam kotak hitam telah berganti. Warna hijau kini beralih merah. Kendaraan dengan berbagai tipe dan kasta, kukatakan begitu, satu per satu berhenti dan membentuk barisan dengan deru mesin yang saling sahut-menyahut. Alarm tubuhku seperti mengisyaratkan dengan otomatis untuk segera bangkit dari duduk dan bergegas. Mendekati mobil per mobil, juga motor, dengan menyodorkan tumpukan kertas. Aku tahu, sebagian dari mereka mungkin tak tertarik lagi dengan daganganku. Teknologi sedikit banyak telah menggeser eksistensiku, oh bukan, tepatnya eksistensi benda asonganku.

    Dengan gadget yang hampir semua orang memilikinya, segala informasi sangat mudah mereka dapatkan. Apalagi aplikasi mumpuni dengan kecanggihan mode notifikasinya, juga sisi tambahan real time-nya, sangat jauh jika dibandingkan harus membolak-balikkan kertas yang bahkan kontennya pun tak begitu update karena keterbatasan waktu proses pengumpulan berita hingga cetak. Peristiwa yang terjadi satu jam yang lalu, bahkan kini telah mampu diakses, beriringan dengan nada pemberitahuan yang mengabarkan tentang rilisnya konten baru. Sungguh, semudah itu.

    Namun, aku tetap menggeluti usahaku. Dengan alasan tentunya.

    Alasan klise pertama, tentu perihal tidak mudahnya mencari pekerjaan lain saat ini. Aku yang hanya keluaran sekolah menengah pertama, yang bahkan tidak tamat karena kendala biaya, akan menjadi bagian dari daftar yang tidak akan dilirik oleh perusahaan dengan pekerjaan yang lebih mumpuni. Jikapun dilirik, itu akan menjadi suatu prosentasi kecil yang mengarah pada keberuntungan. Sayangnya, aku bukan tipikal orang yang senang bergantung hanya pada keberuntungan.

    Alasan kedua, kepuasan batin. Pekerjaan ini memang tak lagi banyak memberikanku pundi rupiah. Meskipun dulu, di zamannya, aku sempat berada di atas angin menikmati hasil kerja dari mata pencahariaan yang sama. Namun, kini aku hanya menjadi sosok langka yang siap punah. Secara finansial, aku terpuruk. Namun, dengan pekerjaan ini aku dapat mengisi tangki informasi dengan gratis dan up to date, versiku.

    Gawaiku terbatas hanya untuk fungsi telepon dan juga berkirim pesan. Itu pun kadang tak maksimal karena tak selalu terisi pulsa. Aku tak seberuntung mereka yang memiliki segala dalam genggaman melalui satu benda bernama gawai. Dan dengan pekerjaanku ini, sedikit banyak aku tetap dapat melahap informasi terkini yang terjadi di segala penjuru dunia, dengan gratis. Tak terlalu masalah dengan waktu yang tak begitu riil seperti mereka dengan aplikasinya. Namun, setidaknya aku tetap dapat melihat dunia melalui jendelaku, dan aku sangat menikmatinya.

    Rasa dahaga akan ilmu dan berita, dapat kuperoleh dengan memanfaatkan jeda lampu lalu lintas ketika berwarna hijau. Saat mereka berlalu-lalang dengan kendaraannya, aku menepi dan kubalik halaman per halaman dagangan di genggamanku, kubaca, bejanaku terpenuhi. Kini, isi otakku dengan para pemilik gadget mahal itu dapat disetarakan. Atau bahkan aku lebih unggul jika mereka hanya memanfaatkan teknologi dalam genggamannya hanya sebatas posting hasil selfie di media sosial. Bukan, aku tak merasa bangga. Namun, aku bahagia karena ternyata kondisi berbeda tak menutup suatu kesempatan yang sama.

      Lampu kembali berganti, ya, kini hijau kembali. Aku kembali menyisi, duduk di trotoar berbatu ini. Membuka lembaran baru, lanjutan berita yang telah kubaca di jeda lampu hijau sebelumnya. Menyelami diriku dalam lautan informasi dan ilmu melalui barang asonganku, surat kabar harian dan juga beberapa tabloid cetak yang kini kian pudar keberadaannya.

Sunday, August 16, 2020

CERPEN : Hanya dalam Angan

Kami duduk berdua, menikmati seruputan latte panas dengan kudapan kukis cokelat seadanya. Menu yang sangat biasa. Namun, kehangatan yang terjalin buah dari percakapan antar hati, membuatnya menjadi luar biasa. Sesekali kudapati ujung matamu menangkap sisi lain dari wajahku. Kau mencuri pandang dan aku hanya berpura-pura tak tahu. Aku senang caramu memperhatikanku. Sangat alami dan sedikit malu-malu. Terlihat jelas betapa belum berpengalamannya dirimu tentang rasa. Kita hanya dua insan polos yang berusaha untuk lebih mengenal dunia. Ya, dunia kita berdua.

Ponselku berbunyi. Tertulis ‘Abah’ di layarnya dengan notifikasi pesan masuk. Segera kubuka dan kubaca dengan seksama isinya. Benar, pesan itu datang dari ayahku. Sebenarnya beliau adalah sosok yang menyenangkan. Bahkan, hobi melontarkan leluconnya sudah sangat dikenal oleh orang terdekat. Hanya saja, mengenai pergaulan anak-anaknya, beliau sangat ketat. Aku sebagai satu-satunya anak perempuan, menjadi sorotan utama beliau dalam menjaga dan memperlakukanku. Terkadang aku senang dengan hal itu, tetapi tak jarang aku merasa tidak nyaman karenanya. Bagi Abah, jangankan pacaran, untuk pergi dengan teman lelaki saja sudah termasuk hal yang dilarang. Jika Abah tahu bahwa saat ini aku sedang bersama Lukas bersantai di pelataran kedai kopi sambil berkelakar, tamatlah riwayatku.

‘Kau di mana? Sudah menjelang magrib ini. Segera pulang!’

Panik aku dibuatnya. Tanda seru di akhir seperti menegaskan perintah yang tak terbantahkan. Namun, aku masih merasa sangat nyaman dengan Lukas. Kebersamaan ini yang telah lama kunantikan. Sebelumnya, aku hanya bisa memuja dia dalam diam. Bahkan, hingga saat ini aku masih tidak menyangka bahwa Lukas, sosok yang sangat aku kagumi sejak di bangku Sekolah Menengah Atas, akhirnya menjadi milikku. Pekan Orientasi Mahasiswa Baru yang berandil akan terjalinnya hubungan ini. Saat acara penutupanlah dia menyatakan maksud dan isi hatinya padaku. Yang kuingat, suasana agak dingin berembun karena hujan dan aku sangat tidak bisa berpikir jernih untuk sekedar mempertimbangkan hal lainnya, kecuali menerima cintanya.

“Hmm, ini Abah udah nyuruh pulang. Mungkin, lain kali kita bisa bikin moment lagi?” tanyaku penuh harap dan ragu. Harap untuk mendapatkan persetujuan Lukas tentang pertemuan selanjutnya dan ragu untuk menyudahi hari ini. Mimik muka Lukas sangat santai hingga sulit ditebak isi hatinya. “Now? Seriously?! Syifa, ini baru pukul lima sore, lho!” jawabnya dengan senyum yang tetap merekah. Aku semakin dibuat dilema. Senyum itu, ah, terlalu renyah untuk kulewati begitu saja. Bilakah aku bisa menambah satu jam saja kebersamaan ini, artinya senyum itu akan tetap bisa kunikmati. ”You know him, lah! Perintahnya adalah titah,” sahutku diikuti tawa yang kurang menyenangkan untuk didengar, tawa penuh kesinisan. “Baby, kamu bisa bilang kalau ada tugas makalah kelompok, kan?” Pertanyaan yang lebih menggambarkan pernyataan. Tanpa diskusi selanjutnya, kebohongan pun akhirnya terkirim ke ponsel Abah melalui beberapa kata dalam pesan singkat.

‘Syifa masih harus mengerjakan makalah kelompok untuk besok, Bah. Secepatnya Syifa pulang setelah selesai.’

SENT

Kusimpan ponsel di dalam tas. Aku hanya ingin bermain dengan senyum renyah itu tanpa distraksi saat ini.

Tanpa terasa, dua jam lewat dari terakhir kali Abah mengirim pesan. Aku buka kembali ponselku. Tidak ada jawaban dari pesan terakhir ataupun panggilan yang tak terjawab. Sejenak kumerasa lega. Mungkin akhirnya Abah menyadari bahwa anaknya kini sudah dewasa. Tidak selamanya bisa mengikuti jadwal pulang yang ditetapkan. Pergeseran jam malam sudah seharunya diberikan padaku, mengingat kewajiban pun kian bertambah mengenai perkuliahan. Walaupun untuk saat ini, ada kedok kebohongan juga di dalamnnya. Tugas fiktif untuk waktu memadu kasih yang jelas sangat dilarang olehnya.

Lukas mengantarku hingga halte bus dekat rumah. Rasa takut ketahuan sudah tentu alasannya. Di halte itu aku turun dari Ninja berwarna biru miliknya. Saat akan kubuka helmku, tanganmu dengan sergap membantu melepaskannya. Wajahku memerah. Mungkin ini jarak terdekat yang pernah aku alami dengan Lukas. Tangannya mengenai tanganku yang berusaha membuka tali pengikat helm. Dilanjutkan wajahnya mendekati kunci tali pengikat helm yang berjarak tak lebih dari sejengkal dengan wajahku. Kurasakan napasnya. Klik. Kunci tali pun terbuka, dia menarik lepas helm yang kugunakan dengan perlahan, meninggalkan rona wajahku yang seperti habis terbakar.

“Sampai jumpa besok, Princess! Thanks for the precious time,” kulihat mata kirinya yang bening mengerjap dengan penuh godaan. Juga ciuman jarak jauh yang dia hembuskan bersama lambaian tangannya. Hari ini terlalu sempurna.

“Syifa! Syifa! Anak gadis kok melamun saja, sih? Cepat itu bantu Ibumu! Sebentar lagi keluarga Haidar datang, kan? Kau bahkan belum bersiap,” teriakkan Abah membuyarkan episode lain tentang hidupku yang selama ini hanya sanggup diputar dalam layar imajinasi.

Haidar adalah calon tunanganku yang masih terpaut ikatan persepupuan jauh. Tentu saja pertunangan ini akan berujung pada pernikahan dalam waktu dekat, tanpa banyak persetujuan dariku secara pribadi. Mereka menyebutnya perjodohan, aku menamainya penyunatan takdir. Bagaimana tidak, aku tidak diberikan ruang untuk menentukan takdirku sendiri untuk jalinan yang justru akan dijalani olehku. Bahkan hanya untuk sekedar memperjuangkan cintaku, tak ada kesempatan itu.

Lukas, selalu kusematkan ia dalam doa. Bersama dengan datangnya keajaiban dari Tuhan, kuharap kami dapat dipersatukan. Cintaku padanya sangat tulus dan dalam, dan dia tidak pernah tahu itu. Aku hanya mampu memandangnya dari jauh di sekolah hingga kampus dan juga memainkan perannya di dalam episode khayalku. Dia nyata, tetapi terlalu mustahil bagiku yang berlatar keluarga dengan penarik garis keturunan baku seperti ini.

Hari ini, kuakhiri hubungan dalam angan-angan antara aku dan Lukas. Dengan dibacakannya Fatihah, artinya berpindahlah kepemilikan akan diriku kini, dari Abahku untuk Haidar. Bulan depan pernikahanku akan digelar. Seluruh teman di kampus akan diundang, termasuk Lukas. Bayang-bayang akan senyum renyah itu kuharap akan segera pudar. Tergantikan oleh senyum lelaki di hadapanku saat ini, yang sedang berusaha untuk kucintai.

Dear Lukas, mantan impian yang hanya mampu terkuburkan, untuk pertama dan terakhir ingin kuungkapkan I Love You.


Bandung, 16 Agustus 2020

Wednesday, July 29, 2020

CERPEN : Hidangan Penutup Istimewa

Matahari pagi ini terlalu terik. Hal pertama yang kulakukan saat membuka tirai jendela adalah memastikan para hehijauan tetap rimbun dan segar, tak terganggu panasnya. Seharusnya aku bergegas menyiraminya sebelum ultraviolet semakin menyedot sisa-sisa dihidrogen monoksida yang terkandung bersama unsur hara di dalam tanah. Tetapi, aku terlalu malas.

Pukul 7.23 AM, saat kubuka ponsel hanya untuk mengecek jam juga cuaca hari ini. Ahh, pantas saja terik. Rupanya, aku bangun terlalu siang. Kebiasaan kurang baik saat jadwal bulanan datang secara rutin, tidak perlu bangun pagi untuk melaksanakan ibadah fajar, shalat subuh. 

Alih-alih menyirami tanaman yang semakin merunduk sebab angin pun berdesir sangat kencang, aku menuju dapur untuk bersiap memberi jatah cacing-cacing perutku terlebih dahulu. Bagiku, sarapan adalah keharusan yang tidak bisa dinegosiasi. Sarapan seperti penentu sukses tidaknya hari. Karena biasanya, tanpa sarapan, kestabilan emosiku tak baik, ada yang senasib?

Dua lembar roti gandum yang dibakar sedikit gosong, orak-arik telur setengah matang, dengan salad yogurt timun dan tomat, sangat cukup untuk dijadikan menu pembuka. Tak lupa secangkir kopi tentunya. Kunikmati dengan ditemani aplikasi YouTube melalui ponsel, yang memutar seorang selebTube sedang membahas mengenai cara menggunakan celak mata dengan baik dan benar, sambil diterangkan perkakas lenongnya yang harga-harganya cukup membuatku berpikir sesaat untuk menjual salah sati ginjalku saja, sangat mewah dan mahal.

Piring kosong, kopi menunggu untuk diseruput hingga tetes terakhir, tayangan YouTube pun kuusaikan. Aku sedikit menyesal, mengapa tidak diputar saja siaran berita terbaru, yang kurasa,  akan lebih berfaedah. Sayangnya, otakku seelit itu.

Perut telah dikondisikan, artinya hari sudah semakin siap untuk dijalani. Baiklah. Mari buka buku agenda, melihat daftar rencana yang biasanya tetap hanya akan jadi rencana meski telah dituliskan. Hmm, menemui Gustinus salah satu agendanya. Yup, dia adalah kekasihku. Lelaki super sibuk yang bahkan perlu membuat jadwal khusus hanya untuk makan siang bersama sebagai kedok pelepas rindu. 

Segera kubereskan pekerjaan domestik juga beberapa surat permohonan yang masuk lewat surelku. Mungkin beberapa yang telah kurespon akan segera ku follow-up sore ini, setelah waktuku dengan Gus, panggilan manis untuk Gustinus. Lebih baik daripada harus kembali ke apartemen dan merutukki singkatnya waktu kebersamaan dengan Gus, memang selalu seperti itu runutannya. Walaupun, segala rutukan itu adalah bentuk rasa sayang yang besar, yang membuatku ingin sekali terus bersamanya. Sayang sekali, kami hidup di dunia nyata, bukan dunia dongeng. Kami butuh kerja.

Sengaja kupilih rok putih tulang sebetis yang dipadukan dengan atasan kemeja lengan panjang bermotif bunga-bunga kecil berwarna kuning cerah, menggambarkan cerahnya mentari di hari ini dan harapan bahwa hariku pun akan secerah itu. Kubiarkan rambut bergelombangku terurai menutupi bahu, hanya kutambahkan jepit mutiara sebagai pemanis. Polesan tabir surya, pelembab, bedak tipis, serta sedikit pewarna bibir kejinggaan menjadi topeng yang siap kugunakan kali ini. Tiga semprot Jasmin Noir Bvlgari untuk masing-masing pada nadi kedua tanganku dan juga disalah satu kerah kemeja, sangat cukup. Tas pundak coklat muda kesayanganku sebagai pelengkap, dan sang pecinta ini siap untuk menemui pujaan hatinya.

Kafe Halaman, tempat kali ini kami bertemu. Konsep natural dan alam sangat kental, mengingatkanku pada ruang makan luar di rumah nenek. Dua kursi berukiran sangat cantik dengan meja bulat tak terlalu besar, diletakkan tepat di tengah hamparan rumput hijau. Menyegarkan. Namun, ada yang aneh. Mengapa terlalu sepi di waktu makan siang seperti ini. Tak ada pengunjung lain, hanya kami.

Buku menu datang, aku hanya memesan fish and chips seperti biasa, dengan minuman teh panas tanpa gula. Gus, yang hari ini terlihat sangat rapi dan tampan, memesan sirloin steak dengan cola, sungguh bukan menu sehat pikirku. Sembari menunggu pesanan datang, kami berbincang. Tak butuh waktu terlalu lama, makanan kami datang. Sambil melanjutkan percakapan ringan, kami menikmati panganan hingga habis dan pelayan membersihkannya. 

Tiba-tiba, satu piring cantik disajikan kembali di meja kami, dengan 2 scoop es krim vanilla dan stroberi dihiasi potongan buah stroberi segar dan daun mint. Aku rasa, aku tak memesannya. Kukirimkan kode pada Gus, jika memang dia memesannya, tetapi, dia hanya tersenyum dan memberi umpan balik kode untukku menikmatinya saja. Baiklah, es krim selalu kusuka.

Sendok kecil berwarna perak dengan sedikit aksen keramik motif bunga berwarna merah muda, kuayunkan ke dalam es krim vanila. Ada sesuatu yang keras. Aku sedikit aduk untuk memastikan apakah benda keras itu. Rupanya.... Cincin cantik dengan kilau permata kecil di tengahnya, tertanam di dalam sajian penutup tersebut. Aku tak mampu berkata. Hanya kutangkap senyum sangat menawan Gus sambil berucap, "Let's build our home together, honey!". Dan kupastikan tak akan ada rutukan pasca makan siang di hari ini. Aku terlalu bahagia.

Monday, July 27, 2020

CERPEN : Di Ujung Cerita Hanya Ada Hampa

Seperti ombak yang merindu tepian, di sana kelak asa kan melabuh. 
Jika saja, masa itu tetap kan ada, akan ku serahkan segalanya.
***
Panas ini seolah mampu melelehkan isi kepalaku yang penuh sesak oleh target penjualan bulan ini. Merosot tajam. Si makhluk kasat mata telah berhasil memorak-porandakan perekonomian dunia, jelas sudah berimbas pada segala bidang, termasuk gerai sepatu kulit milikku. Dalan kondisi seperti ini, rasanya, membeli sepatu dengan harga yang lumayan merogoh kocek bukanlah suatu pilihan tepat. Huft.

Kuhempaskan untaian sumsum tulang belakangku pada sofa berwarna salem dengan motif bunga matahari. Kucoba pejamkan mata sejenak, bukan untuk tidur, hanya menerawang kegelapan yang pasti hadir bersamanya. Seperti harapku saat ini, menghilang dalam gelap dan tak perlu banyak menguras otakku yang kurasa kian menyusut volumenya, akibat beban kerja terlalu berat. Namun, terawangan tak berbuah ketenangan. 

Kusibukkan jemari dengan gawai.

Apa kabarmu hari ini? Aku sedikit kacau. Tapi, tetap kuharapkan hari yang indah untukmu. Jangan lupa makan dan selalu mencintaiku, okey?!

Kuletakkan gawai keluaran terbaru itu di atas dada dan kembali kuterawang kegelapan yang ternyata membawaku pada alam lain. Aku tertidur.
***

Namaku Salman. Sejak resign dari suatu perusahaan tersohor di Indonesia dalam bidang Teknologi Informasi, aku memutuskan untuk berbisnis. Semua kumulai dari nol, tanpa ada kesiapan sama sekali. Namun, saat itu aku merasa harus mengambil langkah ini. Tanpa berpikir lama dan panjang kuajukan surat pengundurandiriku. Tentu saja, pihak kepegawaian terkejut. Aku yang terkenal memiliki etos kerja yang baik dan pencapaian yang gemilang, secara tiba-tiba mengambil langkah tak terduga. Pak Respati, kepala kepegawaian, bahkan mengajakku untuk bernegosiasi, bilamana ini perihal gaji, mereka siap menaikkannya. Tapi, sungguh bukan itu. Bulat sudah keputusanku. Ada sesuatu yang sama sekali tak bisa tertebus oleh uang, oleh materi apapun.
***

Selamat pagi, terkasih! Setelah sekian lama, akhirnya hujan turun juga. Kamu selalu suka dengan wangi tanah saat hujan turun, kan? Dan kamu tahu pasti bahwa yang kusuka hanya kamu. Anyway, aku rindu….”

Pesan terkirim dan aku lebih siap untuk memulai hari. Sepotong roti gandum sisa kemarin, aku panaskan di dalam pemanggang. Kubalut dengan sehelai tisu dan tak lupa kuseruput tetesan-tetesan terakhir kopi tanpa gula yang mulai mendingin, sebelum akhirnya kubergegas menuju gerai sepatu, sebelum kemacetan ibu kota kian menjebak. Sesaat di ambang pintu, kutengok kembali ruangan di belakangku. Sangat berantakan. 

Kutarik napas panjang dan akhirnya kutinggalkan ia dengan iringan bunyi klik tanda kunci telah terpaut. Kulajukan mobil di tengah hujan tanpa suara apapun lagi menemani, hanya suara rintikannya saja, rintikan hujan.
***

Hari ini kuputuskan untuk menutup gerai lebih awal. Tertanggal 24 Maret 2020, hari jadi kami ke-tiga. Sedikit kejutan perayaan aku rasa akan menjadi ide yang baik. Aku akan pulang ke rumah, membersihkan badan, memilih kemeja biru laut bergaris putih yang merupakan favoritnya, menyisir rapi rambutku yang cepak dan juga beberapa semprotan Hugo Boss yang sangat dia sukai. Kutatap bayanganku di cermin berbingkai kayu jati, sempurna. Kunci mobil yang telah siap di tangan kanan dan juga sekuntum mawar putih merekah berpita emas di tangan lainnya, kini waktu yang tepat untuk pergi.

Gedung itu sangat megah dengan gaya kolonialnya yang masih kental. Kuparkir sedan hitam di bawah rindangnya pohon meranti besar. Aku rasa, usia pohon ini bahkan lebih tua dariku, terlihat jelas dari batangnya yang lebar dan juga akarnya yang sudah merambat ke permukaan tanah. Namun, sisi ini sangat kusukai untuk memarkir mobil. Terik matahari seperti tak dapat menembus kerindangannya, sehingga si roda empat pun terhindar dari panasnya.

Sekali lagi kuyakinkan bahwa penampilanku telah sempurna. Seperti pemuda yang hendak mengencani wanitanya untuk pertama kali, aku hanya ingin terlihat paling istimewa di hadapannya. Kusisir rambut yang masih sangat rapi itu dengan jemari. Kerah baju yang sangat jelas garis lipatnya, kugerak-gerakkan, untuk memastikan semua baik dan sesuai. “Aku siap menemuimu, sayang!” bisikku yang diikuti rekahan senyum di antara kedua sudut bibir.
***

Langit-langit kamarku hanya berwarna putih, tetapi, kebahagiaan yang membuncah membuatnya seolah berwarna-warni. Pertemuan dengan yang terkasih selalu membawa nuansa baik, setidaknya bagiku. Meski sesaat, hari ini penuh makna.

Terima kasih untuk hari ini. Sangat luar biasa. Apakah kau juga bahagia? Happy anniversary sekali lagi, sayang! Aku hanya punya kamu dan rindu. Love you.

Malam kian larut seiring bergantinya hari. Bulu mata beradu, merekat, diikuti dengkuran halus juga gumaman dalam tidur yang selalu seperti itu, beberapa bulan terakhir.
***

“Salman, kapan kau pulang, nak? Rasanya sudah lama sekali Ibu tidak bertemu.” Aku hanya bisa terdiam, bukan berpikir, tetapi, keengganan untuk menjawab mungkin alasannya. Di seberang sambungan telepon pun akhirnya diam. Saling tak bertutur, terbaca kecanggungan di sana.

Dia ibuku, ya, aku tahu. Sosok yang padanya aku berhutang nyawa. Tentang dilahirkan ke dunia, tentang dibesarkan. Aku menghormatinya, tak ada keraguan. Hanya saja….

“Bu, maaf, ada beberapa pembeli datang. Aku harus melayaninya dulu. Nanti Salman telepon lagi. Assalamu’alaykum.” Membuat alasan yang tidak sepenuhnya hanya alasan, memang terlihat dua orang wanita masuk ke gerai dan mulai melihat-lihat etalase sepatu pria. Terima kasih pada mereka, kecanggunganku dengan ibu dapat terhenti sementara waktu.

Kuhampiri kedua wanita tersebut dan mulai melayani mereka sepenuh hati hingga akhirnya sepasang sepatu terbungkus rapi, siap diadopsi sang pembeli. Terakhir wanita berbaju hitam yang tampak lebih tua di antara mereka, memberitahu bahwa sepatu pantofel hitam bertali tersebut akan digunakan oleh calon menantunya, calon suami dari anaknya, pada acara pernikahan mereka yang akan digelar di awal bulan April 2020. 

Aku turut bahagia mendengar beritanya. Betapa beruntungnya sang calon mempelai pria, memiliki seorang mertua yang begitu sangat menyayanginya, terlihat jelas dari pancaran mata wanita tua berbaju hitam saat berkisah tentang calon menantunya tersebut. Semoga kebahagiaan dan keberuntungan meliputi kedua mempelai. Ya, benar, keberuntungan.
***

Rumah ini terlalu besar untukku. Mungkin tepatnya, terlalu kosong. Halaman yang luas, untuknya yang gemar bertanam. Dapur yang bergaya modern lengkap dengan segala perangkatnya, sangat sesuai dengan seleranya, diharapkan akan membuatnya semakin betah mempersiapkan hidangan kegemaranku. Ruang makan bernuansa putih, warna yang sangat disukainya. Di sinilah kiranya kami akan menikmati sarapan atau makan malam bersama sambil sesekali bertukar cerita dan canda.

Kutatap kembali setiap ruangan. Berakhir pada kamar tidur yang sangat lapang, dengan dipan berkelambu. Meja rias dilengkapi cermin oval terletak di satu sudut ruangan, beserta lemari pakaian besar dengan empat pintu di sudut lainnya. Terpasang satu lukisan berukuran sepanjang tempat tidur, pemandangan taman bunga dengan mawar putih mendominasi, juga seorang gadis yang juga berbaju putih dan bertopi lebar di tengahnya, seolah tenggelam di antara hamparan mawar di sekelilingnya. Gadis itu adalah dirinya.

Aku terlalu rindu, sayang. Besok aku akan kembali menemuimu. Tunggu aku.
***

Gedung bergaya kolonial, pohon beringin tua. Kita bertemu lagi. Bukankah selalu bertemu beberapa bulan ini? Itu karena rindu yang tak kunjung terbayarkan.

Kususuri koridor dari gedung tua tersebut dengan sekuntum mawar putih berpita emas di tangan, membawaku pada sisi barat dari bangunan megah tempo dulu tampatku berpijak kini. Terus kususuri, hingga terdiamlah ku di depan pintu besi kokoh berwarna putih. Betul, warna kesukaanmu, walau hampir semua pintu di gedung ini berwarna serupa.

Terdapat jendela kecil tepat di tengah pintu tersebut. Jendela yang tak bisa dibuka, terbuat dari kaca tembus pandang. Melaluinya, kudapat melihat apa yang sedang terjadi di dalamnya. Sesosok gadis berparas cantik duduk di bangku sederhana menatap dinding. Tatapannya kosong. Sesekali matanya berkedip, gerakan yang sangat lamban. Tangan kanannya meremas ujung baju, tak ingin dilepas. Tangan lainnya menggenggam sesuatu dengan erat, cincin bermata satu dengan ukiran “Latifa & Salman” di sisi bagian dalamnya.
***

Namanya Latifa. Dia tunanganku. Tiga tahun sejak aku menyatakan cintaku padanya. Seharusnya awal April 2020 nanti menjadi hari besar bagi kami. Tanggal di mana kami akan mengikrarkan janji suci di hadapan Tuhan. Bila saja ibuku tidak secara diam-diam menekannya terus menerus untuk meninggalkanku, hanya karena dia hanya gadis biasa, tanpa garis keturunan khusus seperti dalam keluargaku. Bila saja di tengah tekanan itu, ayahnya tak meninggal dunia dan membuatnya menjadi gadis yatim piatu. Bila saja saat keterpurukan itu terjadi padanya, aku yang terlalu sibuk dengan kantor dan perusahaan, juga prestis diri untuk dicap sebagai karyawan teladan, dapat meluangkan lebih banyak waktu untuknya, memberi dukungan moral padanya. Bila saja waktu itu ada, aku hanya ingin melakukan segala yang kubisa baginya. Hingga tak perlu ia berada di ruangan ini, menatap kosong dinding berwarna putih, tanpa kata, tanpa suara. Meninggalkan kerinduan dan kehampaan pada sisi ruang batinku yang entah sampai kapan akan berlalu. Hanya mampu terus mengirim pesan tanpa balasan dari waktu ke waktu. Maafkan aku, sayangku. Aku cinta kamu.

Friday, July 17, 2020

CERPEN : Apakah Cinta (Bagian 1)

Mata sipit namun tajam, seperti berkarakter. Wajah putih yang siap merona setiap paparan sinar mentari mengelus kedua pipinya dengan manja. Dagu lancip sangat sempurna menopang bibir mungil berwarna merah jambu yang selalu terlihat basah. Semuanya terbingkai indah dengan helaian rambut sebahu sangat lurus berwarna hitam. Tetapi, bukan itu yang membuatku sangat menginginkannya. Melainkan, kursi roda yang selalu menemaninya kemanapun dia berpindah.
***

Well, hay, gue Birru. Bukan karena gue suka warna itu, tetapi, ulah nyokap bokap yang terinspirasi oleh salah satu anak selebgram di zamannya. Whatever, gue tetap suka hitam. Sangat mencerminkan pribadi gue yang, yaaa, bisa dibilang "kelam".

Sehari-hari gue dinas di lapangan, alias di luar kantor, mencari para crazy rich untuk gue santap. Eits, please, bro, jangan salah sangka. Gue memang mengincar mereka untuk bersedia menjadi nasabah prioritas di tempat gue bekerja. Yup, gue adalah seorang funding officer di suatu bank kelas atas Indonesia. Meski dulu gue menghabiskan empat tahun perkuliahan berkutat dengan biologi dan tetek bengeknya, tetapi, ke-encer-an otak gue lumayan terpakai juga di dunia perbankan, thanks for logic skill i got from college, anyway.

Ada kebiasaan di kantor gue, dan sepertinya hampir setiap perusahaan perbankan juga begitu, setiap tahunnya diadakan acara outing sebagai salah satu bentuk resfreshing para pekerja yang telah menjadi bagian anggaran tetap dari laba perusahaan. Maklum, kerja kami lumayan hectic. Gaji kami mungkin lebih tinggi dibanding beberapa bidang usaha lain, tetapi, sangat berbanding lurus dengan jam kerja. Kalau kata mas Arga, rekan satu bagian gue, "Kita gaji boleh lah gede, tapi, secara ga langsung waktu kita dibeli sama perusahaan. Kapan pun perusahaan butuh, kita harus siap sedia, walau pun itu tanggal merah atau bahkan lagi lemes demam karena flu berat misalnya." Dan itu bukan pernyataan salah menurut gue. Begitulah keadaannya.

Tahun ini, tempat tujuan outing kami adalah Singapura. Tak berlebihan, toh bahkan, tahun lalu kami semua digratiskan ke Thailand. Sebenarnya, jika dihitung, semua biaya perjalanan kami tak ada apa-apanya dibandingkan dengan laba yang berhasil kami peroleh selama setahun bagi perusahaan. So, enjoy, man!
***

Bandara Changi hari itu sangat ramai. Memang selalu ramai kukira. Kami satu rombongan siap dijemput oleh agensi perjalanan untuk diantar ke penginapan di daerah Bugis. Dua buah bus dengan kondisi sangat prima telah menunggu kami di pelataran Terminal 4. Ada enaknya juga mengikuti agen perjalanan seperti ini, tidak perlu memikirkan moda transportasi, bersusah-susah menuju Terminal 2 hanya untuk mengejar jadwal MRT menuju downtown dan sebagainya. Setelah melewati proses imigrasi yang lumayan ketat, akhirnya kami semua berhasil lolos dan melaju untuk melanjutkan perjalanan.
***

"Birr, malem ini free schedule, kan? Gito ngajak cuci mata ke Geylang. Gabung, yok?!" Ajakan Lexi cukup menggiurkan.

Hal yang biasa dalam pergaulan kami. Bukan memukul rata, tetapi, 
hampir semua seperti ini. Karena kami punya uang, kami punya prestis, terkadang kami terlalu bebas dan lupa diri.

Geylang Road adalah red district yang terkenal di negara ini. Terdiri dari beberapa gang/jalan kecil yang digambarkan dengan angka. Jangan membayangkan gang yang sangat sempit dan kumuh seperti di Jakarta. Menurut gue, kondisinya sangat rapi untuk kelas gang. Tapi, sangat tidak disarankan untuk anak di bawah umur berkeliaran di area ini. Sangat TIDAK disarankan.
***

Berempat kami menjelajahi malam "kebebasan" bersama; gue, Gito, Lexi dan Rio. Yang lain pun memiliki agenda masing-masing, tersebar di bagian pusat negara Singapura yang tidak begitu sulit dikuasai. Gue pun, bukan hanya kami berempat yang memilih "bermain" ke Geylang Road itu, karena beberapa kali kami berpapasan dengan sesama rekan saat menuju area tersebut. Tetapi, kami hanya berpura-pura saling tidak mengerti tujuan satu sama lain.

Gito memutuskan untuk naik MRT dari stasiun Bugis, yang kebetulan hanya walking distance dari hotel kami. Tak sulit menuju tempat tujuan kami, hanya perlu melewati beberapa stasiun, dan kami pilih stasiun Aljunaid sebagai persinggahan. Sebenarnya, bisa saja kami turun di stasiun Kallang atau Paya Besar, tetapi, kami memilih Aljunaid karena merupakan stasiun akhir sebelum intersection MRT yang masih melingkupi Geylang Road. Artinya, kami dapat lebih leluasa menjelajah daerah tersebut, walau kaki pegal-pegal akan jadi barterannya.

Gue berjalan di belakang, bersama Lexi. Gito dan Rio, sebagai dedengkot daerah sini, memimpin di depan. 

"Git, jangan lupa matiin dulu hape deh sebelum Rosa ngontakin," canda Rio kepada Gito. Yup, benar, Gito bukanlah bujangan. Rosa yang cantik dan anggun adalah istrinya, yang telah melahirkan seorang anak cantik dan lucu luar biasa. Jika ditanya, "Yaelah, bro! Lo udah punya bini cantik, anak lucu, masih aja demen "jajan", apa yang lo cari, sih?" Jawaban klise, "Ini cuma buat kesenangan, man! Selingan diantara tumpukan laporan target harian, mingguan, bulanan, tahunan," yang dilanjutkan tawa puas terbahak-bahak.

Namun, Gito bukan satu-satunya. Rio pun berstatus ayah dari dua jagoan yang sudah mulai beranjak dewasa. 

Lagi-lagi gue tekankan, begini lah pergaulan kami, bukan semua, tetapi, hampir semua.

Walau gue dan Lexi masih aman, karena bujang. Gue sadar, kok, bahwa itu bukan jadi alasan cukup untuk membenarkan kelakuan gue. Tapi, jawaban sama seperti Gito dan Rio, "Ini hanya untuk kesenangan!"
***

Foto-foto terpajang, berjejer rapi di jendela atau etalase sederhana bangunan-bangunan dengan temaram lampu berwarna-warni. Gemerlap, namun, remang. 

Berbagai macam wanita dari beragam etnis berpose dengan gaya yang dibuat sensual. Berusaha menarik perhatian melalui gambar dua dimensi, para pejalan kaki yang mungkin saja akan menjadi pelanggannya. 

Beberapa bahkan berdiri manis di depan pintu bangunan tersebut, sembari menghisap rokoknya, sesekali melemparkan tatapan, dan bahkan, sapaan genit pada lelaki yang melintasinya. 

Lelaki hidung belang, gue mungkin salah satunya, banyak berkeliaran. Sebagian dalam kondisi mabuk, terlihat dari cara berjalan dan menatap. Satu atau dua orang wanita cantik bermanja-manja menemaninya. Semua terjadi di tengah jalan, sejauh mata memandang.

Disekitarnya, berjejer hotel dengan tarif murah berdiri. Yang anehnya, terlihat sepi di siang hari, namun, sangat ricuh dan ramai di malamnya. Didapati banyak pasangan keluar masuk dengan bebas dan cuek, sangat kentara untuk tujuan one stand night semata. 

Gue selalu takjub setiap melintasi area ini. Antara kesenangan dan keprihatinan yang gue tangkap, menurut kaca mata gue pribadi. Di balik senyum nakal, rayuan gombal dan gestur-gestur manja, ada tatapan kosong yang bisa gue terka. Seperti bentuk kelemahan yang berusaha ditutupi. Atau luapan persoalan hidup yang dijerat. Semuanya sangat apik terbungkus dempulan kosmetik juga pakaian menarik. Tak lupa, sedikit bumbu senyum kepalsuan.

Dan di pojok gedung itu. Gedung tua berlantai tiga, tidak terlalu luas. Dengan lampu berwarna lembayung seperti berusaha menyamarkan keberadaannya. Terduduk seorang wanita dengan tampilan tak jauh beda dengan yang lainnya, hanya saja, dia berkursi roda.
***

"Free?"
"Ya, $50."
"Hm, ok, deal!"

***
Gue gila, iya, gue paham. Hanya untuk wanita berkursi roda, gue deal dengan cepat, dengan tarif yang terlalu tinggi. Jangan ditanya, mata Lexi seperti siap keluar dari tulangnya, melongo melihat kebodohan yang gue buat. 
"Gila lo, Birr! Kayak ga ada pilihan lain aja!"
Gue pun bingung dengan yang baru saja gue lakukan. Kenapa semudah itu gue tarik ini cewek? Kenapa? Alasan yang berusaha gue telisik, tetapi, gagal untuk menyimpulkan. Dan berjalanlah gue, mendorong kursi roda yang telah lapuk itu, menuju salah satu hotel kelas menengah terdekat. Meninggalkan Lexi, Gito, Rio yang hanya bisa terkaget-kaget yang tidak bisa disembunyikan.