Monday, July 13, 2020

Indahnya Berkomunitas

Picture by Pinterest

Bismillaah.
Ide menulis yang terlahir mendekati jam-jam Cinderella. Sejujurnya, hari ini bahkan hampir saja saya berniat untuk skip menulis. Bukan kekurangan ide, tetapi, mental baja bernama "konsisten" itu masih kadang terasa asing bagi saya, mungkin butuh lebih banyak PDKT, hehe.

Lalu kemudian, terjadilah suatu peristiwa (jeng jeng jeng jeeeeng) yang akhirnya memaksa saya untuk menulis juga. 

Ting teng. Notifikasi whatsapp dari grup HIMA Matrikulasi muncul di layar handphone. Setelah saya cek, rupanya berupa pengumuman event.
Menarik, pikir saya. Akhirnya, saya pun bergabung dengan grup arahan event tersebut. 

Kondisi grup masih terkunci saat itu. Hanya admin yang mampu mem-post sesuatu di laman grup. Selepas maghrib, grup pun dibuka bersamaan dengan beberapa pengumuman terkait jalannya acara daring esok dan dilanjutkan dengan perkenalan. 

Sambil menemani Anis menuju tidur, sesekali saya tengok update-an grup. Muncul lah satu nama dengan nomor yang agak familiar bagi saya akhir-akhir ini. Beliau memperkenalkan diri, teh Rahmawati asal Bandung, tulisnya. Saya mengernyit dan berpikir, Rahmawati? Nama ini sering saya lihat beberapa hari terakhir, di mana ya

Jiwa kepo saya tak bisa tertahan kadang-kadang. Akhirnya, saya cek grup lain dan memastikan nomor dengan nama tersebut memang tergabung atau tidak. Terhentilah di salah satu grup yang sedang aktif membahas pemilihan ketua warga. Yup, grup komplek tempat saya tinggal rupanya. Saya memang warga baru di sini, belum banyak mengenal juga, tetapi, saya selalu pastikan mengikuti perkembangan berita warga melalui grup tersebut.

Saya pun ikut serta memperkenalkan diri di grup event,
Salam. Salam kenal, Nadya dari Bandung ๐Ÿ˜Š teh @⁨GCR Rahmawati⁩ , kayaknya kita tetanggaan ya? GCR betul?

Setelah itu, berlanjutlah kami pada perkenalan lebih mendalam lewat japri. Ternyata, teh Rahma bisa tergabung dengan event itu karena mengikuti komunitas yang sama dengan yang saya ikuti, yaitu Institut Ibu Profesional. Percakapan kami pun lebih personal mengenai perkenalan, sampai titik di mana diketahui bahwa kami berdua sama-sama berdarah Cianjur, haha. masyaAllah, luar biasa ya dampaknya berkomunitas.

Dulu, selepas resign, sempat berpikir, sepertinya agak sulit memiliki komunitas lagi, untuk sekedar berkomunikasi dan berbagi cerita atau informasi. Otak pesimis saya sangat berpengaruh saat itu.

Hingga akhirnya, saya menyadarkan diri saya sendiri bahwa saya adalah bagian dari makhluk sosial, saya butuh bersosialisasi. Mulai mencari-cari komunitas online apa yang sekiranya saya butuhkan dan mampu mendukung saya saat ini. Bertemu lah dengan Ibu Profesional dan juga KLIP. Meski hanya melalui layar dan ditengahi oleh quota internet, saya seperti menemukan kembali bagian "sosial" dari diri saya. Bejana "bersosialisasi" itu seolah lambat laut terpenuhi.

Terlebih, melalui berkomunitas ini, seperti dibukakan pintu untuk bertemu (walau secara online, pandemi salah satu alasannya) dengan teman-teman se-daerah, se-passion, se-pemikiran, yang bahkan, mampu mengaitkan dengan teman-teman lama lainnya. 

"Lho, kamu kenal si A, Nad? Aku kan se-SMA sama dia.... Bla bla bla....."
Akhirnya, saya pun seperti diingatkan untuk kembali merajut pertemanan yang sempat bias karena waktu dan kesibukan. Saya mulai menyapa teman-teman lama saya tersebut.

masyaAllah. Otak pesimis saya ternyata hanya mendoktrin kepesimisan saja. Pada praktiknya, bahkan, banyak cara untuk bisa memebuhi "bejana kebutuhan hidup" kita, seperi "sosialisasi", "pengakuan", "passion", dll, kita hanya dituntut untuk lebih berpikiran terbuka dan mau memulai saja. Selebihnya, diri kita sendiri yang akan menuntun jalannya. 

Saya sudah membuktikannya. Bahwa berkomunitas adalah salah satu cara untuk memperpanjang dan membuka pintu silaturahim dengan banyak individu menarik lainnya. Dan sesuai hadist :

Dari Anas bin Malik ra berkata: bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ”Bagi siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menjalin hubungan silaturrahim.” (HR. Muttafaq Alaih)

Hal tersebut benar adanya. Dilapangkan rizki, bukan semata materi, tetapi, bertemu teman yang baik, mampu bertukar manfaat, juga terpenuhinya "bejana kebutuhan hidup" tersebut adalah bagian dari rizki yang lapang. 

Alhamdulillaaah 'ala kulli haal ๐Ÿ’™

No comments:

Post a Comment