Thursday, April 30, 2020

Resep Ibu Anis : Bolu Marmer Panggang Simpel

Baking is not only about skill, but experiment, improvement and art. Begitu deskripsi membuat kue menurut aku. Pengalaman pribadi sih, untuk menemukan resep yang "pas" itu butuh percobaan berkali-kali dari suggest resep yang sama dengan baker berbeda. Wah, ribet ya? Yaa, kalau aku sih justru disitu nikmatnya baking 🀭.

Setelah mencoba beberapa resep bolu marmer panggang yang simpel, akhirnya aku menemukan resep yang "pas". "Pas" disini berkenaan dengan bahan-bahannya yang mudah dan takaran sedang, prosesnya simpel, hasilnya juga oke 😁. Btw, resep kali ini aku sadur dari resep MAMA NIA lewat akun Youtube-nya, dengan sedikit modifikasi dalam penggunaan alat dan bahan.

Here the recipe anyway!

🍰Bolu Marmer Panggang Simpel🍰
Bahan :
100 g tepung terigu / 10 sdm
100 g gula pasir / 7 sdm
100 g margarin/mentega dicairkan
2 butir telur
1 sdt ovalet
1/2 sdt baking powder
1/2 sdt vanila bubuk
2 sdt cokelat bubuk / 2 tetes perisa cokelat

Cara membuat :
1. Panaskan oven di suhu 200°C selama 10 menit, lalu turunkan suhunya menjadi 180°C.
2. Campurkan gula pasir, telur, ovalet, vanila bubuk, kemudian kocok dengan mixer selama kurang lebih 8 menit, atau dengan whisker hingga campuran mengembang.
3. Ke dalam campuran poin (2), masukkan tepung terigu yang sudah dicampur dengan baking powder sedikit demi sedikit sambil diaduk. Untuk hasil lebih maksimal, campuran kering (tepung terigu dan baking powder) diayak terlebih dahulu.
4. Masukkan margarin/mentega cair, aduk hingga tercampur homogen
5. Ambil sekitar 3 sdm adonan dan masukkan ke dalam mangkuk, campur dengan cokelat bubuk/perisa cokelat, aduk hingga warna homogen.
6. Adonan inti dimasukkan ke dalam loyang yang telah diolesi mentega/margarin/olive oil, kemudian di permukaannya masukkan adonan cokelat dan diaduk secara asal agar terbentuk motif marmer.
7. Hentak-hentakkan loyang agar adonan memadat.
8. Panggang di suhu 180°C selama 30 menit. Sambil dicek di 15 menit pertama, jika permukaan adonan menggosong maka turunkan suhu menhadi 160°C, jika adonan justru tidak mengembang maka naikkan suhu menjadi 200°C. 
9. Setelah 30 menit, keluarkan kue, diamkan hingga agak hangat, baru kemudian keluarkan dari loyang.
Agak seperti gosong di pojok, tapi sebenernya engga kok 😁
10. Siapkan kopi atau teh atau minuman favorit, nikmati kue bolu dengan seruputannya, ahh nikmaat 🀭 Cocok juga dijadikan menu berbuka puasa bahkan menu suguhan ketika lebaran nanti 🀩

Selamat mencoba bukibuk πŸ’™

Tuesday, April 28, 2020

Aliran Rasa : Perjalanan Menemukan Navigasi di Bahtera Institut Ibu Profesional

Bismillah πŸ’™
Wah, agak lama hengkang dari per-blog-an nih. Bukan sama sekali tidak menulis lho, tapi kemarin-kemarin sedang getol mengikuti challenge menulis di laman Instagram dan mengisi tugas-tugas Ibu Profesional di Facebook 🀭. Tuh kan banyak excuse kaan πŸ˜….

Baiklah, biar excuse-nya tidak terlalu melenakan, mari kita ramaikan blog tercinta ini lagi. Sekaligus merekam ulang tentang pembelajaran di kelas Ibu Profesional (IP) yang saya ikuti. Untuk penjabaran tentang komunitas ini sendiri sila klik Ibu Profesional. Untuk saya pribadi mengikuti program Institut dan Komunitas. Khusus tulisan kali ini, saya akan fokus pada kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional, yaitu semacam kelas "kuliah dasar" untuk program Institut IP. Saya tergabung dalam kelas Matrikulasi Batch 8, wow, sudah meluluskan banyak ibu ataupun calon ibu hebat ya pastinya, dilihat dari jumlah batch-nya itu sendiri, masyaAllah, semoga berkah πŸ’™

Untuk Matrikulasi Batch 8 ini, kami diajak belajar dan bertumbuh bersama dengan tema Pelayaran. Starting point kami sudah pasti adalah pelabuhan. Sebagai pelayar, kami akan dibekali bahtera yang merupakan grup regional masing-masing peserta, untuk bersama berlayar dengan bahagia. Regional menjadi rumah kami untuk bertukar informasi, diskusi, menyelami ilmu bersama, agar sampai kepada tujuan dari pelayaran. Tentunya, bahtera akan membutuhkan nakhoda. Ketua kelas regional bets 8-lah yang menjadi nakhoda kami. Alhamdulillaah, sudah terpilih dengan insyaAllah fair , teh Listia dari regional saya, yaitu Bandung. Teh Listia sebagai nakhoda dengan kami semua para awak kapal, insyaAllah siap menjelajah samudera Matrikulasi IP Batch 8.

Sebagai stage awal, kami akan mencari bekal dasar penjelajahan samudera. Dalam Matrikulasi ini, 3 hal penting yang harus kita dapatkan dan pahami terlebih dahulu sebelum akhirnya berlayar bebas di samudera, yaitu :
1. Kerang istimewa
2. Mutiara Ibu Profesional
3. Kompas peradaban
Sebelum kami memegang 3 hal penting tersebut, pelayaran akan diragukan ketahanannya, karena hal tersebut adalah dasar navigasi bahtera ke depannya.

🧭 KERANG ISTIMEWA 🧭

Pertama-tama, kami disuguhi banyak peti harta karun yang berisi clue untuk menemukan kerang istimewa ini. Apa saja isi peti tersebut? Di dalamnya terdapat paparan para Widyaiswara/WI (sebutan untuk pengajar/fasilitator di Institut IP) dalam bentuk short video, tentang pengalaman mereka hingga akhirnya melabuhkan diri di Ibu Profesional. Dari sharing mereka, kita seperti mendapatkan gambaran tentang Institut IP dan juga menemukan strong why kita berada di komunitas ini. Strong why itulah yang disebut Kerang Istimewa. Sangat perlu untuk menemukan strong why dalam memilih dan menjalani suatu kegiatan, agar kita memiliki motivasi kuat dalam mengerjakannya dengan penuh tanggung jawab.

🧭 MUTIARA IBU PROFESIONAL 🧭

Kerang Istimewa telah di tangan. Tapi, ulala, belum bisa dibuka kawan-kawan. Ada misi yang harus dipecahkan dulu untuk bisa membuka dan menemukan apa yang ada di dalamnya. Misi kali ini menarik sekali. Dikemas kreatif melalui teka-teki silang dengan berdasarkan pada uji kasus. Setelah kami mampu memecahkan seluruh teka-tekinya, terjawablah sudah isi dari Kerang Istimewa tersebut. Apa hayoo? Yup, benar, Mutiara 🀩! Mutiara Ibu Profesional yang merupakan Prinsip Berkomunitas di IP. Intinya, di IIP ini semua BOLEH kecuali yang TIDAK BOLEH Simple bukan? Bahkan yang TIDAK BOLEH-nya pun hanya 5 poin, yaitu :
1. Kritik tanpa solusi (khususnya pada pemerintah)
2. Ghibah dan fitnah
3. Menyinggung SARAT (Suku, Agama, Ras, Anggota Tubuh)
4. Memperdebatkan KHILAFIYAH
5. Konflik kepentingan
Artinya, di luar penjabaran dari 5 hal tersebut sangat BOLEH dilakukan. Prinsip ini yang menjadi Mutiara Ibu Profesional.

🧭 KOMPAS PERADABAN 🧭

Ketika, strong why dan prinsip berkomunitas sudah ditemukan, dimengerti, maka perlu adanya pedoman spesifik untuk berperilaku dalam berkomunitas, berisikan aturan berikut konsekuensinya. Ini lah yang disebut dengan Code of Conduct (CoC). CoC merupakan aturan tertulis yang bersifat tegas mengikat terhadap perilaku bermartabat yang harus dipegang oleh para anggota, juga apa saja yang menjadi perilaku nista, berikut konsekuensi dari keduanya. Pedoman ini menjadi Kompas Peradaban, modal dasar ke-tiga dan juga terakhir untuk mulai mengarungi samudera di minggu selanjutnya, insyaAllah. Di tahap ini, kami diharapkan bukan hanya mampu membaca CoC yang ada, tetapi membumikannya, menerapkan dalam aksi nyata, sehingga fungsi CoC berjalan dengan semestinya.

Alhamdulillaah, sejauh ini proses pembelajaran telah dilalui. Misi demi misi, had been completed. Bukan hal mudah untuk saya pribadi, mengingat keterbatasan waktu antara mengerjakan pekerjaan domestik, membersamai toddler yang sedang di tahap separation anxiety, selalu ingin "nempel" dan diperhatikan, mengerjakan tugas per tugas, dan memberi ruang untuk diri rehat sejenak mendapatkan haknya. Sedapat mungkin misi disetorkan sebelum batas deadline, itu targetan saya. Dari penataan target seperti ini, saya seperti men-setting diri saya secara tidak langsung dengan kedisiplinan dan menejerial waktu yang lebih konkret. Seperti nama yang diemban oleh komunitas ini, yaitu Ibu Profesional, sedapat mungkin untuk menjalani segala fungsi kehidupan sebagai ibu/istri/individu perempuan secara lebih profesional. Tanggalkan daster di office hours, agendakan setiap to do list, pasang target harian ataupun per kegiatan, evaluasi di akhir hari. Saya mencoba menerapkan sistem bekerja saat di ramah publik ke dalam ranah domestik. Setidaknya, saya merasa lebih siap menghadapi hari dan lebih mengapresiasi diri, hal yang sempat hilang semenjak resign ranah publik, sejujurnya.

Perjalanan ini akan panjang, penuh hantaman ombak, deruan angin bahkan mungkin badai. Namun, jika tidak dilakukan sekarang, maka kapan lagi? Perubahan harus dimulai dari diri sendiri dulu, kalau bukan kita, ya siapa lagi? 

Saya memilih untuk tetap terus berlayar, mengarung bersama bahtera yang telah saya pilih. Semoga selalu dimudahkan, dilancarkan, dibahagiakan, dilimpahkan keberkahan, hingga sampai ke tujuan nanti, aammiin yaa Rabb Alamiin πŸ’™ Hey, the ocean, I'm ready!! ⛵🧭

Monday, April 13, 2020

Mini Project Orientasi Komunitas Ibu Profesional


Bismillah.
Setelah mengikuti masa Orientasi Komunitas Ibu Profesional, yang dimulai sejak tanggal 1 Februari 2020, akhirnya sampailah tahap aplikasi dan eksekusi ilmu-ilmu yang sudah didapat. Ilmu yang luar biasa banyak dan masyaAllah keren itu pun akan dituangkan pada mini project yang merupakan ide awal dan insyaAllah menjadi sarana untuk learning by doing dalam berkomunitas, dimulai dari skala kecil dengan program sederhana. Saya pribadi memilih untuk memulainya dari ruang lingkup terdekat, yaitu keluarga, dengan harapan, jiwa berkomunitas dengan bahagia ini pun mampu ditularkan pada anggota keluarga lainnya, terutama untuk pengenalan pada Anis.

Bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, maka saya berusaha untuk memadukan project ini dengan jurnal Ramadhan yang sudah dibuat untuk diri sendiri dan keluarga. Sehingga semua program akan bersinergi. 

Sengaja poin "berbagi" yang menjadi sorotan, karena kebetulan saat ini Anis sedang di tahap pembelajaran dan pengenalan konsep berbagi, sehingga saya pikir cukup baik untuk melakukannya dengan sistem learning by doing ini, dengan harapan, Anis mampu mengenal "berbagi" dengan cara fun dan akan tertanam pada dirinya bahwa "sharing is fun".

Adapun project yang saya canangkan adalah sebagai berikut :

Project Plan

Judul : "Jurnal Ramadhan, Jum'at Berbagi"

Deskripsi : Menjadi salah satu bagian dari journal Ramadhan. Project ini dikhususkan untuk berbagi makanan ringan/takjil di setiap hari Jumat selama bulan Ramadhan untuk tetangga sekitar. Adapun menu yang akan dibagikan, disesuaikan dengan menu rumahan hari tersebut.

Kebutuhan/susunan tim : 
Ketua Pelaksana : Ibu
Keuangan : Ayah
Pembantu Umum : Anak ( M. Anis)

Sasaran: Tetangga sekitar tempat tinggal, terutama 2 rumah ke kanan dan ke kiri.

Waktu : Setiap hari Jumat selama bulan Ramadhan 1441 H. Bertepatan dengan tanggal 24 April 2020, 1 Mei 2020, 8 Mei 2020, 15 Mei 2020, 22 Mei 2020.

Tempat : Lingkungan rumah.

Estimasi dana :
Takjil setiap Jumat = Rp 150.000,-
Total estimasi = 5 x Rp 150.000,-
                          = Rp 750.000,-

Parameter keberhasilan
- Minimal tetangga 2 rumah ke kanan dan ke kiri mendapat jatah pembagian takjil
- Membagikan setidaknya 2 menu takjil di setiap jadwal
- Proses penyediaan dan pembagian melibatkan Anis dan suami sehingga silaturahim bisa terbentuk antar tetangga
- Pengenalan konsep berbagi dengan bahagia kepada Anis melalui cara sederhana dan dari kehidupan sehari-hari
- Pemenuhan salah satu poin di journal Ramadhan

Mudah-mudahan pelaksanaannya berjalan lancar, penuh keberkahan dan sesuai dengan target rencana. Bismillaah πŸ’™

Thursday, April 2, 2020

Yang Hidup Kembali (Kesempatan Kedua)


Kutemukan dia kering, tak bersisa banyak hijaunya, menyoklat dan tandus. Tak ditemukan tanda kehidupan padanya, mungkin dia dehidrasi, tapi sebentar, ku lihat tanahnya lembab, tanda adanya interaksi alamiah atas air yang bertemu kedahagaan. Namun, hanya tanah serta beberapa cacing yang juga mulai prihatin di dalamnya. Saat itu, 2 minggu yang lalu.

Tak dapat kusimpulkan tentang apa yang terjadi selama kepergianku. Ya, tak lama, hanya 2 minggu. Mengunjungi ibunda di bagian lain dari sisi provinsi ini. Selalu banyak hal yang dipikirkan ketika harus meninggalkan jannah-ku, yup, baitii jannatii, rumahku surgaku, berpuluh-puluh pikiran ketika harus jauh sementara dari rumahku. Pastinya berdasar dan beralasan. Suami tercinta yang selalu sibuk dengan pekerjaan, terkadang menyisipkan sedikit kecerobohan di luar hal lainnya. Lupa menutup rapat jendela, lupa memasukkan handuk-handuk, lupa membuang sampah, lupa mematikan lampu-lampu, bahkan pernah terjadi, lupa mengunci pintu rumah saat harus meninggalkannya. Lalu bagaimana dengan pesan-pesan remah lain seperti : menyiram tanaman? Ahh aku selalu pasrah. Meski telah kuingatkan, terkadang dia merasa "sudah" tetapi nyatanya selalu saja habis tak bersisa para penghuni pot-pot itu setelahnya. Tentu aku tak menyalahkan, mungkin dia terlalu lelah dengan pekerjaan dan tugas-tugas sementara mengenai rumah. Biarlah, kondisi dan keadaan kuserahkan pada waktu. Dan terjadilah, kali ini agak menyedihkan bagiku, dia pohon mint yang selalu kujaga-jaga, karena aku selalu butuh daunnya untuk minuman favorit, kini mati semati-matinya.

Hal pertama ketika melihatnya, menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat. "Yaaah, mati deh.", sedikit kesah yang tersirat dalam hati dan pikiran saja. Kupegang sisa daun yang telah berserak di tanahnya, kering, mengkriuk. Ku bereskan satu persatu guguran daun-daunnya di antara liukan batang rambat yang juga tak kalah kering dan mengkerut. Tanah yang sudah memadat, seperti terus terkena tekanan air tanpa lupa digemburkan, kugemburkan dengan sekop kecil andalan. Aku tak harap banyak, tetapi jika masih ada cacing mampu hidup di dalamnya, ku asumsikan bahwa masih ada kehidupan, walau hanya sedikit, di bawah tanah sana. Akar, aku berharap, masih meninggalkan persentase kecil kehidupan bersama alam bawah dan ekosistemnya, untuk mungkin bisa sedikit kuperjuangkan.

Kuberi air basuhan beras untuk menyiramnya, setelah kubabat habis bagian yang nampak di permukaan tanahnya. Pot itu seperti tanpa isi. Hanya tanah yang terlihat, serta secercah harap pemiliknya. Dengan terus disiram, disiram, setiap hari, pun sedikit dilantunkan doa bersama tetesan-tetesan air yang terserap, menelusuri rongga tanah, mencari jalan kemana arah yang menariknya.

Bergulir, beberapa malam yang berganti siang. Tak ada yang berubah, tetap dengan siraman dan harap. Membawa pada ketakjuban. Masih teringat, tepat hari ke-lima. Ada yang mencuat di sana. Tanah tak lagi sebegitu rata. Ohh, kehidupan mulai nyata. Calon batang jalar yang mengintip malu-malu tertangkap indera penglihatku. Berjalan hari ke-enam, tujuh, delapan, seterusnya hingga memanjang dan semakin menjalar, diiringi pucuk-pucuk daun mungil dengan harum khasnya yang mulai menampakkan pesona. Bersama hari, batang jalar semakin kaya dan merambah sudut-sudut pot hitam itu. Sementara daun? Hijau, segar, melebar, bergerombol mulai merekah,  masyaAllah luar biasa. Kehidupan yang sempat terlihat hilang itu ternyata ada. Dia tertanam, seperti menguji pecintanya, untuk terus lajukan doa, harap, dengan semaian usaha penuh ketulusan. Kini dia telah membuktikan akan kesempatan kedua. Dan kupetik dengan senyum bahagia, kutuang dalam gelas teh siang tadi, setelah 2 minggu menanti. 

Hai kamu, terima kasih sudah kembali πŸ’š

Thursday, March 19, 2020

Hidden Gem, Cerita Si Lumpia Kering


Hidden gem! Sebenernya ini bukan hal baru kali ya, udah banyak yang seliweran jual panganan ringan ini. Tapi, ini kali pertamanya aku bikin sendiri. Wow, masyaAllah, puas mak! Secara ya kan, kita bisa bikin dalam jumlah banyak, dengan takaran dan racikan bumbu "kocok"-nya yang bisa disesuaikan selera kita. Kayak sekarang ini, aku bikin 2 versi dari lumring (lumpia kering) ini. Versi pertama buat bos Anis yang jelas tanpa bumbu kocok MSG. Jadi, aku bikin campuran garam dan kaldu jamur Totole yang dihaluskan (cukup dihaluskan dengan sendok kok). Nah, buat ayah ibuknya, sebagai generasi 90an penyuka micin-micin club, pastinya pake bumbu kocok beraneka rasa, kebetulan aku pake produk Indofood, Bumbu Perasa Kentang Goreng. Selain itu ditambah sedikiiiit sekali garam, karena bumbu Indofood ini memang kurang "nendang" gitu rasanya. Mungkin enggak perlu penambahan garam lagi kalau misalnya pake produk Cap Atom Bulan atau Antaka. 

Untuk bahan-bahannya sendiri gampang banget ditemukan, yaitu :
1. Kulit Lumpia (beli atau bikin sendiri juga boleh, lha tapi aku sebagai mamak-mamak kurang rajin pastinya beli jadi aja dong πŸ˜‚)
2. Campuran tepung terigu dengan air, dibuat agak sedikit kental, untuk lekatan kulit lumpia
3. Minyak goreng
4. Bumbu kocokan (udah dibahas di atas yaa tentang ini)

Cara buatnya, parah sih gampang banget, tapiiii ya tetep butuh niat dan keinginan luhur untuk bikinnya. Segampang apapun kalau niatnya ga nyampe, ya enggak bakalan jadi kan 😁.
Back to process, jadi kita bisa pake sedotan untuk memudahkan proses menggulung kulit lumpia. Satu per satu kulit lumpia digulung percis seperti akan membuat pisang aroma, tau kan? Nah tapi ini isiannya seolah-olah sedotan tadi. Di ujung gulungan, kita olesi dengan campuran tepung-air, kemudian rekatkan gulungan. Tarik sedotan. Terus sisihkan, lanjutkan kulit lumpia lain hingga habis. Selanjutnya, gulungan-gulungan tersebut dipotong kecil-kecil dengan gunting. Goreng deh dengan api kecil sambil terus diaduk. Setelah agak coklat, angkat, tiriskan. Biarkan minyaknya turun sempurna, bisa dengan dialasi kertas tissue. Setelah dingin, tambahkan bumbu kocok, that's all! Mudah banget kan. 

Anyway, aku ada tips kulit lumpia nih. Aku punya kulit lumpia favorit. Belinya di warung sayur, supermarket, pasar, mudah ditemukan. Mereknya : Kulit Lumpia KD. Enggak udah dibahas lha yaa KD tuh singkatan apa, karena aku bukan produsennya bukibuk πŸ˜…. Ini resep umi mertua, kata beliau mΓ©rΓ©k ini terbaik! Anti hancur pas dipisah dan digulung, rasanya gurih, krekesnya renyahh warbyasa, and those are true! πŸ˜‚

Baiklah mamak-mamak hobi kriuk semua, sekian ceramah mengenai lumpia-keringnya. Bisa dicoba dipraktikkan di rumah masing-masing, mayan sebagai tambahan kegiatan mengisi self-quarantine, juga memfasilitasi hobi kriuk mamak-mamak sekalian. Jangan lupa makannya dimulai dengan Basmallah, perasaan gembira, dan doa terkhususkan "lindungi kami semua dari Covid-19" πŸ’™. Semoga kita semua sehat selalu yaaa πŸ₯°

Sunday, March 15, 2020

FOOD's REVIEW : Ali Baba Middle East Food Bandung


Baiklah, pemirsa yang budiman. Dengan himbauan untuk tetap stay di rumah dan hindari public area demi memutus rantai penyebaran virus Covid-19, maka kali ini aku mau review hasil buruan hari ini dengan Grabfood. Karena sekarang sangat mudah untuk membawa kenikmatan makanan restoran favorit ke rumah. Tinggal klik, taraaa, siap disantap.

Ceritanya, aku sekeluarga kecil memilih untuk staycation di hotel daerah Braga. Seperti biasa, ritual setiap staycation adalah berburu makanan sekitar tempat menginap. Dulu sih harus banget kan searching di internet terus gidig ke tempat tujuan sendiri. Sekarang, dengan maraknya aplikasi ojek online yang bundling dengan program delivery makanannya, bikin dunia food hunting makin mudah. 

Aku buka aplikasi Grab, cari mencari nearby resto yang menggugah dan bertabur promo (teteuuupp) πŸ˜‚. Mata tertuju ke satu nama #eaaa. Ali Baba Middle East Food. Mungkin karena namanya sama kayak nama suami, jadi langsung menarik hati πŸ₯°πŸ˜‚. 

Akhirnya berlabuhlah pada resto penyaji makanan timur tengah ini. Secara, pak suami nemu makanan timur tengah ya enggak mikir dua kali. Pasti jadi opsi teratas. 

Actually, dari segi varian menu sih memang tidak banyak. Bahkan, tidak menyajikan pilihan daging kambing/domba sebagai icon dari menu timur tengah. Untuk nasi-nasian sendiri waktu aku order, yang tersisa hanya curry rice (chicken/beef), kabuli rice (chicken/beef) dan biryani rice (chicken/beef). Menu kebab semua sold out. Akhirnya, aku pilih beef biryani rice, suami pilih beef kabuli rice. Total pembelian Rp 91.800,- dan aku hanya cukup membayar Rp 52.000,- sudah termasuk ongkos kirim (thanks to promo Ovo yang tiada henti) 😍. 

Delivery time cukup cepat. Kurang lebih setengah jam pesanan sudah di tangan.

Maaak, masyaAllah, selera kali lah aku nih dibuatnya. Walau take away, tapi masih indah dipandang kan. Nasi basmati yang khas bergumul memenuhi box kardus anti tumpah, dengan paduan sambel dan salad di sudut-sudutnya, serta, pemain inti, si daging sapi nan gemul-gemul berbumbu ciamik di-templok-kan di bagian tengahnya. 

Nasi basmatinya passss sekali teksturnya. Enggak keras dan ga lembek. Bumbu biryani dan kabulinya cociks. Nasi biryani-nya masih lebih lekoh rasanya, dibanding nasi kabuli. Kabuli cenderung agak plain tapi tetap gurih dan perfecto dipadankan dengan salad, sambal dan dagingnya. Biryani memang lebih kuat aroma dan rasa rempahnya, juga ada sensasi spicy yang bikin dia makin "biryani banget". TOP. 

Suamiku terpukau dengan saladnya. Dressing-nya agak mirip dengan saus di The Halal Guys, khas. Sayurannya segar, kriuk-kriuk tanpa layu. Sambelnya masyaAllah nikmat. Terlihat sangar tapi rasanya pas pedasnya, bahkan ada sensasi asam tomat dan manis. Dagingnya soooo tender dengan bumbu yang menyerap sempurna. Anyway, hati-hati untuk yang kurang suka pedas. Dagingnya ini justru lebih sangar dari sambelnya tadi. Pedasnya lumayan bikin ser-seran mata dan bibir, tapi ini nyeimbangin nasi rempahnya menurutku. Nah porsinya, jangan ragu deh, namanya masakan timur tengah ya terkenal dengan porsi besarnya kan, dan ini pun sesuai dengan kaidah itu, kenyang sampe sebah deh pokoknya.

Mungkin dari angkat 0 sampai 10, Ali Baba Middle East Food ini aku kasih nilai 9. Karena harga, rasa, tampilan, porsi, semua masuk di selera aku. Kalian penyuka makanan timur tengah jugakah?  Lagi di Bandung? Boleh banget dicoba menu Ali Baba ini. Dengan harga super terjangkau kita udah bisa banget makan ala sultan πŸ˜‚. Sila dicoba manteman πŸ’™

Saturday, March 14, 2020

Ngalor-ngidulin Film "Parasite"

Setelah sekian purnama, akhirnya nonton Parasite juga πŸ˜‚. Kemana ajaa Naad, orang mah udah trending-nya Corona Covid-19, ini masih bahas film Parasite aja πŸ˜†. Yaudah sih yaa, bukan wajib juga yekan nonton ni movie. Yang penting sekarang udah nonton neeeh, berita Corona juga mayan uptodate, semua tetep aman terkendali kaaan 🀭 #sokiyebanget. 

Well, kayaknya aku ga bakalan bahas tentang resume-nya deh. Karena aku yakin banget, kebanyakan dari kelen semua juga pada tau, malah mungkin lebih dulu dari aku. So, aku bakal ngalor-ngidulin aja ya, bahas apa yang pengen dibahas tentang film Parasite ini.

Secara all in, film ini bisa dibilang keren sih. Dia bisa memadupadankan genre thriller dengan cara yang lebih santai dan berbumbu komedi, tanpa ngilangin nuansa thrilling-nya. Jadi, ada sensasi beda gitu nontonnya, semacem lucu tapi tegang, tapi ya ga tegang-tegang amat, ngerti kan maksudnya?πŸ˜‚ Mungkin karena otak nih langsung kayak auto-comparing gitu, antara nikmatin film Orphan, contohnya, dengan film Parasite ini. Beda gitu tegangnya. Tapi, plotnya yang unik dan agak susah ditebak itu jadi point plus banget sih dari Parasite.

Terus, yang bikin aku seneng sama filmnya, Parasite ini kayak bisa ngerubah image aku gitu tentang film Korea yang cenderung kentel di romansanya. Bukan aku kontra loh yaa, justru so far, kalo aku lagi butuh asupan romance, tak lain dan tak bukan aku pasti milih nyari film Korea. Memuaskan gitu rasanya 🀭. Mau dikata filmnya bertema hal serius, pasti aja kuat banget romansanya 😁. Nah, Parasite ini bener-bener ngebuyarin paradigma itu buat aku. So, i appreciate for that effort 🀭.

Secara plot, menurut sepenangkapan aku, Parasite tuh kayak nyoba membuka pikiran orang-orang tentang sudut pandang orang miskin dan orang kaya, khususnya di Korea Selatan. Tentang apa yang jadi fokus dimasing-masing keduanya. Ngegambarin juga tentang ke-jomplang-an hidup di Korea Selatan (negara lain gitu juga sih sebenernya, serupa). Yang kaya banget ya ada, yang miskin banget juga banyak. Mereka hidup kayak berdampingan padahal sama sekali enggak. 

Selain itu, hal yang narik perhatian aku banget sama film ini adalah rumah si orang kaya. Beuh masyaAllah, keren. Minimalis tapi mewah. Luaaas banget rumahnya tapi perabotnya ga penuh kayak kita-kita. Ga neko-neko desainnya, sekatan juga ga banyak, tapi mencakup banyak ruang. Selain itu juga si bunker dan halaman rumahnya. Duh, mupeng mak. Pengen banget deh punya rumah dengan halaman super luas berbalut rumput hijau gitu, sama ruang bawah tanah untuk nyimpen stok bahan makanan yang nyambung ke bunker rahasia. Buat kabur nyari inspirasi enak tuh ruangan. Sama juga sekalian buat uji nyali 😁.  Bener, suka banget deh ah. 

Intinya, film ini aku rekomendasiin sih. Durasi ga terlalu panjang, plot okey, scene-nya mantep, mau rumah orang kayanya ataupun rumah orang miskinnya, ngena. Pemain-pemainnya cucok. Pengambilan gambarnya enak buat diikutin dan ditonton. It's daebak! 🀭 Monggo yang belum nonton, boleh dimasukin ke wishlist tontonannya πŸ˜πŸ˜‰

Friday, March 13, 2020

Teach by Teaching, not by Correcting


"Teach by teaching, not by correcting". 
Mungkin statement tersebut sangat familiar, terutama bagi pendalam dan penganut sistem pengasuhan Montessori. Pada dasarnya, aku pribadi bukan pengikut garis keras sistem parenting tersebut. Kebetulan adik ipar memang mengambil special course untuk Montessori ini dan sedikit banyak kami diskusi dan berbagi. 

Di dalam Montessori, usaha dan hasil karya anak sangat dihargai dan dijunjung tinggi, selama tidak membahayakan dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan. Bahkan, ketika anak melakukan "kesalahan" pun, kita para pendamping sangat dianjurkan untuk tidak mengoreksi, dalam artian mencap salah, di awal. Jangan sampai, koreksian dari kita malah menjatuhkan kepercayaan diri si anak yang akhirnya jadi membatasi gerak belajar mereka. Alih-alih mengoreksi, pendamping akan membuat mental note sebagai catatan, agar "kesalahan" saat ini menjadi point pembelajaran di lain waktu. Misal, ketika kita meminta tolong anak untuk mengambilkan mangkuk, ternyata yang diambil adalah piring, di Montessori tidak disarankan untuk membuat pernyataan, "Lho salah nak, ini piring, bukan mangkuk". Tetapi, bisa direspon dengan, "Ooh, adek mau pakai piring aja makan sayurnya? Okay, kuahnya kita masukkan sedikit aja yaa biar enggak tumpah", sambil kita membuat mental note, lain waktu berarti harus diperkenalkan kembali mangkuk dan perbedaannya dengan piring. 

Untuk meminimalisir correcting tersebut, kita sebagai pendamping yang harus menyesuaikan diri dengan anak. Kita berusaha menjadi bagian dari si anak. Katakanlah saat belajar pre-writting, ketika kita akan menunjukkan cara membuat lingkaran, buatlah sealami mungkin, jangan membuat lingkaran yang sempurna, sehingga akhirnya ketika si anak mencoba, dia akan merasa bahwa hasil dia jelek, dan menimbulkan rasa keraguan, meski sedikit, untuk mencoba kembali. Sebagai sistem yang sangat mengedepankan proses eksplorasi si anak dalam mempelajari sesuatu, timbulnya sifat keraguan tersebut tentu akan menghambat fokus eksplorasi mereka, yang secara tidak langsung menghambat belajarnya. 

Selain berusaha menapaki dunia si anak, dengan menjadi bagian dari mereka, pendamping pun diharapkan mampu mengobservasi, tahap pembelajaran apa yang sesuai pada anak di saat ini. Ketika kita lihat si anak belum sampai tahap untuk mengenal huruf, tidak perlu dipaksakan untuk itu. Lihat dan gali lagi, potensi apa yang sedang berkembang padanya saat ini, dan beri atensi lebih untuk potensi tersebut. Dalam interval waktu tertentu, kita coba kembali untuk mengenalkan secara perlahan tentang huruf, jika akhirnya dia merespon dengan baik, maka proses pengenalan huruf bisa dimulai.  
Sebenarnya, masih sangat banyak dasar-dasar sistem parenting Montessori dan dikarenakan aku bisa dibilang sangat newbie dalam hal ini, dan juga pembelajar otodidak, maka dirasa masih perlu belajar banyak lagi untuk bisa membagikan tulisan mengenai kepengasuhan Montessori tersebut. Mungkin lain kali, aku bisa menarasikan lebih banyak, insyaAllah. 

Tapi, menjadi catatan pada diri sendiri juga, bahwa sistem parenting apapun yang kita coba terapkan untuk anak-anak kita, semua kembali kepada orang tua masing-masing. Tidak ada kemutlakan dalam penerapannya. Segala sesuatunya dibuat berimbang, dan disesuaikan dengan keadaan. Juga, dengan tetap menjaga level bahagia ibu sebagai pendamping utamanya. Jangan sampai keidealisan kita untuk menerapkan sistem tersebut malah menjajah ruang kebahagiaan kita dengan anak. Yang ada, baik pendamping/ibu maupun anak akan stress dan tujuan kepengasuhan pun tidak dapat tercapai.

Thursday, March 12, 2020

Yakin Siap Tuk Menikah??


Menurutku pernikahan adalah pintu gerbang perjalanan panjang dengan lika-liku dan terjal-landai di dalamnya. Terlihat mudah ketika kita belum terjun langsung dan menjalaninya. Seolah psikologis single kita membentuk image bahwa dengan pernikahan semua akan menjadi lebih indah, karena akan ada seseorang yang selalu mendampingi kita. Tak sepenuhnya salah pernyataan tersebut. Tapi ternyata, tak bisa dibenarkan juga. Pada kenyataannya, bahkan, usaha untuk meleburkan dua personal untuk dapat berjalan secara harmonis tidaklah semulus romansa di drama Korea. Dua kepala, dua otak, dua pikiran, dua keunikan sebagai individu, dua karakteristik, dua keluarga, tetaplah menjadi "dua" dengan ke-khas-an masing-masing yang jelas tak bisa diubah. Yang bisa dilakukan hanya mencari titik tengah, untuk setiap plot-plot permasalahan dan keadaan. Pastinya, dalam upaya menentukan dan menemukan titik tengah inipun tak mudah kan sodara-sodara?🀭 Bukan untuk menakut-nakuti, hanya berbicara tentang realita. Bukan menahan agar para kaum muda menunda pernikahan dan lebih memilih untuk perpacaran dengan dalih saling berkenalan, ooh Ferguso, bertahun-tahun kau berpacaran pun belum membuka "layar asli" dari personal itu sendiri, trust me! Hanya pernikahan pembuka tabir keaslian tersebut. Enggak percaya? Nikah deh dan kemudian bertestimoni 🀭.

Aku hanya bingung, sering sekali mendapatkan fenomena para unmarried di sekitar, ketika hidup sedang dihadapkan pada kesulitan, misalkan dalam upaya menyelesaikan studi, atau berkenaan dengan pekerjaan, masalah dengan orangtua/saudara, terlontarlah, "Duh, pusing deh, mending kawin (nikah) aja ah!", seolah-olah menikah adalah solusi dari segala perkara. Yang akhirnya, mostly dari kita memandang mudah menikah ini, akhirnya tidak mempersiapkan diri atau sekedar mengenal lebih dalam tentang ilmu pernikahan tersebut. Efek sosialnya, angka perceraian yang semakin tinggi, tingkat keharmonisan rumah tangga yang rendah, ketidaksiapan dalam kepengasuhan anak, dan masih banyak lagi. Miris. Pernikahan bukan tempat pelarian dari masalah ya dekadek yang lucu. Cateuut! 😁

Aku pribadi, masih ada rasa menyesal terhadap diri yang rasanya kurang mempersiapkan diri tentang pernikahan. Terutama secara keilmuannya. Oleh karenanya, tak berhenti tuk belajar, mencari tahu, karena memang semua itu sangat diperlukan, jika kita menginginkan pernikahan yang bukan hanya sekedar status di KTP, tapi memang untuk mewujudkan sakinnah, mawaddah dan rahmah. Pernikahan yang membahagiakan semua elemen di dalam keluarga bentukannya tersebut, secara duniawi dan ukhrawi. Sungguh perjalanan panjang, bahkan hingga maut menjemput, dan juga kehidupan setelahnya. Jadi, masih berpikir bahwa menikah adalah jalan keluar dari segala problematika? πŸ€­πŸ˜‰πŸ’™