Friday, January 29, 2021

Tak Apa Sesekali Berkesah

Picture by YourQuote

Awalnya, saya agak bingung mau nulis apa malam ini. Buntu. Hanya bulak-balik buka handphone, laptop, sambil menyimak dua kuliah daring dan satu live Facebook. Sampai akhirnya, semua event selesai dan waktunya menulis.

Namun, tetap blank, no idea. Duduk melototin layar, jari sudah stand by di keyboard, tapi gagu  harus ketik apa. Berkali-kali, ketik-hapus, karena sebuntu itu kondisinya.

Akhirnya, memilih untuk membuka Youtube dan memainkan salah satu playlist saya di situ. Ta daaa…

Living alone

I think all of the friends I’ve known

When I dial the telephone

NOBODY’S HOME

Alunan suara penyanyi kesukaan saya dari zaman SMP dulu menjadi pengisi nomor satu pada list malam ini. Lagu berjudul All by My Self versi Celine Dion pun saya resapi. Hmmm, entah suatu kebetulan atau apa, tapi rasanya isi liriknya lumayan mengena juga.

Dan hari ini, salah satu teman di genk masa perkuliahan saya berulang tahun. Seperti biasa, grup whatsapp yang biasanya sepi seperti tak berpenghuni tetiba ramai. Saling memberi ucapan selamat kepada yang berulang tahun. Tradisinya seperti itu. Maklum, kebanyakan rekan-rekan saya itu adalah ibu-ibu ranah publik, saya cukup paham akan kesibukannya yang menyita waktu dan membuat atensi hanya terfokus untuk keluarga dan pekerjaan.

Celotehan salah satu teman saya, “Wah, kalau ada yang ultah gini tuh jadi suka inget moment dulu kulineran sana sini saling traktiran setiap ultah.”

Ya, kami yang se-genk ber-sebelas orang itu memiliki kebiasaan untuk saling traktir ketika berulang-tahun. Karena anggotanya banyak, yang artinya akan spend lebih banyak uang juga untuk traktiran, maka biasanya kita ada rapelan. Yang ulang tahun berdekatan disatukan traktirannya, jadi tidak terlalu memberatkan.

Dulu, sangat mudah untuk make time dan pergi sana sini, terlepas dari masalah pandemi yaaa.

Namun, semakin kita tua, saya semakin sadar bahwa lingkar pertemanan semakin menyempit. Yang pada zamannya dirasa sangat dekat, solid, best friends forever deh pokoknya, satu per satu terkikis. Hilang.

Faktor fokus tadi salah satunya. Prioritas masing-masing sudah bergeser. Keluarga, pekerjaan, dll. Akhirnya menempatkan perihal pertemanan di jajaran sekian, and I think that’s quiet normal.

Saya pribadi menerima kondisi ini, yaitu mengerucutnya dunia sosialisasi saat semakin menua. Terlebih untuk kami yang memilih ranah domestik, sangat terasa. Hanya saja, terkadang saya merasa rindu dengan kebebasan masa lalu. Ya, benar, saya rindu berkumpul dengan teman-teman, cerita ngalor-ngidul yang sedikit mengandung unsur gibah (Astagfirullah), bertemu tanpa banyak pertimbangan, ahhh.

Mungkin, tidak semua kondisi ibu ranah domestik sama. I mean, merasa sulit untuk bersosialisasi seperti ini. Jika saya lihat dari beberapa teman, masih juga ada yang berkesempatan untuk saling kumpul bersama. Namun, kebanyakan mungkin lebih seperti saya. Karena kadang saya melihat curhatan ibu-ibu di komunitas yang saya ikuti, memiliki keluhan sama.

Hidup ada fasenya.

Jika sesekali kita berlaku seolah ‘mengeluhkan’, mungkin itu hanya output dari adjusting diri ini yang sedang berusaha berdamai dengan kondisi. Buat saya, dalam level ini, mengeluh tak selamanya haram, selama kita tahu porsi keluhannya sejauh mana dan bagaimana.

Sama seperti saat kita bersin, batuk, itu respon yang timbul karena adanya benda asing yang masuk ke tubuh, bukan? Dan tubuh berusaha untuk menetralkan kembali, maka jadilah bersin dan batuk tersebut.

Begitu pun dengan psikis. Saat dihadapkan pada kondisi yang baru, tak sama seperti dulu, mental kita pun akan membaca screening ini yang kemudian mem-validasinya. Dan respon kita terhadap hal tersebut kadang kala berupa kesah sementara, ya, mengeluh.

Namun, kita ini kan masih diberi perangkat penyeimbang lainnya yaa, yaitu akal. So, ketika kesah timbul, tak apa untuk merilisnya, tetapi jangan lupa tetap membawa logika kita serta, agar keluh-kesahnya tidak lama-lama dan menjadi lebay. It’s okay not to be okay ^^


Thursday, January 28, 2021

Cintai Dulu, Menjadi Habit Kemudian

 

Picture by Sepositif

“Witing tresno jalaran soko kulino”

“Cinta itu tumbuh karena terbiasa”

Well, menarik!

Pikiran saya bukan ke soal pasangan laki-laki dan perempuan atau pun hal yang berkenaan dengan itu. Justru buah akal saya langsung menangkap hal lain, bahwa untuk membangun sesuatu menjadi kebiasaan, kita butuh cinta.

Sering berseliweran statement yang menyatakan jika kebiasaan dibangun dari konsisten dan komitmen. Namun, justru kedua hal tersebut yang sering melemah di tengah proses pembentukan kebiasaan itu. Akhirnya, kebiasaan pun tak terbentuk. Gugur sebelum berkembang.

Konsisten dan komitmen adalah hal teoritikal yang seolah mudah dijalankan. Dua padanan kata yang sederhana, tetapi kenyataannya, saat kita belum memiliki pondasi cukup kuat tentang suatu aktivitas yang akan kita jadikan kebiasaan tersebut, kekonsistenan dan komitmen akan menjadi bopong, kurang massa dan cenderung bersifat topeng saja.

Pepatah Jawa yang saya singgung di atas seolah memberi insight lebih mengenai pembentukan kebiasaan itu. Bahwa, konsisten dan komitmen akan bisa terlaksana jika memiliki dasar kuat dulu, let’s say that is love.

Saat kita mencintai suatu aktivitas secara mendalam, hal tersebut akan menjadi bahan bakar untuk lebih tough dalam mempertahankan kekonsistenan dan komitmen kita dalam melakukannya. Mungkin akan ada masa jenuh, down, hal manusiawi lain yang menjadi tantangan dalam usaha kita membentuk aktivitas tersebut menjadi suatu kebiasaan. Namun, jika benar-benar kita mencintainya, akan selalu ada jalan untuk kembali pada tujuan awal, meskipun terseok-seok.

Dan dalam hal ini saya bercerita tentang diri sendiri.

Kegiatan menulis bagi saya saat ini berada alam fase pembentukan habit. Ya, saya ingin menjadikan menulis ini bukan sekadar lepasan atau selingan saja, tetapi menjadi bagian dari hidup (habit artinya memaknai suatu kegiatan menjadi bagian dari hidup kita, bukan?)

Dalam pikiran saya selalu mensugestikan tentang konsisten dan komitmen. Terus mendoktrin otak saya dengan, “Ayo, dong, mana konsisten dan komitmen kamu, Nad!”

Yang saya peroleh adalah kelelahan. Betul. Saya berhasil melewati tahap per tahapnya. Saya menulis, mengikuti event atau pun challenge. Namun, seiring waktu, saya semakin kehilangan nikmatnya menulis itu sendiri. Bahkan, sempat ada masa di mana saya merasa bahwa menulis kini menjadi suatu beban. Lalu, di mana esensi menulis yang saya plot sebagai media reliever saya?

Jeda adalah jalan yang saya ambil. Sempat dua pekan (atau tiga pekan bahkan) saya break dari dunia menulis. Bukan benar-benar lepas dari kata per kata, tetapi saya hanya menulis semau saya, seenak saya. Sembari saya selami kembali makna menulis bagi saya personal itu apa, untuk apa, dan recall tujuan saya menulis di awal kenapa. Terakhir, saya juga berusaha gali lebih dalam, apakah benar saya menyukai dan mencintai kegiatan ini? Atau hanya sebatas trend?

Dan benar, hal pertama kita harus mencintai dulu apa yang kita kerjakan. Perkuat why-nya, bangun bonding-nya. Seperti dalam suatu hubungan, jika cinta sudah terbina, kekonsistenan dan komitmen pun akan lebih mudah direalisasikan.  Selanjutnya, kita akan terbiasa dengan keberadaannya, yang artinya, kehadirannya sudah menjadi kebiasaan bagi kita. See, habit comes after the love ;)

Tuesday, January 26, 2021

Obrolan Santai tentang Privacy

Picture by Pinterest

Beberapa hari lalu, saya sempat menyimak suatu obrolan santai sebagai konten dari sebuah channel di YouTube. Kebetulan, channel tersebut lumayan sering saya ikuti karena pembahasan yang menarik dan enak dalam penyajiannya mengenai dunia psikologi. Yup, benar, pemilik akun YouTube tersebut pun adalah seorang psikolog yang memang memiliki praktik konsultasi sendiri dan cukup popular di Indonesia.

Unggahan saat itu lebih menarik lagi perhatian saya. Pasalnya, Bu Psikolog tersebut melakukan kolaborasi dengan seorang content creator yang notabene salah satu favorit saya juga. Wow, what a duet!

Belum sempat melihat judul,  baru melirik thumbnail dari video tersebut saja, sudah mengotomatisasi jari ini untuk me-klik-nya dan mulai menyimak sambil bersiap masak. Thanks technology, membuat kegiatan ­emak-emak saya lebih berisi dan bernilai meski sambil melakukan aktivitas harian.

Sapaan psikolog cantik membuka obrolan santai di antara keduanya. Disahuti oleh sang bintang tamu dengan tawa renyah khasnya.

Obrolan berlangsung melalui layar. Terang saja, selain kendala pandemi, jarak pun menjadi ketidakmungkinan mereka berdua untuk bertatap muka secara langsung. Maklum, domisili Sang Psikolog di belahan Indonesia bagian Yogyakarta, sedangkan tamu virtualnya menetap di Hamburg, Jerman. Miles apart, for real.

Chit-chat mulai terdengar dari pengeras suara ponsel yang saya letakkan di phone-stand kesayangan saya. Saling bertanya kabar, suasana masing-masing tempat, kesibukan akhir-akhir ini, menjadi point yang saya tangkap di antara percakapan pembuka mereka. Saya suka. Meski hanya sebatas chit-chat, tetapi terdengar sangat elegan. Itu lah menurut saya kelebihan dari seorang yang cerdas, akan terpancar dari gaya komunikasinya.

Obrolan terus mengalir, yang sedikit banyak terselip isu-isu yang sedang santer akhir-akhir ini. Hingga terlontar satu pertanyaan yang sebenarnya masih sangat bersinggungan dengan bahasan yang mereka sedang bicarakan sebelumnya, “Nah, gimana tuh cara kamu ngadepin orang yang nanya : Kapan nih mau punya anak?" Begitulah kurang lebih konteks pertanyaan yang dilontarkan oleh Sang Psikolog kepada Sang Tamu. Kebetulan juga, bintang tamu ini adalah seorang yang sudah menikah, dengan background pernikahan yang tidak sederhana juga (suaminya berpindah keyakinan yang akhirnya bisa menggiring pasangan tersebut ke jenjang pernikahan). Namun, sampai saat ini belum pernah ada bahasan mengenai anak di setiap unggahan video di YouTube Channel-nya.

Saya masih menikmati konten yang sedang saya dengarkan ini, sambil memotong sayur-mayur dan sesekali melirik ke layar ponsel.

“Hmmm, sebenernya gue sama suami emang udah sepakat untuk ngejalanin kehidupan pernikahan yang CHILD FREE dan sampe keputusan ini dipilih pun pastinya kita berdua sudah memikirkan matang-matang dan juga observasi sana-sini.”

Saya sontak menghentikan kegiatan perpisauan saya, merasa terpanggil untuk menyimak dengan lebih fokus.

Child Free dalam suatu pernikahan bisa diartikan dengan lebih sederhana sebagai ‘tidak berekspektasi untuk memiliki anak/keturunan’. Gaya pernikahan seperti ini sebenarnya sudah cukup lumrah di dunia belahan barat sana. Namun, jika itu terlontar dari ucapan seorang Indonesia, dengan atribut reliji yang menempel padanya, yaitu hijab, membuatnya seolah terdengar ekstrim.

Perempuan berusia sekitar 25 tahunan itu menjelaskan bahwa memiliki anak bukanlah satu-satunya tujuan dari pernikahan. Masih banyak tujuan pernikahan lain yang bisa dikejar dan dilakukan.

“Dua tahun yang lalu gue sampe nanya ke nyokap : Ma, kenapa dulu mutusin buat punya anak? And surprisingly, jawaban mama juga kayak : Nah, itu, mama juga ga tau. Dulu itu kirain yang namanya nikah ya harus punya anak, begitu alurnya.”

Dari percakapan tersebut, Sang Konten Kreator ini seperti mendapatkan penguat tambahan untuk prinsip “ekstrim” yang dia pilih.

Saya terus ikuti alur obrolan antara psikolog dengan perempuan muda tersebut.

Yang membuat saya justru perpikir bahwa “Iya juga ya, sebenarnya menikah dan memiliki anak itu kan bukan suatu paket keharusan yang bersifat mutlak. Buktinya, bagi mereka yang tidak diberikan rezeki anak, tidak mengurangi esensi dari pernikahan itu sendiri, kan? Bukan berarti sakinah mawaddah dan rahmah menjadi suatu kemustahilan bagi rumah tangga mereka, kan?”

Begitu pun dengan kesiapan. Memiliki anak itu menurut saya sangat membutuhkan kesiapan yang matang. Anak yang dilahirkan bukan hanya sebatas harus diberi makan, dibesarkan secara fisik, and that’s all done. Ada kewajiban penyerta kita sebagai orang tua dengan lahirnya seorang anak. Harus dididik, dipenuhi kebutuhan batiniah dan akalnya juga. Dan yang lebih beratnya adalah pertanggungjawaban kita kelak kepada Allah SWT tentang anak yang kita besarkan. Mungkin bagi kebanyakan orang hal itu terdengar sederhana, tetapi bagi saya pribadi pun bahkan sangat berat, apalagi ketika sudah diberi amanah untuk menjalankannya.

Memiliki anak, begitupun dengan menikah, merupakan suatu pilihan yang sejatinya tidak digeneralisasikan sebagai suatu kewajiban. Karena tidak bisa dipukul rata kesiapan setiap personal mengenai keduanya. Jika dia masih melajang, untuk apa kita sibuk ingin tahu mengapa ia melajang saat usainya tak lagi muda? Pun saat melihat sepasang suami istri yang masih berdua saja, belum saya dapatkan fungsi dari pertanyaan, “Kapan punya anak?” bagi kedua belah pihak, baik pihak pasangan tersebut, atau pun pihak penanya. Lalu, untuk apa?

Saya tidak memandang salah sang konten kreator yang memilih jalan hidup seperti itu. Toh, itu adalah pilihan dia dan bahkan pasangannya pun menyetujuinya. Artinya, ada suatu alasan kuat bagi mereka untuk memilih jalan tersebut.

Jika dikatakan ekstrim, menurut saya, paradigma yang menjadikannya ekstrim atau tidak. Kultur budaya di Indonesia yang memang memaketkan plot kehidupan manusia secara pukul rata, membuatnya terkesan ekstrim untuk setiap fase yang tidak sesuai dengan alur tersebut. Apalagi, ketidaksesuaian tersebut memang dibuat secara sengaja.

Namun, berangkat dari kisah sang konten kreator tersebut, di mana ia dan suami yang berdomisili di Jerman, akan lebih mudah untuk menjalankannya. Terutama dalam hal menghadapi pandangan masyarakat sekitar.

Dan saya sendiri semakin miris dengan tingkat ke-kepo-an masyarakat kita. Terlalu ingin banyak ikut campur dalam ranah kehidupan orang lain, dengan berkedok peduli. Padahal, menurut hemat saya, peduli bukan dalam koridor seperti itu. Apalagi untuk hal yang dirasa belum berbenturan dengan aturan agama dan keyakinan, untuk apa sibuk mendikte? Betul?

Ahh, ini hanya suara isi hati saja. Karena terkadang saya pun agak gerah dengan ‘kepedulian’ orang-orang sekitar saya, yang alih-alih perhatian, nyatanya lebih ke arah menghakimi kemudian, duh!

Saturday, January 2, 2021

CERPEN : Cerita tentang Kotak Musik

 

Picture by Pinterest

             Kotak musik itu menjadi saksi akan satu fase kehidupan yang hampir terlupakan. Ya, teralihkan oleh fokus dunia untuk masa kini yang mengiming-imingi masa depan. Sedikit banyak membuat kita kurang menyadari bahwa ada bagian dari masa lalu pun yang mungkin layak untuk diingat. Dan di situlah dia berada. Di antara serakkan cerita lampau yang dibalut dengan bingkai kenangan.

***

                “Ini buat kamu.” Kedua tangannya menggenggam kotak berukuran sedang dengan tatapan agak malu. Kentara sekali berusaha untuk menyembunyikan air muka yang mungkin memerah, tetapi juga tak ingin melewatkan mimik gadis di hadapannya, aku.

                “Apa ini?” Bukan pura-pura tidak tahu. Kernyitan yang hampir menyatukan dua ujung alis ini menjadi bukti. Antara ragu untuk menerima kotak berbungkus kertas kado berwarna merah muda itu, atau lebih baik membiarkannya saja hingga pertanyaan terjawab satu per satu.

                “Ya, buka aja! Mudah-mudahan kamu suka.” Matanya menangkap pandangku. Saling beradu sesaat. Kemudian ia palingkan wajahnya ke arah luar jendela. Salah tingkah.

                Kelas itu kosong. Wajar saja, jam istirahat membawa hampir seluruh penghuninya menuju kantin atau sekadar mengembalikan buku perpustakaan. Kutahu dengan sengaja ia tetap tak beranjak mengikuti kawan-kawannya saat bel berbunyi tadi. Lebih memilih untuk menolak ajakan mereka dengan dalih melengkapi catatan pelajaran sebelumnya.

                Aku? Masih asyik dengan novel terbaru yang secara rutin kubeli setiap tanggal satu. Hasil menyisihkan uang jajan bulanan yang diberikan oleh papa. Dan di tanggal-tanggal itu, aku lebih memilih untuk membenamkan diri dengan bacaan hasil jerih payah, ketimbang berdesak-desakkan di kantin atau kegiatan lain ala jam istirahat.

                “Kado? Tapi ulang tahunku udah lewat, lho!” Tetap kedua tanganku tak berkutik. Kotak di hadapan masih tak tersentuh. Bukan karena tidak mau. Namun, jika dikatakan malu, ya aku pun begitu.

                Remaja di hadapanku hanya menarik seulas senyum yang terlihat kaku. Melirik ke sana dan ke sini, berusaha mengontrol diri. Dengan gugup diletakkannya kotak tersebut di mejaku. “Ngasih kado ga harus pas ulang tahun aja, kan?” Kemudian ia melengos pergi.

                Aku yang bingung dan penasaran, akhirnya meletakkan novel dan mulai mencari tahu tentang kotak di hadapanku. Kuangkat, sedikit kugoyangkan. Bunyi benda keras tumpul beradu dengan kertas karton terdengar. Diiringi sedikit dentingan yang sulit kutebak.

                “Apa sih ini?” Aku bergumam pada diriku sendiri sambil terus meneliti kotak manis yang kini telah berada di genggaman. Ragu-ragu kucoba mencari simpul lipatan. Rasanya sayang untuk merobeknya. Mungkin bisa sedikit kuintip melalui perekat yang kubuka perlahan. Saat mulai kutemukan simpul tersebut, bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Kelas mendadak riuh kembali. Kuhempaskan sesaat kotak merah jambu ke dalam ransel jinggaku, terlupakan hingga waktu pulang sekolah tiba.

***

Bel pulang sekolah memang dibuat lebih panjang dibandingkan bel istirahat. Menggema ke seluruh penjuru gedung bercat krem, yang disertai riuhnya para murid. Tak ada yang tak menantikan jam pulang sekolah, termasuk aku. Dengan sigap kurapikan buku pelajaran terakhir beserta alat tulisnya. Saat hendak kumasukkan ke dalam tas, tersembul kertas kado merah jambu yang membawa ingatanku kembali pada kotak pemberian tadi.

‘Oh, iya. Kado darinya belum kubuka.’ Masih monolog.

“Yuk, Di!” Ajakan sahabat untuk pulang bersama mengagetkanku. Kutepis lagi pikiran tentang kotak itu, segera membereskan seluruh perkakas belajar dan menyusul Isti yang telah menunggu di depan kelas sambil berbincang dengan kawan lainnya.

Kami berpapasan di gerbang sekolah. Kini aku yang tak mampu menangkap tatapnya. Menghindari lebih baik, sebelum ia bertanya tentang nasib kotak pemberiannya. Benar, yang masih belum kubuka sama sekali.

Namun, dia hanya tersenyum, seperti tahu tentang gelagatku. Dilajukannya motor tua pemberian ayahnya, tanpa meninggalkan sepatah kata. Oh, dia menyapa. Namun, bukan padaku, tetapi berpamitan kepada sahabat yang berjalan beriringan denganku, Isti. “Ti, duluan ya!” Dan melesatlah si roda dua.

‘Kenapa sih dia. Ngasih kado ke aku, tapi malah aku yang dicuekkin.’ Sedikit mendengus. Meski hanya di dalam hati.

Dan kami, aku dan Isti, meninggalkan area sekolah, menuju rumah masing-masing. Jarak yang tak terlalu jauh hanya membutuhkan kedua kaki untuk mengantarkan kami setiap hari.

Setibanya di rumah, langsung kumenuju kamar. Menyalakan pendingin ruangan, berganti pakaian, rebahan sejenak sebelum membantu mama menyiapkan makan malam yang kesorean. Seperti itu rutinitasnya.

Kotak itu kembali mampir dalam ingatan. Bangkit kembali dari rebahku, menuju meja belajar di mana ransel sekolahku bertengger di sana. Agak sedikit tak sabar kubuka tasnya, langsung kucari kotak merah jambu dengan tak mengindahkan buku-buku yang agak terlipat-lipat dibuatnya. Kotak itu berukuran sedang, seperti yang telah kuceritakan. Lumayan mengambil banyak ruang di tas yang tak begitu milikku.

Kembali meragu untuk membukanya, meski kini kotak merah jambu telah berada di pangkuan.

‘Hmm, buka aja, deh! Biar nanti pas dia tanya nasib kotak ini, aku bisa jawab.’ Benar-benar sesederhana itu pikiranku. Pikiran remaja kecil di bangku kelas tujuh.

Seperti niat di awal, kubuka lipatan per lipatan secara perlahan, hati-hati. Tak ingin merusaknya. Lumayan, mungkin bisa dipergunakan kembali bungkusnya nanti.

Sebuah kotak bertuliskan MUSIC BOX terpampang di sana. Aku tercengang sesaat. Yang kemudian kulanjutkan membuka kotak kardus yang kini sudah semakin memberikan pencerahan tentang isinya.

Kotak itu berwarna merah jambu, senada dengan kertas pembungkusnya. Saat dibuka, terdapat cermin kecil di alas tutupnya. Diikuti penari balet yang berputar-putar seperti mengikuti irama yang dihasilkan oleh seperangkat mesin yang tertanam di dalamnya. Mesin tanpa baterai, tetapi mampu mengalunkan nada klasik yang indah.

Dan itu adalah kotak musik pertamaku, yang sedari bangku sekolah dasar dulu sangat kuidamkan. Berdasarkan cerita komik yang membawa khayalku untuk memiliki benda serupa. Namun, belum berani untuk meminta mama atau papa, karena mereka pasti menanyakan fungsi dari setiap apa yang akan dibelinya.

Segera kuambil ponsel sederhana dengan gantungan kucing putih dari sisi lain meja. Kubuka halaman mengirim pesan, kuketik nama penerima [Dave Schoolmate], dilanjutkan dengan isi pesan :

[Hei, makasih banyak kadonya. Aku suka banget. Thanks.]

Kotak musik itu kini telah hilang ditelan pergantian generasi. Namun, karena ia adalah kotak musik pertamaku, kenangannya akan tetap tertinggal, meski sempat terkubur jauh di bawah gundukan kesibukan akan hidup di masa kini.

Karena yang pertama akan lebih berkesan, hukumnya tetap seperti itu.

Sunday, December 20, 2020

Episode Menemukan Titik Balik Kehidupan

 


K.L.I.P

Kelas Literasi Ibu Profesional.

Mendengar nama itu selalu membawa saya flashback ke bulan Januari 2020. Waktu di mana untuk pertama kalinya saya bertemu dengan komunitas ini dan serta-merta merasa bahwa : saya harus bergabung!

Berawal dari kembalinya saya pada dunia media sosial Facebook setelah sekian lama hengkang. Itu pun mengandung unsur sedikit paksaan, mengingat Ibu Profesional, komunitas yang baru saja saya ikuti kala itu, mengggunakan platform Facebook sebagai media pembelajarannya. Mau tak mau, saya kembali.

Tidak terlalu ingat bagaimana secara detainya, tetapi di suatu malam, ketika Anis sudah lelap dan memang waktu saya untuk bergeming dengan ­me-time, saya menemukan suggestion Facebook Group KLIP di jajaran beberapa grup lain yang masih berkaitan dengan grup Ibu Profesional. “Wah, klub literasi Ibu Profesional, nih! Boleh juga!” Begitu pikirku saat itu yang akhirnya menuntun jari-jari ini untuk menekan tombol “JOIN” di touch screen handphone saya.

Saya mempelajari komunitas ini, ternyata mereka membuat tantangan satu tahun menulis dengan perolehan badge setiap bulannya. Menarik!

Badge terkecil adalah badge “YOU ARE GOOD” yang dapat diperoleh dengan menyetorkan tulisan minimal 10 hari dalam satu bulan. Saya cek kalender saat itu, sisa beberapa belas hari sebelum Januari 2020 berakhir, hmm, saya masih ada waktu. Saya pun memulai tantangan tersebut, lebih tepatnya menantang diri saya sendiri, untuk menulis setidaknya 10 hari dalam bulan itu, agar saya dapat tergabung dengan komunitas. Dan Alhamdulillah, berjodoh. Tantangan Januari mampu terlewati, yang artinya officially saya telah tergabung di KLIP tersebut. Hal itu juga yang membawa saya pada whatsapp group para anggota lainnya. Dan di situlah titik balik hidup saya dimulai.

Sedikit lebih mundur lagi dengan waktu, berbicara alasan saya hengkang dari media sosial mau pun komunitas lainnya. Suatu situasi yang membuat saya benar-benar “merasa harus” menarik diri dari dunia luar. Tahun-tahun yang berat bagi saya saat itu. Namun, saya merasa bahwa menarik diri bukanlah solusi, maka perlahan masa denial itu mampu dikuasai oleh kondisi acceptance yang akhirnya mendorong saya untuk mencari kembali diri saya yang hilang.

Menulis, menjadi ide bagus bagi saya saat itu. Sebagai wadah melampiaskan rasa, unek-unek, ganjalan, ide, yang tak mampu diungkapkan secara lisan. Jadilah bergabungnya saya ke KLIP ini sebagai ajang untuk self-healing. Mengembalikan kebiasaan lama yang terkubur, yaitu curhat melalui kata. Yang ternyata membawa dampak sangat positif bagi saya.

Tak cukup di situ. Whatsapp group KLIP mengenalkan saya pada orang-orang luar biasa. Dari background pendidikan, budaya, daerah asal, yang berbeda, kami disatukan oleh tulisan. Dan sebagian dari mereka ternyata adalah penulis yang sudah menghasilkan karya. Baik berupa buku, jurnal-jurnal ilmiah, blog. Benar, mereka sangat profesional dengan tulisannya, dengan cara masing-masing. Padahal, kebanyakan dari mereka memiliki pekerjaan lain sebagai kewajiban utama. Ada yang sebagai dosen, dokter, pebisnis, karyawan, dan tentunya IBU RUMAH TANGGA. Dari rumah, sambil mengurus suami, anak-anak, mereka bisa menghasilkan sesuatu. Bisa menginspirasi banyak orang melalui untaian kata-kata yang mereka rajut. Setidaknya, menginspirasi diri sendiri tentunya.

Saya tergerak. Bertemunya saya dengan orang-orang hebat ini pastilah memiliki makna. Saya harus bisa mengambil hikmahnya. Benar, saya belajar dan berilmu dengan mereka. Tulisan-tulisan mereka saya baca, saya pelajari. Pun setiap kali saya merasa janggal tentang sesuatu, saya akan bertanya, atau setidaknya menyimak informasi dan ilmu baru yang berseliweran setiap waktu di WA Group tersebut. Untuk pertama kalinya setelah ”tidur panjang”, saya kembali merasa haus akan sesuatu. Mata saya kembali berbinar-binar. Saya menemukan kembali diri saya yang hilang.

Waktu terus berjalan, badge per badge diperoleh setiap bulannya. Yang artinya, saya mulai menulis dengan rutin. Dari mulai free-writing, hingga akhirnya saya menemukan “jati diri menulis” saya, yaitu fiksi, utamanya cerpen. Saya sempat lupa bahwa saya pernah sempat bermimpi menjadi penulis cerita, duluuuu sekali saat SD. Kini, seolah dipanggil kembali ingatan yang hilang itu.

Saya mulai mendalami cerpen, fiksi. Berdiskusi dengan anggota KLIP lain yang sudah lebih dulu menerbitkan karyanya, menggali latar belakang mereka menulis dan mem-publish tulisannya, cara dan jalan mereka hingga ke posisi tersebut, bagaimana membaurkan kewajiban utama dengan passion agar selaras dan saling mendukung satu sama lain. Saya yang sangat jauh di bawah amatir ini seperti menemukan hidden gem. Lebih jauhnya, saya pun terpantik untuk bisa berkarya melalui tulisan yang saya buat, bukan sekadar untuk konsumsi pribadi saja. Salah satu alasannya, dan itu alasan yang terinspirasi dari salah satu kakak saya di KLIP, Kak Rijo Tobing, yaitu ingin menorehkan nama-nama orang yang kita cintai di buku yang berisi tulisan kita. Kelak, jika menua nanti, buku tersebut akan menjadi bukti lain sejarah yang mampu ditunjukkan dan diwariskan kepada anak cucu kita. “Ini lho, Nak, ibu pernah menulis buku dengan namamu sebagai salah satu persembahannya.”

 

Dan adalah bulan Agustus 2020, cikal bakal karya pertama, berupa buku antologi hasil sayembara, diproses. Hingga akhirnya kini, di penghujung tahun, Desember 2020, Alhamdulillah telah terbit lima buku antologi dengan nama saya sebagai salah satu kontributornya, juga tertuliskan nama Muhammad Anis Assegaff di pojok persembahannya. 


Tak lupa, satu blog pribadi, yang meskipun masih belum begitu rutin dan aktif, tetapi akhirnya bisa memiliki blog yang benar-benar terisi, yaitu blog tempat saya menuangkan tulisan ini. Juga, satu blog komunitas, www.drakorclass.com, yang dirintis oleh Kak Risna dan kawan-kawan KLIP penggiat menulis dan menonton drakor. Menjadikan drama Korea bagian dari kreatif menulis. 

Alhamdulillah wa syukr untuk tahun ini. Terima kasih, KLIP. InsyaAllah bertemu lagi di tahun 2021 dengan ilmu dan kejutan lainnya. Super excited!!

 


Sunday, November 29, 2020

Family Potrait


Bismillah.

Family Potrait. Kadang, ketika saya melihat orang lain yang sepertinya banyak sekali moment yang diabadikan bersama keluarga dalam bentuk visual alias foto atau pun video, saya merasa ingin mengikutinya. Sayangnya, saya dan suami sama-sama tipikal manusia yang jika sedang menikmati sesuatu maka nikmatilah, jangan mau terganggu oleh hal lainnya, memotret misalnya. Sejak masa honeymoon #prikitiw hingga sekarang, prinsip itu masih kami pegang. Sebenarnnya untuk saya pribadi sih, hal ini bukan disengaja. Namun, secara alamiah mengalir begitu saja, menikmati kebersamaan, membuatnya berkualitas dan enjoyable hingga tanpa terasa waktu pun usai dan tak ada visualisasi moment itu sedikit pun. Hanya sebatas terekam dalam kenangan dan ingatan.

Keadaan makin didukung oleh suami yang tidak begitu senang berfoto, baik difoto maupun memoto. Sekalinya dimintai tolong untuk mengambil gambar saya atau Anis, hasilnya ya memang tak memuaskan hehehe. Jadi, semakin sulitlah kami mengoleksi moment dengan gambar.

Kecuali fitrah emak-emak saya sih tetap stay tune, ya. Hobi memotret anaknya pun menjangkiti saya. Hampir 80% bisa dibilang, isi gallery ponsel saya adalah foto Anis, mungkin seperti ibu-ibu kebanyakan lainnya.

Satu sisi, prinsip seize the moments ini bagus sebenarnya. During time, we literally could enjoy the moments itlself  fully, make it qualitied and worth to remembered. 

Namun, hanya sebatas itu!

Ketika saya ingin memanggil kembali memori tentang kejadian-kejadian di masa lalu, terasa tidak sempurna. Karena kurangnya gambar untuk mendukungnya.

Begitu juga dengan foto keluarga di handphone. Ketika orang lain meminta saya untuk mengirimkan foto keluarga kecil saya, selalu kesulitan. Perlu membuka file lama di gallery, saking jarangnya kami berfoto bersama.

Namun, hari ini kami membuat keseruan! Apakah itu? Jeng jeng jeng...

KAMI BER-PHOTOBOX  hahahaha.

Lebih mencengangkannya lagi, orang yang excited untuk melakukannya justru Pak Suami! Langka sekali, kan?

Sebenarnya, ini bukan kali pertama saya dan suami, juga Anis, ber-photobox. Namun, justru menjadi photobox kami terheboh sejauh ini. Mungkin karena Anis sudah lebih besar dan sedang masa-masa aktifnya, sehingga sulit sekali diajak bergaya bersama. Ditambah lagi, ukuran kami yang semakin mengembang #hahaha, membuat booth foto terasa sempit dan agak sulit bergerak wahahaha. 

Hal tersulitnya, sudah tentu adalah mengkondisikan Anis. Wah, LUAR BIASA! 

Boro-boro dia mau berpose dan tersenyum, yang ada malah kita heboh bertiga karena Anis terus-menerus memencet tombol-tombol yang berada di layar. Akibatnya, ter-capture-lah unready face kami, lebih banyak dibandingkan dengan wajah siapnya.


Alhamdulillaah, kami sangat menikmati event sederhana ini. Main purpose saya dan suami tetap bukan pada hasil jekrekan kameranya, tetapi pengalaman yang berbuah kenangan yang tak terlupakan, dan juga kebersamaan yang terjalin antar kami, menjadi point-nya.

So, kalian tim mana nih? 

Lebih memilih untuk banyak mengabadikan moment dalam bentuk gambar bersama keluarga, atau justru lebih menikmati kualitas dari kebersamaannya dan menyimpannya dalam memori saja?

Apapun itu, keep seizing the moments, yaaaa <3

Saturday, November 28, 2020

Keseruan Kelas Zoom Kaulinan Isteri Rumbel Boga Regional Bandung

Emak-Emak Kece Tukang Bikin Kue

Bismillaah.

Malam Minggu, nih! Pada ke mana kawan-kawan? Kalau saya sih stay at home aja. Karena kebetulan Pak Suami harus kerja, hujan seharian, dan angka Covid-19 lagi Siaga I di daerah saya. Serem juga, kan? Mugah-mudahan kita semua selalu diberi kesehatan yaaa :)

Eh, walaupun stay di rumah, tapi hari ini seru juga, lho. Sesiangan saya mengikuti acara Kaulinan Isteri Rumbel Boga Ibu Profesional. Apaan sih tuh? 

Jadi, Kaulinan Isteri ini merupakan salah satu program upgrading skill berjenjang di Rumbel Boga IP Regional Bandung. Programnya berjalan beberapa minggu dengan penyampaian dan pengupasan satu materi per minggunya. Kebetulan, minggu lalu Teh Tika sebagai pemateri kelas kali ini, berhalangan untuk menyampaikan materinya. Sehingga dirapel-lah materi minggu lalu ke minggu ini. Alhamdulillah-nya materi kemarin dan sekarang sangat relate sekali. Jadi, disampaikan berbarengan malah justru lebih nyambung dan mudah dipahami hihi.

Nah, tadi tuh kita bahas tentang bermacam metode baking dan kesalahan yang sering terjadi dalam baking. Wahahaha, saya yang awam per-baking-an langsung antusias dong pastinya. Maklum, selama ini bebikinan cake hanya bersandar pada arahan Om Google dan Mbah Youtube. Sering sukses sih Alhamdulillah, tapi lebih sering lagi gagalnya haha. Sedihnya adalah, saat harus gagal, karena keawaman diri jadilah bingung mau evaluasi dan memperbaikinya. Banter-banter akhirnya ganti resep untuk ke depannya >_< Ada yang senasib? 

Untuk itu, dengan mempelajari ilmunya, insyaAllah akan lebih mudah dalam praktik dan juga evaluasinya, betul? 

Kelas kali ini diadakan via Zoom. Uwow, pengalaman pertama juga sih buat saya tatap muka (walau tak langsung) dengan rekan-rekan serumbel yang selama ini hanya bersua via tulisan aja. Silaturahim terbentuk, bonding terbangun, bonusnya ilmu pula. Bahagia ga tuh?

Teh Nisa sebagai moderator sukses membawa kelas kali ini menjadi sangat interaktif. Pertanyaan dan diskusi pun lancar, seolah-olah menyuarakan isi hati teteh-teteh selama ini yang ternyata banyak yang senasib sepenaggungan dengan saya, sering gagal baking, haha. Alhasil, dua jam pun berjalan dengan tidak terasa sama sekali. Malah sebenarnya kurang sih. Karena sesi terakhir bahkan belum selesai, yaitu demo (bukan unjuk rasa-ahem) membuat cake dengan metode Sponge yang sedang hits, tetapi riskan gagal. Akhirnya, dilanjutkanlah diskusi yang seru itu ke whatsapp group Kaulinan Isteri. Hingga sekarang pun masih trang-tring berlanjut curcol emak-emak tentang kuenya, tuh hihi.

Dari materi kali ini, saya mendapatkan banyak sekali pembelajaran. Saya jadi kenal dengan istilah-istilah baking yang biasa digunakan oleh profesionalnya, seperti metode Sugar-Butter, metode Hot-Milk, folding, rub-in, shieve, dan masih banyak lagi. Hayoloh, ikut bingung ga yang baca? Itu baru dari metode ya. Belum lagi istilah dalam bahan kue, alat kue, bahkan nama-nama kuenya itu sendiri yang ihwow kadang mengucapkannya pun belibet nih lidah, wahaha. Makin yakin kalau sesuatu itu pasti ada ilmunya dan semua profesi itu ya hebat :)

Saya sendiri juga ikut memberondong Teh Tika dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama saya pendam, halahhh. Pertanyaan saya adalah tentang konversi ukuran jika menggunakan tepung lain, utamanya adalah oats halus, sebagai pengganti tepung terigu. Bagaimana cara membuat tekstur cake dengan bahan pengganti tersebut menjadi lebih acceptable dan mendekati hasil resep aslinya. Karena kan ceritanya saya ini sedang program mengurangi asupan Gluten untuk panganan rumah, tapi kendalanya adalah rasa dan tekstur dari bahan penggantinya itu belum bisa memberikan rasa seenak penggunaan tepung Gluten. Doh, ya, emang kan, yang namanya makanan kurang sehat itu pasti lebih menggoda huhu.

Selain itu, saya juga menanyakan cara membedakan mentega dan margarin yang masih bagus dengan yang sudah tidak layak guna, cara menentukan apakah suatu baking powder masih aktif dan juga penyebab turunnya kualitas dari bahan tersebut meski waktu simpan masih panjang. Bahkan, terjawab juga tuh isu mengenai bahan kue curah kurang bagus digunakan untuk produksi dibandingkan dengan bahan dengan pengemasan satuan. Weleh-weleh, ternyata bikin kue bukan hanya sebatas campur-campur bahan, masukkan oven, dan tadaaa jadi deh. Sungguh tak sesederhana itu Rosidah! Jika menginginkan hasil cake yang baik itu kuncinya adalah ILMU dan SABAR, kata Teh Tika juga. And I totally agree! wahahaha. 

Untuk isi materi, hasil diskusi, juga tips-tips baking hasil dari kelas Kaulinan Isteri hari ini insyaAllah akan saya bahas di tulisan lain. Tulisan ini sih lebih ke curhatan dan repostase haha.

Well, have a productive weekend, fellas

Friday, November 27, 2020

Selftalk is The New Monologue

Picture by Pinterest


Halo diri, Assalamu'alaykum.
Terima kasih untuk selalu berusaha menjadi diri seutuhnya meskipun dalam suasana tak memungkinkan. 
Setidaknya, kau terus mencoba.
Hari-hari ini tak begitu baik bagimu, kutahu.
Ada fase tak biasa sedang kau hadapi.
Tentang penerimaan diri dan juga keraguan atasnya.
Kau pun sendiri bingung mengapa itu bisa terjadi.
Pun bagaimana cara dealing dengannya.
Tak ada yang menginginkan situasi ini, tetapi saat ini kau ditakdirakan untuk menghadapinya.
Maka hadapilah.
Tanpa perlu terus merasa kuat, merasa tahu, merasa baik-baik saja.

Kadang kala, mengakui kelemahan diri itu perlu.
Memanusiakan dirimu sendiri, agar ia tak lupa.
Hidup bukan jalan tol yang akan terus lancar.
Eh, bahkan jalan tol pun tidak bisa dikatakan bebas hambatan, bukan?
Gagal, tak sesuai harapan, lelah, kesal, bagian dari fitrah manusia.
Kau pun manusia, hei wahai diri!
Tak apa-apa, wajar adanya.

Mengenai pilihan dan kondisi yang membuat ragu kemudian.
Ada alasannya.
Karena kau bertumbuh, semua berkembang.
Pasti akan terjadi perubahan cara validasi, atau sekedar opini tentangnya.
Makhluk dinamis adalah dirimu, diri setiap insan.
Jika dulu kau begitu menginginkannya, dan lalu kini kau mempertanyakannya, itu bukan salahmu.
Memang seperti itu akan terjadi, apalagi di dunia yang sarat informasi saat ini.

Diri, jika kau bingung, menepilah sejenak.
Pejamkan mata, tarik napasmu 4 detik pertama.
Tahan 7 detik selanjutnya.
Lepaskan perlahan dalam 8 detik kemudian.
Lakukan lagi, lagi, hingga kau temukan sosok kecil dirimu di sana.
Yang kan kau sapa ia, rangkul ia.
Hai, my inner child, there you are.

Kebuntuanmu akan terjawab.
Dengan waktu dan sedikit komunikasi bersama inner child-mu.
Tak lain tak bukan hanya meluruskan apa yang terlihat tak sesuai.
Mengisi apa yang kosong.
Menambal apa yang bopong. 
Membayar yang masih terhutang.

Buah pikirku, inner child bukanlah suatu excuse akan realita.
Objek empuk untuk disalahkan jika hidup sedang di luar jalurnya.
Bukan, tak seperti itu ia berfungsi sesungguhnya.
Justru ia terpanggil untuk berangkulan.
Mendiskusikan antar raga yang sama dalam dua generasi dan menyelaraskannya.
Jika kau kenal istilah support system, maka inner child-mu adalah bagian dari padanya.
Percayalah.
Ia akan memberi cahaya untuk kekalutanmu saat ini, bila kau bisa mendiskusikannya.
Bukan sekadar terpuruk dan kemudian memusuhinya.
Tak benar rasanya jika kita memusuhi diri kita sendiri, bukan begitu?

Larut.
Kini malam semakin mengelam.
Hujan masih mengguyur.
Menemani deretan kata, kegundahan, juga percakapan tanpa bahasa kita.
Cukupkah?
Saatnya ragamu meminta jatah.
Ia pun lelah, butuh sedikit rebah.
Jemputlah chapter lain dari cerita kita esok hari, wahai diri.
Namun, saat ini, biarkan kita merengkuh mimpi.
Selamat malam dunia, selamat malam diri.

P.S: You know I love you that much, hah? Because I have to love myself ...




Wednesday, November 25, 2020

CERPEN : Bullying!

  
Picture by Pinterest

  "Heh, ngapain lo sekolah di sini? Lo tahu, kan, kalo sekolah ini tuh sekolah elit? Anak panti asuhan macem Lo beneran ga pantes, deh!" Salah satu dialog di skenario hidupku sejak menjadi murid di SMA Lab Class. Masih banyak dialog serupa yang kudapat setiap harinya. Yah, aku Si Yatim Piatu yang berasa menang lotere karena sedikit keenceran otakku, yang akhirnya bisa bergabung di sekolah terbaik di Jakarta selama sepuluh tahun terakhir ini. Senang, sudah pasti. Namun, hidup tak akan menjadi benar-benar hidup jika terlalu mulus tanpa kerikil.

    Sebenarnya, aku tak sepenuhnya yatim piatu. Lebih tepatnya, belum dapat kupastikan itu. Karena keberadaanku di Panti Asuhan Puan Kenanga ini memiliki alasan sedikit dramatis, cukup mirip dengan kisah di sinetron yang tayang setiap hari. 

    Dibuang. Apakah kata itu cukup kasar untuk digunakan pada manusia? Sepertinya begitu. Namun, kenyataannya memang aku adalah anak yang dibuang. Di usia yang masih bayi merah saat itu, ibu kandungku membiarkanku tergeletak di bawah pohon beringin tepat di depan gerbang panti ini. Hanya beralaskan selimut lusuh dan kardus. Seperti itu cerita yang kuperoleh dari kepala panti saat kupaksa untuk buka suara tentang asal-usulku secara rinci.

    Kenyataan pahit dan juga kehidupan keras di panti asuhan sedikit banyak telah membentuk mentalku menjadi kuat, terlalu kuat, hingga cenderung kaku. Aku menjadi sosok yang tak mudah untuk meneteskan air mata. Bagiku, masalah yang terjadi kini sangat tak ada apa-apanya dibanding rasa sakit hati yang telah kupendam dan berusaha kukubur bertahun-tahun ini. Benar, rasa sakit karena terbuang itu memang luar biasa. Apalagi dilakukan oleh figur yang seharusnya dielukan, orang tua.

    Kabar baiknya adalah, segala bully-an yang kudapat selama bersekolah di sini pun menjadi tak begitu membebani. Aku tetap dapat berjalan dengan tenang melewati mereka yang menatapku dengan picingan mata sinis berikut mulut pedasnya. Apa yang harus kurisaukan, bila segala yang mereka katakan adalah realita. Membantah pun tak akan menghapus realita tersebut, bukan? Aku terima, pada awalnya.

    "Gis, sini, deh! Gabung sama kita, yuk! Pulang sekolah kita mau hang out bareng di apart Indra. Seru-seruan aja, nonton kek, renang kek, have fun. Lumayan hiburan juga sebelum UAS minggu depan." Ada yang aneh kutangkap. Veria, salah satu dari populasi yang sangat gencar mem-bully-ku, kini sangat ramah mengajak untuk bergabung bersama genk-nya. Serius, ini kali pertama kulihat ia semanis dan seramah ini padaku.

    "Iya, yuk, gabung! Lo ga penat apa seputar panti dan sekolah doang tiap hari?" Sissy, sahabat dan juga bagian dari genk-nya pun ikut menimpali. Bahkan, ia menggenggam lenganku seolah kita adalah dua kawan dekat sejak lama. Ada apa ini? Batinku tetap merasa janggal. Namun, dorongan dari mereka yang kerap dan intens, juga sikap hangat semuanya, membuatku berpikir untuk mencoba. Mengapa tidak? Toh, mereka juga temanku, kan? Mungkin mereka sudah lelah untuk mengejekku yang sudah dipastikan tidak memberikan respon apa-apa dariku. Manusia berubah dan itu wajar. Kuiyakan ajakan mereka.

    Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Kumasukkan beberapa buku dan alat tulis ke dalam tas ransel berwarna merah yang telah usang dan lusuh. Maklum, tas itu sudah kupakai sejak SMP kelas tujuh, dan kini aku berada di bangku kelas sebelas SMA, empat tahun lalu.

    "Gis, kita tunggu di parkiran ya, gue mau ke kelas sebelah dulu," ucap Veria seolah mengingatkanku kembali pada ajakan yang diajukan saat jam istirahat tadi. Veria berlalu diikuti oleh beberapa Tiara, Rose, Mia, dan Sissy, yang kesemuanya pun menyunggingkan senyum yang sama. Kejadian langka, pikirku. Aku merasa sedikit senang, tak bisa kupungkiri. Akhirnya, segala bentuk ejekan, bully-an, hinaan padaku di sini akan segera berakhir. 

    Terparkir tiga mobildengan tipe dan merek ternama di parkiran, sesuai yang diinfokan oleh Veria sebelumnya. Salah satu mobil itu tentulah miliknya. Anak seorang pengusaha tambang emas dirasa wajar untuk memperoleh fasilitas seperti itu dari ayahnya. Apalagi, ibunya pun merupakan wanita sukses dengan gerai salon kecantikannya yang tersebar di mana-mana. Harga satu mobil mewah ini tak sebanding dengan omset yang mereka peroleh setiap bulannya kurasa.

    Mobil kedua adalah milik Mario, pacar Veria. Indra sebagai pemilik apartemen yang akan kami gunakan saat ini, adalah sahabat Mario. Kebetulan, mereka berbeda kelas denganku dan Veria. Namun, sejak Veria dan Mario berpacaran, secara otomatis genk binaan keduanya pun berbaur lebih dekat. 

    Mobil terakhir agak asing bagiku. Seorang lelaki dan beberapa rekannya berada di bangku penumpang dengan menggunakan seragam yang berbeda dengan kami. Asumsiku, mereka berasal dari sekolah berbeda. Namun, alasan apa yang membuat mereka bisa bergabung dengan murid sekolah ini, aku pun tidak tahu.

    "Hey, ngapain bengong di sini. Yuk, ke sana!" Tetiba suara Sissy mengagetkanku dari arah belakang. Tepukan tangannya di pundakku membuat sempurna kekagetan ini. Aku membetulkan tas ransel yang sedikit melorot, kemudian mengikuti Sissy ke arah jejeran mobil mewah bersama kawanannya.

    Agak canggung. Aku tak pernah bergaul dengan kalangan mereka sebelumnya. Bagaimana bisa bergaul, menatap wajah mereka pun aku ragu, karena sudah pasti hinaan dan cibiran yang selalu kuterima kemudian. Namun, kali ini sangat berbeda. Mereka semua duluan menyapa. Betul, SEMUA! Bahkan Mario, Indra, Marvin dan Vino, orang-orang yang tak pernah bertukar kata ataupun tatap sebelumnya, ikut menyapaku. 

    Kini, rombongan tiga lelaki dengan dua perempuan yang berbeda seragam dengan kami, ikut keluar dari mobil ketiga dan saling sapa serta berkenalan. Kecanggunganku memudar. Meski tak banyak bicara, aku sudah mampu menatap wajah mereka. 

    "Yok, kita capcus, guys!" Suara Veria mengambil alih perhatian kami. Satu per satu masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pergi. 

    "Hm, Gis, Lo di mobil Jess, ya! Kebetulan mobil gue udah penuh, nih." Veria menginstruksikanku untuk pergi dengan mobil ketiga, mobil paling besar di antara yang lainnya. Memang benar, di kursi pengemudi tentu Veria. Di sebelahnya, telah duduk manis dengan seatbelt terpasang, Sissy. Di kursi belakang, terisi penuh oleh Rose, Tiara dan Mia. 

    Sesaat aku ragu. Namun, kemudian Veria dan Sissy meyakinkanku dengan berkata bahwa kita akan bertemu kembali di tempat tujuan yang tak begitu jauh dari sekolah. Hanya membutuhkan sekitar 30 menit untuk mencapai apartemen milik Indra dan kita akan bersama lagi. Dan akhirnya aku pun mengikuti apa yang diaturkan olehnya.

    Tiba di ruangan cukup luas dengan tiga kamar tidur berisi furnitur bergaya modern minimalis. Unit milik Indra, atau mungkin milik orang tuanya, entahlah, berada di lantai 15. Pemandangannya luar biasa. Terlihat city view yang penuh dengan gedung-gedung megah. Aku takjub dengan pemandangan ini. Karena pemandangan kamarku sehari-hari adalah perkampungan kumuh di bantaran sungai yang berwarna cokelat. Jika hujan deras tiba, bersiaplah air masuk ke celah pintu dan membawa bau yang tak sedap.

    Aku duduk di sofa berwarna biru tua yang sangat empuk. Tak tahu apa yang harus diperbuat. Yang lain? Ada yang segera ke dapur, ke toilet, ruang tidur, dan balkon. Aku merasa sedikit terkucilkan. Tidak seperti sebelumnya, yang sangat hangat dan ramah untuk mengajakku ke sini. Kini, mereka seperti asyik masing-masing.

    "Gis, sini!" Aku menangkap suara Indra memanggil. Aku mencari arah suara dan kudapati ia di depan kamar utama, kamar paling besar dengan kamar mandi pribadi di dalamnya. Aku bangkit dari dudukku dan menghampirinya. Kudapati Veria, Mario, Sissy, Marvin, menuju arah yang sama. Yang lain, menatapku bergerak dengan tetap menghisap rokok yang berada di kepitan jemari mereka. 
Tatapannya aneh. Seperti hendak melihat pertunjukkan menarik dalam beberapa saat lagi.

    Indra menarik tanganku. Aku kaget. Ingin melepaskannya, tetapi genggaman itu terlalu kuat. 

    "Udah, siniii," ajaknya sambil menyeretku ke arah kamar utama. Tangan kirinya menggenggam puntung rokok yang belum dibakar, yang kini ia sematkan di mulutnya.

    "Eh, bentar, ke mana ini?" tanyaku mulai panik.

    Tarikan tangannya kian kuat, membawaku pada kamar luas dengan Jess di dalamnya. Aku dihempaskan ke ruangan itu, hingga tubuhku terjatuh ke kasur ukuran besar yang sangat nyaman dan lembut. Ketika hendak kubangkit dan keluar dari kamar, Indra telah menutupnya dengan suara dentuman keras yang diikuti suara kunci dari luar. Kini hanya ada aku dan Jess di dalam. Juga teriakan dari balik pintu kamar yang sangat menyayatku. "Enjoy, Jess! She is for you!" Diikuti gelak tawa yang bersahut-sahutan, membuat kepalaku berputar dan perutku melilit karena panik dan marahnya. Dan semua itu malah membuatku semakin tak berdaya.

    Yang kuingat, lelaki di hadapanku ini menenggakkan minuman beraroma tajam dan berasa pahit ke mulutku. Setiap tegukan yang masuk ke dalam kerongkongan dan lambungku membuat kesadaran menurun. Hanya perasaan melayang dan euphoria yang kudapati, aku seperti terbang. Dan kemudian semua berlalu tanpa kutahu pasti kejadiannya. Yang kudapati saat terbangun dan tersadar, tubuhku hanya dibalut selimut wangi tanpa sama sekali busana menempel di sana. Seragamku teronggok di lantai bersama pakaian dalamku, juga seragam lain yang kutahu itu adalah milik Jess, yang ternyata tertidur juga tepat di sebelahku.

    Aku menangis sejadi-jadinya. Tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Tangisanku membangunkan makhluk yang tertidur di sebelahku. 

    "Ssstt, berisik amat, sih! Diem ga, Lo? Gue capek, nih!"

    Aku semakin terisak.

    "Diem! Ngaapain, sih, Lo nangis-nangis, hah? Tadi aja Lo nikmatin, kok! Jangan sok suci deh sekarang pake nangis-nangis segala!" Bentakannya membuatku semakin kacau.

    "Hehehe, kalo Lo ga diem juga, gue sebarin, lho, video hot kita tadi, mau?" Kini bukan sekadar bentakan, tetapi berupa ancaman. 

    "Video? Apa maksudnya?" Aku tak habis pikir.

    Jess mengambil ponsel yang tergeletak di nakas sebelah kasur, mengotak-atik sesaat, dan kemudian menunjukkan sesuatu padaku.

    "Nih, liat! Wow, Lo kece juga ya permaenannya. See, girl! You enjoyed it a lot." 

    Video berdurasi sekitar dua menit itu sungguh membuat isi perutku ingin keluar. Aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua. Tawa jahat Jess mengiringiku. 

    "Makanya, diem, okey! Tutup mulut, atau video ini gue viralin di mana-mana, hahahaha" Gelak tawanya menyadarkanku bahwa aku dijebak. Bukan oleh Jess saja, tetapi juga Veria, Mario, Indra, Sissy, dan yang lainnya. Kebaikannya hanyalah alat untuk menggiringku pada perangkap ini. Kenapa? Kenapa mereka sebenci ini padaku? Apa salahku pada mereka? Apa hanya karena aku si anak panti dan yang bahkan dibuang oleh orang tuanya sendiri? Apa karena itu?

    Tangisku tak dapat lagi tecurahkan. Air mata seolah kering. Kupandangi tubuhku di cermin besar kamar mandi mewah ini. "Lo udah ga ada harganya lagi, Gis! Semua udah selesai!" teriakku dalam batin.

    Sebilah pisau cukur yang memungkinkan untukku cukil dan kuambil mata pisaunya. Kunyalakan shower dengan debit air terderas. Kududuk di bawah kucuran air dingin yang tak terasa dingin sedikit pun olehku. Kulemparkan senyum ke arah tak pasti, dan kuayunkan bilah pisau yang sangat tajam tepat di nadi pergelangan tangan kiriku. Hangat. Cairan berwarna merah membanjiri bath tub, bersenyawa dengan air, mengalir menuju lubang pembuangan. Kian deras dan kental. Mengantarkanku pada masa transisi antara bernyawa dan tidak. 

    Tak lama kemudian, seluruh organ tak mampu lagi melakukan fungsinya, sebab tak ada lagi pompaan darah yang mengalir ke seluruh bagian tubuh lainnya. Habis, terbuang ke dalam pusara air, membawa serta sakit hati dan amarah tak terlampiaskanku.

    Untuk kalian yang telah merencanakan semua ini, "Terima kasih, kini kudapat terbebas dari jahatnya dunia beserta isinya."