Tuesday, March 9, 2021

RESUME DAY-2 ZONA 7 : Pendidikan Seksualitas Sejak Dini

 

Picture by freepik

Bismillaah.

Parade Live Zona 7 Institut Ibu Profesional mengenai Pendidikan Seksualitas hari kedua telah digelar. Topik yang diangkat adalah ‘Pendidikan Seksualitas Sejak Dini’ dengan penyaji materi dari Kelompok 7 (IP Batam, IP Bontara, IP Cianjur, dan IP Cirebon Raya). Lima orang presentator lintas regional yang bertugas kali ini adalah  Mbak Ashriati, Mbak Wati, Mbak Miranti, Mbak Aliftah dan Mbak Romiyatul menyampaikan materi secara bergiliran selama kurang lebih 38 menit.

Dalam topik 2 ini saya dapat merangkum beberapa hal:

1.        Pendidikan seks dan pedidikan seksualitas adahal berbeda. Pendidikan seks lebih ke pengenalan organ seks dan reproduksi sedangkan pendidikan seksualitas mencakup karakter.

2.      Maraknya kekerasan seksualitas pada anak menjadi salah satu alasan terbesar pentingnya edukasi mengenai seksualitas sedini mungkin.

3.      Mengenal keluarga dan lingkungan sekitar merupakan salah satu kurikulum dalam pendidikan seksualitas pada anak. Nantinya, anak diharapkan mampu membangun rasa aman ketika bersama keluarga sehingga keterbukaan lebih mudah tercipta.

4.      Klasifikasi pendidikan seks anak usia di bawah enam tahun terbagi menjadi dua, yaitu untuk rentang 0-2 tahun dan 3-6 tahun.

5.      Pada usia 0-2 tahun, anak dikenalkan tentang nama dirinya, kemudian dikenalkan juga orang tuanya, serta dibangun bonding antar anak dan orang tua.

6.      Pada usia 3-6 tahun, anak mulai mengenal lingkungan lebih besar, seperti keluarga besar, kakek, nenek, paman, tante dll, dan mulai diberi gambaran tentang perbedaan mereka berdasarkan seks (jenis kelamin). Semisal, ayah itu laki-laki, ibu itu perempuan. Selain itu, anak mulai diajarkan tentang organ tubuhnya dan dijelaskan mana saja yang boleh dipegang dan tidak boleh dipegang oleh orang lain, berkenaan dengan anggota tubuh tersebut.

7.      Mengenal keluarga besar sangat baik dalam pengenalan seksualitas pada anak karena dari kelompok orang terdekat yang lebih besar, anak akan diberikan kesan bahwa ia tidak sendiri, masih banyak orang di sekitarnya yang sayang padanya, dan itu bukan hanya keluarga inti saja. Selain itu, dari mengenal keluarga besar, anak akan mendapatkan lebih banyak role model untuk lebih mengenal perbedaan laki-laki dan perempuan secara riil.

8.      Cara mengenal anggota keluarga dapat dibantu dengan media (foto, video, video call dll) dan juga dengan dibuatkan family tree. Jika memungkinkan, tatap muka akan lebih baik agar bonding juga terbentuk.

9.      Membentuk suasana yang hangat, saling menyayangi antar anggota keluarga di rumah (terutama ayah dan ibu), dan menunjukkannya (dalam batasan) di hadapan anak, akan membantu dalam proses pendidikan seksualitas. Selain itu, usahakan untuk selalu mengisi penuh tangki cinta sang anak sehingga ia tak perlu mencari-cari kasih sayang dan cinta dari luar yang cenderung lebih riskan.

10.   Membiasakan anak untuk tidur terpisah dapat membantu anak melatih kemandiriannya dan juga menghormati privacy anak.

11.     Cara membiasakan anak tidur terpisah jangan serba mendadak dan terpaksa yang jutsru akan membuat anak trauma. Justru bertahap dan konsisten dalam sounding.

12.    Diharapkan pada usia 7-10 tahun anak sudah benar-benar bisa tidur sendiri. Oleh karenanya, pembiasaan dapat dilakukan lebih dini dari itu, misalnya sejak usia 3 tahun.

13.   Membangun keterbukaan di dalam rumah (keluarga inti) sangat penting dalam membantu anak belajar waspada terhadap ancaman luar berkenaan dengan seksualitas. Waspada bukan berarti was-was, artinya, anak tetap harus diajarkan juga untuk mengenal orang lain dengan percaya diri, luwes, tetapi tidak melewati batas.

14.   Itulah mengapa, pengenalan tentang batasan mengenai mana tubuh yang boleh disentuh dan tidak, siapa saja yang boleh menyentuhnya dan alasannya, perlu terus disosialisasikan pada anak hingga menerap dalam alam bawah sadarnya.

Allahu’alam bi shawab.

Monday, March 8, 2021

RESUME ZONA 7 DAY-1 : Pemahaman Perbedaan Gender


Bismillaah.

Parade Live Zona 7 Institut Ibu Profesional mengenai Pendidikan Seksualitas hari pertama telah diselenggarakan. Topik yang diangkat adalah ‘Pemahaman Perbedaan Gender’ dengan penyaji materi dari Kelompok 1 (IP Aceh, IP Ambon. IP Bali, IP Balikpapan dan IP Bangka Belitung). Lima orang presentator lintas regional, yaitu Mbak Chintya, Mbak Suci, Mbak Rika, Mbak Endah dan Mbak Sonia menyampaikan materi secara bergiliran selama kurang lebih 40 menit.

Dalam topik 1 ini saya dapat merangkum beberapa hal:

1.        Definisi gender memiliki beberapa klasifikasi, yaitu Gender Biology, Gender Identity dan Gender Expression.

2.      Gender biology merupakan pehamanan gender yang dinisbatkan pada istilah seks atau jenis kelamin. Jadi, gender biology mengarah pada hal fisik yang berkenaan dengan anatomi tubuh manusia.

3.      Seks, gender dan orientasi seksual merupakan tiga hal berbeda yang memiliki keterkaitan satu sama lain.

4.      Seks adalah jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan, yang ditentukan dari segi biologis dan berkaitan dengan karakter dasar fisik dan fungsi yang dimiliki oleh setiap manusia. Seks bersifat mutlak dan permanen.

5.      Gender secara umum lebih dimaknai dengan identifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya. Jadi, gender sangat erat kaitannya dengan konstruksi masyarakat dan cenderung bersifat dinamis / berubah-ubah. Hal ini berkenaan dengan peran seks di lingkungan, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional.

6.      Orientasi seksual adalah rasa ketertarikan secara seksual maupun emosional terhadap jenis kelamin tertentu. Sejauh ini telah dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu heteroseksual, biseksual dan homoseksual. Terbentuknya orientasi seksual ini dapat dilatarbelakangi oleh faktor lingkungan, emosional, hormonal dan biologis.

7.      Dengan memahami gender, maka anak akan mampu mengenali identitasnya. Hal ini sangat berpengaruh pada proses terbentuknya orientasi seksualnya.

8.      Pemahaman akan gender akan membawa dampak besar dalam kehidupan sosial dari anak itu sendiri, seperti cara mereka bergaul dengan lawan jenis atau pun sesama jenis, cara berinteraksi dan juga bersikap, juga dalam hal mengemban tanggung jawab moral terhadap diri sendiri dan lingkungannya yang beragam.

9.      Dalam tahap pengenalan gender sangat dibutuhkan komunikasi produktif agar tujuan dapat tercapai dengan baik dan tidak menyimpang.

10.   Terdapat tiga metode yang bisa digunakan dalam upaya pengenalan perbedaan gender pada anak, yaitu Metode Modelling, Metode Perlakuan dan Metode Permainan Peran (Dramatisasi).

11.     Tidak memberikan stigma tabu pada pembahasan gender.

12.    Tidak melibatkan stigma negatif stereotipe dalam mengenalkan gender pada anak, seperti misalnya anak laki-laki tidak boleh menangis.

13.   Sebelum mengenalkan pemahaman mengenai gender dan seks pada anak, baiknya orang tua me-upgrade ilmu terlebih dahulu mengenai hal tersebut sehingga tidak terjadi penyampaian yang menyimpang.

Allahu’alam bi shawab.

Sunday, March 7, 2021

ZONA 7 : Peran Ayah dalam Seks Edukasi

Picture by pinterest

Bismillaaah.

Bicara tentang keluarga, bagi saya merujuk pada suatu tim. Dibutuhkan kerja sama, saling memberi dukungan satu dan yang lainnya, jika ingin keutuhannya terjaga dan atau tujuan tercipta.

Begitu pun dalam hal kepengasuhan. Anak yang merupakan buah hati dari sosok ibu dan ayah, sudah seharusnya juga menjadi tanggung jawab bersama dalam konteks kepengasuhannya. 

Lebih spesifik, mengenai pendidikan seks anak. Bagi saya, baik ayah mau pun ibu memiliki main role untuk semua anaknya, laki-laki mau pun perempuan. Karena untuk ke depannya, semua anak harus terbiasa dengan gender yang ada di masyarakat, dan cara dealing sengan keduanya.

Suami saya Alhamdulillah memiliki pandangan dan paham yang kurang lebih serupa dengan pandangan saya mengenai aktivitas pengenalan seks dan seksualitas pada Anis. Sehingga, satu tahap sudah mampu kami lewati, yaitu proses penyelarasan pikiran.

Menyamakan persepsi antar suami-istri itu sangat penting dan mendasar. Nantinya, arah tujuan akan lebih mudah dinavigasikan jika goal telah sama. Misal, suami pro dengan pilihan untuk memisahkan kamar anak sejak usia dini, sedangkan sang ibu sangat kontra dengan hal tersebut. Goalnya adalah membiasakan untuk memberi ruang privacy bagi anak dan juga orang tua. Namun, karena kondisi seperti di atas, goal tersebut akan terkendala. Bagaimana bisa goal terpenuhi bila yang satu ingin anak pisah kamar sedangkan yang lainnya ingin anak tetap bersama.

Selain itu, peran seorang ayah pun penting dalam memberi pandangan pada anak tentang keseimbangan antara fungsi laki-laki dan perempuan di kehidupan. Anak akan melihat bagaimana ayanya membawa peran sebagai ayah, suami, laki-laki, yang saling mengisi dan mendukung dengan peran ibu, istri, dan perempuan.

Peran ayah lainnya tentu sebagai "sahabat" bagi anak, mungkin lebih spesifik untuk anak lelaki. Tempat mereka mendiskusikan topik yang agak privacy, dan cenderung kelaki-lakian. Beberapa anak laki-laki akan merasa lebih nyaman untuk bertanya dan membicarakannya dengan ayah mereka ketimbang ibunya. Karena merasa "sama".

Peran yang tak kalah penting adalah sebagai partner diskusi dan tukar pikiran bagi ibu. Ya, benar. Kadang, saya butuh point of view lain dari suatu hal yang terjadi pada Anis. Saya akan bertanya pada suami dan meminta pendapatnya. 

Selain mengemban peran sebagai pihak yang sama, seorang ayah pun memberi peran oposisi di lain pihak. Ayah akan ikut mengontrol perkembangan seksualitas pada anak dalam berbagai aspek. Salah satunya mengenai pergaulan antar lawan jenis. Jika ada sesuatu yang kurang tepat, seorang ayah akan menegur dan memberi tahu mana yang seharusnya.

Ternyata, peran seorang ayah pun tak kalah penting dengan peran seorang ibu. Masih banyak tentunya peran detail lain yang rasanya akan sangat panjang mengisi list "peran ayah terhadap pendidikan seks dan seksualitas anak" jika harus dijabarkan.

Namun, dari beberapa yang telah saya angkat pun, kita dapat menarik kesimpulan bahwa tugas pengenalan seks dan seksualitas pada anak ini adalah tanggung jawab ayah dan ibunya. Tidak ada kecenderungan lebih penting salah satunya.

Maka, eksistensi ayah pun sangat diharapkan berperan aktif dalam role pengenalan dan pemahaman seks anak dalam keluarga agar anak pun tidak merasa kehilangan sosok panutan.

Allahu'alam bi shawab.



Saturday, March 6, 2021

ZONA 7 : Tantangan dalam Membumikan Seks dan Seksualitas pada Anak

love my body
Picture by Amazone

Bismillaah.

Cukup banyak telah kita bahas mengenai pemahaman seks, seksualitas, gender dan fitrah. Wah, lumayan berat ya materinya. Terkesan berat karena kita harus melawan arus paradigma masyarakat. Yup, tentang ke-tabu-annya. Walaupun ternyata, setelah diikuti ilmunya, seks itu bukan tentang hal negatif, ya? Itu hanyalah bagian dari hal mendasar pada diri seseorang.

Jujur, dalam penerapannya, membumikan seks dan seksualitas pada Anis itu memang gampang-gampang susah. Alasan pertama, karena minimnya pengalaman. Maklum, kami baru memiliki satu anak, sehingga belum ada gambaran tentang hal ini sebelumnya.

Alasan kedua, menyamakan persepsi dengan lingkungan. Sama seperti topik hangat di kalangan parenting, semisal : meng-ASI-hi atau susu formula, lahir per vaginam atau SC, ibu bekerja atau stay at home mom, semua menjadi isu yang tidak berujung. Masing-masing membawa pendapatnya, dan sebenarnya tidak ada salah dan benar yang baku juga di antara keduanya.

Dalam hal pengenalan seks dan seksualitas ini yang paling menantang bagi saya pribadi adalah lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Saya dan suami berasal dari keluarga yang beragam latar belakangnya. Dan kebanyakan, dari para sesepuh, mereka memiliki cara berbeda tentang mengenalkan hal ‘tabu’ ini, apalagi dengan peruntukkan anak-anak.

Sama seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, sebagian sesepuh kami pun meyakini bahwa pendidikan seperti itu tidak perlu terlalu banyak disinggung pada anak. Karena secara naluriah dan alamiah, anak pun akan mengetahuinya.

Belum lagi, karena alasan ‘tabu’ tersebut, mereka lebih mengenalkan istilah-istilah tidak baku pada anak. Mulai dari penamaan alat genital misalnya. Padahal, hak anak untuk tahu nama umum dari anggota tubuh mereka, bukan? Sama halnya seperti kita mengenalkan mulut, hidung, mata, tangan, telinga dan sebagainya. Karena, menurut saya, semakin dibuat-buat, si anak justru semakin bertanya-tanya, “Kenapa harus dipake nama-nama aneh, ya?” Yang akhirnya, akan terbentuk pemikiran bahwa menyebut alat kelamin itu ternyata hal yang tidak baik/tabu.

Sebenarnya, sesepuh-sesepuh kita itu pun tidak salah. Karena mungkin mereka mengikuti apa yang mereka dapat dari generasi-generasi sebelumnya. Namun, ketika saat ini kita telah mengetahui hal yang seharusnya berdasarkan perkembangan ilmu, ada baiknya kita upayakan untuk memutus mata rantai. Kita ubah cara sebut alat genital kita dengan nama ilmiahnya dan tak perlu mengolok-olok serta menjadikannya hal tabu.

Ternyata, jika kita mampu bersikap konsisten terhadap anak untuk tetap mengenalkan nama-nama tersebut dalam kehidupan sehari-hari, anak pun akan merekam kekonsistenan tersebut dan membentuk suatu habit. Sehingga, saat si anak terjun ke dunia yang beragam, dia akan tetap kembali dengan habit yang telah ditegakkan dalam kesehariannya. Dan lebih mencengangkan lagi, ternyata tanpa harus kita menyeramahi para sesepuh tentang maksud kita, perlahan mereka yang akhirnya mengerti bahwa anak kita memiliki cara berbeda dalam hal ini.

Hal lain yang sangat menantang bagi saya dan suami dalam upaya membumikan seks dan seksualitas ini adalah rasa malu. Benar, membuat anak mengerti rasa malu tanpa membuatnya tabu. Cukup sulit.

Anak akan bertanya banyak hal jika ada sesuatu yang tidak biasa. Semakin besar, keingintahuannya akan semakin kuat dan sampai tahap itu akan lebih sulit bagi kita memberikan penjelasan dengan konteks yang mudah diterima. Seperti contohnya, tidak boleh berganti pakaian di muka umum, harus ada batasan tubuh yang boleh dilihat apalagi disentuh oleh orang lain selain ayah ibunya, alasan mengapa harus tidur terpisah dengan ayah ibu atau pun kakak adiknya. Oleh karena itu, saya dan suami sepakat untuk membiasakan hal tersebut sedini mungkin yang kami bisa. Kami di sini adalah saya, suami, dan Anis.

Saya dan suami membiasakan untuk tidak mandi bersama Anis. Meskipun itu ayahnya sendiri yang notabene satu jenis kelamin dengannya. Jika pun ada hal urgent yang mengharuskan mandi bersama, bilas setelah berenang misalnya, suami akan tetap menggunakan pakaian dalam saat mandi bersama Anis. Begitupun saya. Namun, sejak Anis menginjak usia 1.5 tahun, suami telah melarang saya sepenuhnya untuk mandi bersama Anis. Alhamdulillah, sejauh ini semua dapat diterapkan dengan adanya kerja sama dan kesepahaman antara ayah dan ibunya.

Begitu juga dengan buang air. Kami tidak membiasakan untuk buang air di hadapan anak. Jika terpaksa harus sekali, saya akan tetap membiarkan Anis di depan pintu meskipun menangis, dan saya akan bergegas dalam menyelesaikan kebutuhan jamban saya. Alhamdulilllaah, sejak usia satu setengah tahunan, Anis sudah bisa mengerti jika saya ijin untuk ke toilet. Kadang ia hanya berdiri tepat di depan pintu kamar mandi untuk menunggu saya.

Termasuk kebiasaan berhanduk setelah mandi. Sejak Anis mandi di kamar mandi, kami biasakan untuk berhanduk rapi dulu sebelum keluar kamar mandi, meskipun di rumah sendiri. Walau Anis mungkin belum paham tentang malu saat itu, saya dan suami selalu sounding setiap habis mandi, “Yuk, pake handuk dulu yaa, dibuntel-buntel gini, biar ga malu.” Kini, usia Anis 3.5 tahun, dia sudah melakukan sendiri berhanduk itu. Jika kebetulan sedang berkunjung ke rumah saudara dan mendapati anak seusianya keluar kamar mandi bertelanjang bulat, dia mulai menegurnya.

Masih sangat banyak PR yang harus kami selesaikan mengenai pendidikan seks dan seksualitas ini. Seiring bertumbuhnya Anis, maka kasus per kasusnya pun akan meningkat. Nantinya bukan sekadar perkara penamaan organnya saja, tetapi bagaimana kaitannya dengan pubertas, hormonal, dll. MasyaAllah. Menjadi orang tua artinya belajar tiada henti rupanya. Semoga selalu dimudahkan oleh Allah SWT.

Allahu’alam bi shawab.

 

Friday, March 5, 2021

ZONA 7 : Edukasi Mengenai Seks dan Seksualitas Dasar

 

Sex Education
Picture by ampersandintergrative

Bismillaah.

Setelah dua tulisan sebelumnya saya membahas tentang definisi seks, seksualitas, gender, dan kaitannya dengan fitrah, yang lebih cenderung kontekstual. Maka, tulisan kali ini saya akan lebih banyak mengedepankan opini dan realita yang didasari oleh pengamatan saya pribadi.

Jika kita sudah memahami maknanya, mendapatkan gambaran tentang keberkaitannya dengan fitrah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara untuk memberikan pengenalan topik ini pada level usia dini.

Di masyarakat kita, membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan seks, seksualitas, akan dianggap tabu dan seperti tidak layak untuk didiskusikan. Alasan klise orang tua era lama dan cukup membuat miris , “Yang kayak gitu sih ga usah di bahas, nanti juga pada ngerti sendiri.” Pertanyaannya, pemahaman apa yang akan didapatkan oleh anak-anak dengan cara ­self-observing seperti itu? Akankah sesuai dengan kaidahnya?

Pemahaman akan pribadi secara utuh, menurut saya, diawali dengan pengenalan tentang apa yang ada pada diri kita dulu. Tentang tubuh dan perangkatnya, tentang akal, juga tentang emosi. Berangkat dari hal dasar tersebut, seorang individu akan lebih mudah dalam memahami diri sendiri dan juga menemukan jati dirinya. Kebanyakan dari remaja kita memang cenderung telat dalam menemukan jati diri tersebut. Akibatnya, timbul berbagai isu yang berkenaan dengan ‘kenakalan remaja’ atau ‘penyimpangan karakter’ yang tak jarang malah terbawa hingga dewasa.

Termasuk di dalamnya adalah mengenai seks sebagai identitas dasar. Kamu adalah laki-laki karena kamu memiliki organ ini itu. Sedangkan kamu adalah perempuan karena yang kamu miliki adalah ini itu. Nah, setelah mengenal jenisnya, selanjutnya kita berikan pemahaman secara berkala mengenai fungsi-fungsi berikut penanganannya. Misalnya, kita kenalkan tentang penis/vagina, selanjutnya kita beritahu bahwa organ tersebut fungsinya untuk buang air kecil (pengenalan sederhana pada tingkat usia dini). Setelah mereka mengetahui nama dan fungsinya, kita selipkan ketentuan-ketentuan khusus, seperti, “Nak, penis/vagina harus selalu ditutup yaa. Malu keliatan. Kecuali pas pipis/pupup/mandi” atau juga “Nak, yang boleh megang penis/vagina adek cuma ayah, ibu atau dokter yaa. Yang lain ga boleh megang itu. Malu.”

Tahap selanjutnya, mulai memasukkan unsur fitrah ke dalam penjelasannya. Juga, penerapan budaya dasar, seperti penggunaan rok untuk perempuan, sarung saat shalat untuk laki-laki, mukena untuk perempuan, pita rambut untuk perempuan dll. Pengelompokkan perlu bukan untuk mem-plotting, tetapi lebih ke mengarahkan dan mempertegas identitas diri. Oleh karenanya, usahakan untuk menggunakan budaya yang sangat mendasar dan general. Mengaitkan sosioemosional dengan seks saya kurang menyarankan, seperti anak lelaki tidak boleh menangis, anak perempuan harus lembut, anak lelaki harus kuat, perempuan harus lebih sabar. Karena, pada kenyatannya, setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, pasti membutuhkan porsi emosi dengan ragam yang sama. Lelaki boleh sedih, menangis. Perempuan pun boleh melawan, kuat.

Selanjutnya, budaya yang tidak kalah penting adalah budaya malu. Dengan pengenalan rasa malu (terhadap organ pribadi), maka secara alamiah bordering akan mudah terbentuk. Hal ini akan membantu si anak dalam memberi batasan terhadap orang lain untuk ‘menyentuhnya’. Erat kaitannya dengan upaya perlindungan diri, apalagi di masa yang semakin liar ini. Pemangsa hawa nafsu berkeliaran dengan kedok yang beragam.

Selain malu, budaya mencintai organ milik sendiri pun perlu. Anak diajak untuk memiliki sense of belonging terhadap tubuh dan segala yang ada padanya. Dengan rasa memiliki ini, maka akan timbul rasa menjaga dan merawat. Artinya, anak akan bertanggung jawab terhadap apa yang dia punya.

Salah satu cara mengenalkan budaya malu dan mencintai tubuh sendiri adalah dengan mencontohkan, selain sounding secara terus menerus tentunya. Sebagai orang tua, kita beri batasan untuk memperlihatkan tubuh kita meskipun di hadapan anak sendiri. Bisa dengan cara tidak buang air atau mandi bersama anak, juga meminimalisir penggunaan pakaian terlalu terbuka saat bersama anak. Katakan pada mereka, “Ibu malu, Nak!” saat kita harus menutup pintu kamar mandi ketika akan buang air, sedangkan anak ingin membuntuti misalnya.

Begitu juga saat anak semakin besar, mulai beri hak dia untuk memiliki kamar tidur sendiri. Ini sangat penting untuk mengajarkan mereka tentang privacy. Apalagi jika memiliki anak yang terpaut perbedaan usia berdekatan, dengan jenis kelamin berbeda. Menyatukan mereka dalam satu kamar sangatlah tidak disarankan.

Secara teknis, masih banyak cara dan metode untuk memberikan pengenalan sederhana mengenai seks dan seksualitas pada anak. Biasanya akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga, dan juga kebiasaanya. Namun, hal yang harus digarisbawahi, jangan memberikan kesan tabu untuk seks dan seksualitas. Karena pada dasarnya, makna malu dan tabu itu berbeda dan akan membawa pada arah yang berbeda pula.

Allahu’alam bi shawab.

Thursday, March 4, 2021

ZONA 7 : Fitrah Gender menurut Kacamata Religi

Fitrah Gender
Picture by pinterest

Bismillaah.

Tulisan kali ini merupakan lanjutan dari bahasan kemarin, yaitu mengenai pemahaman perbedaan gender dan seks. Setelah membahas definisi secara harfiahnya, hingga dapat ditarik simpulan mengenai perbedaan antara seks, seksualitas dan gender tersebut, maka sekarang saya akan menarik garis hubung dengan fitrahnya.

Membicarakan fitrah gender, yang notabene di masyarakat kita masih banyak mengarah pada sistem patriarki (kaum lelaki lebih dominan atas kamu perempuan), tak jarang dan bahkan lumrah dikaitkan dengan agama. Namun, sebenarnya, apakah benar agama mengusung adanya perbedaan gender itu sendiri? Bagaimana pandangan agama yang sesungguhnya mengenai laki-laki dan perempuan? Apakah gender yang berada di masyarakat kali ini memang sudah sesuai dengan fitrahnya?

Sebelumnya, kita akan menengok bersama terlebih dahulu tentang definisi fitrah itu sendiri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :

Fitrah : sifat asal, kesucian, bakat, pembawaan

Menurut seorang ulama Iran, Murtadha Muthahhari, fitrah adalah keadaan yang dengan itu manusia diciptakan. Artinya, Allah telah menciptakan manusia dengan keadaan tertentu yang di dalamnya terdapat kekhususan-kekhususan yang ditempatkan Allah dalam dirinya saat ia diciptakan tersebut, dan keadaan itulah yang menjadi fitrahnya.

Sebagai contoh, di dalam penciptaan seorang perempuan, diberikan padanya perangkat ovarium yang mampu menghasilkan ovum, juga rahim yang secara biologis mumpuni dilekatkan oleh embrio (bakal janin). Dari dua realita tersebut, lahirlah fitrah pada perempuan, yaitu mengandung/hamil. Jika ada pertanyaan atau pernyataan, “Mengapa perempuan harus merasakan kesusahan mengandung sedangkan laki-laki tidak?” Ya, cukup jelas jawabannya, karena memang tubuh perempuan diberikan perangkat untuk itu sejak dilahirkan. Dan perangkat ini pun dibuat sangat sempurna, sinergis dengan organ tubuh lainnya, hingga mampu menunjang segala sesuatunya. Jadi, bukan karena perempuan dideskreditkan, tetapi memang fitrahnya seperti itu.

Namun, masalah kepengasuhan anak tersebut kelak, apakah masih menjadi fitrah perempuannya (ibu) saja? Jika merujuk pada konsep fitrah yang telah di bahas sebelumnya, saya dapat asumsikan bahwa fitrah penuh perempuan berada pada setidaknya fase melahirkan, dan jika memungkinkan hingga menyusui. Untuk ranah kepengasuhan, bukan lagi menjadi fitrah perempuan seutuhnya. Artinya, bukan hanya ibu yang berkewajiban dalam kepengasuhan, tetapi sosok ayah pun, atau mungkin figur lainnya. Sehingga, jika kita melihat anak yang diasuh oleh nenek kakeknya, anggota keluarga lainnya, atau pun oleh seorang pengasuh, itu bukan berarti ibu kandung dari anak tersebut TIDAK BAIK. Karena, fitrah utama si ibu tersebut sudah dijalani, yaitu mengandungnya dan melahirkannya.

Bila ibu tersebut lebih memilih untuk mengurus anaknya sendiri, mengambil peran kepengasuhan secara penuh, itu karena pilihan yang diambil oleh personal tersebut dengan mempertimbangkan beberapa aspek tentunya. Misalnya, keinginan untuk menjadi saksi perkembangan si anak secara langsung, keinginan untuk membangun bonding dengan si anak untuk investasi komunikasi yang lebih baik antar ibu-anak di kemudian hari, atau pun kesadaran secara penuh untuk menjadikan ranah tersebut sebagai ladang baginya dalam beribadah dengan lebih baik (bila si ibu merasa ladang ibadah ia lebih baik dalam bekerja di luar/membantu stabilitas finansial keluarga, maka itu pun adalah pilihan baik baginya). Tidak ada yang salah dan benar dalam hal ini, yang ada hanyalah sebab-akibat dan resiko dari setiap jalan yang diambil.

Islam, sebagai agama yang saya yakini,  tidak pernah mendoktrinkan adanya gender dan pembedaan yang berakibat pada pengkastaan yang didasarkan oleh seks/jenis kelamin. Tidak ada suatu ayat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa laki-laki akan masuk surga sedangkan perempuan tidak, atau laki-laki lebih baik dari pada perempuan. Yang membedakan keduanya hanya segi biologis dan keimanan serta ketaqwaannya.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Q.S. An-Nahl : 97

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.

Q.S. An-Nisa : 124

Menurut Muhammad Nur Kholis dalam karya ilmiahnya yang berjudul Konsep Kelapa Keluarga antara Laki-laki dan Perempuan, jika kita masih melihat adanya kehidupan patriarki, atau pun kondisi di mana seks satu lebih mendominasi dari pada seks lainnya, maka itu semua tak lebih dari implementasi yang tidak menyeluruh dari ajaran agama tersebut, yang dipengaruhi oleh faktor sejarah, lingkungan, budaya dan tradisi yang terjadi  di dalam masyarakatnya, sehingga menimbulkan sikap dan perilaku individual yang secara turun temurun.

Pada hakikatnya, eksistensi laki-laki dan perempuan merupakan suatu penyempurna bagi satu dan yang lainnya, untuk saling melengkapi dan mengisi ruang kosong  masing-masing sehingga misi kehidupan akan terlaksana secara utuh. Tanpa mendasarkan pada baku gender tertentu. 

Allahu’alam bi shawab.


Wednesday, March 3, 2021

ZONA 7 : Definisi Seks, Seksualitas dan Gender

 

pria dan wanita
Picture by medicalnewstoday

Seks dan seksualitas. Banyak dari kita belum begitu memahami definisi dasar dari kedua kata tersebut. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, berikut saya kutip pengertian dari masing-masingnya :

            Seks : jenis kelamin, hal yang berhubungan dengan kelamin

            Seksualitas : ciri, sifat, atau peranan seks; dorongan seks

Baik seks dan seksualitas, keduanya merupakan suatu identitas dasar dari seorang individu, dan berkenaan dengan fungsi anatomi dan fisiologi manusia. Sehingga, mengenalnya adalah suatu kewajaran, bahkan keharusan. Karena memang keduanya telah ada pada diri seseorang sejak lahir. Alih-alih menganggapnya tabu yang jutsru menimbulkan suatu image negatif di masyarakat mengenai pembahasan tersebut.

Termasuk dalam lingkup seks adalah jenis kelamin secara fisik dan biologis. Seperti contoh, perempuan adalah seseorang yang dilahirkan dengan organ reproduksi luar vulva, dan dilengkapi dengan organ bagian dalamnya, yang membawa peran penting dalam kehamilan, yaitu vagina, uterus (rahim), ovarium dan tuba falopi. Sedangkan laki-laki adalah manusia yang dilahirkan dengan perangkat reproduksi luar meliputi penis, skrotum dan testis. Segala sesuatu yang berdasarkan pada hal fisik mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan, itulah seks.

Jika kita membicarakan tentang seks, seksualitas, tak lengkap rasanya jika gender pun tidak ikut disinggung. Bahkan, tak sedikit dari masyarakat yang justru menyamaratakan istilah-istilah tersebut. Sebenarnya, tak bisa disalahkan juga. Karena memang, di beberapa negara, seperti Jerman dan Finlandia, mereka tidak memiliki istilah khusus yang membedakan dua kata tersebut.

Namun, secara luas dan general, gender memiliki pemahaman berbeda dengan seks. Jika seks diartikan pada jenis kelamin yang bersifat fisik, gender jutsru lebih pada definisi jenis kelamin secara sosial.

Menurut WHO, gender adalah sifat perempuan dan laki-laki, seperti norma atau hubungan kelompok pria dan wanita, yang dikonstruksi secara sosial. Jadi, gender ini merupakan suatu bentuk kontruksi sosial atau sesuatu yang dibangun oleh persepsi, intuisi, simpulan, yang lahir dari kultur masyarakat. Seperti misalnya, stigma yang mengatakan bahwa laki-laki itu harus kuat, tidak boleh cengeng, sedangkan perempuan itu lemah. Konsep keduanya lahir dari ‘sangkaan’ yang dibangun oleh masyarakat, yang akhirnya menjadi parameter ‘baku’ dalam mengidentifikasi laki-laki dan perempuan tersebut dan juga terpatenkan dalam stereotype keduanya.

Perbedaan seks, seksualitas dan gender
Picture by Pinterest

Dari definisi secara harfiah di atas, sedikit banyak kita mendapatkan pencerahan mengenai perbedaan keduanya. Bahwa, seks dan gender itu bukanlah suatu hal yang sama. Sehingga, butuh adanya pemahaman mengenai masing-masing, agar keduanya bisa selaras, seimbang, dan mampu berjalan beriringan menuju fitrahnya. Penjelasan tentang seks, seksualitas, gender, dan fitrah ini akan membutuhkan tambahan penjelasan, yaitu yang berkenaan dengan pandangan agama tentang seks dan gender itu sendiri. Sehingga, insyaAllah, di tulisan berikutnya, saya akan sedikit berbagi tentang hal tersebut, sependek yang pernah saya dapat. Allahu’alam bi shawab.

 

 

Tuesday, March 2, 2021

CURCOL : Bulan oooh Bulan

 



Agak melow.

Hahaha, well, sebenernya ga musti melow, sih.

Jadi ceritanya, aku yang sebulan bisa dua kali kena period, tumbenan bulan Februari kemarin malah ga dapet sama sekali. Aneh dong?

Aku doping pake jamu yang biasa dikonsumsi biar si period lancar jaya, udah abis enam botol, belum dateng juga tuh bulan. ‘Wah, ada yang ga beres ini!’ Begitu kira-kira aku ngebatin.

Awalnya sih biasa aja. Ya jelas biasa aja, apa yang diharepin saat IUD masih nemplok rapi di dalem sana, yakan? Hahaha.

Sampe akhirnya beberapa temen update di media sosial, tentang kehamilan mereka yang ‘menerobos’ IUD. Dan itu bukan satu atau dua temen. Wheitzzz, terprovokasi kan tuh daku pun! Akhirnya, baca-baca lagi lah tentang IUD, kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat penggunaannya, bahkan efek ‘gagal’-nya. Uhuk, namanya juga benda buatan manusia, intinya tidak bisa menjamin 100% efektivitasnya, betul? Semakin dugun-dugun lah aku.

Ngobrol bareng suami tentang ini. Agak relate dengan bahasan kami terakhir tentang kontrol dan konsul lagi ke obgyn perihal  program kehamilan selanjutnya. Lha, dia salah tingkah aku bilang ga mens sebulan dan kasus temen-temen yang jadi hamidun walaupun pengguna IUD juga. Kalo aku tangkep, kayaknya doi mulai ngarep haha.

Anyway, awal mula aku pake IUD itu memang berkaitan dengan alasan medis. Jadi, waktu lahiran Anis, ternyata kondisi rahim aku bisa dibilang kurang baik. Ogbyn yang handle  SC aku langsung minta suami buat tanda tangan consent letter untuk pemasangan IUD di tengah-tengah proses persalinan. Serba dadakan, emergency, dan di luar ekspektasi kalo bisa dibilang. But, who we are? Aku dan suami berpikir, dokter pasti lebih tahu secara teori dalam hal ini. Akhirnya kita ikuti sarannya untuk pasang IUD setidaknya tiga tahun, sampe rahim bisa dikatakan ‘siap ditempati’ kembali.

Kemarin, gegara tragedi ‘mendadak honeymoon’ pas staycation terakhir, bikin aku dan suami terlibat #halah pembicaraan agak serius tentang kehamilan ke-dua. Faktor usia yang bikin kita akhirnya aware untuk segera ambil keputusan, mau bikin adeknya Anis atau cukupkan saja haha.

Karena semua hal yang serba kebetulan dan berkaitan itu, akhirnya aku mutusin buat ngelakuin pregnancy test. Terniat, aku pesen test pack lewat aplikasi kesehatan online, padahal waktu itu mulai hujan cuy. Ga kasian gitu sama kurir yang nganterin, seolah ga bisa ditunda lagi buat nge-cek status terlambatnya si bulan ini.

Dag-dig-dug. Gugup. Throw back time ke masa-masa dulu pas masih jadi pejuang dua garis.

Sebenernya, ini juga bukan kali pertama aku test begini di saat IUD masih terpasang. Dulu sih tiap nge-cek ya biasa aja sensasinya. Ga tegang, ga excited. BIASA.

Namun, kali ini beda. Aku kayak yang antusias, grogi, cemas, campur aduk.

Sampe akhirnya, hasil test keluar.

SATU GARIS.

Uhuk, entah kenapa ada rasa sedih, kecewa. Mungkin saat ini aku juga mulai ngarep, mulai pengen ada tambahan anggota pasukan, mulai siap? Entahlah. Yang pasti beberapa jam setelah pregnancy test itu, si bulan yang menggemparkan pun datang. Wahahahaha. SEKIAN.

 


Friday, February 26, 2021

ADAB BERSAMPAH

 

Picture by pinterest

Bismillaah.

Usianya kuterka di atas paruh baya. Mungkin sekitar 60 menuju 70-an. Bukan usia muda kukira. Namun, dua hari sekali, sekitar pukul 6 pagi, bahkan kadang lebih dini, selalu kudapati beliau dengan penuh semangat berkeliling mengakomodasi sampah-sampah rumah tangga di komplek perumahan kami. Memanglah menggunakan triseda (motor beroda tiga). Namun, kurasa, tetaplah bukan pekerjaan mudah. Apalagi mengingat usianya yang kupikir sangat rentan dengan penyakit yang mungkin saja dihasilkan oleh objek pekerjaannya.

Lain cerita, di tempat tinggalku sebelumnya. Seorang bapak yang jelas tak juga muda. Setidaknya sekitar setengah abad memang usianya. Beliau berjalan agak pincang. Salah satu kakinya mengecil, mungkin polio, atau penyakit lainnya? Entahlah. Juga, beliau adalah seorang yang agak keterbelakangan mental. Sangat mudah menebak dari caranya berbicara dan menatap. Namun, tiga hari sekali beliau berkeliling di area tempat tinggal kami. Dengan kaki yang kurang sempurna, ia menarik gerobak berwarna kuning, yang selalu penuh dengan gundukan-gundukan dengan bau menyengat. Satu yang selalu kuingat, senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya setiap kali kami berpapasan. Bahkan, Anis tak jarang ia sapa, hingga akhirnya lama-lama Anis pun selalu menyapa dan mengingat bapak itu jika kami sedang melewati tempat tinggal kami yang lama.

Keduanya sama. Pahlawan sampah. Tanpa mereka, aku tak yakin sanitasi dan kenyamanan tempat tinggalku akan semudah ini tercipta. Mungkin, kami harus rela pergi ke tempat pembuangan sampah akhir terdekat demi terbebasnya bau busuk di lingkungan juga kehidupan yang lebih sehat. Sangat tidak praktis.

Betapa kita semua, terutama aku pribadi, sangat membutuhkan eksistensinya.

Aku pikir, rasa “saling” pun harus diciptakan. Bagaimana aku membutuhkan jasanya, dan sebagai timbal balik, aku pun memikirkan bagaimana cara meminimalisir resiko kerja mereka. Sesederhana itu.

Tak banyak yang bisa dilakukan. Belum mampu untukku mendaftarkan polis asuransi kesehatan bagi mereka, para pahlawan sampah ini. Membantu mereka mengkoordinir sampah-sampah sekitar (setidaknya satu komplek, misalnya), agar mereka tak perlu berkeliling ke setiap rumah di dalamnya, aku pun belum sanggup.

Sehingga, aku hanya bisa membiasakan diri, di lingkungan keluarga kecilku, untuk menerapkan “ADAB BERSAMPAH”.

Terdengar berat, tetapi kenyataannya, yang kulakukan hanyalah hal sederhana yang setidaknya bisa sedikit mengurangi resiko kerja mereka :

1.      Memilah antara sampah kardus, kemasan plastik, minyak jelantah, dengan sampah umum. Meskipun belum bisa menerapkan sistem klasifikasi sampah yang teoritis, tetapi cara ini cukup membuat sampah terlihat lebih rapi dan mudah dalam penangannya. Sering aku perhatikan, para pahlawan sampah itu memisahkan plastik dan kardus dari sampah lainnya. Mungkin untuk dijual atau dilakukan penatalaksanaan khusus, aku pun tak tahu pasti. But, this simple action seemed a lot for him, actually.

2.     Selalu menyetorkan sampah dalam keadaan rapi. Mungkin didasarkan pada ke-perfeksionis-an aku pribadi yang tidak suka melihat sesuatu yang berantakan, apalagi menjijikkan. Maka, aku selalu membungkus sampah dengan kantong yang proper. Tidak selalu membeli plastik khusus sampah, tetapi setidaknya kantong yang digunakan tidak bocor dan compang-camping, yang membuat isinya mudah buyar, dan selalu terikat kuat. Jika satu kantong terlalu penuh hingga sulit untuk diikat, aku memilih untuk membaginya ke kantong lain sebelum dimasukkan ke tempat sampah depan rumah. Hal sepele, tetapi ternyata memudahkan penggiat sampah dalam pengumpulannya. Mereka tak perlu repot-repot mengangkat tong sampah yang besar dan berat untuk ditumpahkan ke gerobaknya, cukup mengambil kantong-kantong yang sudah rapi di dalamnya saja.

3.     Memberi label sampah buangan khusus. Misalnya, sampah berisi pecahan kaca akan dibungkus terpisah dengan penanganan agak berbeda, juga dilabeli. Aku biasa memasukkan pecahan kaca ke kain bekas (baju bekas atau lap yang sudah tak layak pakai), dibuntel hingga memiliki resiko lebih kecil untuk tembus, lalu dimasukkan plastik tebal, dan diberi tulisan besar “AWAS PECAHAN KACA”. Kebiasaan ini mulai dilakukan sejak beberapa tahun lalu, saat aku merapikan tempat sampah di rumah orang tua, yang ternyata ada bekas pecahan gelas, dan akhirnya melukai tangan. Dari situ aku berpikir, “Wah, sampah ini di tempat pembuangan juga bisa melukai orang, dong? Harus diapakan ya?”. Melabeli adalah langkah mudah dan sederhana yang terpikirkan olehku saat itu dan masih diterapkan hingga kini.

4.     Membiasakan untuk selalu membuang sampah pada tempatnya!!

5.     Menghormati mereka, para pahlawan sampah, sebagai orang yang memiliki andil dan fungsi besar bagi lingkungan. Tak perlu membuat plakat terima kasih atau sanjungan berlebihan. Cukup memberi sedikit makanan yang kita punya sesekali, mengucapkan terima kasih saat mereka sedang mengangkut sampah kita dan kita sedang berada di situ juga, atau setidaknya memberi senyuman dan sapaan saat berpapasan. Aksi yang bisa membuat mereka merasa dianggap ada dan setara, bukan justru mencemooh bau pekerjaannya di hadapan mereka. “Ih, bau banget sih ini!” tepat saat mereka melintas. Hehe, hayoo siapa yang masih suka ‘keceplosan’ begitu? Hihihi.